Beranda / Romansa / Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah! / Bab 1 Jadi Babu Raja Sekolah

Share

Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!
Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!
Penulis: Ratu As

Bab 1 Jadi Babu Raja Sekolah

Penulis: Ratu As
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 19:03:11

"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?"

Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea.

Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berdiri menjulang di hadapannya. Tatapan pemuda itu tajam dengan ekspresi yang dingin dan penuh intimidasi.

Namanya Zayn. Anak pemilik sekolah yang paling disegani. Dia tampan, berdarah biru, idola sekolah!

"Ma--maaf, aku pasti akan tanggung jawab. Lepas saja bajumu, aku akan mencucinya," ucap Azalea terbata.

Azalea baru seminggu menjadi murid pindahan di sekolah elit ini. Belum banyak yang ia tahu, tapi setidaknya, ia tahu tentang Zayn sebagai siswa paling ditakuti di sekolah.

Seragam Zayn ternoda dengan warna merah mencolok dari cat air murahan yang Azalea bawa. Gadis itu tidak sengaja menabraknya saat berjalan di koridor kelas sambil membawa seabrek perlengkapan melukis.

"Kamu mau cuci bajuku pakai deterjen murahan?" sahut Zayn, kali ini dengan senyum miring. "Tidak usah. Aku punya alergi dengan produk orang miskin."

Tawa anak-anak lain menggema di sepanjang koridor. Konflik antara murid beasiswa dengan anak pemilik sekolah menjadi tontonan menarik.

Zayn menatap Azalea yang kini membulatkan bibirnya tanpa bisa berkata sedikit pun. Gadis itu mungkin syok dengan ucapan setinggi langit Zayn.

"Namamu Lea?" Zayn membungkukan badannya dan mendekatkan wajah untuk bisa melihat ekspresi tertekan gadis yang lebih pendek itu dengan lebih jelas.

Azalea mengangguk patah-patah. "Kalau tidak mau kucucikan, apa kamu ingin aku ganti dengan yang baru? Aku akan membelinya sesuai ukuranmu."

Meski miskin, Azalea bukan pribadi yang lembek dan tidak bertanggung jawab. Sejak kecil, ia selalu diajari attitude yang cukup baik. Jadi tidak masalah jika nanti harus menabung ekstra untuk bisa ganti rugi.

Tawaran Azalea membuat para siswa kembali tertawa.

"Lea, Lea," kekeh Ezra--teman Zayn yang sejak tadi menyimak, sekarang berdiri di samping Azalea.

"Kamu tahu tidak berapa harga seragam milik Zayn? Kira-kira dua puluh atau tiga puluh juta?"

"Apa?" Azalea seolah salah dengar. Gadis itu melotot kaget.

Kalau harganya puluhan juta, pantas saja tidak mau sembarangan orang mencucinya!

"Hey, udik! Kamu kaget banget. Wajar harga segitu, Zayn kan seorang tuan muda dari keluarga konglomerat," imbuh siswa lain, ikut memprovokasi dan membuat suasana makin panas.

Azalea menelan ludahnya, menatap Zayn dengan nyali mulai menciut. Padahal selama seminggu ini, Azalea sudah berusaha keras untuk tidak membuat masalah di sekolah ini. Hidup tenang dengan menjadi siswa yang tidak mencolok. Tapi sial memang tidak bisa ditawar.

"Z--Zayn ... Aku tahu aku salah, aku tidak akan lepas tanggung jawab. Kamu bisa meminta pertanggungjawaban lain. Aku akan mengusahakannya."

Hah!

Zayn menyentak napasnya, ia lalu mengusap noda di seragamnya dengan gerakan pelan namun menekan.

"Aku tahu kemampuan siswa miskin seperti kamu, ganti rugi juga tidak mungkin. Tapi kamu bisa bertanggung jawab dengan cara menyenangkanku, bagaimana?"

