共有

Kecurigaan

作者: Olivia
last update 公開日: 2025-08-03 14:54:15

Seiring hari-hari berlalu, Sevi mulai menjalani rutinitas yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menghangatkan kontrakannya, ia terbangun oleh rasa nyeri di dadanya. Sensasi itu seperti alarm alami yang memaksanya bangun, meski matanya masih berat.

Langkah pertama yang ia lakukan bukan lagi menyeduh kopi, melainkan mengambil pompa ASI dari meja dan memulai proses memompa. Cairan yang keluar tetap beraroma manis strawberry—samar, tapi jelas. Kadang ia tersenyum kecut melihat botol kecil itu terisi, seolah tubuhnya kini menjadi pabrik kecil yang memproduksi sesuatu yang tak pernah ia pesan.

“Parah… jadi kayak sapi perah,” gumamnya pada diri sendiri.

Setelah itu, barulah ia bersiap berangkat kerja. Malam harinya, ia mencoba membatasi konsumsi susu strawberry. Ia tahu, semakin banyak ia minum, semakin “produktif” tubuhnya esok hari. Tapi membatasi bukan berarti berhenti—setiap tegukan tetap menjadi godaan yang sulit ia tolak.

Di kantor, Sevi masih tampak normal. Ia masih duduk di halte selepas jam kantor sambil menyeruput susu dari botol favoritnya, masih tertawa kecil bersama teman-teman saat makan siang. Tidak ada tanda dari luar yang membuat orang mengira ada yang berubah. Namun, di dalam dirinya, Sevi sadar betul bahwa tubuhnya tak lagi sepenuhnya “normal”.

Ada sesuatu yang bergeser.

Namun yang mengusiknya bukan perubahan itu sendiri, melainkan fakta bahwa ia mulai terbiasa. Ia menghitung waktu ideal untuk memompa agar nyeri tak muncul, membedakan rasa susu dari berbagai merek, bahkan mencatat mana yang membuat cairannya lebih kental. Rasanya seperti menjadi subjek eksperimen berjalan.

Suatu malam, sambil menyeruput segelas susu strawberry, Sevi mencari informasi soal hormon prolaktin. Di tengah pencarian, ia menemukan forum luar negeri berisi orang-orang dengan pengalaman serupa. Ada yang menyebut penyebabnya herbal tersembunyi dalam minuman rasa buah. Ada juga yang mengaitkannya dengan riset farmasi untuk terapi hormon.

Ia mendesah pelan. “Jangan-jangan… ini ada hubungannya sama kerjaan.”

Di sisi lain, Arlan belum bisa mengabaikan mengenai aroma manis yang sempat tercium di ruangannya beberapa hari lalu. Bukan seperti parfum buatan, tapi alami, lembut, dan entah kenapa… hangat di dada.

Ia sempat bertanya pada Sevi tentang botol susu yang sering dibawanya. Jawaban gadis itu waktu itu sederhana, “Susu fermentasi homemade, Pak.”

Tapi sekarang, jawaban itu terdengar meragukan.

Arlan berdiri dari kursinya sore itu dan berjalan ke pantry. Membuka kulkas, matanya langsung tertuju pada botol kecil berisi cairan kekuningan dengan tutup merah muda. Tidak ada label. Tidak ada tulisan.

Tangannya terulur, nyaris menyentuh botol itu. Namun ia berhenti ketika melihat sticky note di sebelahnya

"Jangan dibuang. Milik Sevi."

Arlan mematung beberapa detik. Tatapannya tajam, napasnya pelan. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

Ia meminumnya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (4)
goodnovel comment avatar
Fir Mia
kayak pabrik susu hidup ya..
goodnovel comment avatar
LeeLaayeola
Jangan lupa mampir ke novelku, Kak. "Gelombang Dendam Sang Istri"
goodnovel comment avatar
jamsbond ws
ntar malah arlan yg keluar ASA (Aur Susu Arlan) hahaaaa
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Bos, Jangan di Sini!   Overthinking

    Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru berubah menjadi ruang penuh pikiran bagi Sevi. Ia tidak benar-benar terlelap setelah terbangun oleh gumaman Arlan. Tubuhnya memang diam, namun matanya terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sesekali ia menoleh ke arah nakas. Ponsel Arlan ada di sana. Layar nya hitam, diam, tidak ada nada dering yang terdengar. Namun entah kenapa, benda itu terasa seperti menyimpan sesuatu.Sevi menarik napas pelan, lalu memejamkan mata. Ia mencoba tidur, namun gagal. Beberapa menit kemudian, matanya terbuka lagi, tangannya meraih ponselnya sendiri.Ia menggulir layar tanpa tujuan. Membuka aplikasi, menutupnya lagi. Tidak ada yang benar-benar ia perhatikan.Pikirannya sibuk, berulang pada satu hal, suara Arlan yang menggumamkan nama itu, Sonya.“...jangan…”Sevi menelan ludahnya sendiri.“Cuma mimpi kok” gumamnya pelan.Namun semakin ia mencoba meyakinkan diri, semakin terasa tidak sederhana. Bahkan waktu berjalan lambat sekarang.Jam dem

  • Bos, Jangan di Sini!   Double Date

    Arlan kira setelah lelah melakukan kegiatan panas tadi, Sebi akan langsung tertidur. Nyata nya, Sevi malah merengek ingin menonton acara kesukaan nya.Lampu ruang tamu menyala hangat, sementara televisi hanya menjadi latar tanpa benar-benar mereka perhatikan.Sevi duduk bersila di sofa, baju nya sudah diganti menjadi baju tidur. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di pipi.“Lan…”“Iya?”“Kita jadi gym bareng kan nanti?”Arlan yang sedang membuka kulkas menoleh. “Jadi.”Sevi mengangguk pelan,. “Tapi aku masih takut sih.” Gumam nya pelan, bahkan Arlan pun tidak mendengar.“Kenapa sayang? Aku nggak denger suara mu.” Arlan terdiam sebentar, lalu menutup kulkas. Sebenarnya Arlan paham apa yang dikatakan Sevi, namun dalam kasus sekarang Arlan pura-pura tidak tau apapun.“Itu, kan aku nggak ada pakaian olahraga di sini. Tadi kan ditinggal di rumah utama.” “Kamu kuat jalan nggak? Kalau kuat kita keluar sekarang aja.”Sevi langsung menoleh cepat. “Sekarang?”“Iya. Sekalian makan mal

  • Bos, Jangan di Sini!   Jadi Basah

    “Mau..” Ucap Sevi sambil mendusal pelan di leher Arlan.“Mau apa sayang?” Arlan dengan lembut mengelus surai hitam Sevi, memberinya kecupan singkat di kening dan pipi nya. Dengan sengaja Sevi menggoyangkan pinggul nya dengan ritme yang pelan. Tak disangka, di bawah sana sudah menonjol kuat hingga terasa oleh Sevi."Ja-jangan sayang, nggak sekarang ya.” Arlan mendorong tubuh Sevi pelan, mereka berdua bertatapan beberapa menit. Senyum ceria Sevi tadi seketika hilang digantikan cemberut di wajahnya. “Oh yaudah.” Jawab Sevi sesingkat mungkin.Lalu ia segera berdiri dan masuk ke dalam kamar, pun pintu sengaja ia tutup. “Apaan coba, giliran aku yang mau, dia nya nolak. Nggak jelas banget” Gerutu Sevi sembari menarik selimut.Disisi lain Arlan terkekeh pelan, melihat wanita nya yang ia tolak tadi langsung berubah drastis.Tangan Arlan bergerak mengelus benda keras miliknya, “Nggak sekarang waktunya.”Sebenarnya bisa saja Arlan menerkam Sevi sekarang, namun pikirannya masih mengingat apa

  • Bos, Jangan di Sini!   Takut, Tapi Lebih ke Manja

    Terik matahari mulai beranjak turun, menyisakan awan oranye yang pelan-pelan mulai muncul. Suasana yang tadi ramai oleh obrolan kini perlahan menipis.Bima berdiri dari kursinya, menepuk pelan celana pendeknya.“Aku pamit ya, Sev… Mbak… Nitip salam ke Mama kalau aku pulang, jangan dibangunin kasihan capek.”Sevi mengangguk pelan, senyumnya tipis.“Iya, hati-hati ya, Bim.”Namun sebelum benar-benar pergi, Bima melirik ke arah Arlan. “Lan, anter bentar yok.”Nada suaranya berubah lebih serius. Tanpa basa basi Arlan langsung menyambar kunci mobil nya.“Iya,” jawabnya singkat.\\\Langkah mereka berdua keluar rumah terasa berbeda dingin dan serius. Hanya suara kerikil kecil yang terinjak dan angin menjelang sore yang berembus pelan.Sampai di dekat motor Bima, pria itu belum juga langsung naik. Ia berdiri, menatap ke depan, rahangnya mengeras.“Aku masih nggak terima, Lan.”Arlan menatapnya. “Siapa pun itu… berani banget anjing nyentuh Sevi.” Nada suara Arlan rendah seperti tertahan dan

