Share

Bab 163 - Menikah?

Author: Frands
last update publish date: 2026-09-15 22:24:49

Pak Raharjo menunduk dan terdiam beberapa saat, lalu berkata dengan suara yang lebih pelan, "Sebenarnya... aku sudah lama mendengar tentang sindikat yang mencari artefak kuno. Mereka beroperasi di desa-desa sekitar, mencari benda-benda pusaka yang katanya memiliki kekuatan. Aku tidak pernah tahu siapa dalangnya, tapi sekarang..."

Roni dan Ajeng mendengarkan dengan serius meski tak tahu arah pembicaraan Pak Raharjo akan kemana.

Pak Raharjo mengangkat kepalanya, matanya menatap Roni dengan t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 165 - Kontrakan

    "Di mana kita akan tinggal?" tanya Ajeng, matanya menyapu sekeliling terminal yang luas. Roni mengangkat bahu, "Aku tidak tahu, Jeng. Coba cari tempat sewa di internet." Ajeng mengangguk, mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ia membuka aplikasi pencari properti dan mulai mengetik. Setelah beberapa menit, Ajeng tersenyum. "Ada, Ron. Rumah kontrakan petakan di pinggiran Jakarta. Tapi harganya satu juta sebulan. Satu kamar, dapur kecil, dan kamar mandi dalam." Roni mengerjapkan mata, "Satu juta? Itu cukup mahal." Ajeng mengangguk, "Ya namanya juga Jakarta, Ron. Harganya relatif segitu. Dan ini yang paling murah yang aku temukan dengan fasilitas layak." Roni menghela napas, "Baiklah. Kita coba lihat dulu. Kalau tidak cocok, kita cari yang lain." Mereka berjalan keluar dari terminal, mencari angkot yang menuju ke alamat yang ditunjukkan di ponsel Ajeng. Setelah bertanya pada beberapa orang, mereka menemukan angkot yang tepat. Perjalanan menuju kontrakan memakan waktu hampir

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 164 - Babak Baru Menuju Jakarta

    Mereka bertiga masuk ke mobil pick-up tua Pak Raharjo dan melaju menyusuri jalanan kota. Setelah sekitar lima belas menit, mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar kayu. Bip... Bip... Pak Raharjo membunyikan klakson, dan tak lama kemudian, seorang pria tua berjanggut putih dengan kemeja rapi keluar dari dalam rumah. "Raharjo! Tumben ke sini pagi-pagi," sapa pria itu. Pak Raharjo turun dari mobil, "Hasan, aku butuh bantuanmu." Pak Hasan mengerutkan kening, lalu melihat ke arah Roni dan Ajeng yang masih duduk di dalam mobil, "Siapa mereka?" "Anakku dan calon suaminya," jawab Pak Raharjo. "Aku ingin kamu menikahkan mereka sekarang." Pak Hasan terkejut, "Kenapa mendadak banget?" "Maaf, Has," ujar Pak Raharjo. "Aku tahu ini mendadak. Tapi aku punya alasan." Ia menarik Pak Hasan ke samping, berbicara dengan suara rendah, menjelaskan situasinya. Pak Hasan mendengarkan dengan saksama, wajahnya berubah dari terkejut menjadi serius. Setelah Pak Raharjo sel

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 163 - Menikah?

    Pak Raharjo menunduk dan terdiam beberapa saat, lalu berkata dengan suara yang lebih pelan, "Sebenarnya... aku sudah lama mendengar tentang sindikat yang mencari artefak kuno. Mereka beroperasi di desa-desa sekitar, mencari benda-benda pusaka yang katanya memiliki kekuatan. Aku tidak pernah tahu siapa dalangnya, tapi sekarang..." Roni dan Ajeng mendengarkan dengan serius meski tak tahu arah pembicaraan Pak Raharjo akan kemana. Pak Raharjo mengangkat kepalanya, matanya menatap Roni dengan tatapan yang berbeda, "Kini aku mulai paham bahwa sindikat itu milik Bos Mulyo. Dan Bos Mulyo adalah Bram." Roni terkejut, "Pak Raharjo... Bapak juga tahu tentang sindikat itu?" Pak Raharjo mengangguk pelan, "Aku tahu dari mendiang Marzuki, ayah Tika. Dulu dia pernah bercerita tentang jaringan yang mencari pusaka-pusaka kuno. Dia bilang jaringan itu sangat berbahaya, dan dia sedang menyelidikinya. Tidak lama setelah itu... dia ditangkap dan dipenjara." "Jadi berita tentang Pak Marzuki itu

