Share

Bab 4 Anak Ini Milikku

Author: Ratu As
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-13 19:28:55

Bruuuk!

Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai.

"Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih.

"Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulanganku. Kamu yang membantu Bu Manda membawanya ke kantor!"

"Kertas ulangan?" Azalea baru paham. Tapi rasanya tidak adil jika hanya Azalea yang dituduh. "Alya, aku akui itu benar. Aku membantu Bu Manda membawanya. Tapi terkait kertas ulanganmu yang hilang ..."

"Aku tidak mau dengar! Sengaja atau tidak, kamu bersalah karena sudah cari masalah denganku!" potong Alya. "Sekarang, kamu harus tanggung jawab dengan menerima hukuman dariku!"

Alya memberi isyarat pada dua temannya untuk mencekal Azalea lagi. Ia lalu mengambil gunting--sesuatu yang tidak Azalea duga.

Alya menarik rambut panjang Azalea hingga gadis itu mendongak. Kulit kepalanya terasa perih saat rambutnya ditarik.

Tanpa menunggu lagi, Alya dengan kejam memotong rambut panjangnya hingga begitu pendek.

"Tidak, jangan Alya!" pekik Azalea berontak, sayangnya semua itu tidak cukup untuk membuat Alya berhenti.

Helai demi helai dari rambut panjang itu berjatuhan. Alya hanya menyisakan rambut sepunggung Alya sampai sebawah telinga, potongannya sangat pendek dan acak-acakan.

Alya tertawa puas saat melihat Azalea yang meratapi helaian rambutnya.

"Bukankah ini lebih baik, Lea? Daripada aku rusak seragammu dan membuatmu yang miskin keluar uang, lebih baik kamu bayar dengan rambutmu itu kan?" ucap Alya sinis, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Setelah puas, ia membuang gunting dan menepuk tangannya.

"Ayo, kita pergi dari sini!" ajak Alya dengan tawa puas. Ia dan dua temannya meningalkan Azalea begitu saja.

Azalea masih terduduk diam di lantai toilet dengan air mata mengaliri pipinya, sambil memunguti helaian yang berserak.

Bagi mereka, rambut itu mungkin tidak ada artinya. Azalea sudah memanjangkan rambut itu selama bertahun-tahun--rambut hitam lebat yang lurus dan sehat.

Kalau ibunya tahu ia dirundung sampai rambutnya dipotong dan diacak-acak begini, pasti akan sangat sedih. Azalea harus mencari cara agar ibunya tidak sampai tahu.

Azalea berdiri di depan wastafel, ia membasuh wajahnya dan menenangkan diri sejenak, sebelum melanjutkan harinya di sekolah ini yang tinggal beberapa jam lagi, namun serasa bertahun-tahun.

Di dalam kelas, Yiyi dan kawan-kawannya berdiri menyambutnya saat Azalea kembali.

"Lea," panggil Yiyi menahan tawa.

Azalea melambatkan langkahnya, rambutnya terikat seadanya karena beberapa yang sangat pendek tidak bisa terikat.

"Kenapa rambutmu Lea? Kok, jadi mirip sapu ijuk!" tawa mengejeknya tidak ia ditutup-tutupi. "Ah, astaga ... apa Alya yang melakukannya?"

"Makanya, jangan cari gara-gara dengan ratu sekolah, Lea!" imbuh temannya.

Azalea mengepalkan tangannya, menahan rasa kesal yang hampir merontokkan kesabarannya. Ia bukan gadis lugu yang naif, ia cukup cerdas untuk menebak siapa biang keladi dari masalah yang menimpanya.

Azalea ingat saat ia terjatuh karena menabrak Yiyi, saat itu gadis itu bahkan pura-pura baik. Ternyata, ini yang Yiyi mau?

"Apa kamu butuh wig? Aku bisa membelikan yang warna hijau untukmu, warna kesukaan orang miskin. Pasti kamu cocok memakainya!" ejek Yiyi dan teman-temannya.

Azalea tidak membalas satu pun, ia merasa energinya sudah banyak berkurang hari ini. Meladeni Yiyi hanya akan membuatnya semakin kacau.

"Terima kasih, Yi, tapi tidak perlu. Ketimbang kamu terlalu memperhatikanku, kenapa tidak mencatok rambutmu sendiri? Kurasa model rambut mi keriting seperti itu sudah lewat trennya di tahun 90-an," sindir Azalea sambil berjalan ke arah kursinya untuk mengambil hoodie miliknya, lalu kembali keluar.

"A--pa? Maksudmu apa?!" kesal Yiyi, secara tidak langsung Azalea sedang mengejeknya ketinggalan zaman.

​Azalea tidak lagi menggubris mereka. Ia memakai hoodie untuk menutupi kepala.

