MasukAzalea jauh lebih tertegun ketimbang Zayn yang terdiam lalu menatap Azalea saat gadis itu memundurkan wajahnya. Buru-buru Azalea menutupi bibirnya. "Zayn, kamu mengagetkanku! Kalau mau bicara, tidak usah dekat-dekat!" omel Azalea cemberut. Ia seolah sangat kesal, tatapannya pada Zayn geregetan dan gemas. "Marah?" Zayn mengangkat sebelah alisnya, seakan aneh dengan respon Azalea yang malah bersungut padanya. "Kamu menciumku. Aku korbannya."Kening Azalea berkerut protes, mana bisa ia malah dituduh mencium! Padahal sudah jelas, ia melakukannya secara tidak sengaja karena Zayn yang lebih dulu memposisikan diri begitu dekat! "Apa perpustakaan ini tempat untuk pacaran?" Teguran dari suara yang familiar membuat Zayn dan Azalea menoleh. Sedangkan Azalea masih bingung, siapa lelaki tua yang menatap tajam ke arahnya? "Kakek." Zayn berdiri tegap, ia mengahadap ke arah kakeknya yang berdiri bersama Naura. "Aku tidak melakukan itu."Wajah Adinata tegang dan kaku. "Lalu apa yang kamu lakuk
"Zayn, terima kasih." Azalea kembali berterima kasih setelah turun dari motor Zayn. Ia merasa senang dengan perjalanan singkat tadi, ada banyak pelajaran yang kembali bisa ia petik sepulang dari yayasan anak-anak berkebutuhan khusus. "Aku bisa antar sampai rumah." Zayn kembali bicara."Tidak, Zayn. Sampai sini saja.""Ibumu akan marah?" Zayn masih duduk di sepeda motornya. Azalea menggeleng dengan senyum ragu. "Mm, mungkin tidak. Tapi sebaiknya jangan--""Jika itu Alvano, bisa antar-jemput sampai depan pintu?" Tidak biasanya, Zayn sedikit bawel saat ini. Ekspresi wajah Zayn mungkin datar, namun Azalea merasa Zayn sedang membandingkan dirinya dengan Alvano."Ah, apa? Tidak. Alvano pun sama. Aku akan memintanya berhenti di sini. Ibuku bukan benci kalian, tapi mungkin beliau agak kuno. Jadi tidak memperbolehkan aku terlihat sering bersama pria." Azalea meringis canggung. Ia bicara seperti itu hanya agar Zayn mau mengerti tanpa tersinggung. Ia tidak mungkin memberitahu jika ibunya m
"Cepat naik!" titah Zayn tanpa mematikan mesin. "Naik? Apa ada tugas untukku?" Azalea ragu, ia pikir tidak mungkin Zayn sengaja datang untuk menjemputnya. Zayn tidak menjawab, namun tatapannya menuntut. Azalea yang sadar jika Zayn tidak sabaran, buru-buru naik. Jangan sampai Zayn tantrum lagi dan membuatnya harus membersihkan kaca gedung. Azalea duduk anteng, ia tidak bicara selagi Zayn fokus menyetir. Jalanan sore lengang saat itu, Zayn melaju cukup kencang hingga sampai di lampu merah, ia berhenti. Tepat saat itu, Haikal dan Naura pun berhenti. Posisi sepeda motor yang Zayn naiki berhenti tepat di sebelah milik Haikal. Keduanya lalu saling menoleh. Haikal dan Naura tampak kaget melihat Zayn yang membonceng Azalea. "Zayn? Lea?" Naura berseru. "Kok, kalian pulang bareng?" Wajah kecewa Naura tergambar jelas, gadis itu bahkan langsung mencebik. Haikal melepas helm full face-nya agar lebih mudah bicara. "Zayn, kamu hendak pulang? Bagaimana kalau kita bertukar? Naura bisa membon
Azalea tertegun, tentu saja ia tidak menyangka akan dituduh seperti itu. Padahal ia sudah berusaha keras untuk bertahan, tapi gerakan kaki Naura di punggungnya membuatnya kesulitan menjadi pijakan. "Hei, Bung! Sebelum bicara ada baiknya cek kebenarannya lebih dulu!" Livia menengahi. "Kebenaran apa? Aku melihatnya sendiri dari tadi. Sudah jelas anak ini tidak bisa profesional."Azalea mematung, ia semakin bingung kenapa Haikal terlihat berubah drastis. Sebelumnya, meski Azalea tidak tahu banyak tentang Haikal, tapi ia tahu pemuda itu sportif, tidak banyak bicara, dan selalu mengedepankan logika. "Dari pada ada korban lagi, sebaiknya dia mundur saja," tegas Haikal yang membuat Azalea tertegun."Tidak bisa," sahut Livia ketus. "Aku ketua timnya di sini. Aku lihat Lea punya potensi. Kamu bukan siapa-siapa."Gadis itu pemberani dan tahu mana yang harus dibela dan dipertahankan. Livia menatap tajam Haikal, sorot matanya penuh pengusiran. "Kamu memilih mempertahankan gadis yang baru sa