Hinaan Zayn memang terdengar kasar, namun Azalea tidak kaget akan itu, karena hampir satu sekolah ini memang menyebutnya sebagai anak miskin. Siapa lagi yang masuk dari jalur beasiswa di sekolah elit ini? Namanya dikenal hampir semua murid.

"Boleh, jadi apa yang harus aku lakukan?" Azalea tersenyum, sedikit lega.

Zayn menanggapi respon cekatan itu dengan senyum mengejek.

"Aku butuh babu selama seminggu. Kalau kamu tidak keberatan melakukan itu, aku akan coba pertimbangkan untuk membiarkanmu tetap berada di sekolah ini," kata Zayn lugas sambil jemarinya menekan kening Azalea, meninggalkan noda merah dari cat air.

"Ba--bu?" gumam Azalea mengusap keningnya yang terasa lengket.

"Iya! Babu, sama dengan pelayan, pembantu, jongos!" sela para siswa di belakang Zayn itu dengan tawa menyebalkan.

Sedangkan Zayn mulai berbalik dan melangkah, meninggalkan keramaian yang berkerubung di sekitar mereka.

Ezra ikut menyusul, namun sebelum itu dia tersenyum pada Azalea. "Sampai bertemu lagi … di luar sekolah, kalau-kalau Zayn meminta orang tuanya untuk mencabut beasiswamu!"

"A--pa? Tapi, tapi--" Azalea tidak bisa lagi protes, pemuda paling berkuasa di sekolah itu sudah jauh dan tidak mungkin mau bernegosiasi lagi.

Azalea menghela napas, hanya dia yang terlihat penuh beban, berbeda dengan anak-anak lain yang tersenyum sinis ke arahnya. Sebagian justru merasa puas.

"Lea, oh, Lea, aku yakin enggak sampai seminggu deh, paling lama tiga hari kamu ikut Zayn, pasti udah mohon-mohon minta keluar dari sekolah ini sendiri," cibir Yiyi.

"Betul, kamu bisa pergi tanpa cacat dari Zayn saja udah termasuk keajaiban!" timpal yang lain membuat Azalea menelan ludah gugup.

Hingga di jam pelajaran selesai, Azalea langsung pulang. Siang itu, ia sudah berjanji membantu ibunya mengantar jahitan ke klien.

"Saya pasti akan bayar, Bu, tolong jangan bawa mesin jahitnya." Suara memohon ibunya menghentikan langkah Azalea yang kini berada di jalan masuk kontrakan.

Ia lihat ibunya yang sedang memohon pada pemilik kontrakan, bahkan bersimpuh dengan duduk di teras.

"Kalau tidak ada mesin jahit, bagaimana saya bisa kerja dan cari uang? Lea juga baru masuk sekolah baru, saya harus bekerja agar dia tetap bisa mengenyam pendidikan. Saya mohon--"

Tangan Azalea terkepal. Ada yang terasa nyeri di dadanya, matanya memanas karena air mata yang berdesakan ingin keluar.

Pemilik kontrakan menghela napas kesal. "Saya kasih kamu waktu seminggu, uang kontrakan bulan ini dan bulan kemarin harus kamu lunasi!"

Dina, ibu Azalea, mendongak penuh rasa syukur, setidaknya masih punya waktu untuk berusaha.

"Baik, Bu! Saya pasti akan membayarnya."

Harapan ibunya begitu besar. Azalea jadi merasa bersalah, keperluan sekolah yang mahal itu pasti yang membuat ibunya sampai menunggak uang kontrakan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 134 Hadiah dari Kakak Kelas

    Azalea menggeleng.​"Katakan saja."​"Tidak ada. Tidak ada apa pun!" jawab Azalea ketus.​Kening Zayn berkerut dalam, dan sebelah alisnya terangkat. "Kamu yakin?"​"Sudah kubilang tidak ada apa-apa..."​Belum sempat Azalea menyelesaikan kalimatnya, Zayn menarik lengan gadis itu dengan sentakan kuat. Tubuh Azalea terpelanting ke depan hingga menabrak dada Zayn, yang kini posisi duduknya bersandar di tepi meja.​Zayn kembali menahan tubuh Azalea dengan merangkul erat pinggangnya, persis seperti kejadian kemarin. Ia kemudian memaksa gadis itu mendongak menatapnya dengan menekan dagunya ke atas.​"Apa yang kamu lakukan, Zayn?!" protes Azalea tidak nyaman. Ia mencoba memberontak, tetapi sepasang tangan Zayn terlalu kuat untuk ia lawan.​"Lea, kamu tahu aku paling tidak suka diacuhkan?"​"Siapa yang mengacuhkanmu? Tidak sama sekali!" berontak Azalea. Ia tidak mau tinggal diam dan terus mencoba melepaskan diri dari kungkungan Zayn.​"Lalu kenapa wajahmu ditekuk sepanjang hari?"​"Apa?" Azale

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 133 Kamu Tetap Di Sini Babu!

    Alya terdiam dengan gigi bergemertak. Ia membatin geram, sepertinya karena terlalu dimanja oleh Zayn, babu ini jadi semakin tidak tahu diri! Karena Azalea sudah secara terang-terangan menantangnya untuk berperang, Alya merasa tidak perlu segan-segan lagi. ​"Lea, kamu sungguh sangat berani! Apa kamu sepercaya diri itu karena yakin Zayn akan selalu mendukungmu?" Alya kembali memprovokasi. Ucapannya selalu pedas, diiringi dengan lirikan sinis yang tajam.​"Kalau iya, memangnya kenapa? Zayn memang sangat bermurah hati padaku—"​Refleks, Alya tertawa lepas mendengar jawaban itu. "Lea, ternyata kamu sepolos itu, ya? Sekalipun Zayn membelamu, jika dibandingkan dengan keluarganya sendiri, kamu itu tidak ada artinya! Zayn tetaplah Zayn!"​Kening Azalea berkerut dalam. Ia kurang paham dengan arah pembicaraan Alya.​"Asal kamu tahu, Lea—" Alya melangkah semakin dekat lalu berbisik tepat di telinga Azalea. "Zayn itu selalu berpikir realistis. Ia hanya akan mendukung orang yang bisa memberinya

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 132 Azalea Menantang Alya

    ​"Zayn, kamu gila sekali hari ini! Kita semua dapat masalah karena sikap impulsifmu itu!" omel Ezra setelah mereka keluar dari ruang sidak.​Ia terus mendumal seperti kebiasaannya. Di sampingnya, Zayn tetap berjalan dengan tegap dan tenang, seolah tidak baru saja menerima hukuman.​Ezra masih kesal sekaligus heran. Kenapa Zayn yang biasanya selalu bertindak rasional dengan alasan yang jelas, tiba-tiba bersikap tidak sportif hari ini? Kerusuhan di lapangan tadi—Zayn adalah biang keroknya! Zayn yang memulai semuanya dengan sengaja melemparkan bola ke arah lawan dan membidik tepat di kepalanya.​"Zayn! Apa kamu sungguh sengaja melakukannya? Apa masalahnya sampai kamu tiba-tiba semarah itu?"​"Tidak ada. Aku hanya kesal," jawab Zayn datar.​"Pada Rudy? Apa ia pernah membuat masalah denganmu?" cecar Ezra lagi. Rudy adalah siswa yang menjadi target pertama emosi Zayn tadi.​"Tidak. Aku hanya kesal pada seseorang."​Kening Ezra berkerut dalam, membuat ekspresi bingungnya terlihat semakin kon