Di jam istirahat kedua, Azalea harus menepati janjinya. Ia kembali ke ruang eksklusif Zayn dengan langkah berat penuh beban.

​Saat ia masuk, Zayn sedang berdiri di dekat jendela meminum minuman dingin. Ia menoleh, melihat ke arah Azalea dengan tatapan menyipit.

​"Apa kamu hendak berpura-pura kedinginan dan sakit? Siang bolong seperti ini untuk apa memakai jaket tebal seperti itu?"

​Zayn bicara dengan nada protes, ekspresinya yang tak acuh berubah makin dingin. Ia menatap Azalea dengan risih.

​"Ti--tidak, bukan begitu Zayn. Hanya saja, aku nyaman pakai--"

​"Aku yang tidak nyaman. Warna jaketmu yang mencolok itu membuat mataku sakit."

​Zayn bukan orang yang sabar. Ia menarik paksa tudung hoodie yang menutupi kepala Azalea hingga terbuka sepenuhnya dan memperlihatkan rambut Azalea.

​Zayn seketika mengerutkan kening. Awalnya, ia mungkin berpikir potongan aneh rambut Azalea itu memang selera orang miskin, namun saat melihat lebih teliti, ia tahu potongan itu asal dan acak.

​"Siapa yang melakukannya?" tanya Zayn dengan nada dingin. Ekspresinya datar namun lagi-lagi membuat Azalea tak berani berkutik.

​"Maksudnya, rambutku? Ah, tidak, ini ... hanya kecelakaan kecil. Tidak sengaja terpotong." Azalea membuat alasan karena tidak ingin memperpanjang masalah.

​"Oh ya, apa tugasku sekarang? Aku akan melaksanakannya sebelum jam masuk," imbuhnya mengalihkan topik.

​Sayangnya, Zayn bukan orang yang mudah lengah dan berpaling dari topik pembahasan.

​Wajahnya mengeras, ia menyambar lengan Azalea dan menariknya keluar ruangan.

​"K-kita kemana, Zayn?"

​Langkah Azalea terseok-seok mengikutinya. Ia pikir Zayn akan menyuruhnya ke kantin dan melayaninya, namun dugaannya salah. Zayn membawa Azalea masuk ke kelasnya.

​Kedatangan Zayn sontak membuat ruangan yang tadinya ramai kini senyap. Semua mata tertuju pada Zayn yang berdiri di depan kelas, diikuti Azalea yang berdiri canggung sambil berusaha menutupi kepalanya lagi.

​"Zayn!" Yiyi berbinar, jarang sekali seorang Zayn mengunjungi kelas lain seperti ini!

Tapi tatapan Zayn yang dingin itu membuat anak-anak tahu bahwa ia tidak datang ke sini dengan suasana hati yang baik.

​"Kalian tahu? Apa konsekuensinya berani bermasalah denganku?" Zayn bicara. Tatapannya tajam membuat seisi kelas terdiam tanpa ada yang berani bergerak sedikit pun.

"Aku paling tidak suka ada yang mengusik, menyentuh milikku, bahkan berani merusaknya. Dan itu juga berlaku untuk anak ini!"

​Zayn memegang hoodie Azalea, menariknya hingga gadis itu terhuyung, berdiri tepat di sisi Zayn.

​"Lalu, siapa yang berani memotong rambutnya asal-asalan seperti ini?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 8 Ciuman Ilegal

    Alya menyambar ponselnya, tidak ingin gadis kampung itu lama-lama menatapnya. Setelahnya ia bergegas pergi dengan menyenggol bahu Azalea hingga gadis itu terhuyung. "Lea!" Sean menangkapnya. "Kamu tidak apa-apa?" Azalea tersadar dari lamunannya. "Maaf, Kak Sean. Aku tidak apa-apa." Azalea memaksakan senyumnya. Ia kembali fokus pada gantungan baju yang dibawanya, lalu mengekor Sean. Sepanjang langkahnya masih tidak bisa fokus, wajah dokter di ponsel Alya mengingatkannya pada foto usang milik ibunya. "Taruh sana!" titah Bu Marta pada Sean, wanita paruh baya itu tampak masih sibuk dengan layar tabletnya--membuat sketsa desain. Azalea termangu, menatap wajah wanita yang mungkin seumuran dengan ibunya. Namun, karena Marta berkecukupan, jelas dari segi penampilan dan perawatan diri pun berbeda, jadi tampak lebih muda. Sekilas Marta melirik ke arah Azalea, gadis berambut pendek yang memakai topi itu terus melihat ke arahnya. Marta bukan seseorang yang ramah pada semua orang, jadi ia

