Share

Jangan Sentuh Anakku CEO!
Jangan Sentuh Anakku CEO!
Author: deasy_zen

1

Author: deasy_zen
last update Last Updated: 2025-12-27 16:42:20

Dalam sebuah kamar hotel yang bersuhu ruangan cukup sejuk bahkan nyaris dingin sebenarnya cukup membuat badan menggigil tetapi mungkin bagi kedua insan pria dan wanita yang sedang berbaring di ranjang, berbagi peluh dan saling mengerang itu, hawa di kamar terasa panas.

Namun, lebih tepatnya sang pria yang mendominasi permainan cinta, sedang si wanita hanya lebih banyak diam terbaring pasrah. Kegiatan panas itu berlangsung sepanjang malam, membuat sang wanita tertidur kelelahan.

Pagi datang dan sinar mentari menyusup masuk lewat celah-celah jendela, Bella membuka matanya perlahan. Wanita itu melirik ke sisi ranjang yang kosong dan dingin. pria yang telah tidur dengannya semalam tak ada lagi disitu.

Bella berusaha bangun dan mengernyit sembari menggigit bibir bawahnya, sulit rasanya untuk berjalan, sejenak dia menghentikan langkahnya dan menatap nanar ke sekeliling kamar lantas Bella terhenyak mendapati bercak merah di seprai putih yang terlihat begitu kontras.

Perempuan cantik yang memiliki rambut panjang hitam sebahu dengan tampilan yang tak karuan itu bernama Arrabella Indriani berusia 19 tahun.

"Sialan lelaki itu, akkh..kalau bukan karena harus membayar biaya rumah sakit yang begitu tinggi untuk pengobatan ayah, takkan kuambil jalan seperti ini, menjual keperawanan ku pada pria asing," tutur Arabella pilu. Setetes air mata jatuh di pelupuk netra yang tampak lelah.

Dengan langkah terseok menahan sakit dia melangkah menuju kamar mandi, ingin segera mengguyur seluruh tubuh yang terasa

"Maafkan aku ayah, ini semua kulakukan karena ingin ayah sehat kembali."

Arrabella sudah hampir satu jam lamanya membasuh diri, mengguyur sekujur tubuh dengan shower, berendam air, berulang kali menuangkan sabun pada raga sintalnya yang dipenuhi jejak kepemilikan. Warna merah bekas tanda pria itu di sekujur tubuhnya tampak nyata,.

Akhirnya Arabella memutuskan keluar dari kamar mandi dan menyudahi mandinya.

"Setelah mandi sekarang rasanya tubuhku sudah jauh lebih segar," gumamnya, lantas Bella duduk di tepian ranjang tempat semalam dia dan pria one night stand nya berhubungan intim. Dia mengamati sehelai kertas diatas kasur.

Jemari lentik Arabella agak gemetar saat memegangi cek yang tergeletak di kasur.

"Sepuluh milyar, kenapa dia membayar sebanyak ini dari syarat yang ku minta tadinya adalah lima milyar," desisnya dengan bibir bergetar.

Kemudian Bella melihat ada kertas yang berisi tulisan tangan didekat cek tadi tersimpan, sembari mengernyit heran diraihnya kertas itu lalu dibacanya.

"Aku memberi tambahan uang untukmu, ternyata kamu memang perawan."

Tulisan di kertas membuat hati Bella hancur dan seiring harga dirinya yang runtuh. Jemari Bella meremas kuat kertas itu dan melemparnya ke lantai.

"Ini semua sudah menjadi keputusanku," ucap Arrabella terisak pilu, walaupun berusaha tegar tapi tak urung akhirnya gadis cantik itu menangis juga.

"Setelah sejauh ini aku tak bisa mundur lagi, sekarang lebih baik cepat kerumah sakit untuk membayar biaya operasi ayah."

"Selain biaya operasi yang begitu tinggi masih ada juga sisa cicilan hutang yang harus dibayar, biaya harian perawatan ayah sudah mahal apalagi ditambah dengan biaya operasi nya nanti," bisik Bella pelan, lalu dia lekas berganti baju.

