Home / Romansa / Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah! / Bab 3 Balas Dendam Ratu Sekolah

Share

Bab 3 Balas Dendam Ratu Sekolah

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-05-13 19:20:45

Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya.

"Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn.

Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti."

Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya.

"Bantu aku mengelapnya," titahnya, membuat Azalea dengan kikuk berjinjit untuk bisa mengusap keringat di lengan dan leher Zayn, sedangkan Zayn santai meminum minumannya.

Adegan itu sontak membuat semua anak perempuan lain merasa iri. Terutama Yiyi yang mencebik sinis. Ternyata, jadi pelayan untuk Zayn tidak seburuk itu, malahan bisa dekat dengan Zayn tanpa harus susah payah bersaing!

Azalea terus mengikuti langkah Zayn, kewalahan karena tugasnya semakin berat.

Setelah bermain basket, Zayn dan teman-temannya masuk ke ruang eksklusif yang hanya boleh dimasuki oleh kelompok pemuda paling berkuasa di sekolah.

Anggota tetapnya ada lima, yaitu Zayn, Ezra, Haikal, dan si kembar Varan dan Varel. Hanya si kembar yang tidak hadir karena masih berada di luar negeri.

Azalea berdiri bengong di dekat sofa, ia baru tahu ada ruangan khusus seperti ini sekolahnya. Interiornya mirip apartemen eksekutif.

"Apa aku sudah boleh pergi?" tanya Azalea pada Zayn yang kini duduk santai di sofa sambil bermain ponsel.

"Apa ini sudah satu minggu?" Zayn balik bertanya acuh dengan sesuatu yang membuat Azalea mengatupkan bibirnya. Ini bahkan baru satu hari!

Mendengarnya, Haikal dan Ezra saling lirik. Mereka tahu, tidak mungkin semudah itu si babu bisa lolos. Zayn pasti akan menyulitkannya.

​"Zayn, bel sudah bunyi, aku harus masuk kelas. Aku duluan, ya?"

"Pergilah, kalau mau kamu dikeluarkan dari sekolah ini besok," jawab Zayn singkat, tapi langsung membuat Azalea membeku di tempat.

Dari gaya bicaranya, Azalea merasa anak ini tidak main-main dengan ucapannya. Zayn disebut raja sekolah bukan tanpa alasan.

Masalahnya, status beasiswa Azalea sedang menjadi pantauan para guru sebagai bahan evaluasi. Prestasi, nilai, dan performa Azalea di sekolah ini menentukan nasibnya ke depan.

"Aku janji akan ke sini lagi jam istirahat kedua! Aku tidak akan telat--"

"Kenapa kamu suka sekali membuatku mengulang dua kali?" Suara tajam Zayn membuat ruangan hening seketika.

Laki-laki itu berdiri dan menarik dagu Azalea dengan kasar hingga gadis itu mendongak. Tapi ia terdiam melihat air mata menggenang di mata Azalea.

Saat itu, Azalea sedang kepikiran ibunya jika ia tahu Azalea dikeluarkan dari sekolah karena tidak mampu bertahan dari tekanan anak-anak kaya.

"A-aku mohon, Zayn, aku juga bisa dikeluarkan kalau aku tidak masuk kelas tepat waktu…" pinta Azalea dengan lirih.

Zayn menepis pegangannya dari dagu Azalea dengan kasar, lalu membuang muka.

"Baiklah, sana pergi," kata Zayn.

Sontak Haikal dan Ezra saling tatap dengan mata membulat tidak percaya.

Azalea mengangguk dengan semangat, lega karena lelaki itu mengizinkannya. "Zayn, terima kasih!"

Azalea buru-buru keluar dari ruangan itu.

Ezra bangkit dari duduknya, dia menyusul ke arah pintu melihat punggung gadis itu benar-benar menjauh dari ruangan ini tanpa kesulitan apa pun.

"Zayn, apa kamu sadar?" tanya Ezra memastikan.

Zayn tidak menjawab, ia hanya bangkit dengan santai, lalu berjalan keluar.

"Kamu mau ke mana?"

"Kelas. Sekarang pelajaran Biologi."

Ezra dan Haikal kembali saling pandang, kali ini tidak hanya Ezra, tapi juga Haikal yang biasanya terkendali kini sampai melongo.

"Menurutmu dia sedang memberi belas kasih detik ini agar di lain kesempatan bisa membabat habis gadis itu?" bisik Ezra pada Haikal yang ikut mengernyit heran.

"Entahlah. Kamu dengar yang dia bilang tadi? Dia mau ikut pelajaran katanya. Apa dia tidak salah makan? Ada yang salah dengan otaknya."

***

Pelajaran siang itu selesai. Azalea menghela napas lega. Ia berhasil masuk tepat waktu dan mengikuti kelas dengan baik.

