MasukZayn menyentak napasnya lalu menoleh dan menatap tajam pada Alya. "Kita sama sekali tidak dekat. Meski tinggal di sini, aku tidak ingin melihatmu," ucapnya dingin lalu beranjak. Alya mengepalkan tangan sembari menatap punggung Zayn dengan gigi gemertak. Batinnya mengumpat kesal. Sejak dulu memang Zayn sulit sekali didekati, padahal sudah banyak cara Alya lakukan termasuk memasang muka iba, namun pemuda itu benar-benar batu! Zayn hendak naik tangga, namun langkahnya kembali terhenti saat Adinata berdiri di depan dan menatapnya tegas. "Baru pulang?" Mata tua di balik kacamata itu masih bisa melihat dengan jelas, ia menelisik penampilan Zayn. "Habis berkelahi kamu?"Zayn mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari lalu tersenyum miring. "Ya, hanya luka kecil. Tidak masalah," jawab Zayn santai. Sikapnya itu jelas memprovokasi Adinata. "Zayn, kamu--" Adinata menunjuk dengan wajah tegang menahan emosi. Kesal dengan cucunya yang kali ini sangat tengil dan sengaja menentangnya. "Ayah sudah
Azalea yang melihat hal itu langsung mendorong pintu mobil dan berlari, mengabaikan teriakan Ezra. Tepat saat Azalea mendekat, dua anggota Black Viper menerjang Zayn bersamaan. Zayn berhasil menangkis tendangan lawan pertama lalu membalasnya dengan hantaman siku. Namun, satu pukulan liar dari anggota kedua melayang cepat dan mendarat telak di pipi kiri Zayn, membuat sudut bibirnya robek dan kepalanya tersentak ke samping.Zayn menyapu sudut bibirnya yang berdarah, matanya berkilat marah. Yuda yang tersulut emosi melangkah maju sambil mengepalkan tangan. "Bangsat kau, Zayn!"Yuda mengayunkan tinjunya, tetapi Zayn kali ini refleks membungkuk mengelak. Tanpa memberi ruang, Zayn merangsek maju dan menghantamkan kepalan tangannya keras-keras tepat ke hidung Yuda.Bugh!Yuda mengerang kesakitan, terhuyung mundur sambil memegangi hidungnya yang mengucurkan darah. Baru saja anggota Black Viper lainnya hendak bergerak serentak mengeroyok Zayn, sorot lampu merah-biru menyorot dari ujung j
"Zayn?" panggil Azalea begitu pemuda itu akhirnya tiba. Kedatangannya sedikit terlambat dari waktu yang mereka janjikan."Apa terjadi sesuatu?" tanya Azalea cemas."Tidak. Naiklah," titah Zayn pendek.Azalea tak bisa membaca raut wajah Zayn karena terhalang helm full face yang dikenakan pemuda itu. Namun, dari sorot matanya yang terlihat samar dari balik visor, Azalea bisa merasakan ada yang berbeda—dingin dan menyimpan sesuatu.Tanpa bertanya lebih jauh, Azalea langsung naik ke jok belakang. Begitu motor besar itu melaju membelah malam, Azalea mengeratkan pegangannya dengan memeluk erat pinggang Zayn, menyandarkan kepalanya di punggung tegap pemuda itu. Zayn, Ezra, Varan, dan Varel bertemu di persimpangan jalan, lalu berangkat bersama menuju lokasi yang telah dijanjikan dengan kelompok Yuda.Begitu sampai, kedatangan mereka langsung disambut riuh sorak-sorai anggota geng Black Viper dan puluhan penonton. Azalea sedikit merinding. Jalan umum yang dijadikan arena balap ini sanga
"Benar kata Ezra, kamu dan yang lain mau datang ke arena balap malam ini?"Azalea berdiri tepat di depan Zayn. Melihat keduanya sudah berhadapan, Ezra yang mengantar Azalea hanya berani mengintip dari balik pintu.Ezra memilih tidak ikut masuk. Ia berharap Azalea berhasil membujuk Zayn, setidaknya agar pertarungan itu bisa dialihkan ke bentuk lain. Pertandingan basket, mungkin? Atau adu vokal? Ezra merasa masih bisa mengusahakannya, meski membayangkan menantang kelompok preman dengan kompetisi bernyanyi terdengar agak konyol.Jujur saja, Ezra sangat takut pada ajang balap liar. Konsekuensi bertaruh nyawa di jalanan terlalu besar. Apalagi, Ezra tahu betul kalau Varan dan Varel memiliki cedera tangan lama yang bisa kambuh kapan saja. Akan sangat berbahaya jika tangan kanan Varel mendadak bermasalah saat balapan tengah berlangsung.Ezra menggigit bibirnya, cemas menunggu respons Zayn. Namun, sejoli di dalam ruangan itu masih sibuk berargumen."Sedang apa kamu di sini? Mengintip ora
"Varel, kamu benar-benar gila! Jadi cewek yang kamu bawa kemarin itu pacar Yuda? Astaga—" Ezra bicara sambil menahan napas, lalu menyugar rambutnya gusar."Kita dapat masalah besar," imbuh Varan dengan helaan napas berat.Meski tidak satu sekolah, siapa yang tidak kenal Yuda? Pemuda itu adalah salah satu anak paling berpengaruh dari sekolah sebelah yang terkenal sebagai ketua Black Viper—geng motor jalanan yang paling ditakuti."Baca ini baik-baik! Dia menantang kita!" Ezra menyodorkan ponselnya tepat di depan wajah Varel. Layarnya menunjukkan pesan ancaman yang dikirim Yuda. Sejak tadi Ezra yang terus membaca pesan itu dengan wajah panik, dialah yang paling heboh.Varel yang semula menyandarkan punggungnya santai di sofa kini menegakkan duduknya. Ia malah tersenyum tipis tanpa beban, seolah tidak baru saja membuat masalah."Hei, ayolah. Kemarin aku cuma mengajaknya bersenang-senang. Lagipula Bella sendiri yang mengaku single dan mendatangiku," bela Varel santai. Sudah terlanjur,
Zayn segera mengambil alih sepasang sepatu flyboard yang terhubung dengan selang pendorong. Setelah memastikan semua alat pengaman terpasang sempurna di tubuh Azalea, ia menuntun gadis itu ke area air yang lebih dalam.Zayn berdiri tepat di belakang Azalea, merapatkan tubuh mereka tanpa celah. Lengan kokohnya melingkar erat mengunci pinggang ramping Azalea, sementara kedua tangannya menggenggam jemari Azalea untuk membantu mengarahkan keseimbangan."Pegang lenganku dan jangan lepas," bisik Zayn tepat di samping telinganya. Suara mesin jet ski mulai mengudara, menandakan dorongan air siap dihentakkan."Zayn, kamu yakin kita tidak akan jatuh ke air kan?""Kamu meragukanku?" Zayn merespon dengan senyum santai. Belum sempat Azalea kembali meyakinkan diri, tekanan air berkekuatan tinggi menyembur dari bawah sepatu board.Wushhh!Sensasi hentakan keras langsung mendorong tubuh mereka terangkat dari permukaan laut. Azalea memekik kaget saat gravitasi seolah menghilang. Dalam hitungan
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd







