Compartilhar

Bab 2

Autor: Yuni
Namun, Tristan justru seolah mendengar sesuatu yang lucu. Dia memiringkan kepalanya.

“Aku lebih tampan darimu, lebih kaya juga. Bukankah sangat wajar kalau Juliana bersamaku?”

Saat dia hendak mengatakan sesuatu lagi, asistennya datang tergesa-gesa.

“Bu Juliana, masih ada media di luar yang menunggu untuk wawancara.”

Juliana mengangguk.

“Nathan, tunggu aku.”

Dia melepaskan tanganku, lalu berbalik dan menggenggam tangan Tristan erat-erat sebelum melangkah menuju pintu keluar.

“Farez, bawa dia pergi.”

Farez menyeretku keluar melalui pintu belakang gedung pernikahan.

Dia mengantarku kembali ke rumah kontrakanku. Sebelum pergi, Farez menasihatiku, “Nathan, kau harus tahu diri. Orang seperti Juliana bukan untukmu, dia perempuan yang nggak bisa kau dapatkan.”

“Tristan cuma mengunggah beberapa video saja, pengikutnya sudah sampai jutaan. Dia juga jauh lebih unggul darimu dalam segala hal. Kau memangnya punya apa untuk bersaing dengannya?”

Melihat aku yang sudah begitu terpukul, Farez tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya diam dan pergi.

Aku duduk di sofa, menatap kosong rumah kontrakan itu dengan perasaan mati rasa.

Aku berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal. Impian terbesarku adalah memiliki rumah sendiri.

Saat kami menyewa rumah ini, Juliana memelukku erat dengan penuh kasih. Suaranya terdengar sungguh-sungguh. “Nathan, kita pasti akan punya rumah sendiri!”

Setiap hari setelah pulang kerja, dia masih pergi bekerja membuat teh susu, hanya demi menabung cukup uang untuk seserahan.

Namun, ditabung sebanyak apa pun, tetap saja tidak pernah cukup.

Sampai akhirnya, Juliana mengalami kecelakaan saat mengantarkan makanan di tengah hujan dan harus dirawat di rumah sakit.

Dengan mata memerah, aku berkata bahwa aku tidak membutuhkan seserahan, tetapi Juliana langsung menutup mulutku.

“Nathan, aku mencintaimu. Aku nggak mau uang jadi penghalang bagi kita.”

“Seserahan itu bukti ketulusanku. Tunggu sebentar lagi, ya. Aku pasti bisa menabung sampai cukup!”

Baru sekarang aku mengerti. Yang sebenarnya tidak pernah berhasil dia kumpulkan bukanlah uang untuk seserahan.

Melainkan ketulusan Juliana kepadaku.

Air mataku jatuh ke lantai. Aku mengambil ponsel dan berniat membatalkan sewa rumah ini. Namun, sebuah berita yang sedang viral justru muncul di layar ponselku.

[Pernikahan Abad ini! Bahkan Keluarga Konglomerat Punya Cinta Sejati!]

Dalam berita itu, tercantum secara rinci barang seserahan yang diberikan Juliana untuk menikah dengan Tristan.

Kapal pesiar mewah, apartemen besar di pusat kota, saham perusahaan ....

Begitu menyadari hal itu, rasa terhina seketika menyelimuti seluruh tubuhku. Dari belakang tiba-tiba terdengar suara. Juliana muncul di ambang pintu.

Melihat koper yang sudah terbuka, mata Juliana bergetar hebat.

“Nathan, kamu mau pergi?”

Kukuku menancap kuat ke telapak tangan. Aku mengatupkan gigi erat-erat.

“Memangnya aku harus apa? Aku harus terus tinggal di sini dan membiarkanmu mempermainkanku?”

“Aku nggak mengizinkanmu pergi!”

Dia bergegas menghampiriku, merebut koper itu, lalu memelukku erat.

Aroma asing tercium di ujung hidungku. Saat itulah aku melihat jelas bekas bibir di kerah baju Juliana.

Aku mendorongnya menjauh dan bertanya dengan suara yang sudah tak terkendali, “Penghinaan yang kamu berikan padaku hari ini masih belum cukup?!”

Melihatku yang sudah kehilangan kendali, Juliana menghela napas. “Nathan, kamu menyalahkanku karena nggak kasih tahu kamu yang sebenarnya. Tapi selama ini, kapan kamu pernah berusaha memperbaiki keadaanmu?”

Aku terpaku.

Wajah Juliana tetap lembut, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa begitu kejam. “Begitu lulus, Tristan langsung mewarisi bisnis keluarganya. Dia bisa membantuku mengembangkan bisnis dan mendatangkan kerja sama baru.”

“Lalu kamu? Apa yang bisa kamu berikan padaku?”

Dua tahun lalu, aku juga pernah berpikir untuk berhenti kuliah dan mencari pekerjaan agar bisa menghasilkan uang lebih cepat.

