LOGINPikiran Sevi berisik sedari tadi malam, bahkan ia tak bisa berpikir jernih, hanya ada kecurigaan pada Arlan juga Sonya. Matanya sempat melirik ke arah meja Sonya, perempuan itu duduk seperti biasa. Tangannya bergerak lihai di keyboard, Sonya sedang bekerja. Tidak ada yang aneh dan mencurigakan. “Kayaknya cuma pikiran ku aja deh…” batin Sevi. Namun tetap saja rasa curiga itu tidak hilang. Ia menghela napas pelan, lalu memaksa dirinya fokus. Sevi berjalan menuju laboratorium. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, ia membuka pintu hendak masuk. Namun baru beberapa langkah, kepalanya terasa ringan seperti kosong. Lalu pandangan mulai berputar. “Sev aman?” Salah satu rekan memanggil, namun suara itu terdengar jauh. Sevi mencoba bertahan, beberapa kali ia membuka dan menutup mata untuk fokus, tangannya meraih meja di samping, tapi ternyata tubuhnya tidak kuat. “Sevi!” Suara rekannya kini lebih jelas, namun terlambat. Tubuh Sevi limbung dan... Bruk. Ia terjatuh pingsan.
Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru berubah menjadi ruang penuh pikiran bagi Sevi. Ia tidak benar-benar terlelap setelah terbangun oleh gumaman Arlan. Tubuhnya memang diam, namun matanya terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sesekali ia menoleh ke arah nakas. Ponsel Arlan ada di sana. Layar nya hitam, diam, tidak ada nada dering yang terdengar. Namun entah kenapa, benda itu terasa seperti menyimpan sesuatu.Sevi menarik napas pelan, lalu memejamkan mata. Ia mencoba tidur, namun gagal. Beberapa menit kemudian, matanya terbuka lagi, tangannya meraih ponselnya sendiri.Ia menggulir layar tanpa tujuan. Membuka aplikasi, menutupnya lagi. Tidak ada yang benar-benar ia perhatikan.Pikirannya sibuk, berulang pada satu hal, suara Arlan yang menggumamkan nama itu, Sonya.“...jangan…”Sevi menelan ludahnya sendiri.“Cuma mimpi kok” gumamnya pelan.Namun semakin ia mencoba meyakinkan diri, semakin terasa tidak sederhana. Bahkan waktu berjalan lambat sekarang.Jam dem
Arlan kira setelah lelah melakukan kegiatan panas tadi, Sebi akan langsung tertidur. Nyata nya, Sevi malah merengek ingin menonton acara kesukaan nya.Lampu ruang tamu menyala hangat, sementara televisi hanya menjadi latar tanpa benar-benar mereka perhatikan.Sevi duduk bersila di sofa, baju nya sudah diganti menjadi baju tidur. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di pipi.“Lan…”“Iya?”“Kita jadi gym bareng kan nanti?”Arlan yang sedang membuka kulkas menoleh. “Jadi.”Sevi mengangguk pelan,. “Tapi aku masih takut sih.” Gumam nya pelan, bahkan Arlan pun tidak mendengar.“Kenapa sayang? Aku nggak denger suara mu.” Arlan terdiam sebentar, lalu menutup kulkas. Sebenarnya Arlan paham apa yang dikatakan Sevi, namun dalam kasus sekarang Arlan pura-pura tidak tau apapun.“Itu, kan aku nggak ada pakaian olahraga di sini. Tadi kan ditinggal di rumah utama.” “Kamu kuat jalan nggak? Kalau kuat kita keluar sekarang aja.”Sevi langsung menoleh cepat. “Sekarang?”“Iya. Sekalian makan mal
