MasukMalam itu, di dalam kamarnya, Manda memberanikan diri untuk menelepon Bram. Ia menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Suara dering terdengar berulang-ulang. Tidak ada jawaban.
Mungkin Mas Bram sudah tidur? pikirnya cemas. Tapi jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Apa iya sudah tidur?
Tut… tut… tut…
Sambungan terputus. Hening kembali mengisi kamar. Manda menggigit bibirnya. Haruskah menelpon besok saja? Atau coba sekali lagi? Akhirnya ia memutuskan mencoba lagi.
Kali ini ia menghitung dalam hati. “Satu… dua… tiga…”
“Halo?”
Suara itu membuat jantungnya langsung berdebar kencang. “Halo, Mas Bram?”
“Maaf baru Mas angkat, Nda. Barusan Mas di luar kamar.”
“Iya, Mas, gak apa-apa. Manda… ganggu, nggak?” Manda berusaha duduk tegak di atas ranjangnya, meski kedua tangannya sudah dingin karena gugup.
“Enggak, Nda. Ada apa?”
“Anu… gini, Mas. Ada yang mau Manda bicarakan.”
“Kok suara Manda terdengar serius? Ada masalah ya?”
“Bu… bukan…” Manda semakin bingung bagaimana harus memulai. Lidahnya terasa kaku.
“B-begini, Mas. Mas Bram, Manda mau tahu… apa… Mas Bram… men… men…”
“Tanya saja, Nda. Gak perlu takut begitu.”
Manda menghela napas panjang. Sudut matanya sudah basah. Ayo, Manda… kamu pasti bisa.
“Apa… Mas Bram mencintai Manda?”
Di seberang sana, Bram terdengar kaget. “Kok tiba-tiba tanya begitu?”
“Iya… apa jawabannya, Mas?”
“Iya. Mas mencintai Manda.”
Manda memejamkan mata, lega mendengar jawaban itu. Tapi masih ada satu pertanyaan lagi—pertanyaan terberat yang harus ia ajukan.
“Mas… apa Mas… mau menikahi Manda?”
“Hah?”
“Mas mau menikahi Manda, kan?” ulangnya perlahan.
Hening. Tidak ada suara sama sekali. Manda merasakan seluruh tubuhnya menegang.
Apakah aku salah bertanya? Apa yang Mas Bram pikirkan sekarang? batin Manda.
“Mas…” panggilnya lirih.
“Kenapa Manda bertanya seperti itu? Mas jadi bingung,” jawab Bram dengan nada pelan.
“Manda perlu tahu, Mas.”
“Nda… Mas belum memikirkan soal menikah. Mas masih kuliah. Mas belum bekerja. Kita jalanin aja dulu hubungan ini. Masalah pernikahan… nanti kalau kita sudah benar-benar siap.”
Kalimat itu terasa bagai hantaman. Manda tidak bisa menyalahkan Bram. Ia sadar, pertanyaannya memang mendadak. Namun tetap saja—itulah jawaban yang paling ia takuti.
“Maaf, Mas… Manda sudah membuat Mas bingung. Manda ngerti kok,” ucapnya menahan tangis.
“Manda gak marah, kan?”
“Enggak, Mas. Manda nggak marah. Sebenarnya Manda menelpon… karena Manda akan segera menikah.”
“Apa?! Menikah?!”
“Ada yang melamar Manda. Jawabannya harus diberikan besok. Karena itu Manda menelpon Mas Bram. Kalau Mas Bram mau menikahi Manda, Manda akan menolak lamaran itu. Kalau tidak… Manda akan menerimanya.”
Diam lagi. Lebih panjang dari sebelumnya. Manda menunggu, berharap—walaupun kecil—bahwa Bram akan mengubah jawabannya.
“Jadi… Manda mau berpisah?”
“Sebenarnya Manda tidak mau, Mas… tapi Manda nggak punya pilihan.”
Ayo, Mas… katakan sesuatu. Lakukan sesuatu… Manda memohon dalam hati.
“Kalau begitu, tolak lamaran itu.” Nada suara Bram terdengar tegas.
“Manda tidak bisa, Mas.”
“Kenapa? Manda nggak percaya sama Mas? Manda meragukan cinta Mas?”
“Bukan begitu, Mas… tapi Bapak dan Ibu menginginkan kepastian. Manda nggak bisa apa-apa.”
Sejenak Bram diam, lalu berkata pelan namun tajam,
“…larilah.”
