Compartilhar

Bab 3

Autor: Yuni
“Selingkuhan nggak tahu malu! Pergi dari sini!”

“Orang seperti ini entah punya penyakit apa yang dibawanya. Jangan-jangan dia mau bikin satu gedung ini jadi tempat prostitusi!”

Barulah aku menyadari bahwa namaku sudah ramai diperbincangkan.

[Mahasiswa Pria Kepergok Diam-Diam Masuk ke Kamar Juliana Finley, Direktur Utama Perusahaan, Tengah Malam dan Menggodanya.]

Seseorang memotret Juliana saat memelukku, lalu meninggalkan rumah kontrakan itu tengah malam.

Ada juga yang menggali foto-fotoku saat masih kuliah. Mereka mengatakan aku bekerja di berbagai tempat sebagai pekerja paruh waktu guru les, padahal sebenarnya semua itu kulakukan hanya untuk mendekati wanita kaya dan mencari penyokong.

Berbagai makian dan hinaan terus menghujaniku. Bahkan ada yang melemparkan sampah kepadaku.

Dengan panik, aku menutup pintu dan menelepon Juliana, tanpa tahu harus berbuat apa.

Begitu telepon tersambung, sebelum aku sempat berbicara, Juliana langsung menenangkanku, “Nathan, aku sudah lihat beritanya. Kamu jangan panik, biar aku yang urus.”

“Siapa pun yang mengetuk pintu, jangan dibuka. Jaga dirimu baik-baik.”

Nada suaranya juga terdengar sedikit cemas, tetapi dia tetap berusaha berbicara selembut mungkin.

Aku tercekat dan berkata, “Kita putus saja ....”

Dari seberang telepon, suara Tristan yang panik tiba-tiba memotong ucapanku, “Ada masalah di dewan direksi ....”

Ucapanku yang belum selesai ikut terputus ketika sambungan telepon itu tiba-tiba berakhir.

Setengah jam kemudian, sebuah video baru kembali ramai diperbincangkan.

Tristan berdiri di depan kamera dengan air mata berlinang. “Nathan dulu cuma mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang dibantu Juliana selama kuliah. Juliana hanya berniat menolongnya karena merasa kasihan. Namun ternyata, dia malah salah mengartikan kebaikan Juliana dan mulai punya niat lain.”

“Kalau cuma seekor tikus, jangan mimpi bisa keluar dari selokan. Tetaplah di tempatmu dan tahu diri!”

Ucapan Tristan membuatku benar-benar dipermalukan di depan semua orang.

Belum cukup sampai di situ, pernyataan Juliana justru terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dadaku. “Foto-foto itu semuanya hasil edit. Hubunganku dan Tristan sangat baik. Kalau masih ada yang menyebarkan fitnah, aku akan menempuh jalur hukum.”

Internet langsung gempar.

[Sudah kubilang ini berita palsu! Orang normal mana yang mau meninggalkan putra sulung Keluarga Laksana dan malah selingkuh dengan mahasiswa miskin!]

[Jangan-jangan dia mau jadi selingkuhan yang mendesak suami sah supaya bisa menggantikannya? Wah, mahasiswa ini benar-benar dihujat habis-habisan.]

Data pribadiku mulai tersebar di internet. Ponselku dibanjiri berbagai pesan makian dan hinaan.

Tak lama kemudian, pihak kampus menelepon. Nada suara dosen pembimbingku terdengar serius.

“Nathan, dari pihak luar negeri sudah menghubungi kami. Mereka minta kamu memberikan penjelasan soal masalah yang sedang ramai di internet. Kalau tidak, tawaranmu bisa dibatalkan ....”

Rentetan masalah yang datang bertubi-tubi membuatku hampir mati rasa.

Ponselku bergetar. Ada pesan dari Juliana.

[Nathan, jangan salahkan aku. Ini cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini.]

Karena aku tidak membalas, Juliana kembali menelepon.

Suaranya terdengar sangat lelah. “Nathan, sabar dulu. Setelah semua ini berlalu, aku bisa memberimu apa pun, kecuali status sebagai pasangan resmiku.”

