Share

BAB 2

Penulis: Kupukupu
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 05:26:29

"Dengar baik-baik, Kyla," bisik Arka, napas hangatnya yang berbau mint menerpa bibir Kyla yang gemetar. Mata pria itu menggelap penuh obsesi yang selama ini ia kunci rapat di balik topeng kewibawaannya. "Aku tidak peduli jika aku hanya wali yang ditunjuk papamu. Tapi selama kamu berada di bawah atapku, tidak akan ada satu pria pun yang boleh menatapmu seperti yang mereka lakukan malam ini. Tubuhmu, hidupmu, bahkan setiap embusan napasmu... adalah milikku."

"Aku bukan milikmu! Kamu tidak punya hak atas diriku, Om!" teriak Kyla frustrasi, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Arka pada rahangnya. Bibirnya terus bergerak, melontarkan kata-kata pemberontakan yang memicu kemarahan pria itu ke titik didih. "Lepaskan aku! Aku membenci aturanmu! Aku membenci caramu menatapku seolah aku—"

Suara Kyla tersumbat seketika saat Arka membungkuk cepat dan menundukkan kepalanya, meredam seluruh bantahan Kyla dengan sebuah ciuman yang kasar dan menuntut.

Itu adalah tindakan impulsif yang murni bertujuan untuk membungkam bibir membangkang di hadapannya. Sentuhan bibir mereka yang basah mengirimkan sengatan panas instan ke seluruh tubuh Arka. Kyla membelalak terkejut, tubuhnya menegang di bawah kungkungan Arka saat merasakan bibir pria itu menekan bibirnya tanpa ampun.

Namun, kejutan itu hanya bertahan beberapa detik. Rasa kesal, gairah terlarang yang selama ini terpendam, serta keputusasaan Kyla melebur menjadi satu. Bukannya mendorong dada bidang Arka, jemari lentik Kyla justru meremas kerah kemeja putih Arka. Ia mendongak, membuka bibirnya, dan membalas ciuman pria itu dengan intensitas yang tidak kalah membara.

Balasan Kyla menghancurkan sisa-sisa pertahanan terakhir yang dimiliki Arka. Sesuatu di dalam diri pria dingin itu patah sepenuhnya. Desahan rendah yang serak lolos dari tenggorokan Arka saat ciumannya berubah dari sekadar pembungkaman menjadi pagutan yang liar, lapar, dan penuh keposesifan yang gelap.

Tangan Arka yang semula berada di rahang Kyla kini meluncur turun ke leher jenjang gadis itu, lalu terus bergerak ke bawah. Sentuhan jemari besarnya yang panas seolah membakar gaun sutra tipis yang membungkus tubuh Kyla. Hilang kendali, tangan Arka menyusup ke balik belahan gaun tinggi Kyla, mengusap paha mulusnya yang telanjang dengan usapan kasar yang menuntut kepatuhan.

Kyla mendesah pelan di sela-sela ciuman mereka saat merasakan telapak tangan Arka yang hangat bergerak semakin naik, meraba lekuk pinggulnya, lalu mencengkeram pinggangnya dengan erat untuk menarik tubuh mungilnya agar semakin menempel tanpa celah pada tubuh tegap Arka. Setiap jengkal kulit Kyla yang bersentuhan dengan tangan Arka terasa melepuh oleh gairah yang tak tertahankan. Arka menciumnya seolah ia adalah udara terakhir yang tersisa di dunia, mendominasi seluruh indra dan akal sehat Kyla hingga gadis itu merasa nyaris melayang.

Gemuruh guntur di luar mobil seolah menjadi latar belakang dari badai gairah yang sedang meluluhlantakkan kedua manusia di dalam kabin Range Rover tersebut. Arka terus menjelajahi tubuh Kyla dengan sentuhan yang semakin menuntut, sementara Kyla semakin erat mencengkeram bahu tegap walinya, menyerahkan diri sepenuhnya pada sentuhan terlarang yang begitu mencandu ini."Sudah puas menantangku, Kyla?"

Desis pelan Arka memecah keheningan yang tersisa di antara deru napas mereka yang saling memburu. Pria itu menarik wajahnya perlahan, menyisakan jarak beberapa sentimeter yang terasa begitu dingin setelah kehangatan intim yang baru saja mereka bagi. Ibu jari Arka yang kasar mengusap sudut bibir Kyla yang basah dan sedikit bengkak, menghapus sisa saliva dengan gerakan yang terasa seperti siksaan lembut.

Kyla terpaku di bawah kungkungan tubuh tegap Arka. Tangannya yang semula meremas erat kerah kemeja putih pria itu kini perlahan melemas, jatuh tak bertenaga di atas pangkuannya sendiri. Ia bisa merasakan dadanya naik turun dengan tidak teratur, sementara matanya menatap liar ke arah sepasang mata elang Arka yang perlahan kembali mengeras, mengunci rapat-rapat iblis obsesi yang beberapa detik lalu sempat lepas kendali.