“Apa?” Manda mengerutkan kening.
“Tinggalkan rumah. Datang ke Mas!”
Manda tercekat. “A-apa?”
“Kalau Manda benar-benar cinta sama Mas, Manda harus berani. Tolak lamaran itu. Tinggalkan rumah. Datangi Mas!”
“Mas… bagaimana bisa Mas menyuruh Manda begitu?” Suaranya mulai gemetar.
“Kalau orang tua Manda gak kasih kita pilihan, Manda juga harus melakukan hal yang sama!”
“Mas!” seru Manda. “Manda gak mau! Manda gak mau bikin Bapak dan Ibu sedih! Manda gak mau jadi anak durhaka!”
“Jadi Manda mau terima begitu saja?! Mau berpisah dari Mas?!”
“Iya! Iya, Mas!” akhirnya air mata Manda pecah. “Manda lebih memilih berpisah daripada membuat malu Bapak dan Ibu! Manda nggak menyangka Mas bisa bilang begitu. Manda kecewa sama Mas Bram.”
Suasana di ujung telepon seketika melunak.
“Nda… maaf kalau Mas sudah menyinggung. Bukan itu maksud Mas.”
“Sudah, Mas Bram. Sampai sini saja.” Manda mengusap air matanya yang terus mengalir.
“Nda…”
“Makasih Mas… sudah mencintai Manda. Tapi maaf… hubungan kita harus berakhir sekarang. Selamat tinggal, Mas Bram.”
Tanpa menunggu jawaban, Manda memutus sambungan telepon.
Ia menunduk, kedua bahunya bergetar. Betapa teganya Bram menyuruhnya melakukan hal yang tak pernah ia bayangkan. Bram yang dulu tidak akan berkata seperti itu.
Malam itu, Manda menyadari satu hal: mungkin inilah jalan yang harus ia tempuh. Mungkin… Bram bukan pilihan terbaik untuk masa depannya.
“Wah, anak itu kebangetan!” Daniel mendengus kesal. “Arman sama sekali nggak pernah menghubungi Manda?”Tamara mengangguk pelan sambil memanyunkan bibirnya. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran yang sejak tadi ia pendam.Malam sudah larut. Lampu kamar mereka menyala temaram. Daniel dan Tamara duduk bersandar di kepala ranjang, mengenakan piyama, berbincang di ruang paling privat mereka, tempat segala keluh kesah akhirnya terucap tanpa ditahan.“Biar aku telepon dia sekarang,” ujar Daniel tegas sambil meraih ponselnya.“Eh, jangan, Sayang.” Tamara buru-buru menahan tangannya. “Kasihan Manda. Kalau kamu marahi Arman, nanti Manda malah dituduh tukang ngadu. Dia bisa makin disudutkan.”Daniel terdiam sejenak. Rahangnya mengeras.“Tapi ini juga nggak bisa dibiarkan,” ujarnya kemudian, suaranya lebih rendah tapi sarat emosi. “Kasihan Manda kalau terus dicuekin seperti itu. Dia istrinya, bukan orang asing.”Tamara menghela napas, mengusap pelan lengan suaminya. “Iya… aku juga kepikir
Adelia pulang dari sekolah sore itu dengan tawa yang riuh. Ia menaiki anak tangga bersama beberapa teman perempuannya. Seragam internasional mereka tampak rapi dan modis. Langkah mereka ringan, penuh semangat remaja yang percaya diri.Di saat yang sama, Amanda sedang melintas di bawah tangga, hendak menuju ruang tengah.“Hei, kamu,” panggil Adelia dari atas anak tangga, nadanya tinggi dan sombong.Amanda berhenti melangkah, lalu mendongak. Tatapannya polos, nyaris tanpa perlawanan.“Bawakan minuman dan cemilan ke kamarku,” perintah Adelia singkat, seolah itu hal yang wajar.“Iya,” jawab Amanda lembut. Tak ada protes, tak ada ekspresi tersinggung. Hanya kepatuhan yang lahir dari kebiasaan menahan diri.Adelia kembali melangkah. Salah satu temannya mendekat, berbisik pelan namun cukup terdengar.“Siapa dia?”“Asisten baru,” jawab Adelia sambil tersenyum miring, senyum yang sengaja diperlihatkan.Kata itu sampai ke telinga Amanda. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia memilih diam. Ia me
