LOGINSelama ini dia hanya diam, menelan kepedihan demi menjaga nama dan martabat suami beserta keluarganya. Tapi malam ini, sesuatu di dalam dirinya telah memberontak.
Mungkin malam ini keberaniannya itu muncul karena rasa sakitnya sudah melampaui batas mampunya, sehingga dia nekat mengubah rasa takut menjadi suatu alasannya untuk berani. Pergerakan Radit semakin liar, sentuhan bibirnya mulai turun ke area bukit kembar milik Tiara yang membusung, menghisapnya dengan rakus persis seperti seorang bayi yang sedang kehausan. Sementara Tiara yang mendapatkan sentuhan itu terlihat semakin menggeliat manja. “Aah, Radit! Teruskan sayang!” sambil tangannya terlihat turun naik mengusap lembut pada bagian roket milik Radit, yang kian mengeras dari balik celananya. “Radit kamu memang selalu membuatku tergila-gila.” racau Tiara sekali lagi. Baru saja tangan lentik Tiara ingin melepaskan ikat pinggang pada tubuh Radit, karena keduanya ingin melakukan hal yang lebih. Tanpa sengaja tangan Andini yang gemetar menabrak ujung pintu. Dan suara itu membuat dua orang yang hanyut dalam desah cinta, terkejut. Lalu, menoleh. “Andini!” ucap Radit, matanya membulat. Wajahnya yang semula mesra kini berubah menjadi penuh amarah. Sedangkan Andini, semakin terlihat gugup, wajahnya pucat, saat ini dia benar-benar merasa seperti seorang pencuri yang sudah ketangkap basah. Akan tetapi tekadnya sudah bulat jika dia harus melawan. “Masih sempat-sempatnya ya kalian mencuri waktu untuk bermesraan di tempat seperti ini?” suaranya pecah, tapi tegas. “Seperti nggak ada tempat lain lagi!” tutur Andini. Begitu melihat ponsel di tangan Andini, ekspresi Radit langsung mengeras. Dalam sekejap, dia berlari dan menghampiri Andini, lalu menepis kasar tangan Andini. Ponsel itu terlepas dan jatuh ke lantai, layarnya pecah. Mata Andini membulat menatap tak percaya. Hatinya yang tadi merasa lega karena sudah mendapatkan bukti rekaman perselingkuhan Radit dan Tiara, kini seketika sirna. Andini terdiam, setengah gemetar. Harapan yang dia genggam erat seketika saja hancur persis seperti serpihan kaca dari ponselnya yang terhempas. “Andini! Beraninya kamu merekam semuanya?” raung Radit, suaranya menggema di ruangan itu. Rahangnya mengeras, giginya saling beradu menahan amarah yang meledak tanpa kendali. Sementara Andini, dia hanya bisa menatap pantulan dirinya di layar ponsel yang retak, pandangannya kosong. Dalam keheningan itu, hanya suara nafasnya sendiri yang terdengar, patah, tersengal. Fokus Andini yang menatap ponselnya yang jatuh kini teralihkan, dia sedikit mendongak, menatap wajah Radit yang memerah karena menahan amarah. Setelah merapikan rambut dan bajunya yang berantakan, Tiara juga keluar dan berdiri di ambang pintu dengan menyilangkan tangannya di dada. Wajahnya menatap Andini muak, tanpa merasa ada rasa bersalah dengan perbuatannya. “Aku yakin, jika dia ingin mempermalukan kamu dengan bukti rekaman itu. Istri kamu ini benar-benar jahat, Radit.” Tiara memprovokasi. Radit menatap Tiara dengan kasih sayang, “Tenang sayang, aku akan memberinya pelajaran.” kemudian dia beralih menatap Andini dengan wajah dingin dan suram. Perbedaan yang sangat kontras. “Kamu sengaja ingin mengambil rekaman untuk mempermalukan aku, hah?” suara Radit kembali membentak. Andini berkedip. “Radit, kamu tahu bukan jika semua orang di luar sana memuji hubungan kita. Tapi nyatanya seperti apa? Bahkan di jamuan makan malam penting seperti ini saja, kalian masih sempat mencuri waktu untuk bermesraan!” Radit menatap bengis. “Nggak usah ikut campur urusanku. Kamu hanya perlu duduk manis, dan patuh!” Andini menegakkan punggungnya, “Aku nggak peduli kamu mau berselingkuh dengan siapa atau bersama dengan siapa. Aku hanya ingin kamu melepaskan aku. Aku capek pura-pura bahagia dan dijadikan istri pajangan saja!” Andini berteriak. Tangannya gemetar, ini pertama kalinya suara Andini terdengar