Mag-log inAlya menyambar ponselnya, tidak ingin gadis kampung itu lama-lama menatapnya. Setelahnya ia bergegas pergi dengan menyenggol bahu Azalea hingga gadis itu terhuyung. "Lea!" Sean menangkapnya. "Kamu tidak apa-apa?" Azalea tersadar dari lamunannya. "Maaf, Kak Sean. Aku tidak apa-apa." Azalea memaksakan senyumnya. Ia kembali fokus pada gantungan baju yang dibawanya, lalu mengekor Sean. Sepanjang langkahnya masih tidak bisa fokus, wajah dokter di ponsel Alya mengingatkannya pada foto usang milik ibunya. "Taruh sana!" titah Bu Marta pada Sean, wanita paruh baya itu tampak masih sibuk dengan layar tabletnya--membuat sketsa desain. Azalea termangu, menatap wajah wanita yang mungkin seumuran dengan ibunya. Namun, karena Marta berkecukupan, jelas dari segi penampilan dan perawatan diri pun berbeda, jadi tampak lebih muda. Sekilas Marta melirik ke arah Azalea, gadis berambut pendek yang memakai topi itu terus melihat ke arahnya. Marta bukan seseorang yang ramah pada semua orang, jadi ia
"Tapi ini sudah di luar sekolah, apa aku harus tetap jadi babumu?" Azalea membenarkan posisi duduknya, dia baru sadar sedang naik mobil mewah yang sepanjang hidupnya baru kali ini. Di luar, Ezra dan Haikal masih berdiri dengan tercengang, melihat mobil mewah itu melaju bahkan tanpa menyapa mereka sedikit pun. "Apa ini? Kamu lihat? Tuan muda itu bahkan tidak menggubris kita!" Heboh Ezra, seolah tidak terima dengan sikap dingin Zayn, meski sudah tahu persis watak temannya itu.Yang Ezra tidak habis pikir, Zayn mengacuhkannya dan malah mengajak si udik naik mobil itu. Haikal tersenyum miring, menepuk pundak Ezra. "Sudahlah, ayo pulang!"***"Zayn, tidak perlu sambung rambut. Aku rasa bakal ribet dan aku tidak yakin bisa merawatnya nanti," ujar Azalea ragu saat Zayn membawanya ke penata rambut ternama itu.Zayn hanya mendengus tipis, matanya menatap datar pantulan Azalea di cermin. "Terserah," sahutnya singkat. Tanpa membuang kata, Zayn menggerakkan dagunya sedikit, sebuah instruk
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, apa ini tidak keterlaluan? Di luar sangat panas, mereka bisa pingsan kalau--""Keterlaluan? Aku sudah berbaik hati," potong Zayn dengan ekspresi dingin. "Aku bisa saja bilang pada guru untuk menskors mereka, atau mengeluarkan mereka dari sekolah ini."Kata-kata dingin Zayn membuat Azalea bergidik dan sontak terdiam.Meski menghukum anak-anak yang merundungnya membuatnya merasa puas dan berterima kasih pada Zayn, Azalea masih berpikir rasional. Ia hanya anak miskin. Memberi hukuman pada pembenci itu hanya melempar Azalea ke masalah yang lebih pelik. "Kamu boleh pergi." Zayn berpindah ke sofa, membaringkan tubuhnya dan memejam. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi sebagai wajah dan mata
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--""Lalu siapa?" Zayn beralih menatap Azalea. Tatapan yang menuntut untuk gadis itu jujur. Lagi-lagi Azalea terdiam, Zayn tahu pada dasarnya gadis itu tidak mau membocorkannya karena takut. "Kamu--" Zayn mengalihkan tatapan pada Yiyi, anak perempuan yang biasa paling lantang bergosip dan mentertawakan Azalea. "Aku--" Yiyi tergagap, ia panik apalagi saat perhatian semua orang langsung beralih ke arahnya. "Zayn, aku tidak tahu apa pun. Bukan aku yang melakukannya!""Bukan kamu? Semua orang tahu kamu benci anak miskin ini. Apa kamu pikir bisa membodohiku?" tanya Zayn dengan nada rendah namun penuh penekanan.Yiyi terpojok, jika ia mengelak lagi, maka ia hanya akan semakin membuat Zayn marah.
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulanganku. Kamu yang membantu Bu Manda membawanya ke kantor!""Kertas ulangan?" Azalea baru paham. Tapi rasanya tidak adil jika hanya Azalea yang dituduh. "Alya, aku akui itu benar. Aku membantu Bu Manda membawanya. Tapi terkait kertas ulanganmu yang hilang ...""Aku tidak mau dengar! Sengaja atau tidak, kamu bersalah karena sudah cari masalah denganku!" potong Alya. "Sekarang, kamu harus tanggung jawab dengan menerima hukuman dariku!"Alya memberi isyarat pada dua temannya untuk mencekal Azalea lagi. Ia lalu mengambil gunting--sesuatu yang tidak Azalea duga. Alya menarik rambut panjang Azalea hingga gadis itu mendongak. Kulit kepalanya terasa perih saat rambutnya ditarik.Tanpa menunggu lagi,
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu aku mengelapnya," titahnya, membuat Azalea dengan kikuk berjinjit untuk bisa mengusap keringat di lengan dan leher Zayn, sedangkan Zayn santai meminum minumannya. Adegan itu sontak membuat semua anak perempuan lain merasa iri. Terutama Yiyi yang mencebik sinis. Ternyata, jadi pelayan untuk Zayn tidak seburuk itu, malahan bisa dekat dengan Zayn tanpa harus susah payah bersaing! Azalea terus mengikuti langkah Zayn, kewalahan karena tugasnya semakin berat. Setelah bermain basket, Zayn dan teman-temannya masuk ke ruang eksklusif yang hanya boleh dimasuki oleh kelompok pemuda paling berkuasa di sekolah. Anggota tetapnya ada lima, yaitu Zayn, Ezra, Haikal, dan si kembar Varan dan Varel. Han







