로그인
"Kyla, kamu yakin tidak mau minum sedikit saja? Malam ini kita harus bersenang-senang!"
Suara Riana setengah berteriak, berusaha mengalahkan dentum bas yang menggetarkan lantai dansa Onyx Club. Kyla hanya menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis di bibirnya yang dipulas lipstik merah ceri. Ia merapatkan tubuh pada sandaran sofa beludru merah di sudut area VIP, mencoba mengabaikan aroma alkohol, asap rokok, dan parfum menyengat yang bercampur di udara pengap kelab malam premium tersebut.
Kyla melirik arloji kecil di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul 23.45. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan sinis yang samar. Ia sengaja membiarkan gawai di dalam tas kecilnya terus menyala, membiarkan aplikasi pelacak lokasi yang dipasang paksa oleh walinya mengirimkan sinyal koordinat tempat ini tanpa henti.
Malam ini, Kyla sengaja mengenakan gaun sutra hitam berpotongan dada rendah yang mengekspos bahu bulat dan punggung mulusnya. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya yang baru menginjak usia sembilan belas tahun dengan begitu pas. Ia tahu gaun ini adalah definisi dari murka bagi pria yang mengasuhnya selama dua tahun terakhir. Dan memang, itulah yang dicarinya malam ini. Menantang singa yang sedang tidur.
"Kamu terlihat gelisah sejak tadi, Ky. Menunggu seseorang?" tanya Riana lagi, kini ikut duduk di sampingnya sambil menyesap minuman berwarna kuning keemasan dari gelas sloki.
"Tidak juga," dusta Kyla singkat. Matanya tetap terarah pada pintu masuk VIP kelab malam tersebut. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat, bukan karena musik tekno yang berisik, melainkan karena antisipasi yang membuat perutnya terasa mulas.
Tepat pukul dua belas malam, atmosfer di sekitar area VIP seolah merosot drastis hingga ke titik beku. Kerumunan orang di dekat pintu masuk mendadak terbelah, menciptakan jalur sunyi di tengah keriuhan. Di sana, berdiri seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi, dengan kancing atas kemeja putihnya yang sengaja dibuka. Postur tubuhnya yang tegap setinggi 185 sentimeter mendominasi ruangan. Wajahnya terpahat dengan rahang kokoh yang kini mengeras, dan sepasang mata elang yang tajam langsung mengunci sosok Kyla di sudut ruangan.
Arka. Sahabat almarhum papanya, sekaligus walinya yang terhormat. Pria berusia tiga puluh delapan tahun yang selama ini mengontrol setiap embusan napas Kyla.
Arka melangkah lebar. Aura kekuasaan dan kemarahan yang pekat menguar dari tubuhnya, membuat beberapa pria yang tadinya berniat mendekati meja Kyla langsung mundur teratur dengan wajah pucat. Teman-teman Kyla, termasuk Riana, mendadak membisu, terintimidasi oleh tatapan dingin pria paruh baya yang terlihat sangat berbahaya itu.
"Pulang," desis Arka begitu tiba di depan meja Kyla. Suaranya rendah, serak, namun memiliki gaung penekanan yang mutlak.
Kyla mendongak, menantang manik mata hitam kelam milik Arka. Ia bisa melihat kilatan amarah yang menyala di balik ketenangan palsu pria itu. Kyla sengaja menyilangkan kaki, memperlihatkan paha mulusnya yang terekspos akibat belahan gaun yang tinggi. "Aku baru saja sampai, Om Arka. Teman-temanku masih di sini."
"Aku tidak menerima bantahan, Kyla. Sekarang," ucap Arka, suaranya naik satu oktav, sangat dingin hingga mampu menghentikan tawa di meja sebelah. Sebelum Kyla sempat membalas, tangan besar Arka yang hangat dan kasar langsung mencengkeram pergelangan tangan Kyla. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun begitu kuat hingga mengunci pergerakan Kyla sepenuhnya.
"Lepaskan, Om! Aku bukan anak kecil lagi!" Kyla mendesis marah, mencoba menarik tangannya, namun Arka justru menarik tubuhnya hingga berdiri tegak.
"Ikut aku, atau aku akan menggendongmu keluar dari tempat kotor ini di depan semua teman-temanmu," bisik Arka tepat di telinga Kyla. Aroma parfum kayu cedarwood bercampur aroma hujan yang maskulin dari tubuh Arka langsung menyerbu indra penciuman Kyla, membuat kakinya mendadak terasa lemas.
Kyla menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu Arka tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan perasaan campur aduk antara kesal dan sensasi aneh yang menggelitik dadanya, Kyla terpaksa melangkah mengikuti tarikan tangan Arka, mengabaikan tatapan heran dari seisi kelab.