Namun, Juliana yang mengatakan bahwa masa muda hanya datang sekali dan aku tidak seharusnya mengorbankannya demi uang.

“Nathan, lakukan saja apa yang mau kamu lakukan. Meskipun aku bukan anak orang kaya, aku akan tetap berusaha dan berjuang bersamamu!”

Aku memanfaatkan seluruh waktu di luar jam kuliah untuk bekerja sambil belajar. Saat sedang paling sibuk, aku bahkan bekerja hingga 18 jam sehari.

Namun sekarang, nada meremehkan dalam suara Juliana benar-benar menghancurkan harga diriku.

Hanya dalam beberapa jam, sahabat baik dan kekasihku sudah mengucapkan hal yang sama. Mereka sama-sama mengatakan bahwa aku tidak pantas.

Air mata jatuh deras ke lantai. Aku menatapnya dengan tatapan kosong.

Tatapan Juliana dipenuhi rasa iba. Dia mengulurkan tangan, hendak memelukku.

Mengingat penolakanku tadi, dia kemudian mengurungkan niatnya dan hanya menggoyangkan lenganku pelan.

“Meski begitu, aku nggak peduli. Nathan, yang kucintai adalah dirimu,” ujarnya pelan.

“Beberapa hari ke depan masih ada urusan yang harus kuselesaikan. Setelah semuanya selesai, aku akan datang menjemputmu.”

“Tristan memang orangnya keras. Kamu tenang dulu, jangan melawan dia.”

Wajah Juliana menunjukkan keyakinan penuh bahwa aku tidak akan pergi. Sebelum meninggalkan tempat itu, dia bahkan sempat mencium keningku.

Aku tetap berdiri di tempat sampai kedua kakiku mati rasa dan hampir tidak bisa kurasakan lagi.

Barulah aku membuka email di ponsel. Melihat tawaran untuk menempuh program doktoral di luar negeri dengan biaya yang ditanggung pemerintah, aku menekan tombol konfirmasi dengan tangan gemetar.

Beasiswa program doktoral itu menanggung seluruh biaya, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan masalah keuangan.

Dulu, aku pernah berpikir untuk melepaskan kesempatan ini demi Juliana. Sekarang, tidak ada alasan lagi untuk melakukannya. Aku menatap malam yang gelap dan tidak tidur semalaman.

...

Keesokan paginya, pintu rumahku diketuk dengan tergesa-gesa.

Begitu aku membuka pintu, seseorang langsung menyiramkan seember air kotor berbau amis ke wajahku.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 9

    Juliana tidak mengatakan apa-apa.Lama setelah Farez dibawa pergi, Juliana akhirnya hanya tersenyum getir.Dia meminta maaf kepada Nathan atas nama Farez?Bahkan Juliana sendiri tidak tahu apakah dia masih bisa menemukan Nathan. Kalaupun berhasil menemukannya, apakah Nathan masih mau memaafkannya?Lantas, apa haknya untuk menyampaikan permintaan maaf Farez?Juliana mulai mengerahkan seluruh kemampuan yang dia punya. Uang, tenaga, koneksi, apa pun yang bisa digunakan, semuanya dikerahkan untuk mencari Nathan.Pada akhirnya, berita tentang kejadian ini tetap tersebar. Dalam waktu singkat, kasus tersebut memenuhi berbagai pemberitaan media.Belum sampai seminggu, saham Finley yang sebelumnya menjadi salah satu perusahaan unggulan di dunia bisnis langsung anjlok.Namun, Juliana sama sekali tidak memedulikan keadaan perusahaan.Seluruh waktu dan pikirannya hanya tertuju pada satu hal, menemukan Nathan.Dia juga tentu saja tidak lagi terlalu memedulikan pengelolaan perusahaan dan tidak ikut

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 8

    Begitu melihat Juliana, Tristan sempat tertegun. Namun, sesaat kemudian, matanya langsung berbinar penuh kegembiraan.Dia mengira Juliana datang untuk menyelamatkannya, lalu buru-buru menghampirinya.“Juliana, akhirnya kamu datang. Farez mau mencelakaiku!”Baru saja Farez melihat sendiri sisi kejam Tristan. Namun, begitu berhadapan dengan Juliana, Tristan seketika berubah menjadi sosok yang lemah dan tidak berdaya. Farez merasa perubahan itu begitu menjijikkan.Dia menahan sakit luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya, lalu menatap Juliana. Suaranya terdengar penuh kebencian.“Juliana, kau sudah ditipu! Selama ini kita semua sudah dibohongi Tristan!”“Diam!” Belum selesai berbicara, Tristan sudah memotong ucapannya dengan suara keras.Kalau bukan karena Juliana dan polisi ada di sana, Tristan pasti sudah menggunakan cara apa pun untuk membuat Farez merasakan sendiri akibatnya karena berani membuatnya marah.Namun, sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa.Dia harus tetap menjaga ci

