LOGINMenjelang pukul 7 malam, mobil yang dikemudikan Bagas melaju stabil menembus gelapnya jalan tol trans-Jawa. Suasana di dalam kabin terasa cukup tenang, ditemani alunan musik instrumen pelan yang sengaja diputar untuk menjaga konsentrasi sang pengemudi.“Mau stop dulu?” tanya Bagas di tengah perjalanan, melirik sekilas ke arah kursi penumpang sebelah. Ia melihat Nadia tampak santai memangku Lily yang masih terlelap pulas dalam dekapan hangat sang ibu.“Kalau kamu capek, kayaknya boleh mampir dulu, Mas. Aku mau pipis juga nih...” ucap Nadia sambil mengusap lembut punggung Lily yang tertidur pulas.“Ya udah, 1 kilo lagi nyampe di tempat isi bensin sama rest area, nanti kita ke sana,” jawab Bagas penuh pengertian.Nadia mengangguk cepat, lalu matanya menangkap sesuatu di layar ponsel yang menyala di tangannya. “Papa udah nyampe deh, Mas... Nih...” ucap Nadia sambil memperlihatkan layar ponselnya, menunjukkan story Instagram Wati yang memperlihatkan ia dan Roman baru saja keluar dari banda
“Niat Nadia baik... lagian... Ratu bisa di sini karena Nadia ganti hukuman penjara jadi tahanan rumah. Seharusnya ya Ratu berterima kasih sama mantunya itu,” ucap Ira dengan nada tegas, mengingatkan kembali jasa besar Nadia yang menyelamatkan saudari kandungnya dari jerat hukum di masa lalu. “Ya bener juga...” ucap kerabat lainnya sambil mengangguk-angguk setuju, menyadari bahwa nyawa dan kelonggaran yang didapat Ratu saat ini sepenuhnya berasal dari kebaikan hati Nadia. “Terus... apa nanti mereka bawa Lily? Kangen lho sama anak gendut itu...” timpal seorang bibi yang lain, matanya berbinar antusias saat membayangkan wajah mungil cucu mereka. “Pasti dibawa dong...” ucap Ira sambil tersenyum kecil, bayangan tentang pipi tembam dan tawa renyah Lily seketika sedikit mencairkan ketegangan yang menyelimuti ruang tunggu rumah sakit tersebut. Tak lama kemudian, pintu IGD terbuka lebar, dan seorang dokter berjas putih keluar dengan membawa rekam medis di tangannya. Tante Ira dan beber
“Sekalipun aku udah nggak di bumi lagi, aku nggak akan biarin kamu disakiti sama siapa aja,” ucap Bagas dengan nada penuh keyakinan mutlak, sementara ia masih melanjutkan suapan makanannya dengan santai di hadapan sang istri. Mendengar kalimat hiperbolis yang diucapkan di tengah situasi serius itu, Nadia langsung tergelak. Tawanya berderai renyah di dalam ruangan yang tadinya dipenuhi ketegangan, membuat hatinya mendadak menghangat di tengah sisa-sisa rasa cemas. “Makasih ya, Mas...” ucap Nadia tulus, tersenyum lebar sambil mengelus lembut rambut suaminya yang berjongkok di hadapannya. “Aku yang makasih ke kamu, karena udah pilih aku jadi pasangan hidup kamu...” ucap Bagas yang segera menelan sisa makanannya di mulut, lalu menggenggam erat tangan Nadia yang berada di kepalanya, mengecup punggung tangan sang calon istri penuh cinta. Lily tertawa geli melihat tingkah Bagas, ia pun merangkak mendekati Bagas dan menepuk berulang tangan Bagas, membuat suasana siang itu semakin menyenan
“Mama? Sakit?” Tanya Bagas pelan, dahi mengerut dalam sembari menatap Lily yang masih asyik memainkan kancing kemejanya. “Iya. Sebenarnya dari tiga hari kemarin mama kamu demam... cuma Tante pikir bakal turun panasnya. Sekarang Mama kamu kita bawa ke rumah sakit. Lagi dirawat. Kamu bisa kesini?” Tanya Tante Ira, adik kandung ibu Bagas, Ratu, dengan nada cemas yang tertahan di ujung telepon. “Oke Tante. Aku bakal kesana. Kalau memungkinkan aku naik mobil aja dari Jakarta. Atau mungkin Aku pesen tiket pesawat dulu. Kalau nggak dapat sore, malam atau mungkin tiket penerbangan buat besok pagi.” Ucap Bagas, kepalanya mulai berputar cepat memperhitungkan jarak dan opsi perjalanan dari kediamannya. “Iya, Bagas. Kasih tahu papa kamu ya, supaya bisa ikutan ke Surabaya.” Ucap Ira mengingatkan. “Oke tante. Titip mama aku ya. Terimakasih udah ngabarin.” Ucap Bagas di akhir percakapan siang itu, sebelum akhirnya menurunkan ponsel dari telinga dengan tangan yang perlahan melemas. Tak lama,
