LOGINKetika kesadarannya perlahan kembali, hal pertama yang dirasakan Thea adalah sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, entah apa.
Sensasi itu hanya terasa sesaat sebelum dadanya kembali ditekan beberapa kali. Tubuhnya tersentak. Air yang memenuhi tenggorokannya pun terdorong keluar, membuat Thea terbatuk keras. “Uhuk! Uhuk!” Napasnya terasa sesak. Tenggorokannya perih. Thea membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih berkunang-kunang, tetapi perlahan ia bisa melihat sosok yang berada di dekatnya. Kavian, pria itu sedang menopang kepalanya. Bajunya basah kuyup, begitu pula rambutnya yang masih meneteskan air ke wajah. “Thea!” Suara ibunya terdengar panik. Laras yang berjongkok di sisi lain segera mengusap wajah putrinya yang basah. “Kamu sudah sadar, Nak?” “Aduh, Thea Sayang. Kamu nggak apa-apa?” Vania ikut bertanya cemas. Thea masih berusaha mengatur napas. Tangannya menekan dada yang naik turun dengan cepat. Beberapa detik berikutnya ia baru menyadari bahwa sudah banyak orang yang mengerumuni mereka. Thea menggeleng lemah. “Aku ... nggak apa-apa, Tante.” “Untung Kak Kavian kasih napas buatan. Kalau telat sedikit—” “Rivan,” potong Kavian cepat. Nada suaranya begitu tajam. Rivan yang semula hendak melanjutkan kalimat sontak menutup mulut sambil menunduk. Sementara itu, Thea membeku. Apa tadi katanya? Kavian memberinya napas buatan? Tatapan Thea perlahan beralih kepada pria yang masih menyangga kepalanya. Kavian tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya tetap datar, seolah ucapan Rivan tadi bukan sesuatu yang perlu dibahas lebih jauh. Pikiran Thea jadi semakin kacau. Ia mengingat sesuatu yang hangat tadi, yang sempat menyentuh bibirnya ketika kesadarannya belum sepenuhnya kembali Jangan-jangan itu … bibir Kavian. Pipi Thea mendadak panas. Ia langsung membayangkan bagaimana Kavian memberikan napas buatan kepadanya. Pria itu mendekat, lalu bibirnya menyentuh bibir Thea untuk mengalirkan udara ke paru-parunya. Meskipun hanya membayangkannya, wajah Thea sudah terasa terbakar. Astaga. Kenapa harus Kavian? Thea buru-buru menyingkir dari pria itu. “Te-Thea, kamu nggak apa-apa?” Rivan kembali bertanya. Thea hanya menggeleng. “Aku mau pulang,” katanya, kemudian berusaha bangkit. Sialnya, begitu kakinya menyentuh lantai di tepi kolam, tubuhnya kembali oleng. “Hati-hati!” Kavian hampir meraih kembali lengannya, tetapi Thea lebih dulu berpegangan pada kursi di dekatnya. Lututnya masih terasa lemas, tetapi kali ini bukan hanya karena ia baru saja tenggelam. Thea bahkan tidak berani lagi menoleh ke arah Kavian. Apalagi setelah mengetahui apa yang dilakukan pria itu ketika dirinya tidak sadar. Ia hanya ingin segera pergi dari tempat ini dan tak perlu melihat wajah Kavian lagi. Rasanya memalukan sekali. Begitu sampai di rumah, Thea segera masuk ke kamar. Pintu ditutup agak keras hingga menimbulkan dentuman. Brak! Tubuhnya merosot ke lantai. Ia bersandar di belakang pintu sambil mengembuskan napas panjang. Tangannya perlahan terangkat menutupi wajah. “Untung Kak Kavian kasih napas buatan. Kalau telat sedikit—” Ucapan Rivan kembali terngiang-ngiang di telinganya membuat Thea langsung memegang kepalanya dengan kedua tangan. Astaga. Mengapa harus napas buatan segala. Memangnya tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya? Kalaupun memang itu satu-satunya cara, kenapa harus Kavian? Thea memejamkan mata rapat-rapat. Wajahnya mendadak panas lagi. Yang lebih menyebalkan, ingatan tentang kejadian itu terus muncul meskipun ia berusaha mengusirnya. Thea mengerang pelan. Rasanya seperti kejadian bertahun-tahun lalu terulang kembali. Dahulu, Kavian juga pernah membuatnya malu di depan banyak orang. Pria itu memaksanya untuk mencium dirinya untuk membuktikan perasaannya. Thea masih ingat betapa hancurnya perasaannya malam itu. Karena itulah ia pergi, menjauh. Menghabiskan bertahun-tahun untuk mengubah dirinya dan belajar berhenti mengejar seseorang yang jelas-jelas