INICIAR SESIÓNSeminggu kemudian setelah operasi ayahnya berjalan lancar dan tak ada rintangan apapun Arrabela bisa bernafas lega karena usahanya yang berusaha keras menyelamatkan nyawa sang ayah tak sia-sia, walaupun ditempuh dengan cara yang salah karena telah menjual harga dirinya.
"Ayah, makanlah lagi, ini masih banyak makanannya," tutur Bella sembari menyodorkan sendok berisi nasi serta lauk pauk didalamnya. "Tapi ayah sudah kenyang Bella," jawab pria paruh baya itu tersenyum lembut. "Iya sudah kalau gitu ini minum dulu obatnya." Arrabella menyimpan piring lantas mengambil gelas berisi air minum serta obat yang harus dikonsumsi ayahnya pasca operasi. "Bagaimana sekarang perasaan ayah apa sudah terasa membaik?" "Iya sayang walaupun kadang masih terasa sesak, tapi ini sudah jauh membaik," tanggap Arya lemah. "Bella, darimana kamu bisa mendapatkan uang untuk operasi ayah nak?" Arrabela sontak terkesiap mendengar pertanyaan ayahnya, tidak siap menjawab dan belum ingin menjelaskan apa yang sebenarnya, maka memilih berbohong sebagai jalan terbaik. "I-itu, ada teman Bella yang bersedia meminjamkan nya dan nanti Bella akan bekerja di restoran miliknya untuk dapat mencicil pembayarannya." Arrabella sedikit terbata saat menjawab dikarenakan gugup, dia tidak mau ayahnya tambah cemas dan kembali jatuh sakit. Arya mengernyit heran, "Temanmu itu baik sekali Bella, bukankah biaya operasinya sangat mahal?" "Iya betul kok, Ayah sudahlah jangan banyak berpikir dulu, lebih baik ayah sekarang beristirahat saja dulu." Arya sebenarnya ada rasa tak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya, tapi karena kondisi badannya yang letih serta lemah pria itu lebih baik diam saja. Setelah ayahnya tidur, Bella keluar dari ruangan kamar rawat lantas berjalan menuju balkon dan menyandarkan tubuh lelahnya di pilar dinding yang kokoh. "Aku akan mencari rumah kontrakan dulu untuk saat ini karena satu minggu lagi ayah boleh pulang,"gumamnya sembari merenung. Lantas dia membuka ponsel dan mencari rumah sewaan di suatu aplikasi khusus properti. Menjelang sore hari kemudian Bella sedang berada di sebuah rumah yang dianggapnya cocok untuk tempat tinggal dia dan ayahnya nanti. "Apa harganya tidak bisa dikurangi lagi , rasanya masih terlalu mahal?" Bella menoleh pada sang pemilik rumah mencoba berusaha bernegosiasi. "Wah, 20 juta segitu udah cukup murah kok Non," jawab wanita pemilik rumah kontrakan. "Hmm..ya sudah kalau ngga bisa ditawar," raut wajah Bella agak kecewa karena memikirkan masih banyak yang harus dibeli olehnya selain hanya menyewa rumah. Setelah sekian hari berlalu serta kondisi kesehatan ayahnya yang semakin membaik maka hal itu membuat Bella senang, kali ini ayahnya Bella sudah bisa turun dari tempat tidur dan berjalan disekitar kamar walaupun masih dengan tubuh lemah. "Yah, nanti setelah keluar dari rumah sakit Bella sudah siapkan rumah untuk kita, karena mansion lama yang pernah ditempati dulu sudah tak mungkin diisi lagi oleh kita berdua," tukas Arrabella dengan wajah suram, hatinya sangat sedih. Arya menarik nafas panjang dan menatap lekat sang putri tercinta. "Ayah malah jadi menyusahkan mu saja, semuanya sudah tak ada yang tersisa, wanita ular itu, Selina, ayah sama sekali tak menyangka dia sangat licik, Ayah benar-benar tertipu olehnya." "Bella kamu mau memaafkan ayah? Sekarang ini ayah tak tahu harus berbuat apalagi, diberi kesempatan untuk sembuh lagi dari sakit kritis yang ayah alami ini saja sudah merupakan suatu keajaiban besar dari Tuhan," tutur