Ayah Vega menghentikan tangannya yang sedang merapikan bantal, lalu menghela napas panjang. Ia beranjak mendekati meja rias, menatap bayangan istrinya dari cermin dengan tatapan sendu. “Bukan soal itu, Pa...” ucap Ibu Vega lirih, menggelengkan kepalanya pelan. “Terus?” tanya Ayah Vega meminta kejelasan. Ibu Vega menunduk, meremas jemarinya sendiri di atas meja rias. Ada beban berat yang kembali menggelayuti dadanya malam itu. “Lihat Bagas... sama Nadia... Mama ngerasa keberatan, Pa... Di lubuk hati Mama yang paling dalam, Mama masih ngerasa Bagas itu menantu kita... suaminya Vega...” ucapnya pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah keheningan kamar siang itu. Ayah Vega mengulurkan tangan, menepuk pundak istrinya dengan lembut untuk memberikan ketenangan. “Ma... itu sudah jadi pilihan Bagas. Lagian... kita sendiri tahu kan bagaimana pernikahan mereka selama ini berjalan? Nggak sehat, Ma,” ucap Ayah Vega pelan, mencoba menyadarkan istrinya pada kenyataan pahit yang sudah
Tak lama kemudian, Bagas sudah kembali ke dalam kamar. Pria itu langsung mengunci pintu rapat-rapat, memastikan privasi mereka benar-benar aman sebelum melangkah pelan menuju ranjang empuk tempat Nadia masih duduk bersandar. “Udah bebas nih...” ucap Bagas dengan senyum penuh arti, lalu dengan gerakan lambat namun menggoda, ia mulai melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia sengaja mengibaskan rambut hitam lebatnya, membuat Nadia tertawa kecil geli melihat ulah suaminya. Belum sempat Nadia protes, Bagas dengan sengaja memamerkan pahatan otot dada, lengan, dan perutnya yang atletis, sebelum akhirnya melucuti celana panjang yang ia kenakan. “Ayo, Sayang...” bisiknya lembut penuh puja, menatap lurus mata Nadia seraya meraih mangkuk buah mangga dari tangan istrinya dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja nakas samping tempat tidur. Nadia hanya bisa tersenyum pasrah, membiarkan Bagas dengan sabar dan penuh kelembutan melucuti pakaian minimalis yang ia kenakan hingga tak
Suasana ruang makan pagi itu terasa mencekik. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen, memecah keheningan di antara Nadia, Rumi, dan ibu mertuanya, Ratu. Kursi di sebelah Ratu kosong, namun aura dominasi wanita tua itu tetap memenuhi ruangan, membuat oksigen di sekitar
“Mas... ah....” Rintihan Nadia tertahan di balik bantal, jemarinya mencengkeram sprei kuat-kuat. Tubuhnya menegang, menuntut pelepasan yang sudah di ambang mata. Namun, belum juga badai itu pecah, ia merasakan berat tubuh suaminya mendadak limbung di atasnya. “Udah ya,” Rumi mendesah panjang, n
“Aah...” Desahan tertahan lolos dari bibir sensual Nadia saat ia memejamkan mata, membiarkan fantasi liar itu menguasai logikanya sepenuhnya. Satu tangannya sibuk memainkan bagian dada, sementara tangan yang lain turun perlahan, meraba perut ratanya yang kencang hingga jemari itu menyentuh lipatan
“Terima kasih, Mas Bagas.” ucap Nadia. Ia memberanikan diri membalas tatapan Bagas sembari terus mengunyah makanannya perlahan. Ada keberanian baru yang muncul di matanya, sebuah pemberontakan kecil terhadap rasa hampa yang selama ini ia telan sendiri. Ia menelan kentangnya seperti kaca. Kak