Brak! Pintu terbuka dengan keras. Semua murid menoleh.

"Siapa di sini yang bernama Lea?!" tegas suara seorang anak perempuan yang tiba-tiba masuk ke kelas itu.

Semua anak-anak yang tersisa di ruang kelas terdiam, menunjuk Azalea yang sedang duduk sendiri sambil membereskan buku.

Mendengar namanya disebut, tentu saja Azalea mendongak bingung.

"Kamu yang bernama Lea?" Gadis paling populer di sekolah--Alya, kini berdiri di dekat meja Azalea.

"Benar, ada apa?" Azalea mengangguk dan berdiri.

Alya bersedekap, menatap ke arah Azalea penuh amarah.

"Kamu yang bantu Bu Manda bawa kertas hasil ulangan di kelasku kan? Apa kamu sengaja menghilangkan punyaku?"

"Apa? Maksudnya?"

Wajah polos Azalea semakin membuat Alya kesal. Tentu saja, sebab kecerobohan Azalea yang menghilangkan kertas ulangannya berakhir pada Alya yang tidak dapat nilai karena guru mengira dia tidak mengumpulkannya.

"Bawa dia!" Tanpa penjelasan, Alya menyuruh dua pengikutnya untuk menyeret Azalea.

"Eh, apa? Lepas!" berontak Azalea. "Kenapa aku harus mengikutimu? Aku masih banyak tugas. Kalau kamu ingin bermain, lebih baik besok saja--"

"Bermain?" Alya tertawa sumbang. Ia berjalan dengan segudang rencana di otaknya untuk balas dendam.

Mereka membawa gadis itu ke arah area sekolah yang cukup sepi. Teman sekelas Azalea melihatnya, namun tidak ada satu pun yang coba membantunya lepas dari cekalan geng Alya, sang ratu sekolah itu.

Yiyi dan yang lain juga tahu, namun mereka justru tertawa puas.

"Lihat, ratu sekolah sudah beraksi. Kita tinggal menunggu, apa yang akan terjadi pada gadis udik itu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 235 Kehamilan Terungkap di Publik

    "Alya, aku sangat sibuk. Kalau kamu menahanku hanya untuk bicara tak penting, lebih baik menyingkir," ucap Azalea tegas, menatap Alya tanpa ragu sedikit pun.​Ia lalu kembali melangkah. Karena Alya berdiri memblokir jalannya, Azalea mendorong pelan lengan gadis itu agar bisa lewat. Namun, secara tak terduga, Alya justru memanfaatkan dorongan kecil itu untuk sengaja menjatuhkan diri ke lantai.​"Ah! Kenapa kamu mendorongku, Lea?!" pekik Alya.Suara pekikannya sengaja dibuat keras untuk menarik perhatian semua orang. Seketika, keriuhan di panti berhenti. Sorot kamera wartawan yang tadinya meliput acara langsung beralih ke arah mereka.​Para tamu, sukarelawan, hingga Adinata mendekat. Mereka menjadikan Alya dan Azalea pusat perhatian. Alya terduduk di lantai sambil memegangi perutnya dengan raut wajah kesakitan—menampilkan akting teraniaya yang sempurna di depan media.​Azalea mematung di tempatnya. Ia sama sekali tak menyangka Alya nekat bermain drama semenjijikkan ini di depan banya

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 234 Keluarga Adinata di Panti

    "Raven itu bukan anggota inti Black Viper--" Varan menambahkan. "Apa kamu punya masalah dengannya? Atau saat pertandingan basket kemarin dia menyinggungmu?" Lanjut Ezra yang juga penasaran. Otaknya tidak bisa lepas dari saat-saat mereka bertanding basket. Zayn masih menatap lurus, namun matanya menyipit seolah sedang membayangkan ada target di depannya. "Karena--" Zayn tampak enggan bicara, namun teman-temannya itu terus mendesak. "Yuda mengusik Lea, hampir saja dia melukainya. Dan Raven, dia terlibat hal besar soal ini," Zayn bicara masih dengan kalimat yang sulit dipahami oleh temannya. Namun semakin panjang mereka paham, ternyata tujuan pertama Zayn memang bukan Yuda, tapi punya konflik sendiri dengan Raven. "Ah begitu--" Varel bersuara. "Karena kamu punya masalah sendiri dengan Raven, aku tak perlu segan lagi. Ayo kita lakukan sesuai keinginanmu." "Kita buat mereka kapok, baik Raven atau pun anggota Black Viper lainnya!" Varan menyahut dengan semangat. Sedangkan Ezra masih t