***

Arrabella membawa langkah kakinya ke lorong rumah sakit yang cukup ramai dan terus berjalan ke ruangan rawat khusus ICU tempat ayahnya tergolek lemah serta sekujur tubuh yang tua itu dipasangi berbagai peralatan medis penunjang hidup.

"Ayah, ini Bella datang untuk segera membayar uang operasi pencangkokan jantung," ucapnya sendu. Bella tahu bahwa pria itu tak bisa mendengar apa yang diucapkan olehnya apalagi menjawabnya.

Setelah merasa cukup melihat kondisi sang ayah, lantas Bella berjalan menuju ruangan administrasi.

"Selamat siang Bu, saya anaknya Pak Arya Atmajaya mau membayar biaya operasi ayah saya, jadi berapa total semuanya?"tanya Bella datar.

"Iya, sebentar bu, saya proses dulu ya," timpal petugas rumah sakit dan tak lama kemudian transaksi pembayaran pun selesai.

Setelah dipastikan semuanya selesai lalu Arrabella hanya tinggal menunggu proses jadwal operasi transplantasi jantung yang akan dilakukan beberapa hari kemudian dengan hati cemas.

"Lebih baik aku keluar dulu sebentar untuk mencari makan siang dan terus pergi ke kampus."

"Uang yang kudapat bisa untuk membayar kuliahku yang sempat terhenti karena ayah sudah tak mampu lagi membiayai," gumamnya lirih

Arrabella gadis cantik memiliki tubuh tinggi semampai, kulit putih halus serta rambut hitam panjang berkilau agak bergelombang, dan baru saja memulai kuliahnya di fakultas kedokteran.

Gadis cantik itu berjalan dengan wajah tertunduk dan langkah yang pelan menyusuri koridor rumah sakit, mendadak langkahnya terhenti karena melihat sosok pemuda bertubuh tegap yang sedang berjalan didepannya.

"Well, siapakah disini, ternyata adikku yang cantik, see darling kita bertemu lagi," tutur Ares yang ternyata adalah kakak tirinya.

"Ka-kau Ares, beraninya kau muncul di sini setelah apa yang kamu dan ibumu lakukan pada kami!" tutur Arrabella geram.

"Hei calm down baby, tenang saja Bella, aku hanya ingin menjenguk ayahmu, bagaimana keadaannya sekarang?" Ares menjawab sembari tersenyum miring dan hendak menyentuh bahu adik tirinya dengan cara tak sopan.

"Jangan sentuh aku, kalian sudah menipu kami selama ini, akibat ulah kalian kondisi ayah menjadi drop hingga akhirnya sakit jantung karena kelakuan ibumu yang telah merebut perusahaan ayah serta meninggalkan hutang yang begitu banyak."

Arrabela berteriak lantang sembari melangkah mundur.

Netra Ares berkilat tajam saat menerima penolakan dari gadis itu kedua lengannya terkepal erat.

"Lihat saja nanti Bella, aku pasti akan bisa mendapatkanmu, my little girl" tandas Ares sembari mengirimkan ciuman jauh dengan jarinya, lantas pemuda itu membalikkan badannya dan bergegas pergi dari situ.

Arrabela terdiam dan terpaku ditempatnya, nafasnya terasa sesak, pandangannya sejenak menerawang jauh, gadis elok itu lantas menarik dan menghembus nafas panjang teringat kisah hidupnya yang begitu tragis.

Dilahirkan sebagai putri dari seorang yang pengusaha sukses, kemudian saat gadis cantik itu menginjak usia 17 tahun, ibunya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.

Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita cantik bernama Selina yang yang tak lain adalah ibunya Ares.

Suatu hari perusahaan ayahnya bangkrut karena ditipu oleh ibu tirinya beserta dengan Ares juga hingga semua hartanya ludes,rumah peninggalan pun disita karena tak bisa membayar hutang.

Begitulah kisah kenapa Arrabella terdampar di sebuah kamar bersama seorang pria yang membeli keperawanannya.

Sementara di sisi lain dalam suatu ruangan kerja tampak berdiri sosok pria bertubuh tinggi dan tampan sedang menyibak rambutnya pelan, pria itu sedang termenung didepan jendela yang menghadap pada pemandangan jendela dari atas ketinggian gedung.