lantang saat berbicara dihadapan Radit. “Andini! Untuk apa kamu berteriak!” Radit sangat marah. Dia khawatir orang lain mendengar teriakan Andini dan melihat mereka ribut seperti ini. “Kenapa? Kamu takut jika orang lain tahu bagaimana kamu sebenarnya?” Andini menatap Radit tajam. “Lepaskan aku, atau aku akan berteriak agar semua orang melihat sendiri bagaimana kamu yang sebenarnya!” tuturnya tegas penuh ancaman. Andini sadar mungkin setelah ini dunianya runtuh. Tapi tekadnya sudah bulat jika dirinya ingin lepas dari belenggu bertopeng pernikahan yang menyiksa dirinya ini. Ada sekelebat rasa takut di mata Radit saat dirinya mendengar penuturan itu, bukan takut pada Andini, tapi takut pada kehilangan kekuasaan. Karena baginya, perempuan yang berani melawan berarti ancaman pada harga dirinya. Radit menggertakkan gigi. “Kamu benar-benar ingin cari masalah!” Radit maju sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dan akan melayangkan tamparan pada wajah Andini. Andini memejamkan mata, siap menerima tamparan itu. Namun sebelum tangan kokoh itu menyentuh wajah Andini, sebuah tangan kekar lainya terlebih dahulu menangkap pergelangan tangan Radit. Krek. Suara seperti ranting patah bergema di lorong hotel mewah itu. Pergelangan tangannya tertahan kuat oleh genggaman kokoh seorang pria berjas hitam. Radit meringis, matanya memerah menahan nyeri. “Sialan!” Dia menoleh dengan tatapan tajam. Andini dan Tiara juga ikut menoleh. Mata Radit seakan tidak percaya saat menyadari siapa pria yang kini berdiri tegak di hadapannya, dingin, dan memancarkan aura berwibawa yang langsung menelan seluruh ruangan dalam keheningan.Naren masih duduk di sisi ranjang Andini. Perempuan yang selama ini menjadi rumah bagi jiwanya kini terbaring pucat, nafasnya pelan namun teratur.Monitor jantung di samping ranjang berbunyi ritmis, seperti pengingat bahwa hidup masih bertahan untuk saat ini.Naren mengusap punggung tangan Andini perlahan.“Maaf,” bisiknya lagi, lebih lirih dari sebelumnya. “Semua ini seharusnya nggak pernah menyentuhmu dan anak kita.”Matanya memejam sesaat. Di kepalanya, wajah Widia muncul tanpa diundang. Senyum tenang yang selalu menyimpan niat. Perempuan yang bertahun-tahun disebut sebagai pelindung keluarga, padahal sejatinya adalah algojo paling berbahaya.Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan. Panggilan masuk dari nomor milik Kenzo, sahabat sekaligus tangan kanannya“Bos,” suara Kenzo terdengar tegang, “Saya ingin menginformasikan bahwa ada permintaan resmi dari lembaga psikologi untuk memeriksa kondisi mental Jessica.”Naren langsung berdiri.“Apa maksud mereka?”“Permintaan itu dat
Dimanapun adanya, rumah sakit tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu saja ada suara langkah tergesa, mesin yang berdetak tanpa emosi, dan doa-doa yang hanya berani diucapkan dalam hati. Naren terlihat sedang duduk kaku di kursi lorong lantai tiga, menatap pintu ruang observasi yang sejak satu jam lalu seolah menelan Andini. Lampu indikator di atas pintu masih menyala merah. Menandakan jika keadaan belum aman. Tangannya saling menggenggam, kuat, seolah jika dilepas sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Jas mahal yang biasanya melekat rapi di tubuhnya kini terlihat kusut. Sedangkan dasi yang biasanya tergantung rapi kini sudah dilepas entah sejak kapan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naren Khile merasa tidak berdaya. “Pak Naren.” Dia menoleh cepat. Dokter spesialis kandungan yang menangani Andini kini berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya terlihat profesional, tapi sorot matanya memancarkan kejujuran yang terlalu jujur. “Kondisi istri Anda, saat i