tidak menginginkannya. Sekarang, ketika akhirnya kembali dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, Kavian malah muncul lagi dalam hidupnya. Dan lagi-lagi pria itu membuatnya berada dalam situasi yang memalukan di depan banyak orang. Memang keadaannya berbeda. Kali ini Kavian menyelamatkan nyawanya. Namun, tetap saja, Thea merasa malu setengah mati. Ia menjatuhkan kepalanya ke tangan yang menyangga lutut. “Kenapa, sih, Kak Kavian harus melakukan itu?” Malu dan rasa kesalnya bercampur menjadi satu. Anehnya, jantung Thea masih saja berdebar setiap kali mengingat pria itu. *** Keesokan paginya, setelah terbangun, Thea keluar dari kamar hendak menuju dapur. Ia mengenakan kaus tipis dan celana pendek selutut yang nyaman dipakai di rumah. Rambut panjangnya dicepol asal di atas kepala. Ia masih menguap ketika melangkah beberapa meter dari kamar. Namun, langkahnya mendadak berhenti ketika matanya menangkap seseorang yang duduk di sofa ruang tengah. Dia Kavian. Thea menatap pria itu selama beberapa detik, seolah memastikan dirinya sedang bermimpi atau keberadaan pria itu memang nyata. Ingatan tentang ‘napas buatan’ semalam langsung kembali menyerbu kepalanya. Wajah Thea merah padam dalam seketika. Tidak mau mengambil risiko, ia buru-buru berbalik. Ia akan kembali ke kamar ketika suara Kavian terdengar dari belakang. “Thea.” Sialan. Thea memejamkan mata sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. Kenapa pria itu selalu tahu kapan dirinya ingin menghindar? Ia menoleh dengan ragu-ragu. Kavian ternyata sudah berdiri dari sofa. Tatapan pria itu turun sekilas pada pakaian Thea, lalu kembali ke wajahnya. Menyadari itu, Thea refleks menarik ujung kausnya. Kavian hanya mengangkat satu alis. “Nggak usah menghindar begitu.” Thea diam. Kavian kemudian berkata dengan nada datar yang terdengar menyebalkan. “Aku nggak tertarik tubuhmu.”Dalam beberapa detik, Thea hanya diam. Giginya bahkan sampai bergemeletuk menahan geram. Ia masih tidak habis pikir kalau mulut Kavian ternyata tetap setajam dulu.Delapan tahun berlalu tanpa pertemuan. Thea sempat berpikir waktu akan mengubah banyak hal dalam diri pria itu. Mungkin membuatnya lebih dewasa, lebih lembut. Setidaknya sedikit lebih mudah diajak bicara.Ternyata, ia terlalu banyak berharap.“Kak Kav, kamu ini memang nggak bisa, ya, bicara yang baik sedikit?” balas Thea. Nadanya terdengar lebih ketus dari yang ia inginkan. “Kalau nggak bisa, sebaiknya diam saja.”Tatapan mereka bertemu.Rahang Kavian tampak mengeras. Entah karena tersinggung atau sekadar tidak suka dibantah, namun Thea sama sekali tidak peduli. Kali ini ia tidak akan mundur hanya karena pria itu menatapnya seperti itu.Suasana di ruang tamu itu mendadak terasa sempit. Untungnya, ketegangan di antara mereka belum sempat berkembang ketika terdengar langkah kaki dari arah dapur.“Lho, kenapa pada berdiri di s
Ketika kesadarannya perlahan kembali, hal pertama yang dirasakan Thea adalah sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, entah apa. Sensasi itu hanya terasa sesaat sebelum dadanya kembali ditekan beberapa kali. Tubuhnya tersentak. Air yang memenuhi tenggorokannya pun terdorong keluar, membuat Thea terbatuk keras. “Uhuk! Uhuk!” Napasnya terasa sesak. Tenggorokannya perih. Thea membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih berkunang-kunang, tetapi perlahan ia bisa melihat sosok yang berada di dekatnya. Kavian, pria itu sedang menopang kepalanya. Bajunya basah kuyup, begitu pula rambutnya yang masih meneteskan air ke wajah. “Thea!” Suara ibunya terdengar panik. Laras yang berjongkok di sisi lain segera mengusap wajah putrinya yang basah. “Kamu sudah sadar, Nak?” “Aduh, Thea Sayang. Kamu nggak apa-apa?” Vania ikut bertanya cemas. Thea masih berusaha mengatur napas. Tangannya menekan dada yang naik turun dengan cepat. Beberapa detik berikutnya ia baru menyadari bahwa sudah bany
