Share

Kok.. Aneh...

Author: Olivia
last update publish date: 2025-12-23 22:43:29

Pagi itu terasa berbeda, meski dari luar semuanya tampak berjalan seperti biasa. Matahari terbit dari balik perbukitan dengan cahaya lembut, ayam jantan kembali berkokok seperti hari-hari sebelumnya, dan orang tua Sevi tetap bersiap menjalani rutinitas mereka tanpa perubahan berarti. Namun bagi Arlan, ada sesuatu yang mengganjal sejak ia membuka mata.

Ia duduk di tepi ranjang, menghela napas pelan. Ada rasa tidak nyaman yang sulit ia jelaskan, bukan rasa cemburu yang meledak-ledak, bukan pula c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Chippy Ray
mohon ceritanya dilanjutkan sampai tamat yaa , malas baca judul baru soalnya ceritanya masih berhubung, makin seruuu dan menarik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Terlalu Kekanak-kanakan?

    Pintu laboratorium terbuka cukup keras ketika Sevi masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa kepala langsung menoleh spontan.Suasana yang tadinya dipenuhi suara mesin dan obrolan kecil mendadak hening begitu melihat wajah Sevi yang pucat dengan mata sembab.Tak ada yang berani bertanya.Semua orang di kantor sudah cukup tahu bagaimana dekatnya hubungan Sevi dan Arlan. Dan barusan… hampir satu lantai mendengar suara pertengkaran mereka di area lift.Sevi berjalan menuju mejanya tanpa berkata apa-apa. Tangannya bergerak pelan memasukkan barang-barang pribadi ke dalam tote bag cokelat miliknya, charger, dompet, tempat makan kosong dan sweater tipis yang biasa ia pakai kalau suhu lab terlalu dingin.Gerakannya lambat. Seolah tubuhnya kehilangan tenaga bahkan hanya untuk sekadar berdiri tegak.“Sev…”Salah satu rekan kerjanya memanggil pelan. Namun Sevi hanya menggeleng kecil sambil memaksakan senyum tipis.“Aku nggak apa-apa.”Padahal jelas-jelas tidak. Setelah semua barangnya masuk, Sevi lan

  • Bos, Jangan di Sini!   Jangan Cari Aku

    “Sev, tunggu! Sevi, dengerin aku dulu!”Suara Arlan menggema cukup keras di sepanjang koridor lantai utama kantor. Namun Sevi sama sekali tidak berhenti. Ia malah mempercepat langkahnya.Kakinya terasa lemas dan gemetar, tapi tetap ia paksa berjalan membelah kerumunan karyawan yang mulai melirik mereka dengan tatapan penasaran. Beberapa orang bahkan pura-pura sibuk sambil diam-diam memperhatikan situasi tersebut.Tepat sebelum pintu lift menutup sempurna, sebuah tangan besar menahannya kuat.Brak.Pintu lift kembali terbuka.Arlan langsung masuk dengan napas memburu. Wajahnya terlihat kacau, dipenuhi frustrasi dan emosi yang sejak tadi ia tahan mati-matian.“Sevi, bisa nggak sih jangan kayak gini dulu?”Nada suara Arlan meninggi tanpa sadar. Lift mulai bergerak turun perlahan. Ruangan sempit itu kini terasa makin menyesakkan bagi keduanya.“Kondisi kantor lagi kacau banget hari ini!” lanjut Arlan sambil mengusap wajahnya kasar. “Aku kerja dari semalam bukan buat main-main, Sev. Aku la

  • Bos, Jangan di Sini!   Awal Retak

    “Aku cuma mau nganterin sarapan. Kamu nggak pulang semalam dan nggak ada kabar,” ucap Sevi pelan, berusaha keras menahan getar di suaranya agar tidak terdengar seperti perempuan yang sedang meminta belas kasih perhatian.“Tapi sepertinya… kamu udah punya banyak bantuan di sini.”Kalimat itu meluncur dingin, membelah atmosfer tegang di ruang kerja Arlan yang sejak pagi dipenuhi tekanan.Arlan yang baru saja membungkuk mengambil spidol hitam di bawah papan tulis kaca langsung mematung.Di sampingnya, Sonya ikut terdiam. Tablet di tangannya masih menyala menampilkan data distribusi, sementara cangkir kopi yang baru ia letakkan di meja seolah kehilangan arti di tengah suasana yang mendadak membeku.Ruangan berpendingin udara itu tiba-tiba terasa sesak.Tatapan Sevi turun perlahan ke paper bag di tangannya. Sup ayam hangat buatannya kini terlihat begitu kecil di antara tumpukan dokumen bertuliskan Draf Distribusi Lini Susu Kemasan — Malang.“Sev…”Arlan berdeham pelan. Tenggorokannya teras