Arya dengan suara parau menahan perih di dada, mengingat peristiwa yang dialaminya, dia telah kehilangan segalanya termasuk rumah, perusahaan dan sisa aset kekayaan lainnya. Hidupnya telah berubah drastis dari yang selalu memiliki segalanya sampai pada akhirnya habis tak bersisa. *** Di sebuah kediaman rumah mewah nan megah yang dulunya milik Arya Atmajaya yaitu ayah kandung Arrabela kini telah berpindah tangan menjadi kepunyaan Selina serta Ares. "Akhirnya semua milikmu dapat aku kuasai Arya, dasar kamu bodoh sekali..haha," tukas Selina sambil tersenyum miring wanita yang berdandan glamor itu duduk di sofa besar sembari menyilangkan satu kakinya. Tak berapa lama kemudian Selina menolehkan pandangannya pada pemuda yang baru saja masuk rumah ternyata itu adalah putranya. "Darimana kamu Ares, jangan keluyuran saja, lebih baik kamu mulai belajar mengelola perusahaan dan bantuin Mama," gerutu Selina saat menatap pemuda itu terduduk di sofa dengan raut wajah jengkel. "Itu lho mah, aku tadi ke rumah sakit, tahu nggak ternyata om Arya sudah berhasil operasi cangkok jantung dan sekarang kondisinya mulai membaik," tutur Ares. Sebenarnya Ares ke rumah sakit karena ingin melihat sang adik tirinya yang cantik jelita, sudah lama dirinya memendam rasa pada Arrabella. "Hah apa, kok bisa, bukannya dia sudah ngga punya uang sama sekali, aku yang sudah mengurasnya habis," ketus Selina sembari mengernyit heran. "Mana aku tahu, jangan-jangan si Arrabela yang sok kecantikan itu jual diri atau menjadi simpanan pria tua kaya..cih." Ares mendengus kesal, menutupi perasaan hatinya pada gadis itu. Selina menyipitkan matanya merasa penasaran kenapa anaknya bisa berpikir sejauh itu. "Apa iya begitu, Res?" "Ngga tahu juga Mah, itu kan cuman dugaanku saja," balas Ares seraya mengendikkan bahunya. "Sudahlah kita pikirkan itu nanti saja yang penting sekarang kita sudah berhasil menguasai harta kekayaan Arya Atmajaya," ucap Selina menyeringai licik. *** Satu bulan berlalu sejak saat ini Arrabela dan ayahnya telah berusaha untuk nyaman tinggal di rumah kontrakan kecil dengan kehidupan yang cukup sederhana pula. Jumlah uang yang sudah diterima Arrabella dari cek yang diberikan Arvel memang masih ada sisa yang cukup untuk menjalani hidup, setelah dikurangi pembayaran biaya pelunasan pengobatan ayahnya. Tetapi Arrabela tetap ingin melanjutkan kuliahnya di fakultas kedokteran yang telah mulai dia tekuni semenjak lulus sekolah menengah. Pagi ini Arrabela tengah mempersiapkan menu makan pagi sederhana yaitu nasi goreng untuk ayah dan dirinya karena sebentar lagi dia akan berangkat kuliah menggunakan motor yang dibelinya dalam kondisi bekas tapi masih tetap bagus. "Ayah, ayo kita sarapan dulu, Bella sudah siapin semuanya" Sambil menunggu ayahnya keluar dari kamar, perempuan cantik itu menyisir rambutnya yang hitam legam serta agak ikal, aura kecantikannya sangat bersinar. Mendadak Bella merasa ada dorongan dari dalam perutnya yang mendesak segera ingin dikeluarkan. Iya wanita itu mengalami mual hebat, oleh karenanya dia segera berlari ke kamar mandi. Tanpa bisa ditahan lagi Bella segera memuntahkan isi perutnya yang belum diisi apapun sejak bangun tidur. "Hoekk..hoekk." "Akkhh... rasanya perutku melilit dan kepalaku pening," keluh Bella menyeka keringat dingin di dahinya. Tak berhenti sampai disitu sedetik kemudian perutnya kembali mual. "Hoekk.." Setelah kedua kalinya muntah, lalu dengan langkah gontai Arabella keluar dari kamar mandi dan menuju ruang tengah dimana dia akan sarapan