LOGIN
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?"
Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berdiri menjulang di hadapannya. Tatapan pemuda itu tajam dengan ekspresi yang dingin dan penuh intimidasi. Namanya Zayn. Anak pemilik sekolah yang paling disegani. Dia tampan, berdarah biru, idola sekolah! "Ma--maaf, aku pasti akan tanggung jawab. Lepas saja bajumu, aku akan mencucinya," ucap Azalea terbata. Azalea baru seminggu menjadi murid pindahan di sekolah elit ini. Belum banyak yang ia tahu, tapi setidaknya, ia tahu tentang Zayn sebagai siswa paling ditakuti di sekolah. Seragam Zayn ternoda dengan warna merah mencolok dari cat air murahan yang Azalea bawa. Gadis itu tidak sengaja menabraknya saat berjalan di koridor kelas sambil membawa seabrek perlengkapan melukis. "Kamu mau cuci bajuku pakai deterjen murahan?" sahut Zayn, kali ini dengan senyum miring. "Tidak usah. Aku punya alergi dengan produk orang miskin." Tawa anak-anak lain menggema di sepanjang koridor. Konflik antara murid beasiswa dengan anak pemilik sekolah menjadi tontonan menarik. Zayn menatap Azalea yang kini membulatkan bibirnya tanpa bisa berkata sedikit pun. Gadis itu mungkin syok dengan ucapan setinggi langit Zayn. "Namamu Lea?" Zayn membungkukan badannya dan mendekatkan wajah untuk bisa melihat ekspresi tertekan gadis yang lebih pendek itu dengan lebih jelas. Azalea mengangguk patah-patah. "Kalau tidak mau kucucikan, apa kamu ingin aku ganti dengan yang baru? Aku akan membelinya sesuai ukuranmu." Meski miskin, Azalea bukan pribadi yang lembek dan tidak bertanggung jawab. Sejak kecil, ia selalu diajari attitude yang cukup baik. Jadi tidak masalah jika nanti harus menabung ekstra untuk bisa ganti rugi. Tawaran Azalea membuat para siswa kembali tertawa. "Lea, Lea," kekeh Ezra--teman Zayn yang sejak tadi menyimak, sekarang berdiri di samping Azalea. "Kamu tahu tidak berapa harga seragam milik Zayn? Kira-kira dua puluh atau tiga puluh juta?" "Apa?" Azalea seolah salah dengar. Gadis itu melotot kaget. Kalau harganya puluhan juta, pantas saja tidak mau sembarangan orang mencucinya! "Hey, udik! Kamu kaget banget. Wajar harga segitu, Zayn kan seorang tuan muda dari keluarga konglomerat," imbuh siswa lain, ikut memprovokasi dan membuat suasana makin panas. Azalea menelan ludahnya, menatap Zayn dengan nyali mulai menciut. Padahal selama seminggu ini, Azalea sudah berusaha keras untuk tidak membuat masalah di sekolah ini. Hidup tenang dengan menjadi siswa yang tidak mencolok. Tapi sial memang tidak bisa ditawar. "Z--Zayn ... Aku tahu aku salah, aku tidak akan lepas tanggung jawab. Kamu bisa meminta pertanggungjawaban lain. Aku akan mengusahakannya." Hah! Zayn menyentak napasnya, ia lalu mengusap noda di seragamnya dengan gerakan pelan namun menekan. "Aku tahu kemampuan siswa miskin seperti kamu, ganti rugi juga tidak mungkin. Tapi kamu bisa bertanggung jawab dengan cara menyenangkanku, bagaimana?" Hinaan Zayn memang terdengar kasar, namun Azalea tidak kaget akan itu, karena hampir satu sekolah ini memang menyebutnya sebagai anak miskin. Siapa lagi yang masuk dari jalur beasiswa di sekolah elit ini? Namanya dikenal hampir semua murid. "Boleh, jadi apa yang harus aku lakukan?" Azalea tersenyum, sedikit lega. Zayn menanggapi respon cekatan itu dengan senyum mengejek. "Aku butuh babu selama seminggu. Kalau kamu tidak keberatan melakukan itu, aku akan coba pertimbangkan untuk membiarkanmu tetap berada di sekolah ini," kata Zayn lugas sambil jemarinya menekan kening Azalea, meninggalkan noda merah dari cat air. "Ba--bu?" gumam Azalea mengusap keningnya yang terasa lengket. "Iya! Babu, sama dengan pelayan, pembantu, jongos!" sela para siswa di belakang Zayn itu dengan tawa menyebalkan. Sedangkan Zayn mulai berbalik dan melangkah, meninggalkan keramaian yang berkerubung di sekitar mereka. Ezra ikut menyusul, namun sebelum itu dia tersenyum pada Azalea. "Sampai