Thea masih menatap Kavian di hadapannya.Entah kenapa, jantungnya justru berdetak lebih cepat hanya karena menunggu jawaban pria itu. Padahal, ia sendiri tidak tahu mengapa harus peduli dengan tanggapan Kavian tentang dirinya.Mungkin karena sejak kembali ke kampung halaman ini, terlalu banyak hal dari masa lalu yang kembali muncul tanpa diminta.Atau mungkin karena, jauh di dalam hatinya, masih ada bagian kecil yang ingin tahu apakah Kavian juga melihat perubahan dalam dirinya.Kavian terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih dari Rivan kepada Thea. Kemudian, dengan wajah datarnya, pria itu menjawab tenang.“Biasa saja. Dia masih sama seperti dulu.”Thea terdiam. Rivan bahkan sampai mengerutkan kening, seolah tak percaya dengan respons kakaknya. “Hah?”“Nggak banyak yang berubah.”Thea menahan napas sejenak.Ucapan Kavian yang sebetulnya sederhana itu terasa lebih menusuk daripada yang seharusnya.Ia sempat menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai mengepal. Kuku-kukunya
Begitu sampai rumah, Thea langsung membuka pintu agak keras. Sisa kekesalannya dari rumah sebelah masih belum juga reda.Kejadian saat Kavian memberinya uang tadi terus berputar di kepalanya.Dadanya sesak setiap kali mengingatnya. Bukan karena jumlah uang yang diberikan pria itu, melainkan karena apa yang tersirat di baliknya. Seolah setelah bertahun-tahun berusaha berubah, di mata Kavian ia tetaplah Thea yang sama.Gadis kecil yang dulu selalu menuntut perhatian pria itu.“Thea, sudah pulang, Nak?” Suara ibunya membuat Thea menoleh sejenak. Ia mengangguk sambil melepaskan sandal. “Iya, Bu.”Laras yang sedang duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian segera menghentikan pekerjaannya. Tatapannya mengamati Thea beberapa saat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putrinya.“Kamu ketemu kakak di sebelah?” tanyanya dengan alis sedikit terangkat.Thea terdiam sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangan dan berjalan menuju dapur.“Aku sempat ketemu Kak Kavian.”Mendengar jawaban itu
Setelah pintu kamar tertutup, Kavian langsung melepaskan Thea, begitu pula Thea yang sontak menjauh dari pria itu. “Kak Kavian, apa yang kamu lakukan?” tanya Thea masih setengah panik. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tetap berusaha mengontrol keterkejutannya atas apa yang baru saja terjadi. “Jangan teriak sembarangan. Orang bisa salah paham,” balas Kavian sedikit ketus. Thea hendak menjawab, tetapi pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Seketika itu ia kembali sadar bahwa Kavian masih berdiri di sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya. Wajah Thea mendadak panas, sebelum buru-buru memalingkan wajah, berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Sementara itu, Kavian tetap terlihat santai, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan penampilannya. “Tante Vania minta tolong aku membersihkan kamarmu,” kata Thea akhirnya. Bibirnya sedikit maju karena merasa dongkol. “Aku kira nggak ada orang di sini.” Kavian tak menjawab. Ia kini sudah berjalan
Tubuh Thea sempat mematung di tempatnya. Mendengar suara itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Begitu akhirnya menoleh, Thea langsung mendapati Kavian berdiri tidak jauh darinya. Suara itu benar-benar milik Kavian. Pria yang selama bertahun-tahun berusaha ia hindari. Thea menelan ludah. Setelah sekian lama menghindarinya, kenapa saat kembali justru harus bertemu dengannya lagi? “Ka—” Ucapannya terhenti, karena Thea buru-buru memalingkan wajah. “Permisi.” Tanpa basa-basi, ia segera berlalu masuk ke rumah, meninggalkan Kavian yang masih berdiri di halaman. Begitu pintu tertutup, Thea mengembuskan napas panjang. Malu, ia sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan Kavian. Terlebih setelah bertahun-tahun berusaha mengubur kenangan malam itu. Dulu, ia memang terlalu tidak tahu diri. Berkali-kali ditolak, tetapi tetap saja mengejar pria itu ke mana-mana. Ia selalu menganggap perasaannya sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk terus







