Share

Apa kamu hamil?

Penulis: deasy_zen
last update Tanggal publikasi: 2025-12-27 16:45:38

Seminggu kemudian setelah operasi ayahnya berjalan lancar dan tak ada rintangan apapun Arrabela bisa bernafas lega karena usahanya yang berusaha keras menyelamatkan nyawa sang ayah tak sia-sia, walaupun ditempuh dengan cara yang salah karena telah menjual harga dirinya.

"Ayah, makanlah lagi, ini masih banyak makanannya," tutur Bella sembari menyodorkan sendok berisi nasi serta lauk pauk didalamnya.

"Tapi ayah sudah kenyang Bella," jawab pria paruh baya itu tersenyum lembut.

"Iya sudah kalau gitu ini minum dulu obatnya."

Arrabella menyimpan piring lantas mengambil gelas berisi air minum serta obat yang harus dikonsumsi ayahnya pasca operasi.

"Bagaimana sekarang perasaan ayah apa sudah terasa membaik?"

"Iya sayang walaupun kadang masih terasa sesak, tapi ini sudah jauh membaik," tanggap Arya lemah.

"Bella, darimana kamu bisa mendapatkan uang untuk operasi ayah nak?"

Arrabela sontak terkesiap mendengar pertanyaan ayahnya, tidak siap menjawab dan belum ingin menjelaskan apa yang sebenarnya, maka memilih berbohong sebagai jalan terbaik.

"I-itu, ada teman Bella yang bersedia meminjamkan nya dan nanti Bella akan bekerja di restoran miliknya untuk dapat mencicil pembayarannya."

Arrabella sedikit terbata saat menjawab dikarenakan gugup, dia tidak mau ayahnya tambah cemas dan kembali jatuh sakit.

Arya mengernyit heran, "Temanmu itu baik sekali Bella, bukankah biaya operasinya sangat mahal?"

"Iya betul kok, Ayah sudahlah jangan banyak berpikir dulu, lebih baik ayah sekarang beristirahat saja dulu."

Arya sebenarnya ada rasa tak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya, tapi karena kondisi badannya yang letih serta lemah pria itu lebih baik diam saja.

Setelah ayahnya tidur, Bella keluar dari ruangan kamar rawat lantas berjalan menuju balkon dan menyandarkan tubuh lelahnya di pilar dinding yang kokoh.

"Aku akan mencari rumah kontrakan dulu untuk saat ini karena satu minggu lagi ayah boleh pulang,"gumamnya sembari merenung. Lantas dia membuka ponsel dan mencari rumah sewaan di suatu aplikasi khusus properti.

Menjelang sore hari kemudian Bella sedang berada di sebuah rumah yang dianggapnya cocok untuk tempat tinggal dia dan ayahnya nanti.

"Apa harganya tidak bisa dikurangi lagi , rasanya masih terlalu mahal?" Bella menoleh pada sang pemilik rumah mencoba berusaha bernegosiasi.

"Wah, 20 juta segitu udah cukup murah kok Non," jawab wanita pemilik rumah kontrakan.

"Hmm..ya sudah kalau ngga bisa ditawar," raut wajah Bella agak kecewa karena memikirkan masih banyak yang harus dibeli olehnya selain hanya menyewa rumah.

Setelah sekian hari berlalu serta kondisi kesehatan ayahnya yang semakin membaik maka hal itu membuat Bella senang, kali ini ayahnya Bella sudah bisa turun dari tempat tidur dan berjalan disekitar kamar walaupun masih dengan tubuh lemah.

"Yah, nanti setelah keluar dari rumah sakit Bella sudah siapkan rumah untuk kita, karena mansion lama yang pernah ditempati dulu sudah tak mungkin diisi lagi oleh kita berdua," tukas Arrabella dengan wajah suram, hatinya sangat sedih.

Arya menarik nafas panjang dan menatap lekat sang putri tercinta.

"Ayah malah jadi menyusahkan mu saja, semuanya sudah tak ada yang tersisa, wanita ular itu, Selina, ayah sama sekali tak menyangka dia sangat licik, Ayah benar-benar tertipu olehnya."

"Bella kamu mau memaafkan ayah? Sekarang ini ayah tak tahu harus berbuat apalagi, diberi kesempatan untuk sembuh lagi dari sakit kritis yang ayah alami ini saja sudah merupakan suatu keajaiban besar dari Tuhan," tutur Arya dengan suara parau menahan perih di dada, mengingat peristiwa yang dialaminya, dia telah kehilangan segalanya termasuk rumah, perusahaan dan sisa aset kekayaan lainnya. Hidupnya telah berubah drastis dari yang selalu memiliki segalanya sampai pada akhirnya habis tak bersisa.

***

Di sebuah kediaman rumah mewah nan megah yang dulunya milik Arya Atmajaya yaitu ayah kandung Arrabela kini telah berpindah tangan menjadi kepunyaan Selina serta Ares.

"Akhirnya semua milikmu dapat aku kuasai Arya, dasar kamu bodoh sekali..haha," tukas Selina sambil tersenyum miring wanita yang berdandan glamor itu duduk di sofa besar sembari menyilangkan satu kakinya.

Tak berapa lama kemudian Selina menolehkan pandangannya pada pemuda yang baru saja masuk rumah ternyata itu adalah putranya.

"Darimana kamu Ares, jangan keluyuran saja, lebih baik kamu mulai belajar mengelola perusahaan dan bantuin Mama," gerutu Selina saat menatap pemuda itu terduduk di sofa dengan raut wajah jengkel.

"Itu lho mah, aku tadi ke rumah sakit, tahu nggak ternyata om Arya sudah berhasil operasi cangkok jantung dan sekarang kondisinya mulai membaik," tutur Ares.

Sebenarnya Ares ke rumah sakit karena ingin melihat sang adik tirinya yang cantik jelita, sudah lama dirinya memendam rasa pada Arrabella.

"Hah apa, kok bisa, bukannya dia sudah ngga punya uang sama sekali, aku yang sudah mengurasnya habis," ketus Selina sembari mengernyit heran.

"Mana aku tahu, jangan-jangan si Arrabela yang sok kecantikan itu jual diri atau menjadi simpanan pria tua kaya..cih."

Ares mendengus kesal, menutupi perasaan hatinya pada gadis itu.

Selina menyipitkan matanya merasa penasaran kenapa anaknya bisa berpikir sejauh itu.

"Apa iya begitu, Res?"

"Ngga tahu juga Mah, itu kan cuman dugaanku saja," balas Ares seraya mengendikkan bahunya.

"Sudahlah kita pikirkan itu nanti saja yang penting sekarang kita sudah berhasil menguasai harta kekayaan Arya Atmajaya," ucap Selina menyeringai licik.

***

Satu bulan berlalu sejak saat ini Arrabela dan ayahnya telah berusaha untuk nyaman tinggal di rumah kontrakan kecil dengan kehidupan yang cukup sederhana pula.

Jumlah uang yang sudah diterima Arrabella dari cek yang diberikan Arvel memang masih ada sisa yang cukup untuk menjalani hidup, setelah dikurangi pembayaran biaya pelunasan pengobatan ayahnya.

Tetapi Arrabela tetap ingin melanjutkan kuliahnya di fakultas kedokteran yang telah mulai dia tekuni semenjak lulus sekolah menengah.

Pagi ini Arrabela tengah mempersiapkan menu makan pagi sederhana yaitu nasi goreng untuk ayah dan dirinya karena sebentar lagi dia akan berangkat kuliah menggunakan motor yang dibelinya dalam kondisi bekas tapi masih tetap bagus.

"Ayah, ayo kita sarapan dulu, Bella sudah siapin semuanya"

Sambil menunggu ayahnya keluar dari kamar, perempuan cantik itu menyisir rambutnya yang hitam legam serta agak ikal, aura kecantikannya sangat bersinar.

Mendadak Bella merasa ada dorongan dari dalam perutnya yang mendesak segera ingin dikeluarkan. Iya wanita itu mengalami mual hebat, oleh karenanya dia segera berlari ke kamar mandi.

Tanpa bisa ditahan lagi Bella segera memuntahkan isi perutnya yang belum diisi apapun sejak bangun tidur.

"Hoekk..hoekk."

"Akkhh... rasanya perutku melilit dan kepalaku pening," keluh Bella menyeka keringat dingin di dahinya.

Tak berhenti sampai disitu sedetik kemudian perutnya kembali mual.

"Hoekk.."