bertemu lagi … di luar sekolah, kalau-kalau Zayn meminta orang tuanya untuk mencabut beasiswamu!" "A--pa? Tapi, tapi--" Azalea tidak bisa lagi protes, pemuda paling berkuasa di sekolah itu sudah jauh dan tidak mungkin mau bernegosiasi lagi. Azalea menghela napas, hanya dia yang terlihat penuh beban, berbeda dengan anak-anak lain yang tersenyum sinis ke arahnya. Sebagian justru merasa puas. "Lea, oh, Lea, aku yakin enggak sampai seminggu deh, paling lama tiga hari kamu ikut Zayn, pasti udah mohon-mohon minta keluar dari sekolah ini sendiri," cibir Yiyi. "Betul, kamu bisa pergi tanpa cacat dari Zayn saja udah termasuk keajaiban!" timpal yang lain membuat Azalea menelan ludah gugup. Hingga di jam pelajaran selesai, Azalea langsung pulang. Siang itu, ia sudah berjanji membantu ibunya mengantar jahitan ke klien. "Saya pasti akan bayar, Bu, tolong jangan bawa mesin jahitnya." Suara memohon ibunya menghentikan langkah Azalea yang kini berada di jalan masuk kontrakan. Ia lihat ibunya yang sedang memohon pada pemilik kontrakan, bahkan bersimpuh dengan duduk di teras. "Kalau tidak ada mesin jahit, bagaimana saya bisa kerja dan cari uang? Lea juga baru masuk sekolah baru, saya harus bekerja agar dia tetap bisa mengenyam pendidikan. Saya mohon--" Tangan Azalea terkepal. Ada yang terasa nyeri di dadanya, matanya memanas karena air mata yang berdesakan ingin keluar. Pemilik kontrakan menghela napas kesal. "Saya kasih kamu waktu seminggu, uang kontrakan bulan ini dan bulan kemarin harus kamu lunasi!" Dina, ibu Azalea, mendongak penuh rasa syukur, setidaknya masih punya waktu untuk berusaha. "Baik, Bu! Saya pasti akan membayarnya." Harapan ibunya begitu besar. Azalea jadi merasa bersalah, keperluan sekolah yang mahal itu pasti yang membuat ibunya sampai menunggak uang kontrakan.Jika saat itu Kakek Adinata yang memberi cincin untuk Azalea sebagai perwakilan keluarga Adinata, sekarang Zayn memberikannya langsung. Ia memesannya sendiri, cincin lamaran yang diukir nama Zayn dan Azalea dengan sangat indah. "A-ku mau Zayn." Azalea mengulurkan jemarinya saat Zayn hendak menyelipkan cincin itu. Senyum Azalea merekah, matanya berbinar haru. Ia lalu berbalik dan menatap ke arah inkubator. "Sayang, lihat! Ayahmu melamar Mama!" Azalea mengangkat jemarinya dan mendekatkannya ke arah inkubator. Ia tahu anaknya belum bisa lihat, namun kebahagiaan itu pasti juga si kembar rasakan. Zayn dan Azalea lalu pulang. Keduanya pergi bersama, sepanjang jalan melawati kota terang yang penuh dengan warna-warni lampu. Sedikit berbeda dari tempat asal mereka, namun suasana romantis di mana pun tetap bisa mereka rasakan. *** Kediaman Adinata masih sama, yang membuat berbeda adalah sekarang ada ruangan khusus yang dijadikan sebagai kamar si kembar. Adinata menyambut kedatanga
Telinga Zayn berdengung. Suara-suara di sekitarnya terdengar sangat jauh dan terdistorsi, seolah berada di dalam air. Saat kesadarannya ditarik paksa ke permukaan, rasa sakit menusuk kepalanya."Arrrrghhh!" Zayn mengerang lemah. Tangannya mencoba terangkat untuk memegang kepala, tetapi gerakannya sangat berat dan bergetar hebat.Ezra dan yang lainnya tersentak panik. Tanpa membuang waktu, Ezra berteriak memanggil dokter yang bersiaga di rumah itu."Dia sadar? Apa Zayn benar-benar sadar?" gumam Ezra cemas, mondar-mandir sembari memperhatikan dokter yang buru-buru memeriksa refleks dan pupil mata Zayn.Adinata yang mendengar keributan dari lantai bawah bergegas naik. Langkah kakinya terhenti di ambang pintu, matanya berkaca-kaca menatap sang cucu di atas ranjang. Setelah satu tahun koma, tubuh Zayn yang terbaring kaku itu akhirnya menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dadanya naik turun dengan napas yang nyata."Bagaimana kondisinya, Dok?" suara Adinata bergetar saat menghampiri r
Waktu berputar begitu cepat, berbulan-bulan yang terasa sangat singkat untuk Azalea berhasil menghabiskan waktunya di sekolah elit. Sekolah yang saat pertama kali ia datang disambut dengan banyak kemalangan, namun karena itu juga ia menemukan pelindungnya. Tepat setelah ujian nasional selesai Azalea langsung dikirim ke luar negeri oleh keluarga Adinata untuk melakukan program bayi tabung. Ia sungguh-sungguh akan menjadi menantu keluarga Adinata dengan mengandung calon pewaris. Sedangkan Zayn, ia juga menjalani pengobatan. Beberapa kali keluarga Adinata mengundang dokter ahli dari berbagai negera, pernah juga Zayn yang dibawa langsung ke salah satu rumah sakit terkenal di luar. Sayangnya, kondisinya masih koma meski menunjukan beberapa perubahan yang baik. Saat ini pemuda itu terbaring, baru saja selesai diperiksa. Teman-temannya yang sejak tadi menunggu akhirnya diperbolehkan untuk masuk menjenguknya. "Zayn, kami datang." Suara Ezra yang paling nyaring di antar yang lain. V
Dokter mengangguk.“Ya. Operasi pertama baru salah satu dari serangkaian tindakan yang harus dilakukan. Kami perlu terus memantau kondisi otaknya dan memastikan tidak terjadi komplikasi yang lebih parah.”Azalea merasa kedua kakinya kembali kehilangan tenaga.Ezra segera berdiri di sampingnya dan menopang tubuhnya.“Dokter...” suara Azalea hampir tidak terdengar. “Berapa besar kemungkinan dia selamat?”Dokter terdiam sejenak.“Kami akan melakukan segala yang kami bisa. Tetapi saya harus jujur, dua puluh empat jam ke depan sangat penting.”Azalea menatap dokter itu dengan mata berkaca-kaca. “Bolehkah saya melihatnya?”“Belum sekarang. Setelah kondisinya cukup stabil, pasien akan dipindahkan ke ICU.”Azalea mengangguk perlahan. Dia kembali menatap pintu ruang operasi. ***Satu bulan setelah insiden. Azalea keluar dari kelas, pelajaran sudah selesai harusnya ia pulang namun kali ini langsung ke rumah sakit. Ia datang sendiri, sudah biasa setiap hari Azalea akan menyempatkan waktunya u
Azalea berlari begitu cepat, bahkan tidak lagi mempedulikan sekitar saat Ezra bilang Zayn hampir sampai di rumah sakit namun kondisinya tidak sadar. Azalea menyambut di depan saat brankar yang membawa tubuh Zayn baru saja turun dari ambulans. "Zayn!" Azalea langsung mencengkeram pinggiran brankar dan ikut berlari mendorongnya menunju IGD. "Zayn, kamu harus bertahan. Zayn--" Azalea menggenggam tangan yang terasa lemas dan tidak bergerak itu. Sekilas ia lihat wajah Zayn gang juga pucat dan dipenuhi dengan luka lebam juga luka terbuka. Azalea hanya bisa mengiring sampai di depan pintu, tenaga medis mendorong masuk brankar itu dan menahan Azalea untuk tetap di luar lalu pintu tertutup dengan cepat. "Zayn aku menunggumu!" histeris Azalea. Ia hampir saja jatuh terduduk namun Ezra sigap menahannya dari belakang lalu memapahnya untuk duduk di kursi tunggu. "Lea tenanglah. Yang penting Zayn sudah ketemu, kamu tidak boleh begini. Jangan sampai kesehatanmu kembali drop!" Ezra begitu telate
"Arrrgggh!" Marvel memekik, tubuhnya yang semula sudah ringkih kini ambruk akibat tembakan yang Rico arahkan ke arahnya. Darah mengucur dari dada Marvel. Lelaki tua itu tergeletak dengan mata melotot. Dor! Tembakan berikutnya dilepaskan oleh pihak kepolisian mengarah ke tangan Rico hingga pistol yang semula digenggam Rico pun terjatuh. "Ah, sial!" Rico mengerang, memegangi tangannya yang berdarah sementara para polisi itu mulai menyergap dan menghampirinya. Tidak ada jalan untuk kabur. "Jangan bergerak!" Peringatan dari polisi menghentikan gerakan Rico dan Alya. Alya meringkuk ketakutan, suara tembakan meruntuhkan nyalinya. Ia hanya bisa berjongkok di sudut ruangan, pasrah saat polisi meraih tangannya dan menyeretnya berdiri. Kedua tangan Alya diborgol. "Lepaskan aku!" Gadis itu ingin memberontak, sayangnya tak mungkin. Ia langsung dipaksa naik ke mobil polisi, sedangkan Marvel dibawa dengan ambulans. "Lepaskan aku, Pak Polisi! Aku tidak salah! Yang membunuh Pak Marvel itu di
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus







