ログインPagi itu suasana rumah utama terasa jauh lebih hangat dibanding semalam. Matahari masuk lewat jendela ruang makan, menimpa meja kayu panjang yang penuh dengan sarapan sederhana. Ada bubur ayam, telur dadar, roti panggang, dan teh hangat yang masih mengepul.Mama memang belum benar-benar pulih, wajahnya masih sedikit pucat, namun setidaknya pagi ini beliau sudah bisa duduk sendiri di kursi makan tanpa harus dipapah Papa. Dan itu sudah cukup membuat Arlan kembali hidup.“Ma, nanti kalau badanku udah gede kayak bima, Mama jangan kaget ya kalau aku tiba-tiba jadi atlet.”“Yang ada kamu encok duluan,” sahut Papa santai sambil menyeruput teh.Sevi menahan tawa kecil melihat Arlan yang langsung manyun.“Papa nggak supportif banget sih.”“Mama dukung kok,” ucap Mama sambil tersenyum tipis. “Asal habis olahraga nggak ngeluh badan sakit lagi.”Arlan langsung menunjuk Sevi. “Nih ya Ma, saksi hidup. Semalam aku turun kasur aja bunyi ‘krek’.”“Padahal yang paling heboh ngeluh siapa coba,” balas Se
Malam itu Arlan terlihat jauh lebih diam dibanding biasanya. Walau tubuhnya rebah di samping Sevi, pikirannya jelas masih tertinggal di rumah utama bersama Mama dan Papa. Sesekali ia membuka ponsel hanya untuk memastikan tidak ada pesan atau panggilan masuk. Sevi yang sedari tadi memperhatikan akhirnya mendekat pelan.“Kepikiran terus ya?” tanyanya lembut.Arlan mengangguk kecil tanpa menoleh. “Hm.”Sevi langsung menggeser tubuhnya lebih dekat lalu memeluk pinggang Arlan. Kepalanya bersandar di dada lelaki itu sambil mengusap pelan lengannya.“Kan udah ada dokter di sana.”“Iya…”“Papa juga jagain.”Arlan menghela napas panjang. “Aku tuh takut tiba-tiba kenapa-kenapa pas nggak ada aku.” Nada suaranya terdengar kecil sekali.Sevi langsung mendongak menatap wajah Arlan. Untuk pertama kalinya Sevi melihat Arlan begitu rapuh. Seperti melihat seorang anak yang takut kehilangan ibunya. Tanpa banyak bicara Sevi mencium pipi Arlan singkat.“Mama kamu kuat.”Arlan memejamkan mata sebentar. “
Rumah utama Arlan pagi itu terasa jauh lebih sepi dibanding biasanya. Tidak ada suara Mama yang sibuk memanggil orang rumah atau suara televisi yang menyala keras di ruang tengah. Yang terdengar hanya suara langkah mereka ketika masuk ke dalam rumah. Papa yang membuka pintu langsung menghela napas lega melihat Arlan dan Sevi datang.“Tumben cepet.”“Ya panik lah pa.” jawab Arlan sambil buru-buru masuk. “Mama mana?”“Di kamar.”Sevi langsung berjalan lebih dulu menuju kamar Mama. Begitu pintu dibuka, terlihat Mama sedang bersandar di kepala kasur dengan selimut menutupi tubuhnya. Wajahnya memang terlihat pucat, rambutnya juga sedikit berantakan.Namun begitu melihat Sevi dan Arlan masuk, Mama langsung tersenyum kecil.“Loh malah kesini kalian.”“Mama sakit malah santai banget ngomongnya.” Sevi langsung duduk di samping kasur sambil memegang tangan Mama, tangannya hangat.“Mama demam dari kapan?” tanya Arlan sambil menyentuh dahi sang mama.“Semalem aja kok. Kayaknya kecapekan.”Papa i
Obrolan malam itu akhirnya berlanjut lebih santai. Walau Arlan sempat diam karena cemburu kecilnya muncul lagi, Sevi beberapa kali sengaja menyentuh tangan Arlan di bawah meja. Kadang menggenggam jemarinya, kadang sekadar mengusap punggung tangannya pelan seperti memberi tahu kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Dan memang benar, rasa cemburu Arlan perlahan mereda sendiri. Miko yang sedari tadi memperhatikan malah menyeringai jahil.“Gym lagi kapan kalian?”“Lusa kayaknya.” jawab Sevi sambil menyuap mie.“Eh serius?” Mila langsung antusias. “Aku mau ikut yoga nya.”“Nah iya sekalian aja.”Miko langsung menunjuk dirinya sendiri. “Gue ikut juga.”“Kamu olahraga?” Sevi tertawa mengejek.“Kurang ajar.”Mila ikut tertawa kecil sambil mengelus perutnya. “Sekalian lah Mik, biar nggak ngeluh encok terus.”“Padahal belum tua.” gerutu Miko.Arlan yang sedari tadi diam akhirnya ikut menyahut. “Papa mama ku juga mau ikut kayaknya.”“Hah serius?”“Iya. Mama malah ngambek kemarin karena kita