  • Bos, Jangan di Sini!   Bima dan Arlan

    Siang itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Mbak sudah lebih dulu menyiapkan makan siang di dapur. Aroma masakan memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana terasa hangat walaupun di dalamnya ada seseorang yang justru tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sevi duduk di kursi makan, ia diam, tangannya memainkan ujung sendok tanpa benar-benar berniat makan. Mama sempat melirik.“Kok nggak dimakan, Sev?”Sevi tersenyum tipis. “Eh iya ma...”Namun sendok itu hanya bergerak pelan, seperti enggan untuk masuk ke dalam mulut.Tidak berselang lama, pintu depan terbuka. Arlan masuk dengan langkah cepat.“Udah pada makan?”“Iya, kamu sini cuci tangan dulu,” sahut mama.Arlan mengangguk, tapi matanya langsung mencari satu orang, Sevi. Ia memperhatikan beberapa detik, ia paham kalau Sevi yang biasanya paling banyak bicara di meja makan. Namun sekarang justru paling diam.Arlan mengernyit heran, namun ia tidak langsung bertanya. Ia duduk di sebelah Sevi setelah mencuci tangan.“Makan apa hari ini

  • Bos, Jangan di Sini!   Kecewa

    Ruang CCTV itu terasa lebih sempit dari ukuran aslinya.Layar-layar monitor menyala berjajar, menampilkan sudut-sudut gym dari berbagai arah. Biasanya tempat itu hanya dipakai untuk pemantauan biasa, keamanan alat, keluar masuk member, hal-hal teknis.Namun kali ini,Ada sesuatu yang berbeda.Bima berdiri di depan layar dengan napas yang tidak beraturan. Dadanya masih terasa nyeri, tapi ia bahkan tidak memedulikannya. Tatapannya tajam, berpindah dari satu layar ke layar lain.“Putar lagi yang tadi,” ucapnya tegas pada petugas.Rekaman diputar ulang.Area tempat Sevi berdiri tadi terlihat jelas.Sevi ikut memperhatikan, berdiri sedikit di belakang Bima. Tangannya saling menggenggam, berusaha menenangkan diri.Di layar, Ia terlihat sedang mengangkat barbel. Lalu tiba-tiba terkejut dan barbel jatuh.Namun…Tidak ada siapa pun di belakangnya. Bima mengernyit.“Zoom bagian sini.”Layar diperbesar.Tetap sama.Kosong.“Yang sudut kanan.”Dipindah.Tidak ada.“Belakang alat.”Diputar lagi.M

  • Bos, Jangan di Sini!   Hubungan yang Merenggang

    Mila berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, menatap bayangannya sendiri. Mata itu tampak lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak menahan. Sejak beberapa hari terakhir, ia sengaja menjaga jarak dari Sevi. Bukan sekali dua kali Sevi menyapanya di pantry, di lorong, bah

    last update最終更新日 : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Miko dan Mila

    “Kamu suka Sevi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Mila, tanpa aba-aba, tanpa nada bercanda. Sunyi di ruang perawatan rumah sakit seketika terasa lebih tebal dari sebelumnya.Miko yang sejak tadi duduk sambil menatap layar ponselnya langsung terdiam. Bahunya sedikit menegang. Ia tidak

    last update最終更新日 : 2026-03-29
  • Bos, Jangan di Sini!   Nenek

    Miko mengelus rambut Mila. “Kamu istirahat yang baik. Jangan banyak gerak.” “Iya.” Miko melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. “Mil…” Mila menoleh. “Makasi ya,” katanya singkat. “Untuk semuanya.” Mila tersenyum kecil. “Sama-sama, Ko.” Pintu tertutup. Mila menatap kosong ke arah pint

    last update最終更新日 : 2026-03-29
  • Bos, Jangan di Sini!   Malam Panjang

    Perjalanan pulang dari pasar malam terasa berbeda.Tidak ada obrolan berisik, tidak ada tawa berlebihan, hanya keheningan yang hangat dan penuh rasa.Sevi dan Arlan duduk berdampingan di dalam mobil, tangan mereka saling bertaut di atas konsol tengah. Genggamannya erat, seolah dunia di luar sana bi

    last update最終更新日 : 2026-03-27
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status