"Kenapa aku masih memikirkan gadis tadi malam, memang nya apa yang berbeda darinya?" Arvel membatin.

Pria ini adalah Arvel Hartanto, CEO perusahaan Hartanto grup yang sukses.

Arvel melayangkan pandangan, menerawang sesaat lalu tiba-tiba dia memijit pelipisnya.

"Sial, semalam waktu melakukannya dengan wanita itu, aku lupa memakai pengalaman, wanita itu sungguh membuatku lupa diri, aku tak dapat berhenti untuk menyentuhnya."

"Bagaimana kalau dia sampai hamil," gumam Arvel dengan sedikit rasa khawatir.

Kemudian Arvel mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Reno, coba kau selidiki gadis yang semalam bersama denganku."

Arvel menutup panggilan lantas menghela panjang.

"Wanita itu, sungguh berbeda, kenapa aku terus mengingatnya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   35

    Arvel berjalan melenggang keluar dengan langkah lebarnya dari ruangan kerja Bella sembari menyeringai dingin, dan sekarang pria itu sudah berada didalam mobilnya. Arvel masih terdiam sejenak sebelum mulai menyalakan mesin mobilnya."Aku tak percaya kalau telah ditolak oleh seorang wanita macam Arrabella, tapi itu sungguh membuatku tertantang."Arvel mendengus kesal serta bicara seorang diri, lalu masih terduduk di jok mobil dan merasa hatinya tergelitik, tetapi rasa itu bukanlah rasa marah. Arvel tak tahu benar rasa apa itu, dan dia tidak yakin apakah dia benar-benar menyukai Bella atau itu hanya egonya saja.Sepanjang hidupnya dia sudah biasa memakai perempuan. Penampilannya yang tampan dan tubuh tegapnya disertai kekayaan yang berlimpah yang tak dapat disangkal telah memudahkan nya untuk mendapatkan teman tidur, hingga dia tak ingat lagi sudah berapa banyaknya.Pada dasarnya Arvel amat membenci wanita, mereka terlalu lembut dan tak punya semangat."Malika umpamanya, dia sama saja de

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   34

    Arvel masih terus mengamati interaksi ketiganya hingga mobil yang dikendarai Revan dan Bella beranjak pergi."Sebaiknya sekarang aku akan mendatangi Bella di rumah sakit tempatnya bekerja."Kemudian Arvel mulai mengemudikan mobil sedan mewahnya, dia sudah mengetahui dimana tempat Bella bekerja berdasarkan informasi dari Reno.Bella sedang melakukan kunjungan ke salah satu pasien nya sembari mengecek kondisi terakhir seorang wanita paruh baya yang sudah satu minggu dirawat karena operasi usus buntu."Bagaimana perasaan ibu hari ini?""Baik Dok, saya sudah merasa lebih sehat dan bekas lukanya pun sudah tak terasa sakit, dokter Bella memang hebat sekali."tanggap Emi sang pasien sambil tersenyum lebar."Sudah tugas saya Bu, dan saya senang bila ibu sudah kembali pulih," jawab Bella merendah sembari memeriksa catatan medis."Baiklah kondisi ibu sudah stabil dan sehat sehingga besok sudah bisa pulang,"tutur Bella lalu dia menoleh pada perawat wanita muda di sebelahnya."Apa lagi jadwal ku s

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   33

    Kenzo mengamati interaksi diantara Revan dan ibunya lantas bocah itu tersenyum lebar sambil berjalan menghampiri keduanya."Om Revan..""Hallo jagoan Om, gimana kabar kamu hari ini Boy."Revan merendahkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh mungil dalam dekapan lengan kekarnya."Aku senang hari ini karena ada om Revan datang, aku sebentar lagi pergi sekolah sama ibu.""Wow.. that's good, bagus sekali anak pintar.""Baiklah ayo kita pergi bersama, Om akan antar kamu ke sekolah .""Tunggu sebentar aku akan mengambil tas nya Kenzo yang tertinggal didalam rumah, apa kamu mau masuk dulu?"Bella bertanya seraya menatap Revan lekat dengan wajahnya yang tersipu. Pria tampan itu sedang menggendong anaknya sambil bercengkerama riang."Aku tunggu disini saja bersama Kenzo, "jawab Revan singkat.Tak lama kemudian ketiganya sudah berada di dalam kendaraan mewah milik Revan dan berkendara menuju sekolah Revan terlebih dahulu.Sepanjang perjalanan Kenzo banyak berceloteh riang disertai wajah tampan nya