"Zayn, apa yang dikatakan Haikal benar. Aku mengerti, kok," kata Azalea dengan pipi memerah. "Aku tidak akan--" "Tidak perlu dibahas," potong Zayn enggan mendengar omong kosong. "Lebih baik kamu lihat ini."Zayn menyodorkan selembar brosur kompetisi melukis tingkat nasional di atas meja. Dia ingin Azalea berpartisipasi dalam ajang bergengsi tersebut.Mata Azalea membulat, lalu dengan cepat menggeleng. "Aku masih amatiran, aku tidak yakin cukup layak mengikuti kompetisi ini, Zayn." "Kalau kamu berhasil meraih juara, kamu akan mendapat nilai plus dari sekolah.”“Benarkah?”“Posisimu sebagai anak beasiswa akan aman," jelas Zayn yang membuat Azalea langsung mempertimbangkan. Gadis itu tersenyum penuh binar. "Serius kan, Zayn?" Azalea kembali memastikan.Zayn mengangguk. "Baiklah, aku akan mencobanya. Terima kasih, Zayn."Kompetisi itu masih lama, mungkin setengah bulan lagi. Jadi, Azalea masih punya banyak waktu untuk mengasah bakatnya. Sementara sekarang, ia harus sering latihan chee
"Lea, kok, kamu bisa sih jadi tim cheerleader? Aku pengen juga!" Naura bicara dengan penuh harap. "Apa Kak Livia langsung memilihmu?" "Eh, itu? Sebenarnya bukan aku yang berinisiatif, tapi Zayn memaksaku untuk ikut." Azalea berusaha untuk bersikap seperti biasa, meski dalam benak masih bertanya tentang apa yang dilakukan Naura dengan Haikal, kenapa keduanya berpelukan? Ia tidak sembrono, memilih untuk mencari tahu diam-diam. Mungkin saja tidak seperti yang ia pikirkan, Haikal dan Naura hanya sedang berpelukan biasa sebagai teman. "Zayn?" Raut wajah Naura berubah setelah mendengar itu. "Kok, Zayn milih kamu buat ikut? Tapi tidak mengajakku!" Ia tampak sedih. "Naura, kalau kamu ingin ikut tim cheerleader Kak Livia juga, aku bisa coba bicara padanya.""Benarkah?" Naura berbinar penuh harap. "Terima kasih, Lea. Sebenarnya aku bisa saja meminta pada Zayn langsung untuk bicara pada Kak Livia. Tapi aku mau buat kejutan, kalau ternyata aku ikut menyemangati Zayn saat tanding nanti sebaga
Diam-diam, Azalea tersenyum, matanya masih memejam namun ia merasakan nyaman bersender pada Zayn. Perjalanan yang hampir memakan waktu dua jam terasa cepat sekali. Azalea bahkan masih memejam saat taksi yang dinaikinya berhenti di jalan utama sebelum masuk ke jalan
Restoran kecil itu berdiri di pinggiran kota, tepat di tepi sebuah danau. Pemandangan utamanya langsung mengarah ke air danau yang tampak berkilauan saat malam hari, berpadu indah dengan pantulan sinar rembulan dan bintang-bintang yang terlihat jelas d
Ehem! Azalea berdeham, pipinya memerah ketika Zayn bicara begitu dekat, bahkan hangat napasnya menyapu daun telinga gadis itu. "Ini baru awal kan, Zayn? Kedepannya aku akan lebih giat lagi!" balas Azalea penuh tekad. Ia tersenyum optimis lalu balik membisiki Zayn. "Makasih, ya. Kalau tidak karen
"Tidak ada, hanya ini saja." Azalea gugup, entah kenapa dengan perlakuan Zayn sekarang, jantungnya berdebar lebih kencang. Ia jadi tidak bisa fokus. "Baguslah, kali ini kamu berani melawan." Zayn tersenyum tipis, seperti sebuah penghargaan untuk Azalea. "Te--ten







