Share

Janji

Author: Olivia
last update publish date: 2026-01-09 00:00:53
Miko menarik napas panjang. “Ya… teman, Nek.”

“Cuma teman?” ulang nenek.

“Iya.”

“Kenapa jawabnya mikir dulu coba?” sela kakek sambil tertawa kecil.

“Karena pertanyaannya berat,” balas Miko jujur.

Nenek menyandarkan punggungnya ke kursi. “Nenek cuma tanya. Kamu sudah umur segini, masa nggak mikir ke sana-sana.”

Mama tirinya menimpali lembut, “Kalau memang masih berteman, nggak apa-apa. Semua ada waktunya.”

Miko mengangguk. “Aku tahu, Ma.”

“Tapi wajah kamu beda kalau dengar namanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
shabrina bina
ayok dong penulis, tolong dipercepat bab berikutnya tiap hari nunggu nich
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Rencana

    Di sisi lain kota, suasana jauh berbeda.Sonya berdiri di tengah lorong supermarket dengan napas tersengal. Tangannya gemetar, matanya memerah, dan dadanya naik turun tidak teratur.Ia baru saja mematikan telepon.Sepihak.Namun bukan itu yang membuatnya kehilangan kendali. Kata-kata Arlan. Nada suaranya. Dan… suara Sevi di belakangnya.“Istri saya udah siap sedia di samping.”Kalimat itu seperti terus terngiang. Menghantam. Mengulang. Tanpa henti.“Sevi sialan…!” suara Sonya tiba-tiba meledak.Beberapa orang langsung menoleh. Namun Sonya tidak peduli.“Sevi sialan… Sevi sialan…!”Ia menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali.Keras.Emosinya meluap tanpa bisa ia tahan. Seolah semua kontrol yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.“Kenapa sih selalu dia?!”Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Beberapa orang mulai berbisik. Satpam yang berjaga segera mendekat.“Kak… kak, tenang dulu ya,” ucapnya hati-hati.Sonya menatapnya dengan mata tajam. Namun beberapa detik kemudian, ia te

  • Bos, Jangan di Sini!   Terganggu

    Pagi ini Sevi terbangun bukan karena alarm, atau karena cahaya matahari yang menembus tirai, melainkan karena sesuatu yang hangat menyentuh pipinya.Hangat… lama kelamaan terasa panas.Alisnya sedikit mengernyit sebelum akhirnya membuka mata perlahan.Pandangan pertamanya langsung jatuh pada wajah Arlan yang berada sangat dekat di hadapannya.“Lan…?” suaranya masih serak karena baru bangun.Namun tidak ada jawaban. Sebaliknya, Arlan justru meracau pelan.“Panas…”Sevi langsung terbangun sepenuhnya. Tangannya dengan cepat menyentuh dahi Arlan.Panas.Bahkan lebih panas dari yang ia kira.Tubuh Arlan sedikit menggigil, meskipun keringat sudah membasahi pelipisnya.Sevi segera bangkit sedikit, meraih remote AC dan mematikannya. Setelah itu, ia menarik selimut lebih rapat menutupi tubuh Arlan.Namun tiba-tiba...Arlan terbangun.Gerakannya agak kasar, napasnya berat.“Panas… tapi dingin…” gumamnya, menggeleng pelan dengan bingung.Sevi langsung kembali masuk ke dalam selimut, mendekatkan

  • Bos, Jangan di Sini!   Mau Udahan atau Lanjut?

    “Sev… aku...”“Kamu pikir aku marah karena siapa yang di mobil kamu?”Sevi menggeleng pelan. “Bukan itu.”Arlan menatapnya bingung.“Terus…?”Sevi tertawa kecil. Pahit. “Aku marah karena kamu bikin aku ngerasa… harus nebak.”Hening.“Kamu nutup telepon kayak lagi nyembunyiin sesuatu.”Arlan menggeleng cepat. “Nggak, aku cuma...”“Kamu bisa bilang, Lan,” potong Sevi. “Kamu bisa bilang ‘aku lagi nganter Sonya’. Sesederhana itu loh.”Arlan terdiam.“Kamu tahu aku nggak akan marah karena itu.” Sevi menarik tangannya perlahan.Namun Arlan menahannya.“Tapi kamu pilih buat nutup telepon.” Suaranya melemah. “Itu yang bikin capek.”Arlan menunduk. Tubuhnya gemetar. “Aku… takut kamu salah paham…”Sevi menghela napas. “Dan yang kamu lakukan justru bikin aku salah paham.”Arlan terdiam lagi.Semua yang ia pikirkan sebagai ‘melindungi’… justru berubah menjadi luka kecil yang menumpuk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.Suaranya bergetar. “Aku… bodoh ya…”Sevi tidak menjawab. Arlan kembali b

