LOGINAzalea menarik tangannya, ia memaksakan senyumnya. Tidak ingin Zayn ikut cemas dengan keadaannya sekarang. "Kena air panas," jawab Azalea jujur. Namun ia agak ragu untuk menceritakan yang sesungguhnya. "Kamu bisa melanjutkan kompetisi?" Azalea mengangguk. "Masih bisa pegang kuas, aku yakin bisa!" Zayn terdiam, ia tampak sedang berpikir. Kompetisi akan dimulai setengah jam lagi, dan ia baru tahu kalau tangan Azalea terluka. Sebelumnya Azalea tidak mengatakan apa pun bahkan lewat pesan. Kompetisi itu pun berlangsung, Azalea duduk di posisi yang sudah ditentukan. Terhitung ada tiga puluh siswa yang mengikuti kompetisi itu, dan mereka sepertinya sudah profesional. Azalea yakin bisa merampungkan lukisannya meski dengan susah payah, namun yang membuatnya ragu justru karena teringat dengan lukanya. Luka itu adalah tanda jika ada seseorang yang tidak suka dengan Azalea mengikuti kompetisi. Karena tidak mungkin seseorang yang tidak kenal tiba-tiba meneyerang tanpa maksud, semua in
Zayn berdiri, ia terlihat enggan mendengarkan cerita Azalea lagi. "Zayn, mau ke mana?" Azalea menyusul Zayn yang melangkah pergi. Pemuda itu berjalan menuju ruang seni, ia lalu masuk dan duduk di salah satu kursi. "Besok kompetisi melukis, kamu sudah mempersiapkan semua?"Azalea masih berdiri, melihat sekitar dan mencari sesuatu yang menarik perhatiannya. "Sudah. Karena kompetisinya on the spot, jadi aku hanya memikirkan desainnya di kepala. Besok tinggal kutuangkan di kanvas," Azalea tersenyum meyakinkan."Kamu tenang saja, aku sudah memikirkannya matang-matang dengan tema yang kebetulan sangat cocok dengan kompetisi itu."Azalea terlihat sangat optimis sekarang, membahas tentang lukisan, Zayn tidak lupa jika ia pernah mematahkan alat lukis Azalea. ***Haikal tidak tega melihat Naura yang memasang wajah murung. Gadis itu sedih karena merasa cemburu pada Azalea yang semakin dekat dengan Zayn. "Haikal, bukan aku benci Lea, aku hanya ingin Lea menjauh dari Zayn. Kamu tahu sendir
Zayn terdiam, ia berdiri tidak jauh dari Ezra dan Azalea yang kembali berpura-pura. "Eh, Zayn! Ada Zayn!" Perhatian cewek-cewek yang seperti cacing kepanasan itu beralih saat melihat Zayn yang berdiri tak jauh dari mereka. "Zayn! Bolehkah kami minta foto?" Biasanya Zayn akan menolak mentah-mentah, atau dengan tatapan dingin ia mengusir mereka. Namun kali ini Zayn diam saja yang membuat mereka langsung berlarian mendekat dan berdiri di dekat Zayn dengan cepat mengambil beberapa jepretan. Pose mereka sangat bervariatif, ada yang memegang lengan Zayn, ada yang tersenyum gemas. Mereka tidak menyiakan itu. Tidak sedikit pun Zayn melihat ke arah kamera, mata tajamnya justru menatap Ezra yang buru-buru melepas pitingannya dari leher Azalea. Ia salah tingkah, seolah sedang ditatap oleh serigala yang bernafsu untuk mencabiknya. Azalea kembali ke sekolah dengan menumpang di mobil Zayn, tidak sendiri tapi ada Ezra dan Haikal yang menyetir. Ia tidak banyak bicara karena kelelahan, Azalea me
Pertandingan selesai. Tim Zayn dari Adinata International Academy berhasil unggul dan mempertahankan gelar juara yang hampir satu dekade tidak pernah berpihak pada sekolah EIS.Bukan karena pemain EIS buruk, mereka juga biasa menjuarai liga. Namun jika dibandingkan dengan AIA, mereka masih belum bisa unggul.Selesai pertandingan baik tim basket atau pun tim cheerleader dari AIA bersiap untuk kembali ke sekolah mereka. Dan di saat itulah, segerombolan anak dari sekolah EIS menahan Azalea. Azalea baru selesai berganti seragam, ia keluar, niatnya hendak menyusul Zayn dan yang lain namun tangannya ditarik dan Azalea ditahan. Terhitung ada lima siswi yang sekarang mengerumuni Azalea sambil menatapnya penuh selidik. Azalea mengerjap bingung, selain di sekolahnya apa bahkan di sekolah yang tidak ia kenal ini ia harus dirundung juga? "A-ada apa? Kalian mau apa?" Azalea penuh waspada. "Kamu, siapanya Zayn? Apa kamu pacarnya?" tanya mereka penuh selidik. Azalea kaget karena yang merek
