Se connecterAku berhasil membuat potongan layar tersebut dan mempostingnya di akun instagram pribadiku, bukan tanpa alasan, kutunjukan spesifik pada Adelfiaa agar dia tidak sekadar tahu, tetapi mengerti sisi lain dari kepribadian Affal yang sangat berbahaya, jika dia sedang tidak bisa mengendalikan fantasi liarnya.Kuberikan komentar pada postinganku menggunakan bahasa lokalku, agar suasananya menjadi serius dan dekat, "Astagaa, kasian banget sama kamu sebagai wanita, nikah aja jangan pacaran. Aku merinding sampai sebadan-badan, lihat cuplikannya gila banget, edan beneran pacarmu, masak kamu enggak baca novel baru pacarmu, ya ampun baca dong sayang, ini lho isi otaknya, kenapa masih kamu pacari sih, dek." Adelfiaa melihat dengan jelas postinganku, dia diam tanpa mau berbicara atau berkomentar padaku soal ini, dalam diamnya saat itu sudah kupastikan dia tidak baik-baik saja, kecurigaan terhadapku yang sempat tak mampir ke jiwanya, kini membuat hatinya gusar. Setelah postingan itu, aku menambah
Aku masih menunggu jawaban, beberapa kali di sela waktuku, aku mengecek email adakah pesan-pesanku mendapatkan balasan. Aku mengabaikan keadaan paling gila ini dan melanjutkan observasiku, sembari menunggu hasil review editor bukuku. Aku melewati hari dengan terbiasa mengecek sosial media, beberapa pengikut akun-akunku ini diisi oleh anak-anak manusia dari beragamnya rentang usia, dan aku kenal sehingga aku tidak kaget sama sekali saat, Adelfiaa tengah mengikutiku, dia mungkin tidak tahu dengan siapa dia terhubung. Selang beberapa hari pasca dia mengikutiku, kontrak kerjasamaku dengan Goodnovel Indonesia turun, dan bukuku berjudul Jangan Minta Jatuh Cinta ini langsung mendapatkan kontrak non eksklusif sesuai predisksiku, sebab aku mau menaruh buku tersebut di berbagai apalikasi web novel, lebih-lebih lagi aku tidak menulis untuk bekerja dan memperoleh keuntungan berupa uang di sana, aku menulis untuk menetralisir pesakitan jiwaku dan merekam jejak-jejak manusia. Aku menyatuka
Semua kebohongan Affal terbongkar satu per satu, aku mengunjungi profil instagramnya dan kudapati akun kekasih barunya, aku menertawakan kebodohanku selama ini, Affal tidak pernah mengingkari ucapannya apabila dia sudah bertekad bulat termasuk membersihkan jejak-jejaknya saat bersamaku. Gadis itu bernama Adelfiaa, gadis polos yang masih berumur 23 tahun, terang sekali jauh berbeda dengan usiaku yang kini 29 tahun, jarak enam tahun itulah membuatku mengingat ucapan Affal perihal penolakannya saat kuajak menikah saja yuk, sampai kapan kita terus-terusan melakukan persetubuhan, capek nahan nafsu ketika berjauhan, harus pilih-pilah hotel buat check in apalagi kedapatan harga hotel yang lumayan mahal saat itu, Affal tidak mau menikahiku, dengan alasan dia tidak ingin orang lain mengangap dirinya menjadi berondong dari seorang wanita lebih dewasa dari segi usianya lima tahun di atas usianya. Bagiku bukan menjadi masalah, tetapi bagi Affal itu adalah masalah besar. Aku tidak sakit hat
Aku melambaikan tanganku, di depan lift tempat di mana Rio akhirnya pulang betulan, sebagai tanda sampai jumpa kembali di lain waktu. Keputusanku untuk memberikan jeda diantara hubunganku dengannya sudah bulat, kami sepakat melakukannya dalam waktu sepekan ini dan bertemu lagi saat work from office. Pintu lift kini tertutup, aku melengang ke lorong apartemen, berdiri sesaat di depan kaca, kulolongkan kepalaku ke bawah gedung betapa tingginya, maksudku hal seperti ini sudah sangat jarang kulakukakan, aku keluar masuk lift dengan tergesa, namun hari ini aku merasakan kembali lambatanya waktu-waktu sendiriku yang mahal harganya ini sebab mana bisa dibeli dengan uang, hanya bisa dibeli dengan kesempatan. Aku berjalan ke arah unit apartemenku, mebuka pintu dan masuk dengan perlahan. Kuedarkan pandanganku sejenak, tempat ini punya banyak sekali kenangan, aku mengingat dengan jelas di mana Rio duduk santai di sofa, di mana dia berbaring tenang di atas ranjang, dan seksinya dia saat kedapa
Belakangan suasana kantor Fenomena belum berubah, meski ditinggal beberapa orang-orang penting. Benny enggan bertanya kenapa anak buahnya sudah jarang sekali terpantau duduk di tempat, atau direktur perusahaan tidak masuk kerja karena urusan lain. Peluang untuk menghancurkan kantor terbilang 99% berhasil, manakala ia mau memulainya kemarin-kemarin, tetapi Benny bukan orang licik, ia akan membalas dendamnya berhadapan satu lawan satu, tanpa sembunyi juga tanpa terang-terangan, sebab ia punya kaki tangan baru Kang Rizal. "Soal Bambina, apakah kau sudah tau pergerakannya?" Benny menyeruput kopi pemberian Kang Rizal. "Kudengar dia berhasil membuat para penjahat masuk penjara." "What?" Benny terkejut, sehingga cup kopi di tangannya hampir terjatuh. "Benar, kau masih ingat kegiatan liputan terakhir kita bersama Bambina? Pemuda yang sempat kami wawancara adalah salah satu tersangkanya." "Apa maksudmu?" Benny menatap tajam Kang Rizal. "Kami sempat mewawancara untuk mencari tahu apakah a
Alba mengikuti langkah Jay yang membawanya masuk unit, begitu sampai di depan pintu, ada sedikit keraguan untuk masuk. “Kau gadis pemberani, kau tidak takut padaku.” Jay membuka pintu menyilakan Alba untuk masuk. Perlahan tapi pasti akhirnya Alba melangkah masuk, “Aku orang tua, untuk apa aku takut padamu.” Jay menutup pintu membawa gadis kesayangan Rio ini untuk melewati sekat didinding “Wah, tidak kusangka kau kutu buku.” Alba menyentuh rak-rak buku berukuran besar dan terpampang tinggi melebihi setengah meter dari postur tubuhnya. “Apa kau terkejut?” “Tentu saja, Mr. Jay kau pandai membuat orang terkesan setelah mengenalmu lebih jauh.” Jay tersenyum lalu mengambil dua minuman bersoda dari dalam lemari pendingin, melihat Alba masih sibuk mengamati koleksi buku-bukunya, ia sama sekali tidak berpikir Alba sedang merencanakan startegi tertentu. “Kemarilah, lehermu akan patah jika terus mendongak seperti itu.” Alba menoleh lantas menghampiri Jay yang sudah duduk di sofa. “Bol