Malam semakin larut ketika Arlan dan Sevi akhirnya sampai di kontrakan Sevi. Begitu pintu dibuka, keduanya langsung masuk dengan langkah malas. Tas kerja dilempar asal ke sofa, sepatu dilepas sembarangan, lalu mereka sama-sama menjatuhkan diri ke kasur kecil di kamar Sevi.“Capek…” gumam Sevi sambil memeluk bantal.Arlan bahkan lebih parah. Ia telungkup sambil mengerang pelan karena pahanya masih terasa nyut-nyutan akibat latihan kemarin.“Kayaknya aku besok nggak bisa jalan.”“Lebay.”“Serius yang.”Sevi tertawa kecil. Tangannya mengusap rambut Arlan pelan yang sudah mulai panjang menutupi dahi.Selang beberapa menit kemudian, perut mereka justru mulai protes. Suara perut Sevi bahkan cukup jelas sampai Arlan langsung tertawa.“Katanya capek.”“Laper juga.”“Yaudah pesen online aja?”Sevi menggeleng sambil duduk pelan. “Bosen.”“Terus?”“Lan, katanya ada pasar malam loh. Mau nyari makan di situ nggak?”Arlan langsung menoleh dengan wajah tidak percaya. “Sebelah mana? Jauh nggak?”Sevi
Hari kerja akhirnya selesai juga. Langit di luar gedung kantor sudah berubah jingga gelap dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu persatu. Karyawan lain perlahan pulang meninggalkan lantai kantor yang sejak pagi ramai suara keyboard dan telepon. Sevi meregangkan tubuhnya pelan sambil berdiri dari kursi. Namun baru beberapa detik kemudian ia langsung memegangi pinggangnya sendiri.“Aduh…”Arlan yang melihat langsung tertawa kecil sambil menutup laptopnya.“Tuh kan, kemarin sok nambah set.”“Padahal yang ngajak gym siapa coba.”“Aku ngajak olahraga sehat, bukan ngajak kamu balapan angkat beban.”Sevi mendelik kesal. Ia mengambil pouch kecil miliknya lalu memukul pelan lengan Arlan.“Jahat.”Arlan malah makin tertawa. Ia berdiri lalu berjalan mendekati Sevi. Tangannya otomatis memijat pundak perempuan itu pelan.“Masih sakit?”“Paha sama tangan.”“Besok udah mendingan kok.”“Kalau besok makin sakit gimana?”“Ya aku gendong.”Sevi langsung menahan senyumnya sendiri. “Gombal.”“Serius i
Situasi itu berpotensi meledak. Namun sebelum Sevi sempat berkata lebih jauh, Arlan muncul dan langsung berdiri di depan Sevi, tubuhnya menjadi penghalang.“Ada apa?” tanya Arlan dingin. “Kamu ngapain ke sini, Miko?”Miko menunduk. Bahunya turun, seolah beban berat menekannya. “Aku… aku mau minta m
Miko berdiri lebih dulu. Ia meraih jaketnya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada lagi kecanggungan seperti sebelumnya, hanya sisa lelah dan perasaan yang akhirnya menemukan tempatnya masing-masing.“Aku pulang dulu,” ucapnya pelan.Sevi mengangguk. “Hati-hati di jalan.”Mila berdi
Mila berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, menatap bayangannya sendiri. Mata itu tampak lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak menahan. Sejak beberapa hari terakhir, ia sengaja menjaga jarak dari Sevi. Bukan sekali dua kali Sevi menyapanya di pantry, di lorong, bah
Alya menutup pintu apartemennya dengan perlahan, menjerat satu napas panjang di dada. Di balik kaca tebal itu, kota tampak biasa lampu lalu lintas berdenyut, kendaraan mengais jalan, namun semuanya terasa asing dan jauh. Ia menempelkan punggungnya pada pintu seolah berharap getarannya bisa meredak