  • Bos, Jangan di Sini!   Capek

    Arlan akhirnya datang.Namun kedatangannya tidak membawa kehangatan seperti biasanya.Begitu ia melangkah masuk ke rumah Mila, suasana hangat keluarga langsung terasa, tawa kecil, percakapan ringan, aroma makanan yang masih tersisa di udara. Namun semua itu seperti terpisah darinya.Matanya langsung mencari satu orang.Sevi.Sevi berdiri di dekat meja, berbincang dengan Mila dan beberapa anggota keluarga lainnya. Wajahnya terlihat biasa saja. Bahkan… terlalu biasa.Ketika mata mereka bertemu, hanya ada satu hal yang diberikan Sevi, Senyum.Tipis.Getir.Dan setelah itu, Sevi kembali mengalihkan pandangan, melanjutkan obrolannya seolah Arlan tidak baru saja datang. Langkah Arlan terhenti sesaat. Dadanya terasa sesak. Namun ia tetap berjalan masuk.“Lan, sini!” panggil Mila dari kejauhan.Arlan memaksakan senyum kecil.“Iya.”Ia menghampiri sebentar, menyapa seperlunya, lalu akhirnya memilih duduk di sofa pojok.Diam.Tangannya saling bertaut. Matanya… tidak pernah benar-benar lepas da

  • Bos, Jangan di Sini!   Nebeng

    Sore itu, kantor mulai lengang. Beberapa karyawan sudah pulang, sebagian masih menyelesaikan pekerjaan. Di ruangannya, Sonya menatap layar komputer dengan fokus, meskipun pikirannya tidak sepenuhnya di sana.Ia melirik jam.Sudah hampir waktunya.Hari ini, Sevi tidak pulang bersama Arlan. Ia ada acara di rumah Mila. Bahkan dari siang tadi, Sevi sudah beberapa kali membicarakan soal itu dengan nada antusias.“Kayaknya bakal seru deh,” ucap Sevi waktu itu sambil merapikan tasnya.Arlan hanya mengangguk.“Iya, hati-hati.”“Aku bareng Mila sama suaminya kok. Aman.”Arlan tersenyum tipis.Namun bagi Sonya… itu adalah celah.Kesempatan.\\\“Pak, dokumen ini sudah saya revisi,” ucap Sonya, berdiri di depan meja Arlan.Arlan menerima berkas itu, membacanya cepat. “Iya, sudah oke. Kirim saja.”“Baik, Pak.”Beberapa menit kemudian, pekerjaan mereka selesai.Arlan berdiri, meraih jasnya. “Saya duluan, ya. Ada urusan.”Sonya mengangguk. “Baik, Pak.”Namun ia ikut berdiri. Mereka berjalan bersama

  • Bos, Jangan di Sini!   Mau Saingan?

    Pagi itu tidak berjalan seperti biasanya.Sevi berdiri di depan pintu apartemen dengan wajah pucat, tubuhnya masih terasa berat, dan kepalanya berdenyut sejak semalam. Demamnya belum benar-benar turun. Bahkan untuk berdiri tegak saja, ia harus menahan napas beberapa detik.Arlan yang berdiri di depannya menghela napas panjang, jelas menahan kesabaran.“Kamu nggak usah masuk hari ini,” ucap Arlan tegas. “Tinggal di apartemen. Atau ke rumah orang tua ku aja. Biar ada yang jagain.”Sevi menggeleng pelan, meskipun gerakannya terlihat lemah.“Nggak mau.”“Kenapa nggak mau?” nada Arlan mulai tegas. “Kamu sakit, Sevi.”“Masih bisa kerja kok.”“Kamu bahkan berdiri aja sempoyongan.”Sevi menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca, tapi tetap keras.“Aku nggak suka diam aja.”Arlan memberi pengertian. “Ini bukan soal suka atau nggak suka. Ini soal kondisi kamu, sayang.”Sevi mengalihkan pandangan.“Kalau aku di rumah, aku malah kepikiran kerjaan.”“Dan kalau kamu masuk kerja, kamu bisa pingsan di

  • Bos, Jangan di Sini!   Malam Panjang Arlan

    Malam itu terasa berjalan lambat bagi Arlan, seolah jarum jam kehilangan niat untuk bergerak. Kamar kontrakan Sevi sunyi, hanya diisi dengkuran halus napas perempuan yang kini terlelap di dalam pelukannya. Tubuh Sevi menghadap ke arahnya, kepala bersandar nyaman di dada Arlan, satu tangan Sevi meng

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Bos, Jangan di Sini!   Kok.. Aneh...

    Pagi itu terasa berbeda, meski dari luar semuanya tampak berjalan seperti biasa. Matahari terbit dari balik perbukitan dengan cahaya lembut, ayam jantan kembali berkokok seperti hari-hari sebelumnya, dan orang tua Sevi tetap bersiap menjalani rutinitas mereka tanpa perubahan berarti. Namun bagi Arl

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Bos, Jangan di Sini!   Siapa?

    Kontrakan Sevi malam itu terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu dapur menyala terang, uap tipis mengepul dari panci kecil di atas kompor. Aroma kari Jepang memenuhi ruangan terasa hangat, sedikit manis, dengan sentuhan rempah yang menenangkan. Sevi sudah berganti pakaian tidur, kaus longgar dan c

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Bos, Jangan di Sini!   Hari Terakhir

    Hari ini adalah hari terakhir Sevi dan Arlan di Lembang. Besok pagi, rutinitas akan kembali menjemput mereka seperti biasa, kantor, pekerjaan, rapat, dan kesibukan yang tak pernah benar-benar memberi jeda. Karena itu, sejak bangun tidur Arlan sudah menyiapkan harapan kecil dalam kepalanya, ia ingin

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status