LOGINSemua kebohongan Affal terbongkar satu per satu, aku mengunjungi profil instagramnya dan kudapati akun kekasih barunya, aku menertawakan kebodohanku selama ini, Affal tidak pernah mengingkari ucapannya apabila dia sudah bertekad bulat termasuk membersihkan jejak-jejaknya saat bersamaku. Gadis itu bernama Adelfiaa, gadis polos yang masih berumur 23 tahun, terang sekali jauh berbeda dengan usiaku yang kini 29 tahun, jarak enam tahun itulah membuatku mengingat ucapan Affal perihal penolakannya saat kuajak menikah saja yuk, sampai kapan kita terus-terusan melakukan persetubuhan, capek nahan nafsu ketika berjauhan, harus pilih-pilah hotel buat check in apalagi kedapatan harga hotel yang lumayan mahal saat itu, Affal tidak mau menikahiku, dengan alasan dia tidak ingin orang lain mengangap dirinya menjadi berondong dari seorang wanita lebih dewasa dari segi usianya lima tahun di atas usianya. Bagiku bukan menjadi masalah, tetapi bagi Affal itu adalah masalah besar. Aku tidak sakit hat
Aku melambaikan tanganku, di depan lift tempat di mana Rio akhirnya pulang betulan, sebagai tanda sampai jumpa kembali di lain waktu. Keputusanku untuk memberikan jeda diantara hubunganku dengannya sudah bulat, kami sepakat melakukannya dalam waktu sepekan ini dan bertemu lagi saat work from office. Pintu lift kini tertutup, aku melengang ke lorong apartemen, berdiri sesaat di depan kaca, kulolongkan kepalaku ke bawah gedung betapa tingginya, maksudku hal seperti ini sudah sangat jarang kulakukakan, aku keluar masuk lift dengan tergesa, namun hari ini aku merasakan kembali lambatanya waktu-waktu sendiriku yang mahal harganya ini sebab mana bisa dibeli dengan uang, hanya bisa dibeli dengan kesempatan. Aku berjalan ke arah unit apartemenku, mebuka pintu dan masuk dengan perlahan. Kuedarkan pandanganku sejenak, tempat ini punya banyak sekali kenangan, aku mengingat dengan jelas di mana Rio duduk santai di sofa, di mana dia berbaring tenang di atas ranjang, dan seksinya dia saat kedapa
Belakangan suasana kantor Fenomena belum berubah, meski ditinggal beberapa orang-orang penting. Benny enggan bertanya kenapa anak buahnya sudah jarang sekali terpantau duduk di tempat, atau direktur perusahaan tidak masuk kerja karena urusan lain. Peluang untuk menghancurkan kantor terbilang 99% berhasil, manakala ia mau memulainya kemarin-kemarin, tetapi Benny bukan orang licik, ia akan membalas dendamnya berhadapan satu lawan satu, tanpa sembunyi juga tanpa terang-terangan, sebab ia punya kaki tangan baru Kang Rizal. "Soal Bambina, apakah kau sudah tau pergerakannya?" Benny menyeruput kopi pemberian Kang Rizal. "Kudengar dia berhasil membuat para penjahat masuk penjara." "What?" Benny terkejut, sehingga cup kopi di tangannya hampir terjatuh. "Benar, kau masih ingat kegiatan liputan terakhir kita bersama Bambina? Pemuda yang sempat kami wawancara adalah salah satu tersangkanya." "Apa maksudmu?" Benny menatap tajam Kang Rizal. "Kami sempat mewawancara untuk mencari tahu apakah a
Alba mengikuti langkah Jay yang membawanya masuk unit, begitu sampai di depan pintu, ada sedikit keraguan untuk masuk. “Kau gadis pemberani, kau tidak takut padaku.” Jay membuka pintu menyilakan Alba untuk masuk. Perlahan tapi pasti akhirnya Alba melangkah masuk, “Aku orang tua, untuk apa aku takut padamu.” Jay menutup pintu membawa gadis kesayangan Rio ini untuk melewati sekat didinding “Wah, tidak kusangka kau kutu buku.” Alba menyentuh rak-rak buku berukuran besar dan terpampang tinggi melebihi setengah meter dari postur tubuhnya. “Apa kau terkejut?” “Tentu saja, Mr. Jay kau pandai membuat orang terkesan setelah mengenalmu lebih jauh.” Jay tersenyum lalu mengambil dua minuman bersoda dari dalam lemari pendingin, melihat Alba masih sibuk mengamati koleksi buku-bukunya, ia sama sekali tidak berpikir Alba sedang merencanakan startegi tertentu. “Kemarilah, lehermu akan patah jika terus mendongak seperti itu.” Alba menoleh lantas menghampiri Jay yang sudah duduk di sofa. “Bol
Alba membalikan badan, mendapati Rio menatapnya. "Apa yang harus aku lakukan? Jika terus begini, aku tidak tahu cara melepasmu." Belah tangan Alba menyusuri wajah pemuda tampan. Rio menyandarkan tangan Alba di atas pipinya,"Kau pasti bisa cepat melupakanku. Jangan menangis, apa kau tahu kau sangat jelek saat menangis? Hidungmu merah seperti tomat.” Rio menarik hidung menggemaskan Alba yang tidak seberapa mancungnya itu. “Aku akan mandi duluan.” Rio beranjak turun dari ranjang, segera bergegas masuk kamar mandi.Alba perlahan turun dari ranjang, meski tubuhnya tidak sama sekali terasa sakit, perasaanya begitu berkecamuk. Ia kembali keluar kamar dan berdiri di depan jendela, pemandangan matahari terbit di depannya sangat indah, ia takjub sendiri. Beberapa saat, sebelum akhirnya ia tidak bisa berbohong perutnya berbunyi. Narrel masuk dapur, ia berjinjit sambil berusaha membuka rak di atasnya. Barangkali, ia dapatkan mi instan atau apapun itu yang bisa mengganjal perutnya. “Aaagh, da
Rio segera beranjak membuka pintu apartemen, begitu pintu terbuka tidak ada orang, tetapi hanya sebuah karangan bunga, kening Tristan mengernyit, ia baru pertama kali dikirimi hadiah aneh.Alba yang masih duduk di atas ranjang segera mendekati Tristan. “Apa yang terjadi? Wow, kau mendapat karangan bunga?” “Aneh,” desis Rio membuka penutup plastik lalu membaca pengirimnya. Benny Aluwi. “Untuk apa Benny mengirimimu bunga krisan ini?” Narrel bertanya penasaran. Rio tidak menjawab, ia langsung membuang hadiah itu ke tempat sampah. Menarik tangan Alba untuk kemudian duduk bersama di sofa. “Kau tidak perlu tahu, lupakan soal hadiah konyol itu dan mari fokus tentang Naura.” “Baiklah.” Alba bersila di atas sofa sambil menatap lurus-lurus sepasang mata meneduhkan yang membuat detak jantungnya berdebar-debar. “Sebelum aku menceritakan detail kejadian Naura, ada sesuatu yang membuatku ganjil belakangan ini.” “Emhem, katakanlah.” “Naura mengigitku dan bekas lukanya masih ada sampai seka







