LOGIN“Cukup kita berdua aja yang tahu, Ma... Jangan sampai ada orang lain yang ikut campur atau tahu masalah pelik Nadia sama Bagas selama ini,” ucap sang suami dengan nada tegas namun menenangkan.Tante Ira mengangguk mantap, garis ketegangan di wajahnya perlahan melunak. “Tenang aja, Pa... Sejak kapan Mama suka bongkar-bongkar rahasia keluarga?” balas Tante Ira dengan nada bangga, disusul tawa kecil yang mencairkan suasana kamar tidur utama tersebut.Sementara itu, suasana di kamar tamu terasa jauh lebih tenang dan hangat.“Kita benar-benar enggak ngerepotin Tante sama Om, kan, Mas?” ucap Nadia memastikan, tangannya sibuk menikmati hidangan berkuah hangat yang diantar pembantu tadi, lengkap dengan mangkuk kecil berisi es krim dan potongan buah segar sebagai pencuci mulut.Bagas yang duduk di tepi ranjang hanya tersenyum samar, sebelah tangannya dengan sabar menepuk-nepuk pelan paha Lily yang tertidur pulas sementara matanya sudah setengah terpejam karena kelelahan. “Enggak lah, Sayang...
“Tante sama Om enggak nyangka sama sekali... Ternyata masalah rumah tangga kalian serumit itu dan ngeri kalau dibayangin. Tante kira dulu kamu cerai sama Vega karena dia melakukan tindakan kriminal apa gitu ke Nadia, eh... ternyata masalah kalian jauh lebih rumit dari itu. Dan Nadia... kamu sama Rumi malah dipisahin sama ajal. Rumi pergi duluan ninggalin kamu...” ucap Tante Ira dengan nada penuh empati dan kesedihan yang mendalam, matanya berkaca-kaca menatap wanita muda di hadapannya. Sang Paman mengangguk pelan, ikut merasakan beban berat yang selama ini dipikul oleh keponakannya dan Nadia. “Iya, Om jadi penasaran... apa kalian sempat baikan sama Rumi sebelum semuanya terjadi? Soalnya, dari luar Om lihat hubungan kalian berdua kelihatan baik-baik aja. Normal kayak suami istri kebanyakan yang tanpa masalah.” Nadia menarik napas panjang, meresapi sisa-sisa ketenangan di dalam dadanya sebelum menjawab. “Iya, Om, Tante... aku sama Mas Rumi akhirnya memang baik-baik saja sebelum dia p
Nadia tak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke arah Bagas yang duduk di sampingnya, menyerahkan penjelasan itu pada sang suami yang lebih paham seluk-beluk keluarganya. “Keputusan itu harusnya udah lama diambil sama Nadia, Tante. Dan kita semua tahu persis bagaimana sifat Mama,” ucap Bagas tegas sambil merangkul dan mengusap bahu Nadia penuh dukungan. “Walaupun kita semu tahu juga Mama mungkin enggak sepenuhnya punya sifat jahat ke orang lain, tapi nggak tahu kenapa, kalau urusannya sama Nadia, Mama tuh langsung berubah drastis sejak... sejak Nadia keguguran dulu. Dan yang jelas, Vega juga punya andil besar dalam memengaruhi pikiran Mama selama ini.” Mendengar penjelasan itu, Tante Ira dan sang Paman mengangguk-angguk paham, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Bagas. Namun, rasa penasaran di benak Tante Ira rupanya belum sepenuhnya reda. Ia kembali mencondongkan tubuhnya ke depan. “Tapi... perasaan dulu Vega enggak begini banget, ya? Maksud Tante, dia kelihatannya engga
Tidak butuh waktu lama bagi SUV hitam Bagas untuk memasuki kawasan perumahan yang tenang dan asri, sebelum akhirnya berhenti tepat di halaman depan kediaman Tante Ira dan sang Paman. Baru saja pintu mobil dibuka, sambutan hangat dan riuh langsung menyambut kedatangan mereka. “Waduh... si gembul masih bobok ya?” ucap Tante Ira dengan mata berbinar, langsung menghampiri mobil dan dengan hati-hati mengambil alih Lily dari gendongan Nadia agar sang cucu tidak terbangun. Nadia tersenyum simpul sambil merenggangkan otot-otot tangannya yang sempat kaku. “Dari habis makan tadi, dia langsung ngantuk, Tante...” “Ayo, ayo duduk di ruang tengah. Kamu pasti pegel banget mangku si gembul berjam-jam begini, loh ya...” ajak Tante Ira penuh perhatian, menuntun Nadia masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Bagas dan sang Paman melangkah santai menyusul di belakang, berjalan menuju ruang keluarga yang luas dan nyaman. Begitu mereka duduk bersantai di atas sofa empuk, suasana hangat langsung terasa. Rua