Di dalam hatinya, aku tidak pernah menjadi prioritas.

“Juliana, jangan terus membohongi dirimu sendiri,” kataku pelan.

“Yang nggak pernah bisa kamu berikan padaku bukan status itu, tapi cinta.”

Aku tidak mau lagi mendengar penjelasan Juliana dan langsung memutuskan sambungan telepon.

Aku membuka ponsel dan mulai menulis sebuah unggahan. Di dalamnya, aku mengumpulkan semua bukti bahwa aku dan Juliana telah bersama selama tujuh tahun.

Saat baru saja hendak menekan tombol kirim, sebuah panggilan masuk tiba-tiba muncul.

Suara Farez terdengar dari seberang telepon.

“Nathan, ibumu sudah dengar soal kamu yang dituduh jadi selingkuhan. Dia syok sampai masuk rumah sakit!”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 9

    Juliana tidak mengatakan apa-apa.Lama setelah Farez dibawa pergi, Juliana akhirnya hanya tersenyum getir.Dia meminta maaf kepada Nathan atas nama Farez?Bahkan Juliana sendiri tidak tahu apakah dia masih bisa menemukan Nathan. Kalaupun berhasil menemukannya, apakah Nathan masih mau memaafkannya?Lantas, apa haknya untuk menyampaikan permintaan maaf Farez?Juliana mulai mengerahkan seluruh kemampuan yang dia punya. Uang, tenaga, koneksi, apa pun yang bisa digunakan, semuanya dikerahkan untuk mencari Nathan.Pada akhirnya, berita tentang kejadian ini tetap tersebar. Dalam waktu singkat, kasus tersebut memenuhi berbagai pemberitaan media.Belum sampai seminggu, saham Finley yang sebelumnya menjadi salah satu perusahaan unggulan di dunia bisnis langsung anjlok.Namun, Juliana sama sekali tidak memedulikan keadaan perusahaan.Seluruh waktu dan pikirannya hanya tertuju pada satu hal, menemukan Nathan.Dia juga tentu saja tidak lagi terlalu memedulikan pengelolaan perusahaan dan tidak ikut

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 8

    Begitu melihat Juliana, Tristan sempat tertegun. Namun, sesaat kemudian, matanya langsung berbinar penuh kegembiraan.Dia mengira Juliana datang untuk menyelamatkannya, lalu buru-buru menghampirinya.“Juliana, akhirnya kamu datang. Farez mau mencelakaiku!”Baru saja Farez melihat sendiri sisi kejam Tristan. Namun, begitu berhadapan dengan Juliana, Tristan seketika berubah menjadi sosok yang lemah dan tidak berdaya. Farez merasa perubahan itu begitu menjijikkan.Dia menahan sakit luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya, lalu menatap Juliana. Suaranya terdengar penuh kebencian.“Juliana, kau sudah ditipu! Selama ini kita semua sudah dibohongi Tristan!”“Diam!” Belum selesai berbicara, Tristan sudah memotong ucapannya dengan suara keras.Kalau bukan karena Juliana dan polisi ada di sana, Tristan pasti sudah menggunakan cara apa pun untuk membuat Farez merasakan sendiri akibatnya karena berani membuatnya marah.Namun, sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa.Dia harus tetap menjaga ci

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 7

    Itu Farez.Matanya merah karena dipenuhi urat-urat darah. Rambutnya berantakan, sementara wajahnya tampak tegang. Dia terlihat seperti sudah berada di ambang kehancuran.“Kau sudah janji! Kalau aku mau membantumu menghancurkan Nathan, kau akan hapus semua foto-fotoku itu! Sampai kapan kau mau terus mengancamku?!” teriak Farez.Selama ini, Farez begitu takut pada Tristan karena Tristan menyimpan beberapa foto pribadinya di ponselnya.Awalnya, Farez tidak sengaja mengetahui hubungan Juliana dan Tristan. Dia sangat marah setelah tahu keduanya bekerja sama untuk menipu Nathan.Dia tidak tahan melihat Nathan terus dibohongi, sehingga berniat memberitahukan semuanya kepada Nathan agar dia bisa segera menyelamatkan dirinya dari masalah yang lebih besar.Sayangnya, saat Farez menelepon, Nathan baru saja pulang setelah bekerja paruh waktu selama belasan jam.Karena terlalu lelah, Nathan langsung tertidur begitu sampai di rumah. Farez sudah meneleponnya berkali-kali, tetapi tidak satu pun panggi