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 7 Mirip Laki-Laki

    "Tapi ini sudah di luar sekolah, apa aku harus tetap jadi babumu?" Azalea membenarkan posisi duduknya, dia baru sadar sedang naik mobil mewah yang sepanjang hidupnya baru kali ini. Di luar, Ezra dan Haikal masih berdiri dengan tercengang, melihat mobil mewah itu melaju bahkan tanpa menyapa mereka sedikit pun. "Apa ini? Kamu lihat? Tuan muda itu bahkan tidak menggubris kita!" Heboh Ezra, seolah tidak terima dengan sikap dingin Zayn, meski sudah tahu persis watak temannya itu.Yang Ezra tidak habis pikir, Zayn mengacuhkannya dan malah mengajak si udik naik mobil itu. Haikal tersenyum miring, menepuk pundak Ezra. "Sudahlah, ayo pulang!"***​"Zayn, tidak perlu sambung rambut. Aku rasa bakal ribet dan aku tidak yakin bisa merawatnya nanti," ujar Azalea ragu saat Zayn membawanya ke penata rambut ternama itu.​Zayn hanya mendengus tipis, matanya menatap datar pantulan Azalea di cermin. "Terserah," sahutnya singkat. ​Tanpa membuang kata, Zayn menggerakkan dagunya sedikit, sebuah instruk

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 6 Aku Masih Butuh Babu

    "Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, apa ini tidak keterlaluan? Di luar sangat panas, mereka bisa pingsan kalau--""Keterlaluan? Aku sudah berbaik hati," potong Zayn dengan ekspresi dingin. "Aku bisa saja bilang pada guru untuk menskors mereka, atau mengeluarkan mereka dari sekolah ini."Kata-kata dingin Zayn membuat Azalea bergidik dan sontak terdiam.Meski menghukum anak-anak yang merundungnya membuatnya merasa puas dan berterima kasih pada Zayn, Azalea masih berpikir rasional. Ia hanya anak miskin. Memberi hukuman pada pembenci itu hanya melempar Azalea ke masalah yang lebih pelik. "Kamu boleh pergi." Zayn berpindah ke sofa, membaringkan tubuhnya dan memejam. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi sebagai wajah dan mata

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 5 Minta Maaf Pada Babuku!

    Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--""Lalu siapa?" Zayn beralih menatap Azalea. Tatapan yang menuntut untuk gadis itu jujur. Lagi-lagi Azalea terdiam, Zayn tahu pada dasarnya gadis itu tidak mau membocorkannya karena takut. "Kamu--" Zayn mengalihkan tatapan pada Yiyi, anak perempuan yang biasa paling lantang bergosip dan mentertawakan Azalea. "Aku--" Yiyi tergagap, ia panik apalagi saat perhatian semua orang langsung beralih ke arahnya. "Zayn, aku tidak tahu apa pun. Bukan aku yang melakukannya!""Bukan kamu? Semua orang tahu kamu benci anak miskin ini. Apa kamu pikir bisa membodohiku?" tanya Zayn dengan nada rendah namun penuh penekanan.Yiyi terpojok, jika ia mengelak lagi, maka ia hanya akan semakin membuat Zayn marah.

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 4 Anak Ini Milikku

    Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulanganku. Kamu yang membantu Bu Manda membawanya ke kantor!""Kertas ulangan?" Azalea baru paham. Tapi rasanya tidak adil jika hanya Azalea yang dituduh. "Alya, aku akui itu benar. Aku membantu Bu Manda membawanya. Tapi terkait kertas ulanganmu yang hilang ...""Aku tidak mau dengar! Sengaja atau tidak, kamu bersalah karena sudah cari masalah denganku!" potong Alya. "Sekarang, kamu harus tanggung jawab dengan menerima hukuman dariku!"Alya memberi isyarat pada dua temannya untuk mencekal Azalea lagi. Ia lalu mengambil gunting--sesuatu yang tidak Azalea duga. Alya menarik rambut panjang Azalea hingga gadis itu mendongak. Kulit kepalanya terasa perih saat rambutnya ditarik.Tanpa menunggu lagi,

  • Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!    Bab 3 Balas Dendam Ratu Sekolah

    Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu aku mengelapnya," titahnya, membuat Azalea dengan kikuk berjinjit untuk bisa mengusap keringat di lengan dan leher Zayn, sedangkan Zayn santai meminum minumannya. Adegan itu sontak membuat semua anak perempuan lain merasa iri. Terutama Yiyi yang mencebik sinis. Ternyata, jadi pelayan untuk Zayn tidak seburuk itu, malahan bisa dekat dengan Zayn tanpa harus susah payah bersaing! Azalea terus mengikuti langkah Zayn, kewalahan karena tugasnya semakin berat. Setelah bermain basket, Zayn dan teman-temannya masuk ke ruang eksklusif yang hanya boleh dimasuki oleh kelompok pemuda paling berkuasa di sekolah. Anggota tetapnya ada lima, yaitu Zayn, Ezra, Haikal, dan si kembar Varan dan Varel. Han

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status