  • Bos, Jangan di Sini!   Salah Paham

    Sevi menggenggam erat paper bag berisi termos sup hangat itu. Jemarinya sampai memutih karena terlalu kuat mencengkeram pegangan kantong tersebut.Padahal pagi tadi ia sengaja bangun lebih awal hanya untuk memasak sup sederhana kesukaan Arlan. Kaldu ayam yang direbus pelan, irisan wortel kecil, kentang, dan daun bawang yang ia tabur terakhir agar aromanya tetap segar.Ia tahu hari ini kantor sedang kacau karena Om Wijaya kembali menekan banyak hal sekaligus. Semua divisi seperti dipaksa berlari tanpa jeda.Maka Sevi mengurungkan niat mengantar sarapan pagi ke ruangan Arlan.“Nanti siang aja deh…” pikirnya tadi.Namun sekarang, berdiri di depan pintu kaca ruang kerja Arlan, Sevi justru merasa keputusan itu salah besar.Dari celah tirai yang sedikit terbuka, ia bisa melihat semuanya dengan sangat jelas.Arlan berdiri di depan papan tulis kaca penuh coretan distribusi produk. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, wajahnya terlihat lelah sekali. Namun di sampingnya ada Sonya yang berdiri

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidur Kantor

    Jarum jam di ruang tengah apartemen masih menunjukkan jam enam pagi. Namun Sevi masih duduk diam di sofa.Kedua lututnya ia tarik ke dada, dibalut selimut tebal yang sudah tidak lagi memberi rasa hangat. Lampu ruang tamu sengaja ia matikan, menyisakan cahaya redup dari dapur dan layar ponsel di atas meja.Chat dengan Arlan masih terbuka. Pesan terakhir yang ia kirim satu jam lalu belum berubah sama sekali.Masih centang dua abu-abu. Tidak ada tanda dibalas, apalagi dibaca. Hingga pagi ini pun, Arlan belum pulang.Ini adalah pertama kalinya sejak mereka bersama, Arlan benar-benar menghilang semalaman tanpa kabar yang jelas. Sevi berulang kali mencoba berpikir positif, mungkin Arlan ketiduran di kantor, mungkin pekerjaannya benar-benar menumpuk, atau siapa tau handphone-nya habis baterai.Namun semakin matahari memperlihatkan cahaya nya, pikiran buruk perlahan mulai masuk tanpa izin.“Kalau dia sama orang lain gimana…?”Kalimat itu membuat dada Sevi langsung terasa sesak sendiri. Ia bu

  • Bos, Jangan di Sini!   Perhatian

    Aroma mentega yang meleleh di atas teflon biasanya selalu berhasil menenangkan Sevi setiap pagi. Namun hari ini terasa berbeda, bahkan wangi roti panggang yang hangat pun tidak mampu mengusir mendung di wajahnya.Sevi berdiri diam di depan wastafel dapur apartemen sambil menatap layar ponsel yang menyala redup di sampingnya. Pesan dari Arlan semalam masih terpampang jelas di layar chat mereka.“Kamu tidur duluan aja, jangan nungguin.”Kalimat sederhana saja memang, tapi entah kenapa terasa begitu dingin untuk ukuran seorang tunangan.Sevi menghela napas panjang. Kompor di depannya ia matikan pelan, membiarkan roti yang tadi dipanggang setengah matang itu mulai mengeras sendiri di atas teflon.Pikirannya kembali berisik. Hubungan mereka memang masih baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran besar, Arlan juga masih sering bersikap manis seperti biasanya.Tapi justru itu yang membuat Sevi takut, semua hal itu terlalu biasa. Hingga tanpa sadar, mereka mulai terbiasa menjalani hari tanpa bena

  • Bos, Jangan di Sini!   Hilangnya Alya dan Kemarahannya

    Alya menutup pintu apartemennya dengan perlahan, menjerat satu napas panjang di dada. Di balik kaca tebal itu, kota tampak biasa lampu lalu lintas berdenyut, kendaraan mengais jalan, namun semuanya terasa asing dan jauh. Ia menempelkan punggungnya pada pintu seolah berharap getarannya bisa meredak

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Bos, Jangan di Sini!   Gangguan dikala Romantis

    Malam itu, setelah Arlan pulang dari rumah orang tuanya, udara di sekitar kontrakan Sevi terasa tenang dan hangat. Lampu di dapur menyala redup, menerangi meja kecil yang kini dipenuhi beberapa bahan masakan sederhana, bawang merah, cabai, daun bawang, dan satu ikat sawi segar. Sevi duduk di kursi,

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Bos, Jangan di Sini!   Tak pernah Berubah

    “Pak Bos... Bantu saya, ya...” Suara rendah nan halus, kini hancur sudah dinding kesabaran Arlan.Segera ia menggendong Sevi menuju ruangannya, tak ingin adegan yang membuatnya dejavu ini terekam oleh CCTV ruangan. Selagi menuju ke ruangannya, Sevi hanya mengusak lembut di lehernya. Suara kecipak

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status