Malam itu, New York diselimuti cahaya lampu kota yang berkilau. Di sebuah ballroom hotel bintang lima di Manhattan, pesta pernikahan berlangsung megah dan elegan. Langit-langit tinggi dihiasi kristal chandelier yang memantulkan cahaya keemasan. Meja-meja bundar tertata rapi dengan taplak putih gading, rangkaian bunga segar, serta lilin-lilin kecil yang menyala lembut. Alunan musik jazz mengalir pelan, bercampur dengan tawa para tamu undangan yang berdansa dan berbincang penuh sukacita.Pengantin baru baru saja menyelesaikan dansa pertama mereka. Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan, disusul iringan musik yang kembali mengalun ceria.Di salah satu meja bundar, Arman duduk bersama teman-teman kuliahnya. Cyntia seorang wanita berkulit putih dengan rambut pirang tergerai rapi, Donny seorang pria berkulit putih dengan senyum usil khasnya, dan Chris seorang pria Afrika-Amerika bertubuh tinggi dengan tawa lepas yang selalu menular. Malam itu menjadi semacam reuni kecil di tengah kesibukan
Mobil berhenti di halaman rumah Hadiwijaya menjelang sore. Amanda turun paling akhir, langkahnya tertahan sejenak sebelum menapaki lantai marmer teras depan. Andien dan Adelia sudah lebih dulu turun, wajah mereka tampak puas setelah seharian berbelanja.Sebelum melangkah masuk ke dalam rumah, Andien tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Amanda, sorot matanya tajam dan dingin.“Kamu dengarkan baik-baik,” ucapnya lirih namun penuh tekanan. “Kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini dengan tenang, jangan pernah mengadu pada Ibu tentang acara perkenalan yang batal.”Amanda menunduk dan mengangguk pelan. “I-iya, Ma.”Tidak ada bantahan. Tidak ada pertanyaan. Ia tidak ingin memperkeruh keadaan, tidak sekarang, tidak di rumah yang bahkan belum benar-benar terasa seperti miliknya.Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan menyusul dari belakang, membawa tas-tas belanjaan milik Andien dan Adelia. Suara langkah mereka bergema pelan di lantai yang mengilap.Bibi
Dua hari telah berlalu sejak kepergian Arman. Rumah Hadiwijaya kembali terasa tenang, terlalu tenang bagi Amanda. Pagi itu, mereka berkumpul di ruang keluarga. Nenek Rosa duduk di sofa utama, ditemani Amanda. Sementara Andien dan Adelia duduk di sisi lainnya.Setelah beberapa saat berbincang ringan, Nenek Rosa menoleh ke arah Andien.“Andien,” ujarnya, “kapan kita akan mengadakan pesta perkenalan untuk Amanda?”Andien tersenyum sopan, senyum yang terlatih dan tenang. “Menurutku… tidak perlu mengadakan pesta, Bu,” jawabnya hati-hati. Di dalam hatinya ia sama sekali tidak ingin memperkenalkan Amanda sebagai menantu keluarga Hadiwijaya.“Tidak perlu?” Nenek Rosa mengernyit. “Kenapa tidak? Kerabat dan teman-teman kita harus mengenal Amanda sebagai istri Arman.”Andien tampak berpikir, mencari alasan lain yang terdengar masuk akal. Namun sebelum ia sempat bicara, Adelia mendahului.“Nenek,” katanya dengan nada manis, “Nenek kan akhir-akhir ini kurang enak badan. Kalau mengadakan pesta di
Amanda membuka pintu kamar perlahan. Pandangannya menyapu ruangan, namun kamar itu kosong. Tidak ada Arman. Ia melangkah masuk beberapa langkah, lalu berhenti ketika telinganya menangkap suara air yang mengalir dari arah kamar mandi.Arman sedang mandi.Amanda menghela napas kecil, antara lega dan gugup. Ia menutup pintu kamar, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di atas paha, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Ia menatap lantai sesaat, lalu ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat."Apa yang harus kukatakan nanti?Haruskah aku bertanya? Atau diam saja seperti biasa?" batinnya.Suara air itu terus mengalir, seolah memberi Amanda waktu untuk menata pikirannya. Waktu yang justru membuat dadanya semakin sesak.Tiba-tiba, ponselnya bergetar.Amanda terkejut kecil. Ia segera meraih ponsel di atas nakas. Nama Ibu tertera di layar. Dadanya menghangat seketika.“Ibu…” gumamnya lirih sebelum mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum, Nak,” suara ibunya terdengar dari seberang,