Begitu mereka melangkah keluar dari lobi, udara malam yang dingin langsung menusuk kulit Kyla yang terbuka. Hujan badai sedang mengguyur kota dengan sangat deras. Arka menarik Kyla di bawah lindungan payung besar yang dipegang oleh supir pribadinya, lalu membukakan pintu belakang mobil Range Rover hitam miliknya.
"Masuk," perintah Arka mutlak.
Kyla mendengus keras, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi kulit yang dingin. Sedetik kemudian, Arka ikut masuk dan menutup pintu dengan bantingan keras, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam kabin mobil yang kedap suara. Supir Arka segera melajukan mobil membelah jalanan kota yang basah.
Keheningan di dalam mobil terasa begitu pekat, hanya menyisakan suara ketukan ritmis dari penghapus kaca depan yang menyapu air hujan. Kyla memalingkan wajah ke luar jendela, menatap lampu-lampu kota yang buram karena rintik air. Sudut matanya menangkap gerakan Arka yang sedang melepaskan jas abu-abunya dengan kasar, menyisakan kemeja putih yang kini melekat ketat pada dada bidangnya yang naik turun karena menahan emosi.
"Apa yang ada di dalam kepalamu, Kyla?" tanya Arka akhirnya. Suaranya tenang, namun ketenangan itulah yang paling menakutkan dari seorang Arka.
"Aku hanya ingin bersenang-senang. Apa itu salah?" sahut Kyla tanpa menoleh. "Aku sudah sembilan belas tahun, Om. Aku punya hak untuk menentukan ke mana aku ingin pergi."
"Sembilan belas tahun tidak membuatmu cukup pintar untuk tidak memakai selembar kain murah yang memperlihatkan tubuhmu pada pria-pria hidung belang di tempat terkutuk itu!" Nada suara Arka meninggi, penuh dengan keposesifan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
Kyla berbalik cepat, menatap langsung ke dalam mata Arka. "Kenapa Om Arka begitu peduli? Om hanya wali sementara yang ditunjuk Papa! Om bukan pemilik hidupku!"
Cicitan rem yang mendadak membuat Kyla tersentak ke depan. Rupanya, hujan yang terlalu deras membatasi jarak pandang hingga sang supir terpaksa menepikan mobil di bahu jalan tol yang sepi, tepat di bawah pohon-pohon rindang yang bergoyang hebat ditiup angin badai.
"Pak Joko, keluar dari mobil. Cari tempat berteduh di pos jaga di depan sana," perintah Arka dengan nada dingin yang tidak boleh dibantah. Supir paruh baya itu hanya mengangguk patuh, mengambil payung, lalu segera keluar meninggalkan mereka berdua di dalam mobil.
Kyla merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya saat menyadari kini mereka benar-benar hanya berdua di tengah kegelapan dan badai yang bergemuruh di luar.
Arka menggeser duduknya, mendekat ke arah Kyla hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Aroma tubuh Arka yang pekat dan mengintimidasi langsung mengurung Kyla. Pria itu mengulurkan tangan, jemari kasarnya mencengkeram rahang Kyla dengan kelembutan yang mematikan agar mata mereka saling mengunci.
Mesin Range Rover hitam itu menderu pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama kampus yang sudah riuh dengan kerumunan mahasiswa. Pagi itu, matahari masih malu-malu mengintip di balik awan tipis, namun suasana di titik kumpul perkemahan departemen seni sudah terasa seperti sebuah festival kecil. Di sana, deretan bus pariwisata berjejer rapi, sementara para mahasiswa sibuk menaikkan tas-tas besar mereka ke dalam bagasi.Arka tidak mematikan mesin. Tangan kirinya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk paha Kyla yang terbungkus celana kargo praktis. Ia menatap ke luar jendela dengan sorot mata tajam, memindai kerumunan mahasiswa yang tampak seperti sekumpulan semut yang sibuk bagi pria itu."Ingat aturan kita, Kyla," suara Arka memecah keheningan kabin yang sejak tadi terasa mencekam. "GPS di ponselmu akan ku pantau secara real-time. Jika aku melihat titik lokasimu bergerak menjauh dari area perkemahan tanpa sei
"Duduk, Kyla."Arka tidak memandang ke arah Kyla saat ia mengucapkan perintah itu. Pria itu masih terpaku pada layar laptopnya di ruang kerja, jemarinya mengetik dengan ritme yang stabil dan dingin. Kamar kerja Arka selalu terasa seperti zona terlarang bagi Kyla, ruangan dengan dinding berlapis kayu mahoni gelap, bau buku tua yang samar, dan atmosfer yang seolah menghisap seluruh kehangatan di udara.Kyla menarik kursi kayu yang berada tepat di hadapan meja kerja pria itu. Ia duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di atas pangkuan, persis seperti seorang siswi yang sedang menunggu hukuman di ruang kepala sekolah. Semalam, ia berhasil mendapatkan perhatian Arka dengan "kepatuhan" yang ia rancang dengan sangat hati-hati, namun kini, ia tahu permainan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.Arka menutup laptopnya dengan dentuman pelan. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kulitnya yang besar. Tatapan mata pr
