Compartilhar

Nenek

Autor: Olivia
last update Data de publicação: 2026-01-07 23:18:10

Miko mengelus rambut Mila. “Kamu istirahat yang baik. Jangan banyak gerak.”

“Iya.”

Miko melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. “Mil…”

Mila menoleh.

“Makasi ya,” katanya singkat. “Untuk semuanya.”

Mila tersenyum kecil. “Sama-sama, Ko.”

Pintu tertutup.

Mila menatap kosong ke arah pintu itu cukup lama. Sejujurnya, ia masih mengharapkan menjadi tempat pulang Miko. Tidak bisakah semua yang lalu diulang.

\\\

Setelah berpamitan kepada ibu Mila, Miko melangkah cepat menuju mobil. Tangan
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Chippy Ray
sruuu tapi mohon uploadnya yang banyak jangan pendek-pendek yaaa
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Bos, Jangan di Sini!   Ketakutan

    Jantung Arlan berdegup cepat, tidak beraturan. Rasa panik bercampur penyesalan memenuhi pikirannya. Ia menyalahkan dirinya sendiri tanpa henti. Seharusnya ia lebih peka terhadap kondisi Sevi sejak pagi. Seharusnya ia menyadari ada yang tidak beres. Namun kenyataannya, ia terlambat.“Bodoh banget… kayak gini mau jadi suami.” Kalimat itu keluar lirih dari bibirnya, lebih seperti gumaman yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Berkali-kali ia menghela napas kasar, mencoba menenangkan diri, tetapi sia-sia. Yang ada justru perasaan bersalah semakin menekan.\\\Sesampainya di rumah sakit, tanpa membuang waktu, Arlan langsung mengangkat tubuh Sevi ke dalam pelukannya. Langkahnya terburu-buru memasuki rumah sakit. Ia menatap gelisah, mencari siapa pun yang bisa membantu.“Suster… tolong… pasien pingsan!” suaranya terdengar tegang, sedikit bergetar.Beberapa perawat yang berjaga langsung menoleh. Salah satu dari mereka mendekat dengan sigap, mengarahkan Arlan ke ruang penanganan.“Di sini, Pa

  • Bos, Jangan di Sini!   Pingsan

    Pikiran Sevi berisik sedari tadi malam, bahkan ia tak bisa berpikir jernih, hanya ada kecurigaan pada Arlan juga Sonya. Matanya sempat melirik ke arah meja Sonya, perempuan itu duduk seperti biasa. Tangannya bergerak lihai di keyboard, Sonya sedang bekerja. Tidak ada yang aneh dan mencurigakan. “Kayaknya cuma pikiran ku aja deh…” batin Sevi. Namun tetap saja rasa curiga itu tidak hilang. Ia menghela napas pelan, lalu memaksa dirinya fokus. Sevi berjalan menuju laboratorium. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, ia membuka pintu hendak masuk. Namun baru beberapa langkah, kepalanya terasa ringan seperti kosong. Lalu pandangan mulai berputar. “Sev aman?” Salah satu rekan memanggil, namun suara itu terdengar jauh. Sevi mencoba bertahan, beberapa kali ia membuka dan menutup mata untuk fokus, tangannya meraih meja di samping, tapi ternyata tubuhnya tidak kuat. “Sevi!” Suara rekannya kini lebih jelas, namun terlambat. Tubuh Sevi limbung dan... Bruk. Ia terjatuh pingsan.

  • Bos, Jangan di Sini!   Overthinking

    Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru berubah menjadi ruang penuh pikiran bagi Sevi. Ia tidak benar-benar terlelap setelah terbangun oleh gumaman Arlan. Tubuhnya memang diam, namun matanya terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sesekali ia menoleh ke arah nakas. Ponsel Arlan ada di sana. Layar nya hitam, diam, tidak ada nada dering yang terdengar. Namun entah kenapa, benda itu terasa seperti menyimpan sesuatu.Sevi menarik napas pelan, lalu memejamkan mata. Ia mencoba tidur, namun gagal. Beberapa menit kemudian, matanya terbuka lagi, tangannya meraih ponselnya sendiri.Ia menggulir layar tanpa tujuan. Membuka aplikasi, menutupnya lagi. Tidak ada yang benar-benar ia perhatikan.Pikirannya sibuk, berulang pada satu hal, suara Arlan yang menggumamkan nama itu, Sonya.“...jangan…”Sevi menelan ludahnya sendiri.“Cuma mimpi kok” gumamnya pelan.Namun semakin ia mencoba meyakinkan diri, semakin terasa tidak sederhana. Bahkan waktu berjalan lambat sekarang.Jam dem

