Share

Bab 87 - Suara Wanita

Author: Frands
last update publish date: 2026-08-03 14:08:00

Ajeng langsung menceburkan diri ke air dengan ceria. "Ayo, Ningrum! Airnya hangat!"

Ningrum tersenyum kecil, perlahan masuk ke air dengan hati-hati. Roni duduk di tepi kolam, membiarkan kakinya menyentuh permukaan air.

"Ron, kau tidak mau masuk?" tanya Ajeng dari dalam kolam.

Roni tersenyum, lalu perlahan meluncur ke dalam air. Hangatnya air kolam benar-benar menenangkan, dan untuk sesaat, Roni bisa melupakan semua kekacauan yang menghantuinya.

Mereka bertiga bermain air, tertawa, dan b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 167 - Wanita yang Mirip

    Roni terbangun lebih dulu, merasakan kehangatan tubuh Ajeng yang masih terlelap di pelukannya. Wajah gadis itu tenang, dengan senyum tipis yang menyungging di bibirnya. Roni tersenyum, mengusap rambut Ajeng pelan, lalu bangkit dengan hati-hati agar tidak membangunkan istrinya. Ia berjalan ke kamar mandi kecil, mencuci muka dengan air dingin, lalu keluar ke ruang tamu. Kontrakan itu masih sangat sederhana—hanya ada tikar di ruang tamu, spring bed di kamar, dan dapur kosong tanpa peralatan. Roni menghela napas, merasakan tekad yang baru. Hari ini, mereka akan mulai membangun kehidupan baru mereka. Tak lama kemudian, Ajeng bangun dan bergabung dengan Roni di ruang tamu. Rambutnya masih acak-acakan, matanya masih setengah tertutup, tapi senyumnya lebar. "Pagi, Roni." Roni tersenyum, "Pagi, Ajeng. Apa tidurmu nyenyak?" Ajeng mengangguk, "Sangat nyenyak. Kasurnya empuk." Ia duduk di samping Roni, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Hari ini kita mau ke mana?" Roni mengelua

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 166 - Kesalahan di Hari Pertama

    Roni keluar dari kontrakan dan mengetuk pintu rumah Bu Gita yang berada di sebelah. Tak lama kemudian, pintu terbuka, dan Bu Gita muncul dengan senyum ramah. "Ada apa? Ada kamu butuh bantuan dariku?" "Maaf mengganggu, Bu." Roni tersenyum sopan, "Kami belum punya tempat tidur dan peralatan lain di kamar kami. Lalu kami juga belum tahu lokasi toko perabotan di sekitar sini. Bisakah Bu Gita membantu?" Bu Gita mengerjapkan mata, lalu tersenyum lebih lebar. "Oh kalau kasur, tidak perlu beli. Aku punya kasur yang sudah lama tidak dipakai tapi kondisinya masih bagus. Kalau kamu mau, bisa kamu pakai saja." Roni termangu beberapa saat. "Benarkah, Bu? Apa tidak digunakan lagi kasurnya." "Tenang saja," Bu Gita mengibaskan tangan. "Kasurnya aku simpan di gudang karena udah lama nggak kepake, sayang kalau dibuang." Bu Gita berbalik, "Ayo ikut, biar kutunjukkan barangnya." Roni mengikuti Bu Gita menyusuri lorong kecil di samping rumah. Di belakang, ada sebuah gudang kecil yang penuh d

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 165 - Kontrakan

    "Di mana kita akan tinggal?" tanya Ajeng, matanya menyapu sekeliling terminal yang luas. Roni mengangkat bahu, "Aku tidak tahu, Jeng. Coba cari tempat sewa di internet." Ajeng mengangguk, mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ia membuka aplikasi pencari properti dan mulai mengetik. Setelah beberapa menit, Ajeng tersenyum. "Ada, Ron. Rumah kontrakan petakan di pinggiran Jakarta. Tapi harganya satu juta sebulan. Satu kamar, dapur kecil, dan kamar mandi dalam." Roni mengerjapkan mata, "Satu juta? Itu cukup mahal." Ajeng mengangguk, "Ya namanya juga Jakarta, Ron. Harganya relatif segitu. Dan ini yang paling murah yang aku temukan dengan fasilitas layak." Roni menghela napas, "Baiklah. Kita coba lihat dulu. Kalau tidak cocok, kita cari yang lain." Mereka berjalan keluar dari terminal, mencari angkot yang menuju ke alamat yang ditunjukkan di ponsel Ajeng. Setelah bertanya pada beberapa orang, mereka menemukan angkot yang tepat. Perjalanan menuju kontrakan memakan waktu hampir

