LOGINHujan turun pelan di luar jendela kantor saat Nayla kembali ke mejanya. Langit yang tadi cerah kini berubah kelabu, seakan mencerminkan pikirannya yang sedang kusut. Pertemuan singkat dengan Keane tadi membuat pikirannya campur aduk. Ada sesuatu dalam cara Keane menatapnya seolah ingin bicara lebih dari yang mulutnya izinkan.
Tapi Nayla bukan remaja 17 tahun lagi. Ia tak bisa terus terbawa oleh nostalgia yang manis namun menyakitkan. “Gimana rooftop date-nya?” bisik Santi, muncul tiba-tiba dari balik sekat meja. “Biasa aja,” jawab Nayla singkat, pura-pura fokus pada layar komputernya. Santi mendengus. “Yaelah, Nay. Lo tuh lagi dijodohin sama cowok tampan pewaris perusahaan, dan lo masih bisa bilang ‘biasa aja’? Gila sih.” Nayla hanya tersenyum samar. Dalam hatinya, ia tahu hal ini jauh dari ‘biasa’. Yang terlihat indah di luar, belum tentu semanis kenyataannya. Jam kerja berlalu pelan. Beberapa kali Nayla mendapati dirinya melamun, menatap kosong spreadsheet di depan matanya. Lalu, sebuah pesan masuk ke emailnya undangan rapat divisi dengan direksi baru. Namanya ada di daftar. Hatinya berdebar. Rapat itu akan mempertemukannya lagi dengan Keane, tapi kali ini dalam konteks profesional. Dan Nayla harus memastikan tidak ada perasaan pribadi yang mengganggu. Meski itu sulit. Sore harinya, ruang rapat dipenuhi suasana formal. Para manajer duduk berjajar, membicarakan laporan kuartalan dan strategi divisi. Keane duduk di ujung meja, mengenakan jas abu-abu elegan dan menatap semua orang dengan tenang. “Divisi pemasaran akan jadi fokus utama beberapa bulan ke depan,” ucapnya. “Dan saya harap kerja sama kalian maksimal.” Tatapannya sesaat berhenti pada Nayla hanya sepersekian detik tapi cukup membuat jantung Nayla berdegup lebih cepat. Ia berusaha tetap tenang, mencatat poin-poin penting dan menghindari kontak mata. Nayla merasa seluruh ruang rapat berubah dingin dalam sekejap. Detik itu juga, sorotan mata semua orang berpindah dari Keane kepada dirinya. Ia menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja, dan pipinya merona malu. “Aku tahu ini bukan tempat yang biasa untuk membicarakan hal pribadi,” lanjut Keane tenang, matanya tak lepas dari Nayla. “Tapi aku rasa, tak ada salahnya mengenalkan seseorang yang akan menjadi bagian penting dari hidupku… dan mungkin juga perusahaan ini.” Beberapa orang bertepuk tangan kecil, lebih karena kebingungan dan formalitas. Nayla masih diam. Otaknya berputar cepat, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Keane bahkan belum bicara sepatah kata pun padanya sejak terakhir bertemu di pesta keluarga kenapa sekarang malah menyebutnya seperti itu di hadapan seluruh direksi? Usai rapat, Nayla buru-buru keluar ruangan. Nafasnya tak beraturan. Ia mencari udara, mencari tempat tenang. Namun langkahnya dihentikan oleh suara yang sangat ia kenal. “Nayla.” Ia berhenti. Tak berani menoleh. “Bisa bicara sebentar?” Perlahan, ia menoleh. Keane berdiri hanya beberapa langkah darinya. Tak lagi memakai jasnya, hanya kemeja putih digulung di bagian lengan, rambut sedikit acak karena terburu-buru. Tampan, tetap saja. Menyebalkan juga tetap. “Apa maksudmu tadi di dalam?” tanya Nayla dingin. Keane menyentuh tengkuknya, tampak gugup untuk pertama kalinya. “Aku cuma... ingin semua orang tahu kamu bukan orang asing dalam hidupku.” “Dan kau pikir mengumumkannya di ruang rapat adalah cara