Napas Kyla memburu, tidak teratur, membentuk irama yang selaras dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Di atas ranjang king size yang berantakan, ia masih merasakan sisa sengatan panas dari setiap inci sentuhan Arka. Kamar itu kini terasa begitu pengap, seolah oksigen telah habis terserap oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Kyla merutuk dirinya sendiri dalam diam. Jemarinya mencengkeram sprei dengan buku-buku jari yang memutih. Mengapa? Mengapa ia justru begitu menikmati setiap cumbuan pria itu? Mengapa pertahanan dirinya runtuh semudah kertas yang terbakar api saat Arka menyentuhnya? Ia membenci bagaimana tubuhnya berkhianat, bagaimana ia justru mendambakan lebih, mendambakan dominasi pria itu yang meremukkan sisa harga dirinya.Arka, yang berada tepat di atasnya, tiba-tiba berhenti. Pria itu menahan napas sejenak, otot-otot lengannya yang menekan matras tampak menegang hebat. Ia memejamkan mata, rahangnya mengunci rapat. Ia tahu, jika ia melanjutkan ini satu langkah lebih ja
"Siapa dia, Kyla?"Suara itu tidak lagi terdengar seperti desis, melainkan geraman rendah yang mengguncang udara di sekeliling Kyla. Arka berdiri membelakanginya, namun aura dominasi yang terpancar dari punggung tegapnya mampu membuat Kyla merasa seolah-olah ia sedang terpojok oleh predator paling berbahaya di dunia. Amplop biru pastel itu kini telah hancur di tangan Arka, robek tak berbentuk, seolah melambangkan nasib siapa pun yang berani mencoba mengusik wilayah kekuasaannya.Kyla berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Handuk putih yang melilit tubuhnya terasa begitu tipis, seakan tidak memberikan perlindungan apa pun dari tatapan tajam pria itu yang, meskipun kini membelakanginya, bisa ia rasakan sedang membakar seluruh kulitnya. Sisa air dari rambutnya menetes dingin ke tulang selangka, namun sensasi itu kalah oleh rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat adrenalin yang meledak."Itu... itu hanya teman kampus, Om," jawab Kyla, berusaha menjaga suaranya tetap stab
Minggu depan adalah acara camping tahunan departemen seni. Acara itu sangat krusial bagi nilai akademisnya. Jika ia terus membangkang atau menunjukkan sikap bermusuhan, Arka pasti tidak akan pernah mengizinkannya pergi dari mansion itu sejengkal pun. Kyla harus mengubah taktiknya. Jika kemarahan dan pemberontakan hanya membuat sangkar emasnya semakin memperketat kurungan, maka ia harus melakukan hal sebaliknya: menjadi anak asuh yang sangat penurut, manis, dan patuh selama satu minggu penuh, dimulai dari malam ini.Begitu melangkah keluar dari lobi fakultas, sedan mewah hitam yang dikemudikan Pak Joko sudah terparkir tepat di depan undakan. Kyla segera masuk ke kursi belakang tanpa suara, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak batinnya. Sepanjang perjalanan pulang membelah kemacetan kota, ia terus melatih ekspresi wajahnya di depan cermin kecil, memastikan tidak ada sisa-sisa amarah atau ketakutan yang tertinggal di wajah indahnya. Ia harus terlihat tulus di hadapan wali
"Kyla? Anda mendengar pertanyaan saya?" Pak Hendra kembali bersuara, kali ini dengan alis berkerut tebal di balik kacamata minusnya. Tetapi, masih juga gagal mengembalikan fokus Kyla."Ah!" Kyla mengerang frustrasi tanpa sadar.Kedua tangannya bergerak cepat ke atas kepalanya, mencengkeram dan mengacak-acak rambut panjangnya yang terurai hingga menjadi kusut masai—sebuah ekspresi kepanikan batin yang tidak lagi bisa ia bendung. Tindakan impulsifnya itu seketika memicu kasak-kusuk tertahan dari beberapa mahasiswa di barisan belakang. Rio, yang duduk tidak jauh dari meja Kyla, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang sangat kentara.Seketika itu juga, Kyla tersadar dari tindakan konyolnya. Napasnya tercekat saat menyadari seluruh isi kelas kini menatapnya seolah-olah ia baru saja kehilangan kewarasan.Kyla segera menurunkan tangannya dengan canggung, mencoba merapikan kembali helai rambutnya yang berantakan di bahu dengan jemari yang gemetar. Wajahnya yang pucat kini memerah