Dengan satu gerakan tegas, Arka menarik tangannya dari balik belahan gaun sutra Kyla. Kehilangan sentuhan hangat itu membuat kulit paha Kyla mendadak meremang diterpa dinginnya AC mobil. Arka menegakkan punggungnya, bergeser kembali ke sudut kursinya seolah tidak terjadi apa-apa, lalu merapikan kancing kemejanya yang sempat berantakan dengan jemari yang sedikit gemetar.

"Benahi pakaianmu," perintah Arka, suaranya kini kembali datar dan dingin, tanpa menyisakan sedikit pun kehangatan yang baru saja membakar kabin Range Rover itu.

Kyla menelan ludah dengan susah payah. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya saat melihat perubahan sikap Arka yang begitu cepat. Dengan jemari yang gemetar, Kyla menarik turun ujung gaun sutra hitamnya yang kusut dan bergeser sedekat mungkin ke arah pintu mobil, mencoba menciptakan jarak terjauh di antara mereka.

Arka mengetuk kaca jendela di sampingnya, memberi isyarat kepada supir pribadinya yang sejak tadi menunggu di pos jaga luar jalan tol. Tak butuh waktu lama, Pak Joko kembali masuk ke dalam mobil dengan tubuh yang sedikit basah terkena cipratan air hujan. Supir paruh baya itu sama sekali tidak berani melirik ke arah kaca spion tengah, seolah menyadari atmosfer di kursi belakang telah berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan.

"Jalan, Pak," ucap Arka singkat.

Mobil mewah itu kembali melaju membelah jalanan kota yang diselimuti badai. Di sepanjang perjalanan, keheningan di antara Kyla dan Arka terasa begitu pekat, seolah-olah udara di dalam kabin berubah menjadi kaca yang bisa pecah kapan saja jika salah satu dari mereka bersuara. Kyla memalingkan wajah sepenuhnya ke arah jendela, menatap rintik hujan yang mengalir deras di permukaan kaca. Jantungnya masih berdegup kencang, menyisakan rasa bersalah, canggung, sekaligus debaran terlarang yang anehnya enggan pergi dari benaknya.

Arka sendiri hanya duduk bersedekap dengan mata terpejam. Namun, rahangnya yang mengeras dan kepalan tangannya yang kuat menunjukkan bahwa pria itu sedang berjuang keras mengendalikan isi kepalanya yang kacau. Batas yang selama dua tahun ini ia jaga dengan sekuat tenaga kini telah runtuh hanya dalam satu malam. Dan yang paling membuatnya marah adalah kenyataan bahwa ia menikmati keruntuhan tersebut.

Hampir satu jam perjalanan yang melelahkan itu berlalu dalam keheningan hingga Range Rover hitam itu akhirnya berbelok memasuki gerbang mansion mewah keluarga Arka. Begitu mobil berhenti di depan lobi, Arka langsung membuka pintu mobilnya sendiri tanpa menunggu payung dari Pak Joko. Ia melangkah cepat menembus sisa-sisa rintik hujan, meninggalkan Kyla yang harus berjalan tergesa di belakangnya.

Begitu pintu ganda mansion tertutup rapat di belakang mereka, menyisakan kehangatan ruangan yang kontras dengan dinginnya badai di luar, Kyla berniat langsung melarikan diri ke lantai dua untuk mengunci diri di kamarnya. Namun, sebelum kaki telanjangnya sempat menyentuh anak tangga pertama, suara bariton Arka menghentikan langkahnya seketika.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 19

    "Jangan sentuh lehermu dengan benda itu, Kyla!" teriak Arka dengan suara yang memecah keheningan lantai lima puluh empat Mahendra Tower, bergetar hebat di udara pekat yang mendadak membeku.Pria perkasa yang biasanya sanggup menumbangkan lawan bisnis terbesar di negeri ini kini mematung di tempatnya. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan jemari yang gemetar, matanya mengunci tajam pada pecahan kaca pot bunga yang menekan kulit halus leher Kyla. Darah merah segar mulai mengalir dari sela-sela jemari Kyla yang memegang pecahan tajam tersebut, menetes lambat membentur marmer putih yang bertabur dokumen rahasia."Seline, keluar dari sini sekarang sebelum aku membunuhmu!" desis Arka tanpa berpaling sedikit pun dari Kyla. Suaranya rendah, sarat akan kemurkaan murni yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.Seline mendengus sinis, merapikan blazer kremnya dengan gestur tenang yang memuakkan. "Kau tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini selamanya, Arka," bisiknya penuh

