Home / Romansa / Jangan Hisap, Pak Bos! / Antara Resign dan Rahasia

Share

Antara Resign dan Rahasia

Author: Olivia
last update Huling Na-update: 2025-08-18 15:36:38

Pagi itu, Sevi bangun dengan tubuh masih gemetar. Setiap kali menutup mata, ia bisa merasakan lagi bibir Arlan menyentuh kulitnya—terlalu nyata untuk disebut mimpi. Dada Sevi berdenyut, lembap, meninggalkan rasa hangat yang membuatnya ingin menjerit

Sejak kejadian malam itu, dunia Sevi terasa runtuh. Layar komputer di depannya penuh huruf, tapi matanya hanya menangkap simbol kosong. Setiap kedipan membawa kembali kilasan memori—kilasan yang seharusnya ia singkirkan, namun terus datang seperti ombak menghantam karang.

Jantungnya berdetak tak karuan tiap kali pintu ruangan Arlan terbuka. Bahkan suara langkah sepatu di koridor cukup membuatnya menahan napas. Ia mencoba menipu diri, pura-pura tak pernah ada apa-apa. Namun denyut gugup di dadanya selalu mengkhianati.

Pernah terlintas untuk menyerahkan surat resign. Tapi kenyataan pahit segera menabrak logika, Pekerjaan ini adalah impiannya, dan pekerjaan bergaji layak yang sesuai minat tidak mudah dicari. Semua kenyamanan yang ia bangun
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Acma17 Mazaya
knp setiap mau terus baca harus nonton iklan biasanya dia kali sekarang lebih dr empat kali baru bisa lanjut baca?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Miko dan Mila

    “Kamu suka Sevi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Mila, tanpa aba-aba, tanpa nada bercanda. Sunyi di ruang perawatan rumah sakit seketika terasa lebih tebal dari sebelumnya.Miko yang sejak tadi duduk sambil menatap layar ponselnya langsung terdiam. Bahunya sedikit menegang. Ia tidak menoleh, tidak juga langsung menjawab. Jarinya berhenti bergerak, layar ponsel meredup dengan sendirinya.“Mila…” Miko menghela napas pendek. “Kamu capek. Nggak usah mikir yang aneh-aneh dulu.”Mila menatapnya lurus. “Aku nanya baik-baik, Ko.”“Aku cuma bilang, kamu lagi capek,” ulang Miko, kali ini sambil tersenyum tipis yang terasa dipaksakan. “Habis jatuh, habis panik, habis ke rumah sakit. Wajar kalau pikiran ke mana-mana.”“Itu bukan jawaban.”Miko akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu, dan di sanalah Mila menangkap sesuatu yang membuat dadanya terasa sedikit sesak. Wajah Miko memperlihatkan… keraguan.“Cuma temen SMA,” lanjut Miko cepat, seolah ingin menutup percakapan itu secepat

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Teman

    Di seberang telepon, Sevi menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. Keheningan singkat kembali tercipta, namun kali ini berbeda. Bukan canggung, melainkan penuh antisipasi. “Maaf,” kata Sevi akhirnya. “Kalau hari ini banyak hal yang bikin kamu bingung.” Arlan menutup matanya sejenak. “Sevi… aku nggak marah. Aku cuma...” “Aku tahu,” potong Sevi cepat. “Makanya aku mau jelasin. Biar nggak ada yang salah paham.” Arlan membuka mata, menatap jalan di depannya. “Oke. Aku dengerin.” Di seberang sana, Sevi menghela napas lagi. “Orang yang kamu lihat tadi,” katanya pelan, “itu Miko. Teman SMA aku. Dan… iya, dia juga orang yang sempat ketemu aku waktu reuni.” Arlan menggenggam setir lebih erat, tapi suaranya tetap tenang. “Terus?” “Dia hubungi aku lagi. Cuma mau minta maaf soal masa lalu. Nggak lebih,” lanjut Sevi. “Aku nggak cerita ke kamu karena… aku sendiri masih bingung gimana cara ngomonginnya.” “Kenapa harus video call malam-malam?” tanya Arlan, jujur. Sevi

