MasukButuh sekitar lima belas menit hingga Rio dan aku mencapai klimaks dan benar-benat mengakhiri sesi bercinta untuk ronde kedua ini, jika tidak berakhir bisa dipastikan kami tidak bisa bangun dan berangkat kerja esok hari karena kelelahan dan tentu saja mengangu jam tidur. Rio menggendongku dan merebahkan badanku yang sudah sangat letih ini akibat percintaan panjang bersamanya di atas ranjang, tak kusangka enggahan napasnya masih belum stabil berderu bak lepas dari lari maraton sejauh lima kilometer, Rio mengelap penisnya dengan tisu basah, lepas dari itu gerakan tanganya mengambil lagi tisu dan membersihkan kemaluanku dengan sangat hati-hati takut menambah rasa nyeri di dinding rahimku. "Mau pergi ke kamar mandi, Alba?" Tanya Rio sembari menatapku setelah usai gerakan tangan halusnya menyentuh organ intimku. Aku mengangukan kepala, "Baiklah, sayangku. Akhirnya kamu mau mandi bersamaku." Rio melepaskan rok miniku yang masih terpasang dan kini kami sama-sama telanjang bulat. Den
Aku mempercepat gerakan mencuci alat masakku, sebelum kedutan di area bawahku semakin terasa kencang, "Mas Rio!" ujarku menghentikan gerakan memijatnya untuk kemudian membalikan badanku. Rio tersenyum, reflek aku tidak bisa memberinya seraut wajah jengkel, kupandangi saja raut wajah meneduhkan tampan berkarisma di depanku. "Apa sayang? Hem? Enak kan sentuhanku?" Rio merapatkan tubuhnya ke tubuhku hingga bagian kepalaku sedikit terbentur pintu kulkas di belakangku. "Mas Rio," ujarku tertekan dengan keadaan. Rio kembali mencium bibirku, melumatnya intens tanpa ampun, lidah kami beradu, napas kami memburu. Tangan Rio menempel di depan payudara kananku dan kini mengoyang-goyangkannya meremas-remasnya perlahan dan penuh nafsu birahi. "Aaah, Mass Rio!" lengguhku tak tahan dengan gerakan tangan lihainya. Rio mencium leherku, hingga menggelinjang badanku. Begitu tahu, kedua lututku terasa lemas, Rio dengan sigap menggendongku naik ke depan badannya, kedua tangan kekarnya mampu
"Tidur dengan wanita lain, selain aku." "Apa ini artinya, aku hanya boleh mencintaimu, Alba?" "Tentu saja, bagaimana bisa setelah tidur denganku, Bapak tidur dengan wanita lain, memangnya aku pelacur?" "Hemm, kemarin-kemarin kamu seperti tidak peduli pada saya, sekarang kenapa jadi berubah. Apa memang secepat itu kamu jatuh cinta?" "Tidak, aku tidak jatuh cinta Pak Rio yang terlalu sederhana menyimpulkan asumsimu sendiri." "Baiklah, entah kamu jatuh cinta atau karena kamu excited karena kehadiran intens saya kepadamu, saya cukup senang mendengar kamu mulai fokus pada hubungan kita." "Oke Pak Rio, hari ini agendanya apa saja?" "Emh, setelah ini mau ke toko saya terus nongkorong sebentar sama crew-crew band lokal, oh ya saya belum cerita ya soal ini." "Soal band lokal? Belum." Aku menggeleng sebagai isyarat Rio tak pernah bercerita perihal itu padaku. "Nanti saya ceritakan, Alba. Kalau kamu mau ngapain? Bukannya udah tidur?" "Beberes isi apartemen, Pak Rio su
"Alba, kamu mendengar suara saya?" Seru Rio dari balik telepon. "Oh, ini Pak Rio. Maaf Pak, saya baru bangun tidur ini mata saya masih merem melek." "Ya ampun, Alba. Ya sudah, buka ponsel kamu saya telepon berkali-kali enggak diangkat." "Iya Pak, Maaf ya saya lupa ngabarin bapak karena ketiduran." "Oke. Saya tutup dulu ya, Alba." "Oke Pak."Aku berdiri, kututup gangang telepon berkabelku dan kuraih ponselku di atas nakas, kembali ke posisi merebahkan badan di atas ranjang yang sebenarnya muat untuk dua orang. Aku membuka ponselku dan benar saja, aku lupa mengaktifkan mode dering karena sering menggunakan mode hening. Baru mengecek aplikasi chating, nama Rio muncul di atas notifikasi, aku langsung mengangkatnya, "Hallo, Alba. Kamu masih di sana, kan? Kedengeran suara saya?" "Hallo Pak Rio, suara bapak kedengeran kok." "Syukurlah, sebentar ya." Rio mengganti mode telepon dengan video call dan langsung kuterima. Kini dia dapat melihat seraut wajah bantalku dan mataku yang masih m
Awan menatapku dengan tatapan nanar dan penuh tanda tanya membuatku semakin penasaran adakah pembicaraan yang terjadi selama ini bersama Rio. "Kamu tanya saja Rio, lagi pula kami jarang bertemu di kantor." Aku menatap tajam sepasang mata Awan yang tidak kalah tajamnya. "Baiklah, jika kamu ingin bongkar rahasia kita di masa lalu pada Rio, itu tidak masalah dia akan menurut saja padaku dan tidak akan merubah apapun." "Kamu bilang tidak ada hubungan apapun dengan Rio, kenapa penjelasaanya sedetail ini sekarang, Alba." Awan tertawa lepas mendengar pernyataanku dan posisiku kini kalah talak di hadapannya. "Baiklah, terserah kamu." "Tenang saja, Alba. Aku tidak sejahat itu jadi manusia. Entah kalau kamu." Suasana tak nyaman tiba-tiba mengisi celah antara aku dan Awan, kami tidak bisa bersahabat lebih lama. Inilah alasan mengapa selama ini aku memilih menjaga jarak dengan Awan dan mewanti-wanti dirinya untuk melupakan kenangan one night stand bersamaku, karena di samping aku
Dia menoleh begitu suara langkahku mendekati dirinya, tebakanku salah, perasaan deg-deganku berangsur pulih berganti lega. Dia bukan Affal, si brengsek yang tidak peduli tangung jawab, tapi pria baik yang dengan sengaja kuajak bermain api beberapa tahun lalu. "Alba, maaf aku kemari." ujarnya begitu mata kami beradu. "Oh, Awan ada apa?" tanyaku penasaran, ini tidak lazim terjadi karena hanya Rio yang tahu dan berani masuk unit apartemenku. "Aku kehilangan dompetku saat olahraga di CFD, ponselku mati dan kupikir kamu bisa membantuku." Awan menatapku dengan pandangan memohon. "Bagaimana bisa?" spontan aku terkejut, sudah kupastikan Awan dalam kondisi tidak baik-baik saja. "Enggak tahu, aku lari joging bersama barisan lansia dan setelah selesai lima putaran aku hendak membayar uang parkir kudapati dompetku sudah tidak ada, Alba jadi aku bertanya pada orang-orang adakah dari mereka yang mengenalmu." Aku mendengarkan penjelasan Awan sembari membuka pintu apartemenku. "Bai
Semburat merah merona di wajahku saat ini tentu saja tak bisa kututupi, "Pak Rio, kendalikan tingkahmu," lirihku saat kulihat beberapa orang berdiri mengamati kami berjalan beriringan dengan tetap bergandengan tangan dari depan kantor ruang pimpinan, ruang tata usaha, lapangan dan ruang guru. Rio
"Syafa keponakanku kelas 8E tahun ini." Nada bicara Rio sungguhan terdengar lembut di telinga. "Loh Pak, tadi aku dapat info dari Bu Iren."Aku menatap Rio yang juga menatapku. "Bu Iren mengerjaimu." "Apa? Benarkah begitu, astaga." "Based on data Alba, jangan lupakan itu." Rio mengusap pu
Rio menyeret sebuah bangku di depan mejaku yang kebetulan kosong, menghadapkan ke arahku hingga posisi kami berhadapan, sementara mataku mengamati pergerakan aneh untuk kesekian kali dari pemuda ganteng ini sambil terus merasakan ritme jantungku berdebar-debar tidak menentu. "Ehm, apa kau gila, ke
"Ceritakan sosok mantan kekasihmu." Rio menatapku lekat, aku mengalihkan pandangan lantas mengambil kursi, kami duduk berhadapan sekarang dengan jarak yang cukup dekat namun nyaman kurasakan. Aku tersenyum sembari memandangi ranum wajah pemuda ganteng pujaan wanita-wanita sekantor ini yang telah







