تسجيل الدخولSaat aku kembali mengecek ternyata dia tidak menerima permintaan pertemanku di akun instagram, ya sudah tidak apa-apa, maksudku jika Pak Singgih mau pun balas dendamku pada Affal akan semakin lebar. Mari kita lihat saja, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kedepan. Dalam waktu lima belas menit pesananku datang, aku segera menyantapnya. Makan sendirian di unit apartemen ini berasa sunyi saat kebiasaanku menghadirkan Rio di sini. Kami biasa bergantian memasak, ini sudah masuk hari ketiga dan aku mulai merindukan kehadirannya. Aroma tubuh Rio, wewangian itu tidak bisa digantikan pun saat bersama Affal dulu, aku bisa mengenali bau maskulin tubuh pemuda bajingan ini.Semua memang tinggal kenangan, namun aku abadikan dalam novelku. Setelah makan, aku melanjutkan menulis bab lanjutan. Dalam dua jam, aku menyelesaikan dua bab sebab Jam terbangku menulis sangat buruk, maksudku jika lama berlatih aku akan lama pula meramu ide atau outline naskah menjadi rangkaian alur cerita, itulah alasan
Kubilang padannya, jika kamu ingin tahu siapa aku dan apa hubunganku dengan Affal, tanyalah padanya. Rifan bukan tidak mau bertanya langsung pada kawan dekatnya itu, tetapi kehadiranku saat itu membuat dirinya penasaran. Pembicaraanku dengannya tidak berlangsung lama dan segera terhenti setelah kukatakan demikian, dia menjawabnya dengan oke, baiklah. Tipikal pemuda santai, tidak ribet dan sepertinya bukan seorang pemarah jika dia tidak mendapatkan yang dia inginkan, termasuk jawabanku barusan.Setelah berbulan-bulan, berganti tahun ke tahun, aku mengamatinya walau hanya di sosial media tidak sekalipun kudengar, kulihat, kudapati dia berkata kotor, kasar maupun merendahkan perempuan, dia bahkan tidak pernah memposting hubungan pribadinya dengan wanita yang mungkin dia sukai di tengah sahabat-sahabatnya sudah terang-terangan mempublish kekasih mereka masing-masing. Selain Rifan, ada pemuda lain yang juga mengikuti akun instagramku, dia pernah kedapatan bermukim dengan Affal saat mere
Tidak sama seperti Affal, cara pandangku terhadap idolaku sangat berbeda, perbedaan itu bisa kuberikan analogi dengan bagaimana mengapresiasi lebih banyak karyanya. Affal jelas menorehkan luka dan membuatku hampir gila apabila aku tidak bisa menceritakan secara spesifik kejadian yang menimpaku, sementara musisi favoritku ini adalah trigger bagi semangatku yang layu di pertengahan jalan saat menulis novelku.Pamungkas membuat chanel grup lewat instagram, yang berisi kegiatan kreatifnya dalam bermusik termasuk rencananya megeluarkan album baru berisi tiga puluh satu lagu. Kegiatan tersebut juga memberikan sinyal positif pada penggemarnya sebab, dia pelan-pelan sudah merekamnya. Namun pesan itu berlanjut saat dia mengatakan di hari berikutnya mau merombak semuanya sebab kedapatan ide bagus. "Dapat Ilham, prok prok prok jadi apa?" Hal itu dia perjelas saat duduk di dalam studio berlatar ruang tengah di unit huniannya. Dia duduk di depan drum dengan posisi tersebut jelas ingin mengul
Cinta bisa membunuh manusia, tetapi cinta bisa juga membuat kita tangguh berhadapan dengan beragam karakter manusia. Affal, Adelfiaa, memang bukan manusia sempurna, pun begitu juga denganku, kami seolah meributkan cinta suci pemberian sang ilahi dengan menghinakan satu sama lain. Menyalahkanku sebagai perusak hubungan mereka, namun ketahuilah momen pertemuanku dengan Affal lebih dulu terjadi, aku sedang tidak merebut Affal dari Adelfiaa. Masalah utamaku adalah Affal menjebakku, merampas kehormatanku sebagai perempuan suci yang menjaga harga diri selama 24 tahun lantas pergi begitu selesai dia dapatkan jiwa raga dan hatiku. Dia merendahkanku sebagai perempuan, melecehkanku dengan sengaja untuk memenuhi nafsu bejatnya dan mencoba menghapus jejak-jejak hubungan gelapnya denganku selama bertahun-tahun. Sekali lagi, Affal tidak selingkuh denganku, aku masa lalunya yang sengaja dia sembunyikan, ditutupi rapat-rapat dari keluarga besar, teman, kenalan, rekan kerja dan sahabat-sa
Aku berhasil membuat potongan layar tersebut dan mempostingnya di akun instagram pribadiku, bukan tanpa alasan, kutunjukan spesifik pada Adelfiaa agar dia tidak sekadar tahu, tetapi mengerti sisi lain dari kepribadian Affal yang sangat berbahaya, jika dia sedang tidak bisa mengendalikan fantasi liarnya.Kuberikan komentar pada postinganku menggunakan bahasa lokalku, agar suasananya menjadi serius dan dekat, "Astagaa, kasian banget sama kamu sebagai wanita, nikah aja jangan pacaran. Aku merinding sampai sebadan-badan, lihat cuplikannya gila banget, edan beneran pacarmu, masak kamu enggak baca novel baru pacarmu, ya ampun baca dong sayang, ini lho isi otaknya, kenapa masih kamu pacari sih, dek." Adelfiaa melihat dengan jelas postinganku, dia diam tanpa mau berbicara atau berkomentar padaku soal ini, dalam diamnya saat itu sudah kupastikan dia tidak baik-baik saja, kecurigaan terhadapku yang sempat tak mampir ke jiwanya, kini membuat hatinya gusar. Setelah postingan itu, aku menambah
Aku masih menunggu jawaban, beberapa kali di sela waktuku, aku mengecek email adakah pesan-pesanku mendapatkan balasan. Aku mengabaikan keadaan paling gila ini dan melanjutkan observasiku, sembari menunggu hasil review editor bukuku. Aku melewati hari dengan terbiasa mengecek sosial media, beberapa pengikut akun-akunku ini diisi oleh anak-anak manusia dari beragamnya rentang usia, dan aku kenal sehingga aku tidak kaget sama sekali saat, Adelfiaa tengah mengikutiku, dia mungkin tidak tahu dengan siapa dia terhubung. Selang beberapa hari pasca dia mengikutiku, kontrak kerjasamaku dengan Goodnovel Indonesia turun, dan bukuku berjudul Jangan Minta Jatuh Cinta ini langsung mendapatkan kontrak non eksklusif sesuai predisksiku, sebab aku mau menaruh buku tersebut di berbagai apalikasi web novel, lebih-lebih lagi aku tidak menulis untuk bekerja dan memperoleh keuntungan berupa uang di sana, aku menulis untuk menetralisir pesakitan jiwaku dan merekam jejak-jejak manusia. Aku menyatuka