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 233 Bertarung dengan Raven

    Azalea bergegas pamit setelah memastikan Raven mampu berdiri sendiri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Zayn, Azalea langsung menaiki dan mengayuh sepedanya sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Hatinya diselimuti rasa sedih sekaligus kecewa karena melihat perubahan sikap Zayn yang dinilainya terlalu berbahaya.​Sementara itu, Zayn berdiri mematung di samping motor besarnya. Angin pagi menampar wajahnya yang dingin, membekukan sisa-sisa amarah yang baru saja meledak. Matanya menatap lurus pada punggung Azalea yang kian menjauh dan akhirnya menghilang di balik tikungan jalan.​Ia bergeming. Tidak ada niat untuk mengejar, tidak pula ada gerakan untuk memanggil nama gadis itu kembali. Rasa takut menyeruak di benak Zayn bukan takut akan ancaman musuh-musuhnya, melainkan takut bahwa ketakutan Azalea padanya justru akan mendorong gadis itu makin jauh dari pelukannya.​Zayn menarik napas panjang, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara dirinya dan Raven yang masih berdiri b

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 232 Kecewa

    ​"Arrgggh!"​Pekikan sakit terlontar kuat dari tenggorokan Raven. Cengkeraman Zayn di pergelangan tangannya terlalu kuat, memutar sendi itu ke titik paling krusial hingga terasa hendak lepas. Urat-urat di leher dan lengan Raven menegang, menahan rasa panas dan nyeru yang menjalar parah. Namun, harga diri memaksa pemuda itu menolak untuk memohon.​Azalea yang melihatnya mendadak ngilu. Bulu kuduknya meremang melihat kilat di mata Zayn—dingin, tajam, dan penuh dominasi. Itu bukan lagi raut Zayn yang biasa dilihatnya, melainkan tatapan seekor predator yang siap mematahkan leher mangsanya tanpa ragu. Ada api cemburu dan kebencian yang meletup-letup di sana, murka karena ada pria lain yang secara terang-terangan berani mengusik miliknya.​"Zayn, sudah! Lepaskan tanganmu!" pinta Azalea panik, jemarinya bergerak cepat menarik lengan jaket Zayn.​Zayn tidak bergeming sedikit pun. Cengkeramannya malah semakin kuat.​"Zayn, lengan Raven bisa patah jika kamu memelintirnya terus!" jerit Azalea

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 231 Protektif

    "Mau bicara dengan Kakek?" Adinata memelankan suaranya, tatapannya pada sang cucu melunak, mencoba membujuk agar Zayn mau mengikutinya. Zayn menghela napas panjang, namun ia tetap menuruti keinginan kakeknya. Ia berbalik dan berjalan membuntuti Adinata ke ruang privat pria itu. *** Keesokan paginya, Azalea memutuskan untuk berangkat sekolah sendiri. Setelah beberapa hari belakangan selalu bersama Zayn yang mengawasinya secara ketat. Kini ia kembali mengayuh sepedanya seorang diri menyusuri jalanan pagi yang cukup lengang. ​Udara pagi terasa sejuk menyentuh kulit, namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat ia membelok di salah satu tikungan dekat area kompleks ruko lama, laju sepedanya terhenti. ​Seorang pemuda bertubuh tinggi berdiri menghalangi jalannya. Raven. ​Pemuda itu tampak berantakan dan frustrasi, dengan napas sedikit memburu. Sudah beberapa hari ini ia menunggu Azalea di jalur yang biasa dilewati gadis itu, namun Azalea tak pernah muncul karena selalu ber

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 230 Siasat Licik Alya.

    Sementara itu, di kamar lain Alya berdiri membelakangi pintu yang terkunci rapat. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, matanya menatap tajam ke arah luar jendela.​Ia menempelkan ponselnya ke telinga setelah sambungan telepon terhubung.​"Aku masih punya waktu di sini, sebelum mereka menuntut untuk melakukan tes DNA," bisik Alya setengah menekan suaranya agar tidak terdengar sampai luar. "Tapi sebelum mereka curiga, lebih baik kamu bantu aku lenyapkan Zayn!"​Suara seseorang di seberang sana terkekeh pelan—sebuah tawa santai yang terdengar licik. ​"Ah, soal itu kamu tenang saja," sahut Rico dari balik telepon, nada bicaranya begitu tenang seolah tanpa beban. "Aku bisa melakukannya. Tapi bagaimana kondisi bayi kita?"​"Baik," jawab Alya cepat, tanpa ragu sedikit pun. "Kamu tidak perlu cemas."​Rico tersenyum puas di balik layar ponselnya. Rencananya berjalan mulus sejauh ini. Meski ia hanya menjadi pendukung Alya, namun Rico melakukannya dengan penuh minat. Keduanya bertemu di k

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 27 Dalam Dekapan Zayn

    Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 12 Gosip Murahan

    Ezra langsung bicara blak-blakan.​"A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.​Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea.​"Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 6 Aku Masih Butuh Babu

    "Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!   Bab 5 Minta Maaf Pada Babuku!

    Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status