Share

Miko dan Mila

Author: Olivia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-06 23:18:01

“Kamu suka Sevi?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Mila, tanpa aba-aba, tanpa nada bercanda. Sunyi di ruang perawatan rumah sakit seketika terasa lebih tebal dari sebelumnya.

Miko yang sejak tadi duduk sambil menatap layar ponselnya langsung terdiam. Bahunya sedikit menegang. Ia tidak menoleh, tidak juga langsung menjawab. Jarinya berhenti bergerak, layar ponsel meredup dengan sendirinya.

“Mila…” Miko menghela napas pendek. “Kamu capek. Nggak usah mikir yang aneh-aneh dulu.”

Mila
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Chippy Ray
iiihh kok ceritanya pendek banget
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Bos, Jangan di Sini!   Adik

    Hari sudah benar-benar gelap ketika sesi olahraga mereka selesai. Gym yang tadi ramai perlahan mulai lebih lengang. Beberapa orang sudah pulang, sedangkan sisanya masih sibuk dengan latihan masing-masing.Sevi duduk di bangku dekat area loker sambil mengusap keringat di lehernya menggunakan handuk kecil.“Capek juga ternyata…” gumamnya.Arlan yang berdiri di depannya langsung memberikan botol minum.“Makanya tadi jangan sok kuat.”“Padahal kamu yang ngos-ngosan duluan.”“Fitnah.”Bima yang mendengar itu langsung tertawa keras dari meja resepsionis.“Emang paling lucu kalau cowok gengsi diajak olahraga.”“Diam coach gagal,” balas Arlan santai.“Gagal gimana?”“Member baru aja hampir tumbang.”“Lah itu gara-gara kebanyakan ketawa.”Sevi langsung terkekeh lagi.Suasana sore ini terasa ringan. Tidak ada ketegangan seperti beberapa hari lalu. Bahkan Arlan mulai merasa nyaman berada di gym milik Bima. Setidaknya pria itu memang terlihat tulus menjaga Sevi.Setelah semuanya selesai mandi dan

  • Bos, Jangan di Sini!   Ternyata Bima...

    Langit Jakarta mulai berubah jingga ketika mobil Arlan memasuki area gym milik Bima. Lampu-lampu besar di bagian depan gedung sudah menyala terang, memperlihatkan logo gym dengan huruf besar berwarna putih.Terlihat parkiran cukup ramai sore itu. Beberapa orang keluar masuk dengan pakaian olahraga, sebagian lagi terlihat mengobrol santai di depan lobby sambil membawa shaker protein mereka.Sevi menatap sekitar dengan kagum. “Rame banget buset.”Arlan memarkir mobilnya pelan lalu ikut melihat ke arah gedung gym itu. Jujur saja, walau dirinya masih sedikit tidak suka pada Bima, ia harus mengakui kalau tempat ini memang besar dan terlihat profesional. Begitu mereka turun dari mobil, pintu lobby langsung terbuka.“WOI SEVI!”Suara menggelegar khas Bima langsung terdengar memenuhi area depan gym.Pria bertubuh besar itu berjalan cepat menghampiri mereka dengan kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengannya. Namun baru saja Bima ingin merangkul Sevi seperti biasa, tangannya berhenti d

  • Bos, Jangan di Sini!   Gym Date

    Malam itu apartemen Arlan terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Pelukan dan kecipak basah diantara mereka membuat ruang yang luas itu terasa sempit.“Capek nggak sayang?”“Ahh, engga…”“Enak?”Sevi mengangguk pelan sambil memeluk leher Arlan lebih erat.Penyatuan tubuh mereka yang tertunda kemarin, kini akhirnya terpenuhi. Genjotan pelan mengikuti irama, dan juga erangan yang tak lagi Sevi tahan. Arlan merasa semakin jatuh hati pada wanita di bawah nya, wanita yang sekarang sedang meraung-raung meminta tempo nya dicepatkan. “Sa-sayang.. mau.. kelu-” Kalimat itu belum selesai, dan sebuah cairan kental keluar di sela kejantanan Arlan. Seringai Arlan langsung terlihat, barulah sekarang giliran Arlan yang menyusul.Malam ini mereka merasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Arlan memperlakukannya seolah dirinya benar-benar berharga, sangat dijaga dan dicintai.Dan itu membuat hati Sevi perlahan luluh.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di samp

  • Bos, Jangan di Sini!   Ada Aja Tingkahnya

    Perjalanan terasa jauh lebih lama dari biasanya, kini bukan karena macet. Tapi karena suasana di dalam mobil yang terasa menyesakkan bagi Arlan. Ia bahkan beberapa kali menghela napas pelan sambil menatap jalanan di depannya.Untungnya apartemen Sonya akhirnya mulai terlihat. Sebuah gedung tinggi dengan dominasi warna abu muda itu berdiri tak jauh dari jalan utama. Arlan langsung membelokkan mobil masuk ke area drop off tanpa banyak bicara.Begitu mobil berhenti sempurna, Sonya terlihat merapikan rambutnya terlebih dahulu lewat kaca kecil di dashboard.Sevi yang duduk di belakang hanya memperhatikan dengan wajah datar.“Udah sampe,” ucap Arlan singkat.Sonya menoleh ke arahnya lalu tersenyum manis. “Makasih ya Pak Arlan... udah mau saya repotin.”“Iya.” Jawaban itu terdengar terlalu dingin sampai Sonya sedikit menahan senyumnya.Namun perempuan itu tetap belum menyerah. Tangannya membuka seatbelt perlahan, lalu sebelum turun ia malah memiringkan tubuh sedikit mendekati Arlan.“Pak…”“