Suara mesin monitor medis berdetak pelan di ruang ICU, ritmenya stabil tapi terasa kejam bagi telinga Naren. Setiap bunyi bip seperti pengingat bahwa satu detik saja keterlambatan bisa merenggut segalanya.Andini terbaring di atas ranjang putih dengan tubuh yang tampak terlalu kecil untuk semua selang dan kabel yang menempel padanya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan kedua matanya terpejam rapat seolah berusaha menahan rasa sakit bahkan dalam tidur.Tangan kanannya terhubung dengan infus.Tangan kirinya kosong.Naren berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan itu dengan kedua telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya gemetar. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia tidak mencoba terlihat kuat.“Maaf,” bisiknya.Suaranya hampir tenggelam oleh dengung alat medis.Maaf karena terlalu percaya bahwa semua bisa dihadapi dengan kepala dingin.Maaf karena berpikir bahwa kebenaran cukup dicari, bukan diperjuangkan.Maaf karena membiarkan orang-orang yang dia cintai menjadi tameng
Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, seperti mata-mata yang mengawasi setiap sudut kota.Di ruang rawat inapnya Jessica duduk di sofa dengan selimut tipis melingkari tubuhnya. Lampu ruang tamu sengaja diredupkan. Televisi menyala tanpa suara, menampilkan berita malam yang terus mengulang namanya bahkan foto wajahnya.Kenzo berdiri di dekat jendela, ponsel menempel di telinga sejak sepuluh menit lalu.“Iya,” katanya pendek.Jeda.“Nggak, dia nggak keluar sejak sore.”Jeda lagi. “Baik. Terima kasih.”Kenzo mematikan panggilan dan menoleh ke arah Jessica.“Mereka mulai bergerak,” katanya tenang, tapi rahangnya mengeras. “Dua orang asing yang dianggap mencurigakan terlihat mondar-mandir di lorong rumah sakit sejak satu jam lalu.”Jessica tidak terlihat terkejut.“Aku sudah menduga,” jawabnya pelan. “Musuh kita bukan tipe yang menunggu sampai pagi.”Kenzo mendekat. “Kita bisa pindah rumah sakit untuk sementara.” Kenzo kembali mengulangi ucapannya.Jessica menggeleng. “Itu yang mereka
Nama Jessica Parker kembali memenuhi layar-layar digital kota Kurta. Bukan dengan simpati. Bukan dengan empati.Melainkan dengan tudingan yang dibungkus rapi oleh kata-kata bernada netral.“Korban Diduga Alami Trauma Berat, Kesaksiannya Tidak Konsisten.”“Sidang Ditunda, Publik Pertanyakan Kredibilitas Korban.”“Ahli Psikologi mengatakan jika Korban Bisa Terdistorsi.”Jessica membaca semua itu dari layar ponselnya tanpa berkedip. Tangannya mendadak jadi dingin. Dadanya seketika terasa sesak. Tapi bukan karena sedih. Karena marah.Dia duduk di kursi dekat jendela ruang rawat inap rumah sakit. Di luar, matahari bersinar terang, terlalu terang untuk suasana batinnya yang gelap. Burung-burung terbang bebas, dunia terus berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.Seperti tubuhnya tidak pernah dilanggar.Seperti hidupnya tidak pernah diremukkan.“Mereka benar-benar berani,” gumam Jessica pelan.Bukan Jefry yang dia benci.Bukan pula sidang yang kacau itu.Yang dia benci adalah cara mere
Cafe Jasmine, Pukul DelapanPagi di kota Kurta selalu dimulai dengan kesibukan yang teratur. Kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berjalan dengan tujuan, dan kafe-kafe mulai membuka tirai kaca mereka satu per satu. Akan tetapi, di sudut jalan kecil dekat taman kota, Cafe Jasmine berdiri seperti ruang waktu yang terpisah dari hiruk-pikuk itu.Jam dinding menunjukkan pukul delapan tepat ketika Naren mendorong pintu kaca kafe tersebut.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan.Aroma kopi pahit dan bunga melati yang menjadi ciri khas tempat itu menyambut indera penciumannya. Cafe Jasmine tidak ramai. Hanya ada tiga meja yang terisi, dua diantaranya oleh pasangan lansia yang tampak menikmati pagi dengan sunyi, dan satu lagi oleh seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang duduk membelakangi jendela.Naren berhenti melangkah. Itu pasti dia.Pria itu mengenakan kemeja abu-abu sederhana, tanpa jas, tanpa atribut mencolok. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Punggungnya sedikit membun