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 7

    Itu Farez.Matanya merah karena dipenuhi urat-urat darah. Rambutnya berantakan, sementara wajahnya tampak tegang. Dia terlihat seperti sudah berada di ambang kehancuran.“Kau sudah janji! Kalau aku mau membantumu menghancurkan Nathan, kau akan hapus semua foto-fotoku itu! Sampai kapan kau mau terus mengancamku?!” teriak Farez.Selama ini, Farez begitu takut pada Tristan karena Tristan menyimpan beberapa foto pribadinya di ponselnya.Awalnya, Farez tidak sengaja mengetahui hubungan Juliana dan Tristan. Dia sangat marah setelah tahu keduanya bekerja sama untuk menipu Nathan.Dia tidak tahan melihat Nathan terus dibohongi, sehingga berniat memberitahukan semuanya kepada Nathan agar dia bisa segera menyelamatkan dirinya dari masalah yang lebih besar.Sayangnya, saat Farez menelepon, Nathan baru saja pulang setelah bekerja paruh waktu selama belasan jam.Karena terlalu lelah, Nathan langsung tertidur begitu sampai di rumah. Farez sudah meneleponnya berkali-kali, tetapi tidak satu pun panggi

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 6

    Tristan dengan cepat menyusul Juliana ke rumah sakit. Yang dia lihat adalah Juliana yang terduduk di lantai dengan tatapan kosong.Tanpa sadar, Tristan mengira tubuh yang baru saja didorong keluar itu adalah Nathan. Sesaat, ada rasa lega yang muncul di dalam hatinya.Namun, wajahnya tetap menunjukkan kekhawatiran saat dia berkata pelan, "Juliana, aku tahu kamu lagi merasa sangat sedih. Tapi kamu harus segera bangkit. Kita baru saja menyangkal semua rumor di konferensi pers. Kalau sampai ada wartawan yang memotret keadaanmu sekarang, kita jadi harus mengeluarkan biaya besar untuk membereskannya.”Dulu, Juliana pasti akan langsung memikirkan kepentingan perusahaan setelah mendengar perkataan seperti itu.Namun sekarang, dia hanya duduk di sana dengan tatapan kosong, seolah jiwanya telah pergi entah ke mana.Apa pun yang dikatakan Tristan, dia tidak memberikan reaksi sedikit pun.Tristan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. “Lantainya dingin. Jangan duduk di sini ....”Namun, beg

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 5

    Sebenarnya, Juliana sudah memperkirakan akan ada pertanyaan-pertanyaan tajam seperti ini di konferensi pers.Bagaimanapun juga, media memang hidup dari sensasi dan berita yang mengundang perhatian.Sejak kecil hingga dewasa, Juliana sudah berkali-kali menghadapi hal semacam ini. Dia pun sudah lama memahami bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak pula mata yang mengawasinya.Entah itu rumor atau fitnah, selama bisa ikut mendulang popularitas dan menarik perhatian, mereka akan melakukan apa saja demi mendapatkan sorotan.Karena itulah, selama ini dia terus menyembunyikan identitasnya.Selama lebih dari dua puluh tahun hidupnya, dia tidak pernah bertemu dengan siapa pun yang, setelah mengetahui identitasnya, masih memperlakukannya seperti dulu.Tanpa terkecuali, semua orang akan berubah. Ada yang menjilat, ada yang berusaha mengambil hatinya, dan ada pula yang menyesuaikan diri dengannya.Juliana tidak ingin Nathan menjadi seperti itu. Karena itulah, dia terus menyembunyikan

  • Janji Diingkari, Tak Ada Lagi Pertemuan   Bab 4

    Kepalaku seketika terasa berdengung.Kondisi kesehatan ibuku memang buruk. Beberapa kali sebelum tahun baru, dia bahkan harus masuk ICU.Aku mati-matian ingin membawa Juliana pulang menemui ibuku hanya karena ingin membuatnya merasa tenang.Saat aku sampai di rumah sakit dengan panik, Farez sedang menunggu di luar ruang gawat darurat.Dia mendorongku dengan keras.“Aku sudah pernah mengingatkanmu, jangan jadi selingkuhan! Ibumu hampir mati gara-gara kau!”Orang tua Farez kecanduan alkohol dan judi, sehingga mereka sama sekali tidak punya waktu untuk mengurusnya.Selama ini, justru ibukulah yang selalu menganggap Farez seperti anak kandungnya sendiri.Aku menahan air mata. “Bagaimana kondisi ibuku?”Pintu ruang gawat darurat terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya.“Kondisinya untuk sementara sudah stabil, tapi dia benar-benar nggak boleh mengalami tekanan lagi.”Ponselku tiba-tiba menampilkan notifikasi transfer. Juliana mengirimiku uang dua miliar.[Aku sudah dengar soal ibumu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status