bersama ayahnya. Tiba di meja makan perempuan itu mendapati sang Ayah sedang menatapnya lekat. "Arrabella ada apa denganmu, kenapa kamu tiba-tiba muntah di pagi hari begini!?" "A-aku..hanya merasa mual nggak nyaman sekali perutnya," jawab Bella Arya merasa perasaannya jadi tidak enak saat mendengar anak gadisnya muntah disertai mual, apalagi raut wajahnya yang pucat pasi. "Aku mau buat teh hangat dulu, ayah sarapan duluan saja," tutur Bella lantas dia mengambil cangkir dari lemari serta teh yang ada di meja dekat situ. Arya menarik nafas lalu menghembusnya pelan, pria paruh baya itu menarik kursi lantas duduk, sebelum mengisi piring dengan nasi, dia minum teh hangat dulu. Tak lama kemudian Bella kembali memegangi perutnya yang terasa tak nyaman, kemudian berlari kekamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya lagi. "Hoekkk.." "Aduhh.. kenapa aku ini, apakah ada salah makan?" Arya yang merasa khawatir pada putrinya mengikuti ke kamar mandi. "Bella, gejala seperti ini adalah tanda orang hamil, apakah kamu juga hamil!?" ***Sheryl sedang di ruangan kerja ayahnya, gadis itu duduk santai sambil menunggu sang ayah selesai bertelepon."Yah, aku ada permintaan," tukas Sherly manja."Apa yang diinginkan putri ayah ini sekarang hmm..?" Bram menyorot lembut pada anak gadisnya."Aku ingin ayah mampu mengeluarkan seorang mahasiswi fakultas kedokteran dari kampus," ungkap Sherly datar.Bram mengerutkan keningnya, "Siapa nama gadis itu?""Namanya Arrabella, tapi yang benar saja, dia udah bukan gadis lagi, wanita sialan perebut kekasihku itu sudah hamil duluan di luar nikah, pokoknya ayah harus mengusirnya dari kampus kita!" tandas Sherly.Bram menghela panjang lantas memutar otaknya."Ayah harus berunding dulu dengan anggota dewan yang lainnya, tunggu saja ya," tanggap Bram tenang.Dua hari kemudian, Arrabella sedang berada di ruangan tertutup. Gadis cantik yang memiliki rambut bergelombang itu duduk dengan raut wajah tegang sembari berhadapan dengan dua orang, satu orang adalah dosen utama sedangkan pria paruh ba
Arrabella terperangah, dia tak menduga sama sekali akan kedatangan sang supervisor yang terkenal galak itu."Eh, Bu Sonya, a-aku tidak hamil ibu mungkin salah duga," Bella dengan gugup menjawab sembari merapatkan jaket untuk menutupi perutnya.Sonya cepat berjalan menghampiri Bella sembari menyeringai licik.SRETT..Sonya membuka paksa jaket yang menutupi badan atas Bella."Hah lihat ini, perutmu sudah buncit seperti ini kau bilang tidak hamil Bella," sentak Sonya sambil sedikit menekan perut Bella."Aduhh..hentikan itu, kau akan menyakiti bayiku!" Arrabella berseru menahan kesal.Sonya yang mendengar ucapan Bella menyunggingkan senyum dingin dan tatap merendahkan."Hmm..akhirnya kau mengakui juga kalau sedang hamil, dasar sok centil!""Aku akan mengadukanmu pada pimpinan pemilik restoran supaya dia menendangi keluar dari sini," tandas Sonya yang pada dasarnya memang tak menyukai Bella.Lelaki yang Sonya sukai yaitu Erdy sesama pengawas restoran seringkali memberikan perhatian berlebi