Teman-teman yang lain terus meledek, Ezra yang biasanya humoris jelas saja membuat teman-temannya lebih suka mengajaknya bercanda. Keributan itu menarik perhatian Naura yang berjalan ke arah kelas. Ia melihat Ezra yang sedang diledek. "Udah ngaku ajah, kamu suka Lea kan? Hayo ngaku!" Mereka masih saja memojokkan Ezra dengan tawa menyebalkan. "Ada apa sih ribut-ribut? Keknya seru banget?" Naura nimbrung. Di saat itu, Ezra buru-buru membekap mulut temannya. "Tidak ada, Naura! Kami hanya sedang bercanda, jangan hiraukan ucapannya!" Kening Naura berkerut, ia mungkin masih penasaran namun malas untuk berada di sana lebih lama. Naura masuk ke kelas, dan ia langsung mengambil tasnya. Naura hendak pindah tempat duduk. "Naura--" Azalea melihatnya, tentu ia merasa tidak enak hati, sebegitu bencinya Naura sekarang sampai bersikap dingin bahkan tidak sudi sebangku lagi dengannya? "Lea, aku hanya ingin pindah. Kurasa aku butuh tempat lain untuk menenangkan diri," kata Naura dengan suara
"Jika di masa depan kamu berhasil meraih mimpi itu, kamu boleh menagih apa pun padaku."Tawaran Zayn sangat menggiurkan, Azalea menahan senyum. "Kalau aku gagal?" Azalea merubah posisi duduknya, ia miring untuk bisa fokus menghadap Zayn. Ia menunggu jawaban pemuda itu dengan tidak sabaran. "Kalau kamu gagal? Kamu harus membayar denda, karena sudah buang waktuku untuk mendengar mimpi kosong itu!" "Eh, apa?" Azalea bersungut, ia tidak menyangka jika tawaran Zayn seakan tidak memberinya pilihan untuk gagal. Zayn terkekeh pelan melihat ekspresi Azalea yang cemberut, itu lucu. Kemudian ia bangkit dan bergegas mengajak pulang. Zayn berjalan lebih dulu. "Zayn tunggu! Langkahmu cepet banget sih, kakimu panjang! Aku jadi kesusahan mengejarmu!" celoteh Azalea setengah mengomel, tapi bukan karena kesal melainkan Azalea sebenarnya menikmati itu--menikmati kebersamaan dengan Zayn, juga menikmati bisa bicara banyak selagi pemuda itu tidak menunjukan wajah dinginnya. ***Ruang ekslusif itu ter
"Bukan seperti itu! Kubilang usap saja," kata Zayn lagi ketika pijatan Azalea melenceng dari aturannya. Azalea menghela napas. Mereka tidak lagi di ruang kesehatan, melainkan sudah pulang dan berada di apartemen Zayn. Namun pemuda itu terus saja memberi banyak perintah pada Azalea. Azalea mengusa
Azalea mematung, ia tidak menyangka Zayn akan mendekat hanya untuk mengingatkan tugasnya. Zayn mendengus dingin, lalu kembali ke posisinya. Peluit berbunyi, dan atmosfer di lapangan mendadak berubah menegangkan.Meskipun tim Alvano didominasi oleh anak-anak pencinta rumus, keberadaan Ezra sebag
"Aku tidak berminat mengajarimu, Lea. Tapi melihat catatanmu saja aku sudah sangat yakin, kamu tertinggal jauh dari teman sekelasmu sekarang." Azalea terdiam, ia mungkin tidak menyangka jika catatannya akan dikritisi Zayn. Padahal di sekolahnya dulu, buku catatan miliknya selalu menjadi kitab pal
"Zayn, apa kamu ingin aku ambilkan minum?" tanya Azalea saat ia merasa bingung tidak ada kerjaan, sementara sejak tadi Zayn hanya diam saja dan sibuk dengan ponsel. "Tidak.""Atau kamu butuh sesuatu? Aku akan--""Duduklah," titah Zayn sambil menggerakan dagunya ke arah sofa. Azalea meringis cang