Nadia mengembuskan napas panjang, beban yang tadinya menekan dadanya seolah berangsur-angsur terangkat mendengar pengertian dari sang suami.“Makasih, Mas. Aku beneran enggak mood banget sama Mama kamu. Enggak tahu kenapa... kok bisa ya ada orang kayak Mama kamu?” ucap Nadia pelan, suaranya menyisakan sisa-sisa kepedihan dan rasa tidak percaya.Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri dengan perasaan bersalah sebelum kembali mendongak menatap Bagas. “Maaf ya, Mas. Aku mungkin terlalu blak-blakan ngomong gini karena aku udah enggak bisa lagi buat pura-pura sopan atau nahan diri.”Bagas menggeleng pelan, sebelah tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala istrinya penuh kasih sayang di tengah padatnya arus lalu lintas.“Enggak apa-apa, Sayang. Aku tahu banget perasaan kamu. Ya... walaupun rasanya enggak enak karena beliau ibuku sendiri, tapi kenyataannya memang sifat Mama enggak akan berubah,” ucap Bagas jujur, ada getir yang tak bisa ia sembunyikan dalam suaranya.Suasana di dalam kab
Sementara itu, tepat saat langkah Nadia dan Bagas menapak di area parkir basement yang berembus angin dingin, gelombang suara tawa dan derap langkah riuh menyambut dari arah pintu masuk. Keluarga besar Ratu baru saja datang, menenteng kantong-kantong plastik belanjaan dan rantang makanan yang mengepulkan aroma sedap. "Loh, mau ke mana?" tanya Ira, bibinya, langsung berseru dengan nada tinggi yang sarat antusiasme begitu melihat Bagas sudah berdiri di samping SUV hitam mewah miliknya. Bagas yang tadinya hendak menarik gagang pintu mobil sontak menoleh. Senyum canggung terukir di wajahnya. Ia buru-buru mengurungkan niat, lalu mendorong daun pintu itu tertutup rapat kembali secara perlahan—berusaha sekedap mungkin agar bunyi klik-nya tidak merusak keheningan di dalam kabin yang melindungi Nadia. "Eh, Tante..." sapa Bagas kikuk, berusaha memasang raut wajah senormal mungkin. Belum sempat Bagas menjelaskan, sang Paman sudah melangkah mendekat dengan gestur santai, menepuk saku cela
“Aah...” Desahan tertahan lolos dari bibir sensual Nadia saat ia memejamkan mata, membiarkan fantasi liar itu menguasai logikanya sepenuhnya. Satu tangannya sibuk memainkan bagian dada, sementara tangan yang lain turun perlahan, meraba perut ratanya yang kencang hingga jemari itu menyentuh lipatan
“Terima kasih, Mas Bagas.” ucap Nadia. Ia memberanikan diri membalas tatapan Bagas sembari terus mengunyah makanannya perlahan. Ada keberanian baru yang muncul di matanya, sebuah pemberontakan kecil terhadap rasa hampa yang selama ini ia telan sendiri. Ia menelan kentangnya seperti kaca. Kak
Bau menyengat obat dan suara desing alat bor gigi menjadi pelarian bagi Nadia pagi ini. Di kliniknya yang bernuansa serba putih dan minimalis, dia bukan lagi menantu yang gagal. Di sini, dia adalah Dokter Nadia, wanita yang memegang kendali penuh atas rasa sakit pasien-pasiennya. Pekerjaan ini a
“Nad, kenapa kamu kabur gitu aja? Nggak baik kayak gitu...” ucap Rumi sesaat setelah ia menutup pintu kamar rapat-rapat.“Mas, kamu dengar omongan Mama ke aku tadi kayak apa coba? Aku sakit hati, Mas. Dan ini bukan pertama kalinya mereka bahas, mereka sering mengulanginya dan aku bosan!” ucap Nadia