“Mau..” Ucap Sevi sambil mendusal pelan di leher Arlan.“Mau apa sayang?” Arlan dengan lembut mengelus surai hitam Sevi, memberinya kecupan singkat di kening dan pipi nya. Dengan sengaja Sevi menggoyangkan pinggul nya dengan ritme yang pelan. Tak disangka, di bawah sana sudah menonjol kuat hingga terasa oleh Sevi."Ja-jangan sayang, nggak sekarang ya.” Arlan mendorong tubuh Sevi pelan, mereka berdua bertatapan beberapa menit. Senyum ceria Sevi tadi seketika hilang digantikan cemberut di wajahnya. “Oh yaudah.” Jawab Sevi sesingkat mungkin.Lalu ia segera berdiri dan masuk ke dalam kamar, pun pintu sengaja ia tutup. “Apaan coba, giliran aku yang mau, dia nya nolak. Nggak jelas banget” Gerutu Sevi sembari menarik selimut.Disisi lain Arlan terkekeh pelan, melihat wanita nya yang ia tolak tadi langsung berubah drastis.Tangan Arlan bergerak mengelus benda keras miliknya, “Nggak sekarang waktunya.”Sebenarnya bisa saja Arlan menerkam Sevi sekarang, namun pikirannya masih mengingat apa
Terik matahari mulai beranjak turun, menyisakan awan oranye yang pelan-pelan mulai muncul. Suasana yang tadi ramai oleh obrolan kini perlahan menipis.Bima berdiri dari kursinya, menepuk pelan celana pendeknya.“Aku pamit ya, Sev… Mbak… Nitip salam ke Mama kalau aku pulang, jangan dibangunin kasihan capek.”Sevi mengangguk pelan, senyumnya tipis.“Iya, hati-hati ya, Bim.”Namun sebelum benar-benar pergi, Bima melirik ke arah Arlan. “Lan, anter bentar yok.”Nada suaranya berubah lebih serius. Tanpa basa basi Arlan langsung menyambar kunci mobil nya.“Iya,” jawabnya singkat.\\\Langkah mereka berdua keluar rumah terasa berbeda dingin dan serius. Hanya suara kerikil kecil yang terinjak dan angin menjelang sore yang berembus pelan.Sampai di dekat motor Bima, pria itu belum juga langsung naik. Ia berdiri, menatap ke depan, rahangnya mengeras.“Aku masih nggak terima, Lan.”Arlan menatapnya. “Siapa pun itu… berani banget anjing nyentuh Sevi.” Nada suara Arlan rendah seperti tertahan dan
Siang itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Mbak sudah lebih dulu menyiapkan makan siang di dapur. Aroma masakan memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana terasa hangat walaupun di dalamnya ada seseorang yang justru tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sevi duduk di kursi makan, ia diam, tangannya memainkan ujung sendok tanpa benar-benar berniat makan. Mama sempat melirik.“Kok nggak dimakan, Sev?”Sevi tersenyum tipis. “Eh iya ma...”Namun sendok itu hanya bergerak pelan, seperti enggan untuk masuk ke dalam mulut.Tidak berselang lama, pintu depan terbuka. Arlan masuk dengan langkah cepat.“Udah pada makan?”“Iya, kamu sini cuci tangan dulu,” sahut mama.Arlan mengangguk, tapi matanya langsung mencari satu orang, Sevi. Ia memperhatikan beberapa detik, ia paham kalau Sevi yang biasanya paling banyak bicara di meja makan. Namun sekarang justru paling diam.Arlan mengernyit heran, namun ia tidak langsung bertanya. Ia duduk di sebelah Sevi setelah mencuci tangan.“Makan apa hari ini
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Miko masih terpaku beberapa detik setelah melihat dua garis merah itu. Tangannya yang memegang alat tes kehamilan terasa dingin, sementara kepalanya justru panas oleh campuran syok dan kesadaran yang datang terlalu cepat.“Mila…” suaranya berat. “Ini… ini bener?”Mila berdiri di depannya dengan mat
Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjan
Siang itu seharusnya menjadi jeda yang tenang.Sevi duduk berhadapan dengan Arlan di ruangannya, makan siang sederhana yang Arlan bawa dari luar. Tidak ada obrolan berat, hanya cerita ringan tentang pekerjaan dan rencana akhir pekan. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh gejolak, Sevi m