  • Bos, Jangan di Sini!   Double Date

    Arlan kira setelah lelah melakukan kegiatan panas tadi, Sebi akan langsung tertidur. Nyata nya, Sevi malah merengek ingin menonton acara kesukaan nya.Lampu ruang tamu menyala hangat, sementara televisi hanya menjadi latar tanpa benar-benar mereka perhatikan.Sevi duduk bersila di sofa, baju nya sudah diganti menjadi baju tidur. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di pipi.“Lan…”“Iya?”“Kita jadi gym bareng kan nanti?”Arlan yang sedang membuka kulkas menoleh. “Jadi.”Sevi mengangguk pelan,. “Tapi aku masih takut sih.” Gumam nya pelan, bahkan Arlan pun tidak mendengar.“Kenapa sayang? Aku nggak denger suara mu.” Arlan terdiam sebentar, lalu menutup kulkas. Sebenarnya Arlan paham apa yang dikatakan Sevi, namun dalam kasus sekarang Arlan pura-pura tidak tau apapun.“Itu, kan aku nggak ada pakaian olahraga di sini. Tadi kan ditinggal di rumah utama.” “Kamu kuat jalan nggak? Kalau kuat kita keluar sekarang aja.”Sevi langsung menoleh cepat. “Sekarang?”“Iya. Sekalian makan mal

  • Bos, Jangan di Sini!   Jadi Basah

    “Mau..” Ucap Sevi sambil mendusal pelan di leher Arlan.“Mau apa sayang?” Arlan dengan lembut mengelus surai hitam Sevi, memberinya kecupan singkat di kening dan pipi nya. Dengan sengaja Sevi menggoyangkan pinggul nya dengan ritme yang pelan. Tak disangka, di bawah sana sudah menonjol kuat hingga terasa oleh Sevi."Ja-jangan sayang, nggak sekarang ya.” Arlan mendorong tubuh Sevi pelan, mereka berdua bertatapan beberapa menit. Senyum ceria Sevi tadi seketika hilang digantikan cemberut di wajahnya. “Oh yaudah.” Jawab Sevi sesingkat mungkin.Lalu ia segera berdiri dan masuk ke dalam kamar, pun pintu sengaja ia tutup. “Apaan coba, giliran aku yang mau, dia nya nolak. Nggak jelas banget” Gerutu Sevi sembari menarik selimut.Disisi lain Arlan terkekeh pelan, melihat wanita nya yang ia tolak tadi langsung berubah drastis.Tangan Arlan bergerak mengelus benda keras miliknya, “Nggak sekarang waktunya.”Sebenarnya bisa saja Arlan menerkam Sevi sekarang, namun pikirannya masih mengingat apa

  • Bos, Jangan di Sini!   Takut, Tapi Lebih ke Manja

    Terik matahari mulai beranjak turun, menyisakan awan oranye yang pelan-pelan mulai muncul. Suasana yang tadi ramai oleh obrolan kini perlahan menipis.Bima berdiri dari kursinya, menepuk pelan celana pendeknya.“Aku pamit ya, Sev… Mbak… Nitip salam ke Mama kalau aku pulang, jangan dibangunin kasihan capek.”Sevi mengangguk pelan, senyumnya tipis.“Iya, hati-hati ya, Bim.”Namun sebelum benar-benar pergi, Bima melirik ke arah Arlan. “Lan, anter bentar yok.”Nada suaranya berubah lebih serius. Tanpa basa basi Arlan langsung menyambar kunci mobil nya.“Iya,” jawabnya singkat.\\\Langkah mereka berdua keluar rumah terasa berbeda dingin dan serius. Hanya suara kerikil kecil yang terinjak dan angin menjelang sore yang berembus pelan.Sampai di dekat motor Bima, pria itu belum juga langsung naik. Ia berdiri, menatap ke depan, rahangnya mengeras.“Aku masih nggak terima, Lan.”Arlan menatapnya. “Siapa pun itu… berani banget anjing nyentuh Sevi.” Nada suara Arlan rendah seperti tertahan dan

  • Bos, Jangan di Sini!   Sekertaris Arlan

    "Ahh.. Lan.. Pelan-pelan aja hisapnya," dengan sigap Sevi menahan kepala Arlan yang seperti kesetanan menghisap dada nya bergantian kanan dan kiri."Bwiar cepwet abis." Arlan hanya tersenyum girang dan melanjutkan kegiatannya. Tak lupa ia juga menstimulasi dengan memijat kedua dada Sevi agar keluar

    last updateÚltima atualização : 2026-04-04
  • Bos, Jangan di Sini!   Special Valentine

    Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men

    last updateÚltima atualização : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Bukan Siapa-Siapa

    Mobil Arlan berhenti tepat di depan kontrakan kecil itu. Nafasnya masih terengah, tangannya bergetar ketika ia mematikan mesin. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju pintu, menekan angka-angka pada gembok digital yang sudah diingatnya dari kunjungan sebelumnya.Pintu terbuka dengan bunyi kl

    last updateÚltima atualização : 2026-03-18
  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateÚltima atualização : 2026-03-17
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status