terbaik?” “Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Setelah semuanya... setelah bertahun-tahun.” Nayla menatapnya tajam. “Kau menghilang begitu saja dulu. Lalu tiba-tiba muncul, jadi calon penerus perusahaan dan bilang aku bagian dari hidupmu? Apa aku harus bertepuk tangan?” Keane menunduk. “Aku minta maaf. Ada alasan kenapa aku pergi waktu itu. Aku janji akan jelaskan semuanya... tapi tidak di sini.” Nayla menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk kecil. “Satu kali, Keane. Kau punya satu kesempatan untuk bicara. Setelah itu, aku yang akan memutuskan segalanya.” Keane tersenyum samar. “Itu lebih dari cukup.” Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Nayla sadar satu hal: luka lama yang belum sempat sembuh... kini mulai berdetak kembali.Udara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya Nayla saja yang merasakannya. Ia duduk di balik meja kerjanya, jari-jarinya gemetar saat mencoba menyalakan komputer. Meski wajahnya dipulas dengan riasan tipis, matanya tetap tak bisa menyembunyikan kelelahan semalaman. Pikirannya masih terjebak di malam itu tatapan mata Keane yang terlalu lekat, kalimat-kalimatnya yang menggantung, dan bagaimana jantungnya berdetak terlalu kencang.“Pagi, Nayla!”Suaranya terlalu ceria untuk jam kerja pertama. Rena, rekan satu tim sekaligus sahabatnya di kantor, menjulurkan wajahnya dari balik partisi, menatap Nayla dengan senyum penuh selidik. “Kamu kenapa? Muka kamu kayak abis lari marathon tengah malam.”Nayla tersenyum kaku. “Kurang tidur aja.”Rena tidak langsung percaya. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong sebelah Nayla, sambil memandangi layar komputer yang belum menyala. “Jangan bilang kamu kepikiran… calon suami kamu itu?”Nayla menoleh cepat. “Hah?”Rena mengan
Malam itu, Nayla duduk termenung di kamar apartemennya. Lampu kuning redup menyinari tumpukan dokumen di meja, tapi pikirannya jauh dari urusan kantor. Perkataan Keane di restoran sore tadi terngiang-ngiang dalam benaknya. Tentang masa lalu. Tentang orangtua mereka. Tentang sesuatu yang belum pernah ia ketahui bahwa keluarganya punya sejarah yang menyakitkan dengan keluarga pria itu. Nayla menggenggam cangkir teh hangat yang mulai dingin. Sejak kapan hidupnya yang biasa saja ini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia dan luka yang tak disangka? Rasanya, langkahnya semakin berat setiap hari. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Keane: "Aku tahu kamu belum bisa tidur. Kalau kamu butuh bicara, aku di bawah." Nayla terkesiap. Ia berjalan pelan ke jendela, dan benar saja mobil Keane terparkir di sisi jalan apartemennya. Lampu dalam kabin menyala, siluet pria itu terlihat duduk dengan bahu menunduk, menunggu. Ia bimbang. Haruskah ia turun? Bertemu lagi setelah semua percakapan emo
Pagi di kantor kembali berjalan seperti biasa. Hening, sibuk, dan penuh dengan dokumen yang menumpuk di meja Nayla. Tapi, yang tidak biasa adalah detak jantungnya yang berdegup lebih cepat setiap kali ponselnya berbunyi dan ya, itu selalu dari satu nama Keane Alvaro. "Selamat pagi. Sudah sarapan belum?" pesan dari Keane muncul di layar. Nayla menghela napas, tersenyum tanpa sadar, lalu mengetik, “Sudah. Roti tawar dan kopi. Standar pegawai tangguh.” Balasan dari Keane langsung muncul, “Kopi? Harusnya teh manis, biar senyum kamu makin manis juga.” Nayla menahan tawa kecil. Siapa sangka, pria yang dulu menghilang tanpa jejak itu sekarang bisa menggoda semanis ini? Tapi dalam lubuk hatinya, Nayla tahu… belum semuanya baik-baik saja. Hatinya belum benar-benar pulih, dan Keane pun belum benar-benar membuka luka yang ia simpan sendiri. Di tengah kekalutan pikirannya, pintu ruangan terbuka. Ibu Ratri, asisten senior direktur, masuk sambil membawa map tebal. “Nayla, kamu ditugaskan mend