Arrabella sudah sampai kembali dirumah kontrakan dengan menggunakan sepeda motornya sendiri."Bella, kamu baik-baik saja nak?" tanya Arya sewaktu melihat putri tercintanya masuk ke dalam rumah dan Bella menampakkan wajah lelahnya.Bella menampilkan senyuman tipis sembari menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi sofa sederhana yang sudah lapuk dan usang."Ayah jangan khawatir, Bella ngga apa-apa kok, cuma hari ini ijin tidak masuk kerja, karena ingin istirahat dulu," jawab Bella seraya duduk di kursi disamping sang ayah tercinta."Ayah senang kamu bisa selamat dari gangguan para preman itu, pria yang telah menolongmu begitu baik, apa kamu tidak bertemu dengannya?" Arya mengusap rambut halus anaknya.Arrabela hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, katanya lelaki itu sulit ditemui," jawab Bella singkat sembari menghela nafas panjang."Ya sudah, sana kamu membersihkan diri lalu istirahat saja, kamu kan sedang hamil," ucap Arya memandangi putrinya dengan penuh kekhawatiran."Iya
Arrabella mengernyit sambil bersandar pada tembok didekatnya, rasa pening di kepalanya kembali mendera. Perempuan itu memijit pelipisnya sembari memejamkan mata."Duduk dulu di sofa, Non."Bu Sumi yang melihat Bella segera menghampiri sembari membantunya berjalan."Non, sebaiknya makan dulu, sebab dari sejak semalam dibawa kemari anda belum makan sama sekali," bujuk Bu Sumi merasa khawatir melihat wajah Bella yang tampak pucat."Aku akan bawakan makanannya kesini saja ya," tukas Sumi lantas bergegas ke meja makan.Sementara Bella menyandarkan punggung lemahnya kebelakang sofa, dia masih tak mengetahui siapa yang telah menolongnya, tapi dalam hatinya dia sangat bersyukur bisa selamat dari gangguan para lelaki berengsek."Non, ini dimakan dulu selagi sup nya masih panas."Sumi meletakkan mangkuk berisi sup ayam, hasil masakannya sendiri."Nama saya Bella, panggil saja aku Bella tidak perlu pake Non," sahutnya lirih sembari mengambil mangkuk sop ayam panas yang tampak menggugah selera it
Beberapa saat sebelumnya Revan yang sudah selesai berbincang ringan dengan Ares segera keluar dari restoran, hatinya masih merasa agak jengkel teringat dengan insiden kecil tadi, sewaktu celananya terkena tumpahan minuman, ulah keteledoran Bella.Revan adalah keturunan keluarga Sasmita yang cukup terpandang di negaranya karena memiliki beberapa perusahaan serta bisnis yang sukses, selama beberapa tahun terakhir dia berada di luar negeri mengurus bisnisnya sendiri serta tidak tergantung pada orangtuanya dan baru dua minggu ini pemuda tampan itu pulang kembali ke negaranya.Revan yang tadinya akan segera masuk kedalam mobil dan ingin cepat pulang saja tetapi terhenti karena da ingin menghirup udara malam sejenak sekalian melepas penat, pemuda itu membawa langkah kakinya yang lebar serta dengan tubuhnya yang tinggi, dia berkeliling disekitar area restoran.Tempat makan itu terletak di daerah yang memiliki nuansa alam dan udaranya terasa bersih serta sejuk secara bersamaan.Karena meras
Arya membelalakkan kedua bola matanya, tubuhnya terasa membeku mendengar penjelasan anak perempuan yang sangat disayanginya. "Apa katamu tadi Bella, serius kamu hamil?!" Arya memegangi dadanya yang terasa sakit. "Aakkh.." "Ayah ..!" Bella lekas menghambur menghampiri sang ayah dan memeluknya karena pria paruh baya itu tampak lemah dan wajahnya pucat . "Ayah, maafkan Bella," isak tangis terus meluncur dari bibir Bella. Bella menggunakan kedua lengannya untuk menyangga bahu sang ayah. "Ayo kita ke kamar dan ayah bisa merebahkan diri di kasur," ucap Bella lantas membantu ayahnya berjalan pelan. "Minumlah dulu air putih hangat ini, serta obat dari dokter yang harus rutin dikonsumsi," tutur Bella. Bella hanya bisa melihat ayahnya duduk bersandar pada kepala ranjang dan diam saja tak bicara sepatah katapun. Tak selang berapa lama kemudian Bella masih betah duduk disamping kasur menunggui ayahnya. "Bella, siapa yang telah menghamilimu.. katakan pada ayah, pria br*ngs*k itu harus b