  • Bos, Jangan di Sini!   Nggak Tau Malu

    Mesin mobil menyala halus memenuhi area parkiran rumah sakit. Udara pagi yang masih dingin membuat kaca mobil sedikit berembun. Arlan menatap lurus ke depan sambil menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang sedari tadi naik turun di dadanya.Ia benar-benar tidak menyangka hari ini akan serumit ini. Harusnya pagi ini ia bahagia.Mengurus administrasi rumah sakit, membawa Sevi pulang, lalu beristirahat bersama di apartemennya. Tidak ada drama lagi, hanya dirinya dan Sevi.Tapi kenyataannya? Kini Sonya duduk di kursi depan mobilnya. Sedangkan Sevi yang baru saja keluar dari rumah sakit malah duduk di belakang.Arlan sampai mengeratkan rahangnya menahan kesal.“Anjing lah.” Umpatnya berulang kali.Saat tadi Sevi hendak membuka pintu depan, Sonya malah lebih dulu bersuara dengan wajah polos seolah benar-benar peduli.“Kamu tadi keliatan ngantuk banget, Sev. Di belakang aja biar bisa rebahan. Ada bantal tuh.” Nada suaranya lembut tapi seolah mengolok.“Aku juga nggak enak kalau di b

  • Bos, Jangan di Sini!   Akhirnya Pulang

    Pagi itu suasana kamar rawat Sevi terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, membuat ruangan tampak hangat dan nyaman.Sevi yang sedari tadi diperiksa dokter akhirnya bisa bernapas lega saat mendengar kalimat yang ia tunggu-tunggu.“Kalau nggak ada keluhan lagi, hari ini sudah boleh pulang ya.”Mata Sevi langsung membesar senang. “Serius dok?”Dokter itu tersenyum kecil sambil menulis beberapa catatan. “Iya. Tapi tetap jangan terlalu stres dan jangan terlalu capek dulu.”Arlan yang berdiri di samping ranjang langsung mengangguk cepat. “Siap dok.”Padahal yang ditanya Sevi. Namun dokter malah terkekeh melihat Arlan yang lebih semangat.“Yang sakit siapa, yang jawab siapa.”“Takut dia bandel dok.”Sevi langsung mencubit pinggang Arlan pelan. “Apaan sih.”Setelah dokter keluar, Arlan benar-benar bergerak cepat seperti baru mendapat hadiah besar. Ia membereskan semua barang Sevi satu per satu ke dalam tas.Mulai dari charger. Boto

  • Bos, Jangan di Sini!   Hari Terakhir Pengobatan

    Pagi itu, cahaya matahari merembes lembut melalui celah gorden kamar kontrakan Sevi. Udara sejuk menandai bahwa hari sedang berjalan dengan tenang, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Sevi bangun tanpa rasa cemas di dadanya.Ia membuka gorden perlahan, membiarkan cahaya menerpa

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
  • Bos, Jangan di Sini!   Hilangnya Alya dan Kemarahannya

    Alya menutup pintu apartemennya dengan perlahan, menjerat satu napas panjang di dada. Di balik kaca tebal itu, kota tampak biasa lampu lalu lintas berdenyut, kendaraan mengais jalan, namun semuanya terasa asing dan jauh. Ia menempelkan punggungnya pada pintu seolah berharap getarannya bisa meredak

    last updateHuling Na-update : 2026-03-22
  • Bos, Jangan di Sini!   Tak pernah Berubah

    “Pak Bos... Bantu saya, ya...” Suara rendah nan halus, kini hancur sudah dinding kesabaran Arlan.Segera ia menggendong Sevi menuju ruangannya, tak ingin adegan yang membuatnya dejavu ini terekam oleh CCTV ruangan. Selagi menuju ke ruangannya, Sevi hanya mengusak lembut di lehernya. Suara kecipak

    last updateHuling Na-update : 2026-03-22
  • Bos, Jangan di Sini!   Gangguan dikala Romantis

    Malam itu, setelah Arlan pulang dari rumah orang tuanya, udara di sekitar kontrakan Sevi terasa tenang dan hangat. Lampu di dapur menyala redup, menerangi meja kecil yang kini dipenuhi beberapa bahan masakan sederhana, bawang merah, cabai, daun bawang, dan satu ikat sawi segar. Sevi duduk di kursi,

    last updateHuling Na-update : 2026-03-21
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status