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 162 - Sebenarnya Aku Tahu

    Satu jam kemudian... Ajeng kini duduk di depan meja rias sambil memakai gaun yang Roni belikan semalam setelah mengantar Mina. Dia sedang merias wajahnya dengan bedak tipis dan gincu berwarna merah muda pucat. Di sisi lain, Roni duduk di tepi ranjang sambil mengawasi Ajeng dari pantulan cermin. Ajeng tersenyum pada bayangannya di cermin, lalu menoleh pada Roni. "Kau tahu, Ron," kata Ajeng dengan nada santai, "itumu tadi ternyata enak juga." Roni yang sedang menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang langsung menegakkan tubuh. "Hah?!" Ia menatap Ajeng dengan mata membelalak, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. "Maksudnya... enak gimana? Apa kamu nggak jijik menelannya?" Ajeng mengangguk tanpa rasa malu, tangannya masih menata rambut. "Iya. Awalnya aku agak jijik, tapi setelah dirasakan dengan saksama... rasanya manis dan sedikit asin. Aneh, tapi enak." Roni terdiam beberapa saat, lalu tersenyum. Senyum yang campuran antara terkejut, geli, dan sedikit bangga.

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 161 - Gadis Polos Itu Kini Menjadi Liar

    Keesokan paginya, Roni mengerjapkan mata, merasakan kehangatan tubuh Ajeng yang masih terlelap di pelukannya. Wajah Ajeng kala itu tenang, napasnya teratur, dengan senyum tipis yang entah tentang apa. Roni tersenyum, mengusap rambut Ajeng pelan, lalu mencoba bangun tanpa membangunkannya. Namun sebelum ia sempat bergerak, ponsel Ajeng di atas meja berdering nyaring. Roni menoleh ke arah layar ponsel yang, menampilkan nama "Bapak" dengan panggilan tak terjawab. Roni meraih ponsel itu, ragu sejenak, lalu menggoyangkan bahu Ajeng dengan lembut. "Ajeng... bangun. Ada telepon dari bapakmu." Ajeng mengerang pelan, membuka matanya setengah. "Hm? Bapak?" Ia bangkit perlahan, meraih ponsel dari tangan Roni, dan menekan tombol jawab. "Halo, Pak?" Suara Pak Raharjo terdengar cemas di seberang, "Ajeng! Kamu di mana? Kam semalaman nggak pulang, nggak kasih kabar!" Ajeng menggigit bibirnya, menatap Roni sebentar, lalu menjawab dengan suara tenang, "Maaf, Pak. Aku sekarang di kota.

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 160 - Sesuai Keinginanmu

    Ajeng menatap Roni dengan mata berkaca-kaca, "Apa kamu mau meniduri Mina? Seperti yang kamu lakukan pada banyak wanita? Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan semua itu?" Roni mencoba bangkit, tapi Ajeng menahannya, "Ajeng, dengar dulu—" "Tidak!" potong Ajeng, suaranya tegas, "Aku sudah cukup mendengar dan sudah cukup terlalu lama diam. Malam ini, aku hampir kehilangan segalanya karena Bram. Dan kau... kau yang selama ini aku inginkan, kau justru tak memberiku kesempatan." Roni menatap Ajeng, melihat campuran antara amarah, ketakutan, dan hasrat yang membara di matanya. Ia merasakan berat tubuh Ajeng di atasnya, kehangatan tangannya di dadanya. "Ajeng... aku hanya tidak mau kamu terluka." "Aku sudah terluka, Ron," jawab Ajeng, suaranya melunak, "Aku terluka karena kamu pergi dari desa tanpa memberiku sesuatu. Kamu sama saja menelantarkanku tanpa kenang-kenangan." Roni terdiam, merasakan tusukan di dadanya. "Ajeng, aku..." "Jangan berkata apa-apa," bisik Ajeng, lalu ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status