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   32

    Revan dan Erika saling berpandangan, tapi pikiran mereka berbeda-beda.Revan merasa penasaran dengan rencana Erika dan tak mau membiarkan dirinya terjebak begitu saja. Pria itu memang selalu berhati-hati bila ada seseorang asing yang tak dikenalnya memberi minuman ataupun makanan, maka Revan takkan menelannya begitu saja.Tak lama kemudian reaksi obat yang diminum Erika mulai bekerja."Aduh kenapa rasanya badanku panas begini, padahal tadi aku nggak kenapa-kenapa."Erika mulai merasakan ketidak nyamanan tapi dia merasa aneh karena hafal dengan efek yang terjadi pada tubuhnya."Tapi ini adalah efek obat itu, kenapa jadi aku yang merasakannya, bukankah harusnya Revan yang minum obat ini." gumamnya saat terasa semakin tidak nyaman dan panas yang semakin melanda tubuhnya.Revan menatap dingin wanita bertubuh padat dan molek yang memakai pakaian ketat didepannya."Ada apa denganmu Erika, kenapa wajahmu merah begitu?" Revan bertanya dengan nada datar dan melakukan akting berpura-pura tak t

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   31

    Revan berdiri duluan dan berjalan meninggalkan meja makan tapi sebelumnya dia melirik dengan ujung mata untuk mengetahui respon Erika atas ucapannya tadi."Hmm.. lihat saja kamu rubah licik, aku akan meladeni usaha kotormu untuk mendekatiku." Revan bicara di hatinya sambil berjalan menuju taman.Sementara itu Liana dan Andhini memutuskan untuk beristirahat di kamar.Erika lantas menuju dapur dan menghampiri pelayan yang sedang menyiapkan camilan serta minuman hangat untuk Revan."Apakah semua yang ada di nampan ini akan diberikan pada tuan Revan?" Erika mengamati cangkir berisi air minum dan makanan kecil dalam wadah."Iya betul nona, saya sedang menyiapkan satu jenis buah potong untuk ditambahkan sebagai pelengkap." Ujar sang pelayan sembari memberi anggukan kecil."Tunggu sebentar ya, jangan dulu kau berikan padanya, biar aku saja yang membawakan nampan ini untuknya.""Baik nona Erika."Erika mewanti-wanti pelayan wanita muda itu agar menuruti ucapannya lalu perempuan itu melangkah

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   30

    Dengan penuh rasa malas akhirnya Revan berkendara kembali ke kediamannya dan saat memasuki rumah terlihat sang bunda sedang asyik berbincang dengan Erika di ruang tengah sambil menonton televisi."Nah itu Revan datang."Liana menyunggingkan senyum lebar saat melihat putranya sudah ada dirumah."Katanya ibu tadi pusing, sakit kepala lalu kenapa waktu ada Bella nggak bilang, kan Bella itu dokter jadi bisa diperiksa sama dia?"Revan mengajukan pertanyaan yang membuat Liana kesal."Aduh kamu ini Revan, mendingan sekarang kamu duduk disini dulu ajak ngobrol Erika terus selanjutnya kalian pergi berdua berkeliling, kasihan Erika masa iya dari tadi diam aja dirumah.""Sana pergi cepetan, ibu udah janji sama ayahnya Erika akan mengurus anaknya dengan baik selama ada disini.""Ibu sekarang ke kamar untuk beristirahat tapi sebelum itu, mau lihat dulu Andhini di kamarnya."Liana yang tetap ngotot ingin menjodohkan Revan dengan gadis cantik itu berkata tegas pada anaknya dan seakan tak ingin diban

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status