Mag-log inTatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya.
"Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu aku mengelapnya," titahnya, membuat Azalea dengan kikuk berjinjit untuk bisa mengusap keringat di lengan dan leher Zayn, sedangkan Zayn santai meminum minumannya. Adegan itu sontak membuat semua anak perempuan lain merasa iri. Terutama Yiyi yang mencebik sinis. Ternyata, jadi pelayan untuk Zayn tidak seburuk itu, malahan bisa dekat dengan Zayn tanpa harus susah payah bersaing! Azalea terus mengikuti langkah Zayn, kewalahan karena tugasnya semakin berat. Setelah bermain basket, Zayn dan teman-temannya masuk ke ruang eksklusif yang hanya boleh dimasuki oleh kelompok pemuda paling berkuasa di sekolah. Anggota tetapnya ada lima, yaitu Zayn, Ezra, Haikal, dan si kembar Varan dan Varel. Hanya si kembar yang tidak hadir karena masih berada di luar negeri. Azalea berdiri bengong di dekat sofa, ia baru tahu ada ruangan khusus seperti ini sekolahnya. Interiornya mirip apartemen eksekutif. "Apa aku sudah boleh pergi?" tanya Azalea pada Zayn yang kini duduk santai di sofa sambil bermain ponsel. "Apa ini sudah satu minggu?" Zayn balik bertanya acuh dengan sesuatu yang membuat Azalea mengatupkan bibirnya. Ini bahkan baru satu hari! Mendengarnya, Haikal dan Ezra saling lirik. Mereka tahu, tidak mungkin semudah itu si babu bisa lolos. Zayn pasti akan menyulitkannya. "Zayn, bel sudah bunyi, aku harus masuk kelas. Aku duluan, ya?" "Pergilah, kalau mau kamu dikeluarkan dari sekolah ini besok," jawab Zayn singkat, tapi langsung membuat Azalea membeku di tempat. Dari gaya bicaranya, Azalea merasa anak ini tidak main-main dengan ucapannya. Zayn disebut raja sekolah bukan tanpa alasan. Masalahnya, status beasiswa Azalea sedang menjadi pantauan para guru sebagai bahan evaluasi. Prestasi, nilai, dan performa Azalea di sekolah ini menentukan nasibnya ke depan. "Aku janji akan ke sini lagi jam istirahat kedua! Aku tidak akan telat--" "Kenapa kamu suka sekali membuatku mengulang dua kali?" Suara tajam Zayn membuat ruangan hening seketika. Laki-laki itu berdiri dan menarik dagu Azalea dengan kasar hingga gadis itu mendongak. Tapi ia terdiam melihat air mata menggenang di mata Azalea. Saat itu, Azalea sedang kepikiran ibunya jika ia tahu Azalea dikeluarkan dari sekolah karena tidak mampu bertahan dari tekanan anak-anak kaya. "A-aku mohon, Zayn, aku juga bisa dikeluarkan kalau aku tidak masuk kelas tepat waktu…" pinta Azalea dengan lirih. Zayn menepis pegangannya dari dagu Azalea dengan kasar, lalu membuang muka. "Baiklah, sana pergi," kata Zayn. Sontak Haikal dan Ezra saling tatap dengan mata membulat tidak percaya. Azalea mengangguk dengan semangat, lega karena lelaki itu mengizinkannya. "Zayn, terima kasih!" Azalea buru-buru keluar dari ruangan itu. Ezra bangkit dari duduknya, dia menyusul ke arah pintu melihat punggung gadis itu benar-benar menjauh dari ruangan ini tanpa kesulitan apa pun. "Zayn, apa kamu sadar?" tanya Ezra memastikan. Zayn tidak menjawab, ia hanya bangkit dengan santai, lalu berjalan keluar. "Kamu mau ke mana?" "Kelas. Sekarang pelajaran Biologi." Ezra dan Haikal kembali saling pandang, kali ini tidak hanya Ezra, tapi juga Haikal yang biasanya terkendali kini sampai melongo. "Menurutmu dia sedang memberi belas kasih detik ini agar di lain kesempatan bisa membabat habis gadis itu?" bisik Ezra pada Haikal yang ikut mengernyit heran. "Entahlah. Kamu dengar yang dia bilang tadi? Dia mau ikut pelajaran katanya. Apa dia tidak salah makan? Ada yang salah dengan otaknya." *** Pelajaran siang itu selesai. Azalea menghela napas lega. Ia berhasil masuk tepat waktu dan mengikuti kelas dengan baik. Brak! Pintu terbuka dengan keras. Semua murid menoleh. "Siapa di sini yang bernama