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 131 Miliknya Seutuhnya

    Zayn menatapnya lekat-lekat. Jarak di antara mereka mendadak terkikis begitu dekat. Tangan kekar pemuda itu bahkan tiba-tiba menarik pinggang Azalea, membuat gadis itu tersentak dan hampir terduduk di pangkuan Zayn. ​"Menurutmu?!" bisik Zayn rendah. ​Azalea tertegun sesaat. Jantungnya berdebar tidak karuan, merasa gugup dengan respons Zayn yang ia pikir hanya sedang iseng menjahilinya. ​Gadis itu berdeham canggung. Ia meringis pelan sambil berusaha melepaskan rangkulan tangan Zayn yang melingkar di pinggangnya. ​"Yah, aku yakin kamu yang paling bersemangat untuk itu. Demi membela teman," jawab Azalea Ia mencoba mencairkan suasana dengan setengah menyindir. ​Namun, pelukan tangan Zayn di pinggangnya tetap erat, tidak merenggang sedikit pun. Pada saat itulah Azalea sadar bahwa Zayn sama sekali tidak sedang bercanda. Sorot mata dan garis wajahnya yang kaku menunjukkan bahwa ada masalah yang sedang mengusik pikirannya. ​"Zayn, ada apa?" tanya Azalea kemudian, saat ia merasak

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 130 Zayn Gagal Fokus

    ​"Kamu sungguh melakukan ini juga?" Sebelah alis Zayn terangkat. Ia menatap Azalea dengan pandangan yang berbeda dari biasanya.​"Maafkan aku, Zayn," kata Azalea lirih.​"Apa ada yang ingin kamu jelaskan lagi?" tanya Zayn sebelum pergi. Raut wajah Azalea yang tampak berat membuat ia curiga ada hal lain yang disembunyikan.​Azalea menunduk sambil meremas jari-jarinya. Ia merasa tidak percaya diri. Setelah semua rahasia ini terbongkar, ia takut Zayn akan memandangnya dengan buruk.​Dengan ragu, Azalea mendongak. "Zayn, bolehkah aku tahu hasil tes DNA itu? Aku belum sempat melihatnya—"​Zayn tidak langsung menjawab. Ia menatap Azalea lekat-lekat.​"Lea, kamu melakukan tes ini diam-diam saja sudah salah. Sekarang kamu malah masih penasaran dengan hasilnya?"​Azalea langsung terdiam dan mengatupkan bibirnya. Ia sadar tindakannya keliru. Namun, andai Zayn tahu bahwa ia juga berhak tahu karena statusnya sebagai anak kandung Marvel, apakah Zayn akan memberinya kesempatan?​""Kamu tenangkan pi

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 129 Masalah Ini Belum Selesai!

    Marta melihat anak kecil yang berdiri ketakutan di belakang ibunya, sementara sang ibu terlihat tetap tenang dan percaya diri. Natasya bahkan masih sempat memberikan senyum sinis penuh cibiran pada wanita mandul itu. "Zayn," Suara Marta menarik ketegangan. Ia mendekat lalu menahan keponakannya yang hendak memberi bogem mentah. "Apa yang terjadi?" "Kamu bahkan bilang pada Marta?!" Keterkejutan Marvel tidak bisa dibohongi. Kedatangan istrinya membuatnya panik. Gigi Marvel gemertak. Ia masih bisa mengatasi jika kepergok oleh Azalea dan Zayn, tapi ia tidak menyangka para bocah ingusan itu akan dengan cepat menghubungi istrinya. Marvel menggeleng pelan, ia merasa sudah terperosok jatuh sekarang. akan sangat sulit membela diri. Namun ia masih ingin mempertahankan rumah tangganya. Yah, ia masih butuh Marta untuk tetap di sampingnya dan menopangnya sebagai istri yang terhormat. "Jelaskan pada tanteku! Siapa dia!" Tunjuk Zayn pada Natasya. Suara Zayn tegas dan juga penuh penekanan. M

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 12 Gosip Murahan

    Ezra langsung bicara blak-blakan.​"A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.​Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea.​"Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 6 Aku Masih Butuh Babu

    "Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 5 Minta Maaf Pada Babuku!

    Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 4 Anak Ini Milikku

    Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status