LOGIN
Dalam sebuah kamar hotel yang bersuhu ruangan cukup sejuk bahkan nyaris dingin sebenarnya cukup membuat badan menggigil tetapi mungkin bagi kedua insan pria dan wanita yang sedang berbaring di ranjang, berbagi peluh dan saling mengerang itu, hawa di kamar terasa panas.
Namun, lebih tepatnya sang pria yang mendominasi permainan cinta, sedang si wanita hanya lebih banyak diam terbaring pasrah. Kegiatan panas itu berlangsung sepanjang malam, membuat sang wanita tertidur kelelahan. Pagi datang dan sinar mentari menyusup masuk lewat celah-celah jendela, Bella membuka matanya perlahan. Wanita itu melirik ke sisi ranjang yang kosong dan dingin. pria yang telah tidur dengannya semalam tak ada lagi disitu. Bella berusaha bangun dan mengernyit sembari menggigit bibir bawahnya, sulit rasanya untuk berjalan, sejenak dia menghentikan langkahnya dan menatap nanar ke sekeliling kamar lantas Bella terhenyak mendapati bercak merah di seprai putih yang terlihat begitu kontras. Perempuan cantik yang memiliki rambut panjang hitam sebahu dengan tampilan yang tak karuan itu bernama Arrabella Indriani berusia 19 tahun. "Sialan lelaki itu, akkh..kalau bukan karena harus membayar biaya rumah sakit yang begitu tinggi untuk pengobatan ayah, takkan kuambil jalan seperti ini, menjual keperawanan ku pada pria asing," tutur Arabella pilu. Setetes air mata jatuh di pelupuk netra yang tampak lelah. Dengan langkah terseok menahan sakit dia melangkah menuju kamar mandi, ingin segera mengguyur seluruh tubuh yang terasa "Maafkan aku ayah, ini semua kulakukan karena ingin ayah sehat kembali." Arrabella sudah hampir satu jam lamanya membasuh diri, mengguyur sekujur tubuh dengan shower, berendam air, berulang kali menuangkan sabun pada raga sintalnya yang dipenuhi jejak kepemilikan. Warna merah bekas tanda pria itu di sekujur tubuhnya tampak nyata,. Akhirnya Arabella memutuskan keluar dari kamar mandi dan menyudahi mandinya. "Setelah mandi sekarang rasanya tubuhku sudah jauh lebih segar," gumamnya, lantas Bella duduk di tepian ranjang tempat semalam dia dan pria one night stand nya berhubungan intim. Dia mengamati sehelai kertas diatas kasur. Jemari lentik Arabella agak gemetar saat memegangi cek yang tergeletak di kasur. "Sepuluh milyar, kenapa dia membayar sebanyak ini dari syarat yang ku minta tadinya adalah lima milyar," desisnya dengan bibir bergetar. Kemudian Bella melihat ada kertas yang berisi tulisan tangan didekat cek tadi tersimpan, sembari mengernyit heran diraihnya kertas itu lalu dibacanya. "Aku memberi tambahan uang untukmu, ternyata kamu memang perawan." Tulisan di kertas membuat hati Bella hancur dan seiring harga dirinya yang runtuh. Jemari Bella meremas kuat kertas itu dan melemparnya ke lantai. "Ini semua sudah menjadi keputusanku," ucap Arrabella terisak pilu, walaupun berusaha tegar tapi tak urung akhirnya gadis cantik itu menangis juga. "Setelah sejauh ini aku tak bisa mundur lagi, sekarang lebih baik cepat kerumah sakit untuk membayar biaya operasi ayah." "Selain biaya operasi yang begitu tinggi masih ada juga sisa cicilan hutang yang harus dibayar, biaya harian perawatan ayah sudah mahal apalagi ditambah dengan biaya operasi nya nanti," bisik Bella pelan, lalu dia lekas berganti baju. *** Arrabella membawa langkah kakinya ke lorong rumah sakit yang cukup ramai dan terus berjalan ke ruangan rawat khusus ICU tempat ayahnya tergolek lemah serta sekujur tubuh yang tua itu dipasangi berbagai peralatan medis penunjang hidup. "Ayah, ini Bella datang untuk segera membayar uang operasi pencangkokan jantung," ucapnya sendu. Bella tahu bahwa pria itu tak bisa mendengar apa yang diucapkan olehnya apalagi menjawabnya. Setelah merasa cukup melihat kondisi sang ayah, lantas Bella berjalan menuju ruangan administrasi. "Selamat siang Bu, saya anaknya Pak Arya Atmajaya mau membayar biaya operasi ayah saya, jadi berapa total semuanya?"tanya Bella datar. "Iya, sebentar bu, saya proses dulu ya," timpal petugas rumah sakit dan tak lama kemudian transaksi pembayaran pun selesai. Setelah dipastikan semuanya selesai lalu Arrabella hanya tinggal menunggu proses jadwal operasi transplantasi jantung yang akan dilakukan beberapa hari kemudian dengan hati cemas. "Lebih baik aku keluar dulu sebentar untuk mencari makan siang dan terus pergi ke kampus." "Uang yang kudapat bisa untuk membayar kuliahku yang sempat terhenti karena ayah sudah tak mampu lagi membiayai," gumamnya lirih Arrabella gadis cantik memiliki tubuh tinggi semampai, kulit putih halus serta rambut hitam panjang berkilau agak bergelombang, dan baru saja memulai kuliahnya di fakultas kedokteran. Gadis cantik itu berjalan dengan wajah tertunduk dan langkah yang pelan menyusuri koridor rumah sakit, mendadak langkahnya terhenti karena melihat sosok pemuda bertubuh tegap yang sedang berjalan didepannya. "Well, siapakah disini, ternyata adikku yang cantik, see darling kita bertemu lagi," tutur Ares yang ternyata adalah kakak tirinya. "Ka-kau Ares, beraninya kau muncul di sini setelah apa yang kamu dan ibumu lakukan pada kami!" tutur Arrabella geram. "Hei calm down baby, tenang saja Bella, aku hanya ingin menjenguk ayahmu, bagaimana keadaannya sekarang?" Ares menjawab sembari tersenyum miring dan hendak menyentuh bahu adik tirinya dengan cara tak sopan. "Jangan sentuh aku, kalian sudah menipu kami selama ini, akibat ulah kalian kondisi ayah menjadi drop hingga akhirnya sakit jantung karena kelakuan ibumu yang telah merebut perusahaan ayah serta meninggalkan hutang yang begitu banyak." Arrabela berteriak lantang sembari melangkah mundur. Netra Ares berkilat tajam saat menerima penolakan dari gadis itu kedua lengannya terkepal erat. "Lihat saja nanti Bella, aku pasti akan bisa mendapatkanmu, my little girl" tandas Ares sembari mengirimkan ciuman jauh dengan jarinya, lantas pemuda itu membalikkan badannya dan bergegas pergi dari situ. Arrabela terdiam dan terpaku ditempatnya, nafasnya terasa sesak, pandangannya sejenak menerawang jauh, gadis elok itu lantas menarik dan menghembus nafas panjang teringat kisah hidupnya yang begitu tragis. Dilahirkan sebagai putri dari seorang yang pengusaha sukses, kemudian saat gadis cantik itu menginjak usia 17 tahun, ibunya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita cantik bernama Selina yang yang tak lain adalah ibunya Ares. Suatu hari perusahaan ayahnya bangkrut karena ditipu oleh ibu tirinya beserta dengan Ares juga hingga semua hartanya ludes,rumah peninggalan pun disita karena tak bisa membayar hutang. Begitulah kisah kenapa Arrabella terdampar di sebuah kamar bersama seorang pria yang membeli keperawanannya. Sementara di sisi lain dalam suatu ruangan kerja tampak berdiri sosok pria bertubuh tinggi dan tampan sedang menyibak rambutnya pelan, pria itu sedang termenung didepan jendela yang menghadap pada pemandangan jendela dari atas ketinggian gedung. "Kenapa aku masih memikirkan gadis tadi malam, memang nya apa yang berbeda darinya?" Arvel membatin. Pria ini adalah Arvel Hartanto, CEO perusahaan Hartanto grup yang sukses. Arvel melayangkan pandangan, menerawang sesaat lalu tiba-tiba dia memijit pelipisnya. "Sial, semalam waktu melakukannya dengan wanita itu, aku lupa memakai pengalaman, wanita itu sungguh membuatku lupa diri, aku tak dapat berhenti untuk menyentuhnya." "Bagaimana kalau dia sampai hamil," gumam Arvel dengan sedikit rasa khawatir. Kemudian Arvel mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Reno, coba kau selidiki gadis yang semalam bersama denganku." Arvel menutup panggilan lantas menghela panjang. "Wanita itu, sungguh berbeda, kenapa aku terus mengingatnya."Bella membiarkan Revan dan Arya mengobrol, sementara dia menyiapkan minum dan menghangatkan masakan yaitu beef steak dan sop, serta makanan lainnya untuk makan malam mereka, wanita itu berencana untuk mengajak kekasihnya makan malam bersama.Dan sekarang di meja makan telah berkumpul Bella dan Kenzo duduk berdekatan, lantas di depannya ada Arya dan Revan duduk berdampingan." Jadi bagaimana bisa secepat itu nak Revan menemukan Kenzo?"Arya membuka percakapan saat mereka tengah bersantap hidangan yang dimasak oleh Bella."Hmm...ah itu hanya tinggal mencari informasi tentang Arvel ke seluruh jaringan koneksi yang saya miliki, karena dugaan terkuat Bella bahwa yang menjemput Ken di sekolah adalah Arvel, dan ternyata itu memang benar," jawab Revan sembari menatap mesra Bella.Lantas Revan mulai menceritakan semua perihal yang dialami nya siang tadi, dan menutup pembicaraannya dengan niat serius nya yang ingin menikahi Bella."Aku sangat bersyukur dengan niat baik dari kamu, tentu aku meny
Revan yang sudah tidak sabar ingin segera membawa kembali Kenzo ke pelukan Bella, akhirnya sudah sampai di area wilayah villa Arvel. Revan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga, dia memerlukan waktu singkat untuk dapat menemukan tempat yang ditunjukkan oleh Aldo.Revan cukup pintar untuk tidak langsung menerobos masuk ke pintu utama melainkan melakukan pengintaian dulu dan akhirnya dia bisa menemukan lokasi yang dikiranya adalah tempat untuk bersembunyi bagi Arvel.Dan benar saja saat Revan sampai di lokasi, itu bertepatan dengan keluarnya Arvel sambil menggendong Kenzo."Wah rupanya ada yang berani menyentuh anakku,"ujar Revan dengan kilatan cahaya tajam dari netranya.Arvel masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sosok Revan sedang menyeringai dingin, matanya menatap tajam dan kedua tangannya yang terkepal erat menahan emosi."Kamu siapa berani datang ke sini!""Om Revann..!"Kenzo yang melihat kedatangan Revan langsung berusaha meronta dari rangkulan Arvel dan i
Bella sesudah dari sekolah Kenzo, dia langsung pulang ke rumahnya dan mengemudi seorang diri sembari dalam perjalanan hatinya risau tak karuan."Kenzo Di manakah kamu nak apa kamu baik-baik saja itu takut terjadi sesuatu padamu."Suara Bella serak, disertai isak tangis keluar begitu saja dari bibir Bella."Kenzo, bagaimana kalau sampai terjadi hal yang buruk menimpa dirimu Ibu tak bisa memaafkan dirimu sendiri, ya Tuhan tolonglah jaga anakku jangan sampai dia celaka.""Siapakah yang sudah membawamu pergi dari sekolahan tadi, apakah ia Arvel ..? ""Atau ada orang jahat lainnya yang ingin memanfaatkan kesempatan atau siapa arrrgh.. aku benar-benar bingung."Bella memukul pelan kemudi setir sambil terus bicara sendiri dengan wajah panik dan cemas, sepanjang perjalanan sampai dia tiba di halaman rumahnya.Wanita cantik itu langsung turun dari dalam mobil dan nyaris melompat saking gugupnya dia cepat membawa kakinya berjalan ke dalam rumah.Setiba di halaman rumah, ponselnya berdering Bell
Di sebuah kamar tidur yang luas dan megah tetapi di sekelilingnya telah didesain sedemikian rupa dengan interior untuk anak kecil. Kamar itu dipenuhi oleh mainan dari mulai robot dan mobil hingga segala macam lainnya, belum lagi dinding yang terdapat beberapa stiker tempelan karakter tokoh kartun yang ada di film anak-anak.Lalu di ranjang yang besar ditengah kamar terlihat sedang terbaring seorang bocah lelaki yang masih tertidur pulas dia tak lain adalah Kenzo.Rupanya Arvel telah membawa putra kecilnya ke suatu tempat yaitu villa mewah yang ada di pinggiran kota yang bernuansa alam dan udara yang terasa sejuk.Pintu kamar yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi itu kemudian terbuka dan masuklah Arvel yang ingin melihat kondisi Kenzo."Hmm.. rupanya anakku belum bangun."Arvel mengamati Kenzo sesaat sambil berdiri di tepian kasur."Mungkin sebentar lagi juga dia akan membuka matanya."Lalu Arvel ikut membaringkan tubuhnya di sebelah sang bocah dan membelai rambut halus Kenzo, usa
Bella yang kelelahan, duduk di atas kursi yang berada di ruangan kerja pribadinya pada saat ini. Operasi yang dia lakukan telah selesai sekitar beberapa jam yang lalu. Dan setelahnya dia hanya cukup melakukan beberapa kunjungan terhadap pasien yang sudah dinyatakan pulih dan akan segera pulang dari rumah sakit.Karena Bella melakukan operasi pada dini hari maka jadwalnya siang ini telah selesai, lalu dia akan segera pulang ke rumah setelah sebelumnya akan menjemput Kenzo dulu di sekolah.Saat tengah merasakan penatnya tubuh, ponsel Bella berdering dan tertera nama Revan di layar."Hallo ..""Hallo sayang, kok suara kamu terdengar lesu begitu?"Kening Revan mengernyit mendengar nada suara sang kekasih yang seolah tak bersemangat."Sebenarnya aku ada jadwal tadi pagi jam 04.00 untuk operasi pasien, mungkin saatnya aku sedang lelah dan mengantuk.""Apa kamu akan pulang sekarang?""Iya tapi aku sekalian akan jemput Kenzo di sekolah?"jawab Bella."Oke kalau gitu hati-hati di jalan ya, dan
Revan memijit kedua pelipisnya dengan kedua jari seraya menghela nafas panjang, terkadang menghadapi sifat ibunya memang butuh kesabaran extra."Bu, untuk diketahui saat Andhini berada dalam kondisi kritis dan koma di rumah sakit, justru Bella yang telah mengembalikan kesadaran nya, dengan caranya yang profesional, Bella juga yang mengembalikan semangat hidup Andhini, saat semangat hidup adikku itu mulai redup.""Percayalah dia adalah wanita yang baik untukku, dan tolong singkirkan pikiran buruk ibu tentang Bella, apa yang terjadi di masa lalunya hanyalah karena suatu keterpaksaan semata." Revan berkata sembari mengangkat bahu, seakan memberi tanda ingin segera menyudahi pembicaraan yang membosankan ini.Tapi kemudian dia teringat sesuatu mengenai Andhini."Lebih baik ibu lebih memperhatikan kondisi Andhini, dibanding dengan sering berkumpul bersama teman-teman ibu kerjaannya cuma bergosip itu.""Andhini sekarang sedang terpuruk karena ditinggal kekasihnya yang brengsek itu , jangan s
Bella yang terhanyut suasana seakan tidak menyadari kalau jemarinya sedang digenggam bahkan dikecup mesra oleh sang CEO kaya, tapi kemudian perempuan cantik itu tersentak dan mengernyit."Tolong lepaskan tanganku.""Kenapa?""Kamu nggak bilang ijin dulu buat nyentuh aku." Bella mencibir kesal karen
Bella merasa tubuhnya membeku dan udara terasa sangat tipis disekitarnya, bagaimana tidak didepan sana tak jauh dari tempatnya berdiri, dia sedang melihat sosok pria one night standnya. Pria itu pernah menghabiskan malam panas bersama di kamar hotel.Arvel sedang bicara dengan Kenzo yang merupakan
Tanpa disadari oleh Bella ataupun Revan, sosok pria berparas tampan dengan netra yang tajam dan manik hitam legam mengawasi mereka masuk ke dalam toko. Lelaki itu tak lain adalah Arvel.Netra Arvel tampak tak berkedip memandang Bella dan Kenzo, hingga hilang dari pandangannya."Bocah lelaki kecil i
Revan tersenyum lebar mendengar jawaban Bella."Aku senang sekali mendengarnya, kalau begitu boleh aku meminta nomor ponselmu, karena nanti aku akan jemput kamu."Namun, Bella cepat menggelengkan kepala pertanda menolak."Aku bisa datang sendiri ke tempat yang akan kau pilih nanti, tidak perlu repo