Lea?!" tegas suara seorang anak perempuan yang tiba-tiba masuk ke kelas itu. Semua anak-anak yang tersisa di ruang kelas terdiam, menunjuk Azalea yang sedang duduk sendiri sambil membereskan buku. Mendengar namanya disebut, tentu saja Azalea mendongak bingung. "Kamu yang bernama Lea?" Gadis paling populer di sekolah--Alya, kini berdiri di dekat meja Azalea. "Benar, ada apa?" Azalea mengangguk dan berdiri. Alya bersedekap, menatap ke arah Azalea penuh amarah. "Kamu yang bantu Bu Manda bawa kertas hasil ulangan di kelasku kan? Apa kamu sengaja menghilangkan punyaku?" "Apa? Maksudnya?" Wajah polos Azalea semakin membuat Alya kesal. Tentu saja, sebab kecerobohan Azalea yang menghilangkan kertas ulangannya berakhir pada Alya yang tidak dapat nilai karena guru mengira dia tidak mengumpulkannya. "Bawa dia!" Tanpa penjelasan, Alya menyuruh dua pengikutnya untuk menyeret Azalea. "Eh, apa? Lepas!" berontak Azalea. "Kenapa aku harus mengikutimu? Aku masih banyak tugas. Kalau kamu ingin bermain, lebih baik besok saja--" "Bermain?" Alya tertawa sumbang. Ia berjalan dengan segudang rencana di otaknya untuk balas dendam. Mereka membawa gadis itu ke arah area sekolah yang cukup sepi. Teman sekelas Azalea melihatnya, namun tidak ada satu pun yang coba membantunya lepas dari cekalan geng Alya, sang ratu sekolah itu. Yiyi dan yang lain juga tahu, namun mereka justru tertawa puas. "Lihat, ratu sekolah sudah beraksi. Kita tinggal menunggu, apa yang akan terjadi pada gadis udik itu?"Jika saat itu Kakek Adinata yang memberi cincin untuk Azalea sebagai perwakilan keluarga Adinata, sekarang Zayn memberikannya langsung. Ia memesannya sendiri, cincin lamaran yang diukir nama Zayn dan Azalea dengan sangat indah. "A-ku mau Zayn." Azalea mengulurkan jemarinya saat Zayn hendak menyelipkan cincin itu. Senyum Azalea merekah, matanya berbinar haru. Ia lalu berbalik dan menatap ke arah inkubator. "Sayang, lihat! Ayahmu melamar Mama!" Azalea mengangkat jemarinya dan mendekatkannya ke arah inkubator. Ia tahu anaknya belum bisa lihat, namun kebahagiaan itu pasti juga si kembar rasakan. Zayn dan Azalea lalu pulang. Keduanya pergi bersama, sepanjang jalan melawati kota terang yang penuh dengan warna-warni lampu. Sedikit berbeda dari tempat asal mereka, namun suasana romantis di mana pun tetap bisa mereka rasakan. *** Kediaman Adinata masih sama, yang membuat berbeda adalah sekarang ada ruangan khusus yang dijadikan sebagai kamar si kembar. Adinata menyambut kedatanga
Telinga Zayn berdengung. Suara-suara di sekitarnya terdengar sangat jauh dan terdistorsi, seolah berada di dalam air. Saat kesadarannya ditarik paksa ke permukaan, rasa sakit menusuk kepalanya."Arrrrghhh!" Zayn mengerang lemah. Tangannya mencoba terangkat untuk memegang kepala, tetapi gerakannya sangat berat dan bergetar hebat.Ezra dan yang lainnya tersentak panik. Tanpa membuang waktu, Ezra berteriak memanggil dokter yang bersiaga di rumah itu."Dia sadar? Apa Zayn benar-benar sadar?" gumam Ezra cemas, mondar-mandir sembari memperhatikan dokter yang buru-buru memeriksa refleks dan pupil mata Zayn.Adinata yang mendengar keributan dari lantai bawah bergegas naik. Langkah kakinya terhenti di ambang pintu, matanya berkaca-kaca menatap sang cucu di atas ranjang. Setelah satu tahun koma, tubuh Zayn yang terbaring kaku itu akhirnya menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dadanya naik turun dengan napas yang nyata."Bagaimana kondisinya, Dok?" suara Adinata bergetar saat menghampiri r
