LOGINPerjalanan menuju Jawa Timur berlangsung jauh lebih lancar daripada yang diperkirakan Arlan. Tidak ada yang mengikuti mereka di bandara. Bahkan selama penerbangan hingga tiba di kota tujuan, semuanya berjalan normal. Terlalu normal, malah.Arlan, Maya, Bagas, Dito, dan Sevi langsung menuju hotel yang sudah dipilih jauh-jauh hari. Bukan hotel yang biasa digunakan perusahaan untuk perjalanan dinas resmi, melainkan hotel bisnis sederhana yang cukup ramai sehingga keberadaan mereka tidak menarik perhatian siapa pun.Sore hari itu mereka berkumpul di salah satu kamar untuk menyusun langkah berikutnya."Kita mulai besok pagi," ujar Maya sambil membuka laptop.Bagas mengangguk. "Hari pertama cuma observasi.""Jangan langsung mendekati pihak pabrik.""Itu udah pasti." Dito menyandarkan tubuh ke kursi."Kalau mereka memang sedang menutupi sesuatu, mereka pasti sensitif terhadap orang asing."Sevi yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut bersuara. "Artinya kita harus terlihat seperti orang ya
Pagi itu kantor pusat di Jakarta terlihat sama seperti biasanya. Karyawan keluar masuk gedung dengan ritme yang tidak berubah. Beberapa rapat tetap berlangsung sesuai jadwal. Divisi pemasaran mengirim laporan mingguan. Bagian keuangan masih sibuk dengan tumpukan dokumen yang harus diselesaikan sebelum akhir bulan. Bahkan sekretaris baru Arlan tetap menerima tamu dan panggilan seperti hari-hari biasa. Di mata siapa pun yang melihat dari luar, tidak ada yang berbeda.Tidak ada tanda-tanda bahwa sebagian orang penting dalam perusahaan sedang bersiap melakukan sesuatu yang sengaja dirahasiakan. Itulah yang memang diinginkan Arlan. Karena, semakin sedikit orang yang mengetahui rencana keberangkatan mereka, semakin baik.Di ruang kerja pribadinya, Arlan menutup laptop setelah memastikan seluruh agenda hari itu sudah didelegasikan."Kantor pusat tetap berjalan normal," ujar Maya yang berdiri di dekat meja.Arlan mengangguk. "Bagaimana dengan rapat investor besok?""Sudah dialihkan ke wakil
Bima menatap layar laptopnya sejak hampir satu jam yang lalu. Ruangan apartemen yang biasanya dipenuhi suara televisi kini hanya ditemani dengungan pendingin udara dan bunyi ketukan jarinya di atas meja. Berkas demi berkas ia buka kembali, mencocokkan informasi yang selama ini ia kumpulkan mengenai Sonya. Sudah terlalu lama pencarian itu berjalan tanpa hasil yang benar-benar berarti. Setiap kali ia merasa sudah dekat, jejak itu kembali menghilang seolah Sonya memang tidak ingin ditemukan.Namun malam ini berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya terus menatap satu titik di layar. Sebuah transaksi lama yang sangat kecil nilainya.Bahkan tidak cukup penting untuk menarik perhatian kebanyakan orang. Tetapi transaksi itu terjadi beberapa minggu setelah Sonya menghilang.Dan yang membuat Bima membeku adalah lokasi transaksi tersebut ada di Jawa Timur.“Bentar deh, jauh banget gini.”Ia langsung membuka data lain yang sebelumnya ia abaikan. Satu per satu potongan informasi mulai membentuk pola
Ruang rapat itu sengaja dipilih yang paling kecil. Bukan karena masalah yang dibahas sepele, justru sebaliknya.Arlan hanya mengundang enam orang. Orang-orang yang sudah bekerja dengannya bertahun-tahun dan terbukti bisa menjaga mulut mereka tetap tertutup saat diperlukan. Ponsel mereka diminta dimatikan. Tidak ada notulen atau rekaman. Hanya mereka bertujuh.Arlan berdiri di depan layar yang menampilkan hasil laboratorium dari dua pabrik berbeda. Satu milik mereka dan satu lagi milik pabrik susu di Malang."Kalian sudah lihat hasilnya?"Semua mengangguk."Kandungan zat yang ditemukan identik."Suasana ruangan langsung terasa berat. Rendi, sang kepala divisi kualitas, mengusap dagunya."Kalau hanya muncul di satu pabrik, saya masih bisa percaya ada kesalahan internal. Tapi ini dua pabrik berbeda. Sistem produksi beda. Supplier sebagian besar beda. Lokasi beda.""Itu yang membuat saya tidak tenang," kata Arlan.Maya membuka beberapa dokumen."Yang lebih aneh lagi, pihak Malang langsung
Pagi berikutnya, Arlan datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Bukan karena ada rapat, apalagi pekerjaan dari Om Wijaya. Melainkan karena laporan dari Malang semalaman terus mengganggu pikirannya.Catatan kecil dari kepala laboratorium itu terasa terlalu penting untuk diabaikan."Kemungkinan sumber kontaminasi berasal dari bahan yang digunakan bersama oleh kedua pabrik."Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Jika benar demikian, maka setidaknya mereka memiliki arah baru untuk ditelusuri.Selama ini penyelidikan terasa seperti berjalan di lorong gelap tanpa ujung. Kini untuk pertama kalinya ada kemungkinan hubungan yang jelas antara pabrik pusat dan pabrik Malang.Begitu sampai di ruang kerja, Arlan langsung memanggil tim audit internal, quality control, dan bagian pengadaan bahan baku.Satu per satu data mulai dikumpulkan. Mulai dari daftar pemasok, riwayat pengiriman, jalur distribusi bahan, sampai vendor-vendor yang bekerja sama dengan kedua pabrik.Namun belum sampai satu jam
Pukul sembilan pagi, suasana kantor masih berjalan normal. Tim distribusi sedang membahas target pengiriman minggu depan, bagian produksi sibuk menyusun laporan bulanan.Sedangkan Arlan masih berada di ruang kerjanya bersama beberapa berkas yang belum sempat ia selesaikan sejak kemarin.Di atas meja, secangkir kopi yang sudah dingin bahkan belum disentuh. Pikirannya masih berkutat pada satu hal yang sama. Zat misterius itu, sampai sekarang tidak ada perkembangan berarti. Walaupun ia sudah ditenangkan oleh Sevi tadi malam, namun tetap saja jika itu dibiarkan tidak ada yang tau efek pada diri Sevi.Tok. Tok. Pintu diketuk cukup keras.Sebelum Arlan sempat menjawab, salah satu staf produksi langsung masuk dengan wajah panik."Pak Arlan."Arlan langsung mengangkat kepala. "Ada apa?"Staf itu terlihat menelan ludah lebih dulu. Kemudian menyerahkan tablet yang dibawanya."Baru masuk laporan dari Malang.""Kenapa?"Ekspresi pria itu langsung membuat perasaan Arlan tidak enak."Laboratorium
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga
Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.