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 164 - Babak Baru Menuju Jakarta

    Mereka bertiga masuk ke mobil pick-up tua Pak Raharjo dan melaju menyusuri jalanan kota. Setelah sekitar lima belas menit, mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar kayu. Bip... Bip... Pak Raharjo membunyikan klakson, dan tak lama kemudian, seorang pria tua berjanggut putih dengan kemeja rapi keluar dari dalam rumah. "Raharjo! Tumben ke sini pagi-pagi," sapa pria itu. Pak Raharjo turun dari mobil, "Hasan, aku butuh bantuanmu." Pak Hasan mengerutkan kening, lalu melihat ke arah Roni dan Ajeng yang masih duduk di dalam mobil, "Siapa mereka?" "Anakku dan calon suaminya," jawab Pak Raharjo. "Aku ingin kamu menikahkan mereka sekarang." Pak Hasan terkejut, "Kenapa mendadak banget?" "Maaf, Has," ujar Pak Raharjo. "Aku tahu ini mendadak. Tapi aku punya alasan." Ia menarik Pak Hasan ke samping, berbicara dengan suara rendah, menjelaskan situasinya. Pak Hasan mendengarkan dengan saksama, wajahnya berubah dari terkejut menjadi serius. Setelah Pak Raharjo sel

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 163 - Menikah?

    Pak Raharjo menunduk dan terdiam beberapa saat, lalu berkata dengan suara yang lebih pelan, "Sebenarnya... aku sudah lama mendengar tentang sindikat yang mencari artefak kuno. Mereka beroperasi di desa-desa sekitar, mencari benda-benda pusaka yang katanya memiliki kekuatan. Aku tidak pernah tahu siapa dalangnya, tapi sekarang..." Roni dan Ajeng mendengarkan dengan serius meski tak tahu arah pembicaraan Pak Raharjo akan kemana. Pak Raharjo mengangkat kepalanya, matanya menatap Roni dengan tatapan yang berbeda, "Kini aku mulai paham bahwa sindikat itu milik Bos Mulyo. Dan Bos Mulyo adalah Bram." Roni terkejut, "Pak Raharjo... Bapak juga tahu tentang sindikat itu?" Pak Raharjo mengangguk pelan, "Aku tahu dari mendiang Marzuki, ayah Tika. Dulu dia pernah bercerita tentang jaringan yang mencari pusaka-pusaka kuno. Dia bilang jaringan itu sangat berbahaya, dan dia sedang menyelidikinya. Tidak lama setelah itu... dia ditangkap dan dipenjara." "Jadi berita tentang Pak Marzuki itu

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 162 - Sebenarnya Aku Tahu

    Satu jam kemudian... Ajeng kini duduk di depan meja rias sambil memakai gaun yang Roni belikan semalam setelah mengantar Mina. Dia sedang merias wajahnya dengan bedak tipis dan gincu berwarna merah muda pucat. Di sisi lain, Roni duduk di tepi ranjang sambil mengawasi Ajeng dari pantulan cermin. Ajeng tersenyum pada bayangannya di cermin, lalu menoleh pada Roni. "Kau tahu, Ron," kata Ajeng dengan nada santai, "itumu tadi ternyata enak juga." Roni yang sedang menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang langsung menegakkan tubuh. "Hah?!" Ia menatap Ajeng dengan mata membelalak, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. "Maksudnya... enak gimana? Apa kamu nggak jijik menelannya?" Ajeng mengangguk tanpa rasa malu, tangannya masih menata rambut. "Iya. Awalnya aku agak jijik, tapi setelah dirasakan dengan saksama... rasanya manis dan sedikit asin. Aneh, tapi enak." Roni terdiam beberapa saat, lalu tersenyum. Senyum yang campuran antara terkejut, geli, dan sedikit bangga.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status