Setelah kedua kalinya muntah, lalu dengan langkah gontai Arabella keluar dari kamar mandi dan menuju ruang tengah dimana dia akan sarapan bersama ayahnya.

Tiba di meja makan perempuan itu mendapati sang Ayah sedang menatapnya lekat.

"Arrabella ada apa denganmu, kenapa kamu tiba-tiba muntah di pagi hari begini!?"

"A-aku..hanya merasa mual nggak nyaman sekali perutnya," jawab Bella

Arya merasa perasaannya jadi tidak enak saat mendengar anak gadisnya muntah disertai mual, apalagi raut wajahnya yang pucat pasi.

"Aku mau buat teh hangat dulu, ayah sarapan duluan saja," tutur Bella lantas dia mengambil cangkir dari lemari serta teh yang ada di meja dekat situ.

Arya menarik nafas lalu menghembusnya pelan, pria paruh baya itu menarik kursi lantas duduk, sebelum mengisi piring dengan nasi, dia minum teh hangat dulu.

Tak lama kemudian Bella kembali memegangi perutnya yang terasa tak nyaman, kemudian berlari kekamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya lagi.

"Hoekkk.."

"Aduhh.. kenapa aku ini, apakah ada salah makan?"

Arya yang merasa khawatir pada putrinya mengikuti ke kamar mandi.

"Bella, gejala seperti ini adalah tanda orang hamil, apakah kamu juga hamil!?"

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   47

    Semua yang terjadi seperti dalam gerakan lambat peristiwa kecelakaan tabrakan itu sungguh sangat tidak terduga sama sekali baik oleh Bella maupun Liana.Bella terduduk di atas aspal yang keras dengan lututnya yang lecet tergores dan sedikit berdarah tapi itu hanya luka ringan sedangkan Liana mengalami luka cedera yang cukup parah.Dari kepala ibunda Revan itu tampak mengeluarkan darah segar dan wanita paruh baya itu terkapar tak berdaya diatas jalanan serta tak sadarkan diri.Alih-alih cepat melakukan tindakan pertolongan, Bella malah membeku di tempatnya, dia merasa linglung sejenak hingga melihat kedatangan ramai orang yang berkerumun di situ menyadarkannya kembali."Ibuu..!""Ya Allah, ibu tertabrak.!"Bella memaksakan dirinya bangkit dan setengah berlari menghampiri Liana."Oh tidak, dari kepalanya banyak mengeluarkan darah dan terluka begini besar."Bella cepat mengambil sapu tangan dari dalam tasnya dan menekan dengan kuat luka yang ada di kepala Liana.Setelah itu dengan kekalu

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   46

    Bella memasuki private room itu dengan hati resah, walaupun lengannya digandeng erat oleh Revan, tetapi perasaan nya gelisah."Kak Revan.""Kak Bella."Andhini menyambut kedatangan kedua pasang kekasih itu dengan sumringah. Sementara Liana hanya tersenyum tipis saja dengan wajahnya yang kaku serta tidak tampak keceriaan dalam raut mukanya.Bella menguatkan hati, jiwa dan raganya agar dapat bertatap muka dengan sikap santun dengan sang calon mertua."Sudah lama menunggu Bu?""Maaf kalau kami sedikit terlambat."Bella tersenyum manis dan sedikit membungkuk sembari menjulurkan lengannya hendak bersalaman dengan wanita yang telah melahirkan kekasihnya itu."Tidak juga, kami di sini sedang bersantai saja kok dari tadi," jawab Liana , wanita paruh baya itu tersenyum lebar saat melihat sang putra tercinta."Revan, ayo pesan makanan dulu ini hari sudah siang, Ibu masih ada acara dengan teman-teman.""Memangnya ibu mau ke mana sih santai saja dulu, kita kan masih belum juga mengobrol."Bella d