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 6

    Tristan dengan cepat menyusul Juliana ke rumah sakit. Yang dia lihat adalah Juliana yang terduduk di lantai dengan tatapan kosong.Tanpa sadar, Tristan mengira tubuh yang baru saja didorong keluar itu adalah Nathan. Sesaat, ada rasa lega yang muncul di dalam hatinya.Namun, wajahnya tetap menunjukkan kekhawatiran saat dia berkata pelan, "Juliana, aku tahu kamu lagi merasa sangat sedih. Tapi kamu harus segera bangkit. Kita baru saja menyangkal semua rumor di konferensi pers. Kalau sampai ada wartawan yang memotret keadaanmu sekarang, kita jadi harus mengeluarkan biaya besar untuk membereskannya.”Dulu, Juliana pasti akan langsung memikirkan kepentingan perusahaan setelah mendengar perkataan seperti itu.Namun sekarang, dia hanya duduk di sana dengan tatapan kosong, seolah jiwanya telah pergi entah ke mana.Apa pun yang dikatakan Tristan, dia tidak memberikan reaksi sedikit pun.Tristan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. “Lantainya dingin. Jangan duduk di sini ....”Namun, beg

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 5

    Sebenarnya, Juliana sudah memperkirakan akan ada pertanyaan-pertanyaan tajam seperti ini di konferensi pers.Bagaimanapun juga, media memang hidup dari sensasi dan berita yang mengundang perhatian.Sejak kecil hingga dewasa, Juliana sudah berkali-kali menghadapi hal semacam ini. Dia pun sudah lama memahami bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak pula mata yang mengawasinya.Entah itu rumor atau fitnah, selama bisa ikut mendulang popularitas dan menarik perhatian, mereka akan melakukan apa saja demi mendapatkan sorotan.Karena itulah, selama ini dia terus menyembunyikan identitasnya.Selama lebih dari dua puluh tahun hidupnya, dia tidak pernah bertemu dengan siapa pun yang, setelah mengetahui identitasnya, masih memperlakukannya seperti dulu.Tanpa terkecuali, semua orang akan berubah. Ada yang menjilat, ada yang berusaha mengambil hatinya, dan ada pula yang menyesuaikan diri dengannya.Juliana tidak ingin Nathan menjadi seperti itu. Karena itulah, dia terus menyembunyikan

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 4

    Kepalaku seketika terasa berdengung.Kondisi kesehatan ibuku memang buruk. Beberapa kali sebelum tahun baru, dia bahkan harus masuk ICU.Aku mati-matian ingin membawa Juliana pulang menemui ibuku hanya karena ingin membuatnya merasa tenang.Saat aku sampai di rumah sakit dengan panik, Farez sedang menunggu di luar ruang gawat darurat.Dia mendorongku dengan keras.“Aku sudah pernah mengingatkanmu, jangan jadi selingkuhan! Ibumu hampir mati gara-gara kau!”Orang tua Farez kecanduan alkohol dan judi, sehingga mereka sama sekali tidak punya waktu untuk mengurusnya.Selama ini, justru ibukulah yang selalu menganggap Farez seperti anak kandungnya sendiri.Aku menahan air mata. “Bagaimana kondisi ibuku?”Pintu ruang gawat darurat terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya.“Kondisinya untuk sementara sudah stabil, tapi dia benar-benar nggak boleh mengalami tekanan lagi.”Ponselku tiba-tiba menampilkan notifikasi transfer. Juliana mengirimiku uang dua miliar.[Aku sudah dengar soal ibumu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status