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Belum Terjawab

    Keheningan yang tercipta di tengah kebingungan itu terasa terlalu berat untuk Sevi. Dadanya sesak, bukan karena takut semata, melainkan karena terlalu banyak pasang mata dan terlalu banyak makna dalam satu momen yang datang bersamaan. Namanya dipanggil barusan masih bergema di kepalanya, seolah tertinggal di udara lobby yang dingin dan penuh gema langkah kaki.“Sevi?”Ia masih berdiri kaku, tangan kirinya menggenggam tali tas terlalu erat. Di hadapannya, pria itu, yang tak lain adalah Miko, masih berdiri dengan senyum canggung, seakan menyadari bahwa situasi ini jauh dari sederhana. Mila, yang sejak tadi berada di samping Miko, menoleh bolak-balik antara Sevi dan pria itu, mencoba memahami dinamika yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba.Dan Arlan.Sevi tahu Arlan ada di sana bahkan sebelum menoleh. Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Ketika ia akhirnya melirik ke samping, benar saja, Arlan berdiri tak jauh dari lift, mematung, wajahnya tenang tapi sorot matanya jelas menyimpan ses

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Kaget

    Hari sudah benar-benar merambat menuju malam. Cahaya jingga yang tadi sempat menyelinap lewat celah jendela kontrakan kini lenyap, digantikan lampu-lampu jalan yang menyala satu per satu. Arlan sudah jauh lebih baik.Demamnya benar-benar turun tanpa harus menginjakkan kaki ke klinik atau rumah sakit. Sevi tidak asal memberi obat, semuanya sesuai anjuran dokter, dosisnya tepat, waktunya teratur. “Serius amat Mbak.” Arlan sempat menggoda Sevi soal itu, menyebutnya terlalu serius, tapi di dalam hati ia tahu, kalau bukan karena ketelitian Sevi, mungkin kondisinya belum sebaik ini. Tinggal radang tenggorokan yang masih terasa perih sesekali, terutama saat berbicara terlalu lama atau tertawa berlebihan.Saat ini mereka duduk di depan televisi, saling berpelukan di sofa sempit yang sudah menjadi saksi banyak momen mereka. Jangan lupakan tangan Arlan yang tak mau tinggal diam, meremas dan terkadang mengelus ujung dada Sevi yang masih tertutup kaos. “Diem, Lan.”“Nggak mau, siapa suruh ngg

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Menyembunyikan

    “Mau nen..."“Aku nggak yakin deh kamu sakit, Lan.” Ujar Sevi yang muak sedari tadi Arlan merengek ingin...Namun siapa sangka, bukannya menolak, Sevi malah menyikap kaosnya. Terlihat bulatan sekal yang sangat disukai Arlan. Senyum Arlan seketika mengembang, dengan cepat ia mendekat pada Sevi, sedikit memilin ujung dadanya sampai Sevi merasa antara geli dan sakit menjadi satu.“Shh.. Arlan...”“Hehehehe.” Tanpa basa-basi lagi, Arlan mengenyot pelan sambil meremas bulatan sekal satunya. Sevi menatap Arlan, mengelus rambutnya pelan. “Masih keluar ASI nya?” Arlan hanya mengangguk pelan, dan melanjutkan kegiatannya hingga ASI tak ada yang tersisa lagi. Matanya pun mulai memejam, nafas perlahan teratur, dan badannya lebih rileks. Arlan tertidur pulas.\\\Arlan terbangun dengan perasaan aneh.Bukan karena demamnya yang kini terasa jauh lebih jinak dibanding pagi tadi, melainkan karena ruang di sampingnya kosong. Tangannya refleks menyentuh seprai, mencari kehangatan yang biasanya ada. Di

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Demam

    Cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah tirai kamar kontrakan Sevi, hangat dan lembut, jatuh di seprai kusut yang masih menyimpan sisa-sisa kantuk malam. Sevi bergerak pelan, refleks meraih sisi ranjang yang biasanya hangat oleh tubuh Arlan.Namun yang ia sentuh bukan kehangatan biasa.Panas.Sevi langsung membuka mata sepenuhnya. Tangannya berpindah ke lengan Arlan, lalu ke lehernya. Panasnya tidak wajar. Napas Arlan terdengar berat, tidak teratur, dan tubuhnya menggigil meski selimut menutupinya.“Arlan?” panggil Sevi pelan, suaranya langsung berubah tegang.Tidak ada jawaban. Arlan hanya mengerang kecil, alisnya berkerut, seolah tubuhnya sedang melawan sesuatu yang tak kasatmata.“Arlan, bangun sebentar,” Sevi menepuk pipinya ringan. “Sayang?”Tubuh Arlan justru menggigil lebih keras.Panik mulai naik ke dada Sevi. Ia segera menarik selimut tambahan dan menyelimuti Arlan sampai ke bahu, lalu bangkit dari tempat tidur. Dengan langkah cepat tapi tetap hati-hati, ia membuka laci

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status