Waktu berputar begitu cepat, berbulan-bulan yang terasa sangat singkat untuk Azalea berhasil menghabiskan waktunya di sekolah elit. Sekolah yang saat pertama kali ia datang disambut dengan banyak kemalangan, namun karena itu juga ia menemukan pelindungnya. Tepat setelah ujian nasional selesai Azalea langsung dikirim ke luar negeri oleh keluarga Adinata untuk melakukan program bayi tabung. Ia sungguh-sungguh akan menjadi menantu keluarga Adinata dengan mengandung calon pewaris. Sedangkan Zayn, ia juga menjalani pengobatan. Beberapa kali keluarga Adinata mengundang dokter ahli dari berbagai negera, pernah juga Zayn yang dibawa langsung ke salah satu rumah sakit terkenal di luar. Sayangnya, kondisinya masih koma meski menunjukan beberapa perubahan yang baik. Saat ini pemuda itu terbaring, baru saja selesai diperiksa. Teman-temannya yang sejak tadi menunggu akhirnya diperbolehkan untuk masuk menjenguknya. "Zayn, kami datang." Suara Ezra yang paling nyaring di antar yang lain. V
Dokter mengangguk.“Ya. Operasi pertama baru salah satu dari serangkaian tindakan yang harus dilakukan. Kami perlu terus memantau kondisi otaknya dan memastikan tidak terjadi komplikasi yang lebih parah.”Azalea merasa kedua kakinya kembali kehilangan tenaga.Ezra segera berdiri di sampingnya dan menopang tubuhnya.“Dokter...” suara Azalea hampir tidak terdengar. “Berapa besar kemungkinan dia selamat?”Dokter terdiam sejenak.“Kami akan melakukan segala yang kami bisa. Tetapi saya harus jujur, dua puluh empat jam ke depan sangat penting.”Azalea menatap dokter itu dengan mata berkaca-kaca. “Bolehkah saya melihatnya?”“Belum sekarang. Setelah kondisinya cukup stabil, pasien akan dipindahkan ke ICU.”Azalea mengangguk perlahan. Dia kembali menatap pintu ruang operasi. ***Satu bulan setelah insiden. Azalea keluar dari kelas, pelajaran sudah selesai harusnya ia pulang namun kali ini langsung ke rumah sakit. Ia datang sendiri, sudah biasa setiap hari Azalea akan menyempatkan waktunya u
Azalea berlari begitu cepat, bahkan tidak lagi mempedulikan sekitar saat Ezra bilang Zayn hampir sampai di rumah sakit namun kondisinya tidak sadar. Azalea menyambut di depan saat brankar yang membawa tubuh Zayn baru saja turun dari ambulans. "Zayn!" Azalea langsung mencengkeram pinggiran brankar dan ikut berlari mendorongnya menunju IGD. "Zayn, kamu harus bertahan. Zayn--" Azalea menggenggam tangan yang terasa lemas dan tidak bergerak itu. Sekilas ia lihat wajah Zayn gang juga pucat dan dipenuhi dengan luka lebam juga luka terbuka. Azalea hanya bisa mengiring sampai di depan pintu, tenaga medis mendorong masuk brankar itu dan menahan Azalea untuk tetap di luar lalu pintu tertutup dengan cepat. "Zayn aku menunggumu!" histeris Azalea. Ia hampir saja jatuh terduduk namun Ezra sigap menahannya dari belakang lalu memapahnya untuk duduk di kursi tunggu. "Lea tenanglah. Yang penting Zayn sudah ketemu, kamu tidak boleh begini. Jangan sampai kesehatanmu kembali drop!" Ezra begitu telate
"Arrrgggh!" Marvel memekik, tubuhnya yang semula sudah ringkih kini ambruk akibat tembakan yang Rico arahkan ke arahnya. Darah mengucur dari dada Marvel. Lelaki tua itu tergeletak dengan mata melotot. Dor! Tembakan berikutnya dilepaskan oleh pihak kepolisian mengarah ke tangan Rico hingga pistol yang semula digenggam Rico pun terjatuh. "Ah, sial!" Rico mengerang, memegangi tangannya yang berdarah sementara para polisi itu mulai menyergap dan menghampirinya. Tidak ada jalan untuk kabur. "Jangan bergerak!" Peringatan dari polisi menghentikan gerakan Rico dan Alya. Alya meringkuk ketakutan, suara tembakan meruntuhkan nyalinya. Ia hanya bisa berjongkok di sudut ruangan, pasrah saat polisi meraih tangannya dan menyeretnya berdiri. Kedua tangan Alya diborgol. "Lepaskan aku!" Gadis itu ingin memberontak, sayangnya tak mungkin. Ia langsung dipaksa naik ke mobil polisi, sedangkan Marvel dibawa dengan ambulans. "Lepaskan aku, Pak Polisi! Aku tidak salah! Yang membunuh Pak Marvel itu di
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan







