แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Blessy
Benar saja, pesan dari Yasmin baru saja terkirim, wajah Thomas dalam video langsung berubah. Dia terlihat gugup dan menoleh ke arah bawah tubuhnya, lalu melirik Tracy.

"Tracy, tadi kamu mau bilang apa?" Suara Thomas penuh dengan penahanan diri.

Tracy tentu tahu apa yang sedang terjadi. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Thomas, kamu kenapa? Wajahmu tiba-tiba kelihatan aneh."

"Nggak apa-apa, mungkin kurang istirahat."

Tracy hanya menatap Thomas begitu saja, cukup lama tanpa berkata apa pun. Sementara Thomas sudah terlalu disiksa oleh Yasmin sampai tak sempat memperhatikan reaksi Tracy.

Tracy mendengus dingin. "Kamu lanjutkan saja urusanmu. Aku mau tidur. Kalau klienmu terlalu merepotkan, temani saja klienmu dengan baik."

Setelah berkata demikian, Tracy langsung menutup panggilan tanpa menunggu respons Thomas.

"Menjijikkan." Dia berbalik dan masuk ke kamar mandi, mengatur suhu air ke yang paling panas. Air panas pun membilas tubuh Tracy.

Setiap kali Thomas pulang, Tracy selalu bisa mencium aroma parfum, tetapi dia tidak pernah mencurigainya. Sampai hari ini, barulah dia tahu. Ternyata setiap hari Thomas dan Yasmin seperti ini?

Sungguh menjijikkan. Pria bernama Thomas itu benar-benar menjijikkan.

Tracy keluar dari kamar mandi dan menatap foto pernikahan mereka yang tergantung di kamar, merasa itu sangat ironis. Dia memeluk selimutnya sendiri dan berjalan menuju kamar tamu.

"Nggak apa-apa. Kamu akan segera meninggalkannya. Setelah semuanya diatur, kamu bisa pulang," gumam Tracy yang meringkuk di atas ranjang.

Tubuh yang baru saja menjalani operasi masih terlalu lelah. Tak lama kemudian, Tracy pun tertidur lelap.

Keesokan harinya, dia terbangun oleh ciuman Thomas.

"Kenapa tidur di kamar ini?" Suara Thomas terdengar lembut. "Kamu nggak tahu betapa paniknya aku saat nggak melihatmu pagi ini."

Tracy menghindari ciuman Thomas.

"Sebelum menikah aku memang tidur di kamar ini. Dua hari ini tubuhku kurang sehat, jadi aku tidur di sini."

"Malam ini aku akan di rumah untuk menemanimu." Thomas menggenggam tangan Tracy. Wajahnya penuh kekhawatiran.

"Tracy, kamu sudah bekerja keras. Setelah bayi kita lahir nanti, aku pasti akan mengajarinya dengan baik." Rasa iba di mata Thomas bukan palsu, begitu juga dengan ketulusannya. Namun Tracy menatap bekas merah di leher Thomas dan merasa muak dengan kepura-puraannya.

"Nggak perlu. Kalau ada orang di sampingku, aku jadi nggak bisa tidur. Kita tidur terpisah dulu." Tracy melepaskan tangan yang digenggam Thomas dan bangkit dari ranjang.

Namun, Thomas justru menahannya dan bertanya dengan nada menyelidik, "Tracy, aku kemarin terlalu lelah. Kapan panggilan video kita ditutup?"

Tracy menatap Thomas dengan dingin. Hati Thomas langsung gelisah. Kemarin dia terlalu disiksa oleh Yasmin sampai lupa soal panggilan video.

Walaupun Yasmin mengatakan Tracy tidak menyadarinya, dia tetap tidak tenang dan pulang ke rumah lebih awal.

Saat tidak melihat Tracy di kamar, keringat dingin langsung mengucur. Baru setelah melihat Tracy, dia merasa lega sedikit.

Kini menatap pandangan Tracy yang dingin, kegelisahan di hati Thomas pun semakin kuat. Namun, Tracy hanya melepaskan tangan Thomas dengan ringan.

Dia tersenyum menenangkan ke arah Thomas. "Aku ketiduran kemarin, nggak ingat kapan videonya ditutup."

Setelah itu, Tracy melihat sendiri Thomas menghela napas lega. Dia tidak lagi memedulikan Thomas dan masuk ke kamar mandi.

Tak disangka, Thomas justru mengikutinya masuk. Dia memeluk Tracy dari belakang. Kedua tangannya menyentuh perut bawah Tracy. "Tracy, kamu harus makan lebih banyak. Bayinya nggak kelihatan bertambah besar."

Tracy mendengus dingin. Tentu saja, karena di sana sudah tidak ada anak mereka lagi.

"Aku sangat menantikan anak kita!" ujar Thomas.

Tracy menyingkirkan tangan Thomas. "Aku mau siap-siap, kamu tunggu di luar."

Thomas lalu mengangkat wajah Tracy. "Oke, aku tunggu di luar."

Tracy mengambil ponselnya. Baru saja ada satu pesan masuk, dari Yasmin.

Benar saja, Yasmin kembali mengirimkan rekaman suara yang panjang. Semuanya berisi kata-kata mesra yang mereka ucapkan di atas ranjang.

[ Masih ada videonya, tapi nggak kutunjukkan. Takut kamu terlalu terstimulasi. Lagi pula kamu juga lagi hamil. ]

[ Semalaman tadi Thomas nggak tidur, aku dibuat kelelahan. Kalau bukan karena masih memikirkan bayi di perutku, Thomas sekarang pasti nggak akan pulang. ]

[ Nggak nyangka, 'kan? Bahkan saat hamil, Thomas tetap lebih suka bersamaku. ]

[ Kenapa kamu nggak mati saja? Dengan begitu, aku dan Thomas bisa bersama. ]

Tracy menyimpan riwayat obrolan itu, lalu menghapus kontak Yasmin. Setiap pesan Yasmin selalu hampir sama, entah provokasi, entah kutukan.

Tracy mencibir dingin. Dia tak menyangka selera Thomas sudah seburuk ini. Bagaimanapun dia juga akan pergi. Sebelum pergi, lebih baik membuat mereka berdua kesal sedikit.

Sambil berpikir demikian, Tracy menghubungi seorang teman pengacara. Saat Tracy keluar kamar, dia melihat Thomas memegang ponselnya entah sedang melihat apa, tersenyum begitu cerah.

Tracy enggan memperdebatkannya. Dia berpura-pura tidak melihat, lalu berjalan menuju ruang makan.

Melihat Tracy keluar, Thomas buru-buru menyimpan ponselnya. "Kok cepat sekali?"

"Hari ini kamu nggak perlu menemani klien?" Tracy menuangkan segelas air. Nada suaranya mengandung sedikit sindiran.

"Bukankah kita sudah sepakat hari ini pergi beli baju bayi?" Thomas bangkit dan memeluk Tracy. "Lagi pula ulang tahun pernikahan kita kemarin nggak berjalan baik. Hari ini aku ganti untukmu."

Tracy yang tadinya ingin menolak, teringat kandungannya yang sudah gugur, akhirnya melunak. "Ulang tahun pernikahan nggak penting. Aku ingin membelikan sesuatu untuk bayiku."

Thomas tidak menyadari kesedihan Tracy, malah dengan gembira menyuruh orang menyiapkan mobil.

Melihat Thomas mondar-mandir, Tracy samar-samar teringat sosok Thomas yang dulu sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Dia tahu, Thomas mencintainya.

Namun, cinta Thomas sudah tidak utuh lagi. Dia membagi cintanya kepada wanita lain. Dia juga telah menodai tubuhnya dan pernikahan mereka.

"Tracy, semuanya sudah siap. Ayo kita berangkat!"

Tracy mengikuti Thomas naik ke mobil.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 23

    Sejak Thomas kembali ke negara asal, Tracy mulai fokus sepenuhnya mengurus restorannya sendiri.Dia hanya sesekali mengetahui kondisi Thomas lewat percakapannya dengan Shelly."Andai dia tahu hasilnya akan seperti ini, mana mungkin dia melakukan semua itu dulu!"Tracy hanya tersenyum. Menelepon Shelly setiap hari sudah menjadi kebiasaan yang tak pernah berubah. Urusan tentang Thomas dia anggap seperti angin lalu, didengar sebentar lalu dilupakan.Melihat Tracy hanya tersenyum tanpa menanggapi, Shelly tahu bahwa Tracy sudah tidak ingin mendengar kabar apa pun tentang Thomas lagi. Jadi, dia pun mengganti topik."Tracy, hubunganmu dengan Julian gimana sekarang?"Begitu nama Julian disebut, rona merah cepat melintas di wajah Tracy. Sudah lebih dari setahun sejak dia resmi bercerai dari Thomas. Julian juga sudah mengejarnya selama lebih dari setahun."Shelly, menurutmu ... aku bisa percaya pada Julian?"Karena Thomas, Tracy sudah sangat kecewa dengan cinta. Jadi, meskipun selama setahun ini

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 22

    Thomas benar-benar dikirim kembali ke negara asal dengan aman oleh Julian.Hal pertama yang dia lakukan setelah kembali adalah menyuruh orang-orangnya menjemput David langsung ke rumahnya.Thomas duduk di kursi roda, didorong masuk ke ruangan. Saat melihat orang-orang di dalam ruangan itu, pupil mata Thomas langsung menyempit."Yasmin?""Tuan Thomas, kami menemukan David di vila pinggiran kota. Saat itu Yasmin ada di ranjang David, jadi kami membawa mereka berdua sekaligus."Thomas bukan orang bodoh. Seketika, dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Thomas hanya tersenyum tipis. "Siapa yang mau bicara duluan?"David tersenyum menjilat. "Kak Thomas, apa maksudmu? Aku sudah susah payah mengatur agar kamu sampai ke Germina, tapi kenapa setelah pulang dari sana kamu memperlakukanku seperti ini?"Thomas menepuk pahanya dan mencibir sinis. "Kedua kakiku ini adalah hadiah darimu. Masa aku nggak membalasnya sedikit?"Setelah berkata demikian, dia menyuruh para pengawal mengambil tongk

