Partager

BAB 236

Auteur: Nona Mentari
last update Date de publication: 2026-08-09 00:11:52

Pagi hari menyingsing di koridor lantai tiga rumah sakit. Cahaya matahari tipis menembus jendela kaca di ujung lorong, memantul di atas lantai hospital yang dingin.

Maman masih duduk tegak di kursi besi persis di sebelah pintu kaca ruang ICU.

Pria bertubuh tegap itu sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam.

Mata elangnya yang tajam terus bersiaga penuh, menyapu setiap sudut lorong dan pintu lift tanpa menurunkan kewaspadaannya sedikit pun.

Suara denting halus pintu lift di ujung korido
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 240

    Heri menyandarkan Punggung tegapnya yang berotot pada tumpukan bantal tebal di kepala ranjang kamar VIP.Kemeja pasien berwarna biru muda terpasang rapi, menutupi balutan kasa steril yang melingkar erat di perut kirinya.Rasa panas dan nyeri yang membakar masih menyengat tajam setiap kali pria bertubuh tinggi besar itu menggeser posisi duduknya, namun rahang tegas Heri tetap terkunci rapat tanpa menunjukkan rasa lemah sedikit pun.Sintya duduk setia di pinggir tempat tidur. Dengan telaten, tangan cantiknya memegang cangkir berisi air hangat ber-sedotan, menyodorkannya perlahan ke bibir Heri."Pelan-pelan minumnnya, Heri," bisik Sintya lembut.Matanya yang sembap kini memancarkan Binar kebahagiaan yang tak bertepi, bibir tipisnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum lega melihat calon suaminya sudah bisa diajak bicara.Heri meminum air hangat itu beberapa teguk, merasakan tenggorokannya yang tadinya kering kerontang perlahan membaik.Sepasang mata elang Heri menatap lekat wajah Sin

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 239

    Dua hari berlalu begitu cepat di dalam ruang perawatan intensif rumah sakit.Suasana hening dan dingin menyelimuti ruangan steril itu, hanya dihiasi bunyi konstan dari monitor detak jantung yang berdetak teratur.Sintya tak pernah lelah dan setia duduk di samping ranjang ICU, memegangi jemari besar Heri yang masih teraba agak dingin.Wanita itu enggan beranjak jauh, menyandarkan kepalanya di tepi kasur busa putih sembari mengawasi setiap helaan napas calon suaminya.Suasana haru mendadak membuncah hebat saat kelopak mata tebal Heri perlahan-lahan bergerak.Dengan usaha yang amat berat, sepasang mata elang pria tegap itu terbuka sempurna. Pandangan mata Heri yang tadinya kabur dan membayang hitam perlahan mulai fokus.Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah sosok Sintya yang sedang tertidur lelap, menyandarkan kepala tepat di sebelah tangannya dengan wajah yang tampak lelah.Heri mencoba menggerakkan jemari tangannya yang kaku. Tenggorokannya terasa teramat kering dan te

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 238

    Usai membasuh diri dan menyegarkan badannya dengan air hangat, Maman melangkah menuruni anak tangga menuju ruang tengah.Pria bertubuh tegap itu kini hanya mengenakan celana kain kargo miliknya yang telah bersih, memperlihatkan dada bidang berotot serta otot lengan kirinya yang kokoh dan berurat.Rambut pendeknya yang agak basah diusapnya santai menggunakan handuk kecil.Di ruang tengah, Karin baru saja meletakkan secangkir kopi hitam panas yang berasap tipis di atas meja kaca.Begitu mendengar langkah kaki berat Maman mendekat, Karin berpaling. Tatapan matanya seketika terkunci kaku, menyisir lekuk otot dada dan perut Maman yang terpampang nyata tanpa balutan kain."Kopi panasnya sudah siap, Mas Maman," ujar Karin dengan suara yang mendadak agak serak dan pelan.Maman melangkah mendekat, menghentikan gerakannya tepat di hadapan Karin."Terima kasih, Karin."Saat Maman menerima cangkir kopi tersebut dan meminumnya seteguk, jarak di antara mereka berdua tersisa amat tipis. Karin tak me

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 237

    Roda-roda besar SUV hitam itu bergulir mulus membelah jalanan kota yang mulai ramai.Di balik kemudi, Maman menatap lurus ke depan, kedua tangan besarnya mencengkeram lingkar kemudi dengan stabil meski raut lelah yang teramat sangat tak bisa sepenuhnya disembunyikan dari wajah tegasnya.Di kursi penumpang, Karin melirik ke arah Maman secara diam-diam.Wanita itu memperhatikan rahang tegap Maman yang ditumbuhi brewok tipis, mata elang yang agak merah karena tidak tidur semalaman, serta postur tubuhnya yang tetap tegap kokoh memancarkan ketegasan jantan."Mas Maman," panggil Karin memecahkan keheningan di dalam kabin mobil."Ya, Karin?" sahut Maman pendek dengan suara bariton rendahnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan."Mas Maman kelihatan capek banget. Mata Mas Maman saja sampai merah begitu," kata Karin dengan nada khawatir yang jelas terdengar. "Gimana kalau mampir ke rumah aku sebentar?"Maman melirik sekilas lewat kaca spion tengah sebelum menoleh tipis ke arah Karin. "Ke r

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 236

    Pagi hari menyingsing di koridor lantai tiga rumah sakit. Cahaya matahari tipis menembus jendela kaca di ujung lorong, memantul di atas lantai hospital yang dingin.Maman masih duduk tegak di kursi besi persis di sebelah pintu kaca ruang ICU.Pria bertubuh tegap itu sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam.Mata elangnya yang tajam terus bersiaga penuh, menyapu setiap sudut lorong dan pintu lift tanpa menurunkan kewaspadaannya sedikit pun.Suara denting halus pintu lift di ujung koridor terdengar. Ting.Maman langsung berdiri cekatan, mengencangkan bahu bidangnya sembari membetulkan posisi jaket kulit hitamnya.Langkah kaki tergesa-gesa memecah keheningan koridor ketika Karin datang mendampingi Sintya dan Nathan.Anak laki-laki itu berjalan mungil di samping Sintya, sambil merapatkan pegangan tangan mungilnya pada jemari sang ibu.Nathan yang jujur dan polos menghentikan langkahnya sejenak, mengadah menatap tubuh tegap Maman yang menjulang kaku di depan pintu ICU."Om Maman..

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 235

    Lampu ruang operasi berwarna merah di atas pintu ganda itu akhirnya padam sepenuhnya, berganti menyala hijau terang.Engsel pintu ganda terdorong lebar, memunculkan tim dokter dan perawat yang mendorong ranjang dorong Heri keluar secara perlahan.Tubuh tegap Heri kini terbaring lemah di atas kasur busa putih. Kemeja kargo kelabunya yang robek dan bersimbah darah telah digantikan oleh pakaian steril rumah sakit berwarna biru muda.Di hidungnya terpasang slang oksigen transparan, sementara jarum infus dan kabel pemantau detak jantung (ECG monitor) menempel rapat di dada bidang dan pergelangan tangannya.Pernapasannya naik-turun secara teratur meski matanya masih terpejam rapat dalam pengaruh obat bius total.Sintya langsung berlari mendekat, menempelkan kedua tangannya di pinggiran ranjang. "Heri... Heri..."Maman melangkah tegap di samping ranjang, matanya meneliti setiap alat medis yang terpasang di tubuh sahabatnya. Dokter bedah yang berjalan di samping ranjang menoleh menatap Maman

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 69

    Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status