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   45

    Bella dan Revan, keduanya saling bergenggaman tangan erat dalam pelukan. Revan berpikir ingin segera menikahi ArrabellaLalu Bella, merasakan kebahagiaan membayangkan bersanding dengan Revan di pelaminan.Sejurus kemudian Revan menjauhkan badannya dan menatap lekat sang kekasih sembari mengecup jemari lentiknya.Mendadak terlintas sebuah pikiran yang mengganggu di benak Bella hingga wajahnya mengernyit."Ada apa kok kamu jadi tiba-tiba muram sih apa kamu nggak bahagia dengan lamaran Aku."Revan bertanya sembari membelai pipi halus nan putih."Bukan begitu Hubby.""Aku masih khawatir apa ibumu akan menyetujui hubungan kita ini?"tanya Bella masih merasa was-was di dalam hatinya."Kamu nggak usah cemas menghadapi sikap ibuku dia memang seperti itu kelihatannya saja cuek tetapi dia orangnya baik kok, tenang saja aku akan meyakinkan Ibu agar dapat merestui hubungan kita dan terutama menyukaimu tentu saja."Hati Bella masih terasa gamang ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya."Ada apa

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   44

    Bella membiarkan Revan dan Arya mengobrol, sementara dia menyiapkan minum dan menghangatkan masakan yaitu beef steak dan sop, serta makanan lainnya untuk makan malam mereka, wanita itu berencana untuk mengajak kekasihnya makan malam bersama.Dan sekarang di meja makan telah berkumpul Bella dan Kenzo duduk berdekatan, lantas di depannya ada Arya dan Revan duduk berdampingan." Jadi bagaimana bisa secepat itu nak Revan menemukan Kenzo?"Arya membuka percakapan saat mereka tengah bersantap hidangan yang dimasak oleh Bella."Hmm...ah itu hanya tinggal mencari informasi tentang Arvel ke seluruh jaringan koneksi yang saya miliki, karena dugaan terkuat Bella bahwa yang menjemput Ken di sekolah adalah Arvel, dan ternyata itu memang benar," jawab Revan sembari menatap mesra Bella.Lantas Revan mulai menceritakan semua perihal yang dialami nya siang tadi, dan menutup pembicaraannya dengan niat serius nya yang ingin menikahi Bella."Aku sangat bersyukur dengan niat baik dari kamu, tentu aku meny

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   43

    Revan yang sudah tidak sabar ingin segera membawa kembali Kenzo ke pelukan Bella, akhirnya sudah sampai di area wilayah villa Arvel. Revan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga, dia memerlukan waktu singkat untuk dapat menemukan tempat yang ditunjukkan oleh Aldo.Revan cukup pintar untuk tidak langsung menerobos masuk ke pintu utama melainkan melakukan pengintaian dulu dan akhirnya dia bisa menemukan lokasi yang dikiranya adalah tempat untuk bersembunyi bagi Arvel.Dan benar saja saat Revan sampai di lokasi, itu bertepatan dengan keluarnya Arvel sambil menggendong Kenzo."Wah rupanya ada yang berani menyentuh anakku,"ujar Revan dengan kilatan cahaya tajam dari netranya.Arvel masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sosok Revan sedang menyeringai dingin, matanya menatap tajam dan kedua tangannya yang terkepal erat menahan emosi."Kamu siapa berani datang ke sini!""Om Revann..!"Kenzo yang melihat kedatangan Revan langsung berusaha meronta dari rangkulan Arvel dan i

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   42

    Bella sesudah dari sekolah Kenzo, dia langsung pulang ke rumahnya dan mengemudi seorang diri sembari dalam perjalanan hatinya risau tak karuan."Kenzo Di manakah kamu nak apa kamu baik-baik saja itu takut terjadi sesuatu padamu."Suara Bella serak, disertai isak tangis keluar begitu saja dari bibir Bella."Kenzo, bagaimana kalau sampai terjadi hal yang buruk menimpa dirimu Ibu tak bisa memaafkan dirimu sendiri, ya Tuhan tolonglah jaga anakku jangan sampai dia celaka.""Siapakah yang sudah membawamu pergi dari sekolahan tadi, apakah ia Arvel ..? ""Atau ada orang jahat lainnya yang ingin memanfaatkan kesempatan atau siapa arrrgh.. aku benar-benar bingung."Bella memukul pelan kemudi setir sambil terus bicara sendiri dengan wajah panik dan cemas, sepanjang perjalanan sampai dia tiba di halaman rumahnya.Wanita cantik itu langsung turun dari dalam mobil dan nyaris melompat saking gugupnya dia cepat membawa kakinya berjalan ke dalam rumah.Setiba di halaman rumah, ponselnya berdering Bell

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status