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 18

    "Kau tidak akan pergi ke kampus hari ini, Kyla."Suara Arka memecah keheningan kamar utama saat pria itu merapikan jam tangan emasnya. Kyla yang sedang merapikan kerah kemeja putihnya mendadak membeku. Matanya yang kusam memantulkan bayangan Arka yang melangkah mendekat dari belakang, memancarkan aura dominasi yang semakin pekat seiring terbitnya matahari pagi."Om, aku ada jadwal presentasi sketsa jam sepuluh," sahut Kyla, memutar tubuhnya dengan tatapan tegar meski dadanya bergemuruh hebat. "Dosen tidak akan menoleransi ketidakhadiranku lagi setelah insiden perkemahan kemarin."Arka menghentikan langkahnya tepat di depan Kyla. Ia meraih dasi sutra hitam dari atas meja rias, menyodorkannya pada Kyla tanpa mengalihkan pandangan tajamnya. "Tugasmu bisa dikirim lewat surel. Mulai hari ini, kau akan ikut bersamaku ke Mahendra Tower. Kau bisa mengerjakan sketsamu di ruang kerja pribadiku."Kyla menerima dasi itu dengan tangan gemetar, memasangkannya ke leher Arka dengan gerakan kaku. Jara

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 17

    "Mau ke galeri kampus bersama Riana, Om," sahut Kyla pelan, matanya menatap tajam pada sepasang sepatu kulit Arka yang melangkah masuk melintasi karpet tebal. "Riana baru saja mengirim pesan. Ada pameran tunggal alumni yang wajib kami amati untuk laporan tugas akhir."Arka tidak membalas ucapan itu seketika. Pria itu menyusuri kamar dengan langkah yang amat teratur, melepas jam tangan mewahnya lalu meletakkannya di atas meja rias dengan denting logam yang nyaring di tengah kesunyian. Ia berdiri tepat di belakang Kyla, membiarkan pantulan tubuh mereka berdua mendominasi bayangan cermin di hadapan mereka. Jemari Arka yang dingin meluncur perlahan ke bahu Kyla, mencengkeramnya dengan tekanan yang begitu pas—cukup kuat untuk menegaskan otoritasnya, namun cukup lembut untuk menahan gadis itu agar tidak berpaling."Pergilah," bisik Arka, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Kyla, menyapukan aura dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Tapi ingat satu hal. Sopir dan dua pengawal

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 16

    Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala kebisingan dan ketegangan yang sempat meledak di ruang utama mansion. Kyla menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan degup jantungnya yang masih memburu.Kata-kata terakhir Arka kepada ibunya, masih terngiang jelas di telinganya. “Tidak ada satu pun orang di dunia ini, termasuk Ibu, yang punya kuasa untuk memutuskan seberapa lama dia akan tinggal di sini selain diriku.”Kalimat itu terdengar begitu mutlak, sebuah deklarasi kepemilikan yang tidak menyisakan celah bagi siapa pun untuk membantah. Di satu sisi, Kyla merasa dilindungi dengan cara yang paling kuat di dunia. Namun di sisi lain, kalimat itu juga menegaskan bahwa dirinya benar-benar telah terkunci sepenuhnya di dalam wilayah kekuasaan Arka. Ia bukan lagi sekadar anak asuh, ia adalah pusat dari badai pertarungan keluarga Mahendra.Langkah kaki yang berat dan teratur mendekati pintu kamarnya. Suara ketukan pelan terdengar sebelum ga

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 15

    Suasana kampus terasa begitu asing bagi Kyla. Hari ketiga sejak insiden di puncak gunung itu, ia merasa seolah-olah jiwanya tertinggal di sana, di tempat yang kini menjadi altar pengorbanan kebebasannya. Ia berjalan menyusuri koridor Fakultas Seni dengan langkah yang berat, kepalanya sering kali menunduk, membiarkan rambut panjangnya menutupi ekspresi kosong di wajahnya.Ia pendiam. Sangat pendiam. Bahkan ketika Riana mencoba mengajaknya bercanda tentang tugas seni rupa yang menumpuk, Kyla hanya merespons dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Pikirannya melayang pada tatapan Arka yang selalu membayanginya, seolah pria itu menanamkan jejak permanen pada setiap inci kulit dan jiwanya."Ky, kamu kenapa sih? Sejak pulang dari camping lebih awal, kamu kayak orang kehilangan nyawa," Riana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas, menatap Kyla dengan raut wajah khawatir. "Kamu sakit? Atau ada masalah dengan 'Om Posesif'-mu itu lagi?"Kyla ters

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 14

    Keheningan di dalam kabin Range Rover itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada badai yang menggulung di luar. Kaca mobil yang berembun menjadi satu-satunya batas antara mereka dengan dunia luar yang dingin, sementara di dalam, suhu udara seolah membeku oleh atmosfir penyesalan yang pekat.Arka tidak bergerak. Tangannya yang gemetar perlahan menarik diri, memberikan ruang bagi Kyla yang kini terduduk meringkuk dengan napas yang masih tersengal. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kemudi, memejamkan mata dengan rahang yang masih mengeras, bukan karena amarah, melainkan karena perang batin yang luar biasa. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal, sebuah tindakan yang menghancurkan satu-satunya fondasi moral yang tersisa untuk menahan dirinya agar tidak benar-benar tenggelam dalam obsesi gelapnya sendiri.Kyla menarik jas milik Arka yang tadi sempat ia lepas, menyampirkannya kembali ke bahunya yang telanjang dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak mengeluarkan suara.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status