Sore itu, langit Jakarta mulai berwarna oranye keemasan. Suara deru kendaraan berlalu-lalang dari kejauhan, namun terasa seperti gema samar di telinga Nayla. Di dalam mobil yang melaju pelan, suasana justru terasa hening. Keane duduk di kursi kemudi, sekali-sekali melirik Nayla yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak mencoba mengisi keheningan itu, seolah keduanya tahu masing-masing sedang bergulat dengan rasa yang sulit diberi nama. “Maaf,” Keane akhirnya membuka suara. “Aku nggak bermaksud bikin semuanya jadi serumit ini.” Nayla menghela napas. “Kamu tahu... aku nggak butuh penjelasan panjang lebar. Aku cuma butuh kejujuran, Keane.” Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan kecil. Tempatnya sederhana tapi punya suasana hangat. Keane memarkir mobil dan menoleh. “Kalau kamu siap, aku bakal cerita semuanya. Tentang kenapa aku pergi waktu itu... dan kenapa aku balik sekarang.” Mereka turun dari mobil, duduk di sudut yang agak sepi. Pelayan datang, mencatat pesana
Kafe di sudut kota itu tampak hangat sore itu. Lampu-lampu gantung dengan cahaya kekuningan menciptakan suasana nyaman, berbeda jauh dengan degup jantung Nayla yang tak kunjung tenang. Ia duduk di sudut dekat jendela, menggenggam gelas kopinya yang sudah dingin sejak lima belas menit lalu. Ia menoleh saat bel pintu berbunyi. Keane masuk, mengenakan jaket gelap dan syal tipis yang membuat penampilannya terlihat santai, tapi tetap elegan. Matanya langsung menemukan Nayla, dan senyum tipis muncul di wajahnya. “Maaf aku telat. Lalu lintas,” ucap Keane sembari menarik kursi di depannya. Nayla hanya mengangguk pelan. “Aku hampir pulang.” “Aku bersyukur kamu belum pulang,” sahutnya ringan, mencoba mencairkan suasana. Beberapa detik hening. “Jadi?” tanya Nayla, menatap langsung ke matanya. “Apa yang mau kamu ceritakan?” Keane menghela napas panjang. Ia menatap keluar jendela, lalu kembali pada Nayla. “Dulu, waktu kita masih remaja, aku... bukan hanya menghilang tanpa kabar. Aku
Dua hari berlalu sejak percakapan canggung antara Nayla dan Keane di ruang rapat. Sejak saat itu, Keane tak lagi muncul di lantai tempat Nayla bekerja. Entah sibuk dengan jadwal direksi, atau memang sengaja menjaga jarak. Tapi Nayla bersyukur. Ia butuh waktu untuk bernapas, mencerna semua perasaannya yang berantakan. Namun, di balik kesunyian itu, Keane justru semakin sering muncul di media sosial perusahaan. Wajahnya terpampang di unggahan foto meeting, kunjungan lapangan, dan pernyataan resmi sebagai calon penerus bisnis keluarga. Nayla menontonnya diam-diam, antara kagum dan... waspada. “Lo masih mikirin Keane, ya?” Santi bertanya sambil menyeruput es kopi di meja pantry. Nayla hanya mengangkat bahu. “Sulit buat nggak mikirin.” Santi tersenyum simpul. “Gue ngerti. Tapi Nay, gue punya feeling... cowok itu balik bukan cuma buat jadi penerus perusahaan.” “Apa maksud lo?” “Lo inget dulu pas SMA? Keane tiba-tiba menghilang. Lo nangis seminggu penuh waktu itu.” Nayla menegang. Ia