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 21

    Baru setelah Tracy berdiri di depan pintu rumah, dia akhirnya tersadar kembali."Tracy!" Suara cemas Kate terdengar dari belakang.Tracy menoleh, lalu melihat Kate berlari ke arahnya dengan dahi berkerut. "Katanya Thomas mencarimu?"Kate menarik Tracy, mengamatinya dari atas sampai bawah.Oscar mengikuti di belakang, alisnya berkerut rapat. "Entah bagaimana bajingan itu bisa menghindari pengawasan orang-orangku."Melihat wajah orang tuanya yang penuh kecemasan, hati Tracy terasa hangat. "Tadi Julian ada di sisiku, Thomas sama sekali tidak menyentuhku. Ayah, Ibu, tenang saja."Oscar mengangguk sambil mengerutkan kening. "Aku sudah dengar. Besok kita pergi ke rumah Keluarga Bahari untuk berterima kasih pada Julian."Tracy tersenyum sambil mendorong orang tuanya kembali ke kamar. "Kalian tenang saja, aku benaran nggak apa-apa."Sementara itu, setelah Thomas dikawal naik ke mobil oleh pengawal Keluarga Indrawan, sebelum sempat sampai ke bandara, terjadi kecelakaan mobil.Saat Thomas terban

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 20

    Tracy mengangguk kepada para pengawal Keluarga Indrawan yang sejak tadi sudah mengepung. Para pengawal pun maju dan menyeret Thomas pergi.Thomas seolah-olah benar-benar terpukul, sampai-sampai tidak mengucapkan sepatah kata pun saat dikawal masuk ke mobil."Nona, maafkan kami. Bocah ini nggak datang dengan pesawat. Saat kami menemukan jejaknya, dia sudah memasuki wilayah Germina."Pengawal yang memimpin melihat Thomas dibawa masuk ke mobil, lalu segera berlari ke hadapan Tracy untuk meminta maaf."Ini kelalaian kami, sampai membuat Nona terkejut."Tracy menggeleng. "Nggak apa-apa. Terima kasih atas kerja keras kalian."Setelah para pengawal membungkuk dan pergi, Tracy tersenyum canggung ke arah Julian. "Maaf, konyol sekali ya. Dia mantan suamiku. Aku memergokinya berselingkuh."Julian menggeleng, menandakan tidak masalah. "Yang penting kamu nggak sampai syok."Karena gangguan Thomas, Tracy juga sudah tidak berminat melanjutkan pemilihan lokasi. "Julian, maaf. Hari ini aku nggak ada mo

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 19

    Sejak Tracy dan Julian saling bertukar kontak, Julian jadi sering mengundang Tracy untuk bertemu dengan alasan konsultasi.Orang tua Keluarga Bahari tentu memahami maksud putra mereka, jadi membiarkannya saja.Hari itu, Tracy justru yang mengundang Julian untuk menemaninya melihat lokasi calon restoran baru.Karena itu, Julian datang lebih awal ke rumah Keluarga Indrawan."Om, aku datang mencari Tracy." Julian menyerahkan hadiah yang dia siapkan untuk Oscar dan Kate kepada pelayan, lalu menyapa Oscar yang duduk di sofa.Oscar melirik Julian sekilas, lalu mengangguk.Kebetulan Tracy turun dari lantai atas. Dia sedikit terkejut melihat Julian. "Bukannya kita janjian ketemu di restoran?""Pagi tadi ada sedikit urusan. Kebetulan lewat sini, jadi kupikir sekalian menjemputmu." Sebenarnya Julian memang sengaja datang, tetapi karena dia mengatakannya dengan serius, Tracy pun tidak berpikir terlalu jauh.Setelah bersiap sebentar, Tracy pun berangkat bersama Julian."Aku sudah meninjau ruko di

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 18

    Thomas terpental keras akibat tabrakan. Para pejalan kaki yang terkejut segera menelepon ambulans.Saat Thomas dilarikan ke rumah sakit, dia sudah tidak sadarkan diri. Untungnya dia jatuh ke area taman hijau sehingga tidak sampai mengancam nyawa.Rendy bergegas ke rumah sakit dan melihat Thomas terbaring tak sadarkan diri di ranjang. Hatinya terasa sakit hingga dia terkulai lemas di kursi.Ketika Thomas membuka mata, yang pertama dia lihat adalah wajah Rendy yang penuh kekhawatiran. "Ayah."Rendy segera mendekat ke sisi Thomas. "Dasar bocah, kamu hampir membuat ayahmu mati ketakutan.""Ayah, aku mohon, tolong carikan Tracy ya?" Suara Thomas terdengar lemah.Hati Rendy terasa perih. Dia hanya bisa mengangguk berulang kali dan menyetujuinya.....Di sebuah vila di pinggiran kota, Yasmin berbaring di sofa. Kepalanya bersandar di paha seorang pria.Pria itu menggigit sebatang rokok. Tatapannya muram. Dialah David, orang yang memperkenalkan Yasmin kepada Thomas."Belum mati?" Begitu mendeng

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status