Share

BAB 2

Author: Nona Mentari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-06 23:44:20

Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.

“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan nada tajam. Matanya menyipit penuh selidik.

Heri gemetar hebat, tangannya yang memegang paket plastik itu berkeringat dingin. “I-ini, Nyonya... ada paket penting. Tadi kurirnya bilang harus sampai sekarang. Maaf, Nyonya, pintu depan tadi nggak terkunci, saya... saya juga nggak sengaja mecahin vas itu,” ucap Heri terbata-bata.

Sintya diam, matanya menyapu Heri dari ujung sepatu hingga ke wajah. Heri yang tertunduk justru tidak sengaja melihat ke arah kerah kimono Sintya yang melonggar. Dari sudut itu, ia bisa melihat gundukan dada Sintya yang besar menyembul, putih dan mulus. Heri menelan ludah. Bayangan Sintya yang sedang memegang payudara itu sendiri tadi kembali menghantam otaknya.

“Bawa masuk paketnya. Taruh di meja dalam,” perintah Sintya dingin.

“Baik, Nyonya.”

Heri mengangguk patuh seperti kerbau dicocok hidung. Ia melangkah masuk ke dalam kamar yang aromanya sangat khas, perpaduan parfum mahal dan bau gairah yang tertinggal. Mata Heri tak sengaja melirik ke arah sprei yang berantakan.

Di sana, ada noda basah yang cukup lebar, bukti puncak kepuasan yang baru saja dialami majikannya. Heri menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran kotor, lalu menaruh paket itu di meja konsol dekat kamar mandi.

“Sudah, Nyonya. Saya... saya permisi dulu,” pamit Heri sambil buru-buru berbalik. Sintya sekarang sudah duduk di tepi tempat tidur, menyilangkan kaki jenjangnya.

“Tunggu dulu,” potong Sintya. “Kenapa kamu kelihatan gugup begitu? Keringatan kamu sampai kayak gitu, kayak orang habis lari maraton.”

Heri menyeka dahinya dengan punggung tangan. “Anu... gerah, Nyonya. Terus saya juga takut soal vas tadi.”

Sintya tertawa remeh, lalu matanya turun ke arah bawah, tepat ke arah celana seragam Heri yang masih menonjol keras. “Takut ya? Tapi burung kamu kenapa malah bangun begitu? Kamu habis ngintip aku, ya?”

Heri terkesiap, mulutnya menganga lebar. Ia refleks menutupi bagian depannya dengan kedua tangan, wajahnya merah padam. “Enggak, Nyonya! Sumpah, saya nggak... saya nggak maksud begitu!”

“Jangan bohong kamu! Kamu pikir aku bodoh?” bentak Sintya sambil melipat tangan di dadanya, membuat dadanya semakin terangkat naik. “Jujur sekarang, atau aku telpon kantor kamu dan aku bilang kamu mau kurang ajar sama aku!”

Mendengar ancaman itu, pertahanan Heri runtuh. Ia langsung bersimpuh di lantai, berlutut di hadapan Sintya dengan tubuh menggigil.

“Maafin saya, Nyonya... Maafin saya! Tadi saya bener-bener nggak sengaja. Saya denger suara Nyonya, saya pikir Nyonya sakit atau kenapa, makanya saya liat...” ujar Heri sambil menunduk dalam.

“Tolong jangan pecat saya, Nyonya. Zaman sekarang susah cari kerja. Anak saya di kampung butuh uang buat bayar sekolah. Cuma ini pekerjaan saya satu-satunya.”

Sintya tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun. Ia justru berdiri dan berkacak pinggang, menatap Heri dengan tatapan merendahkan.

“Ooh, jadi sekarang bawa-bawa anak? Kamu itu kurang ajar, Heri! Kamu itu cuma satpam, berani-beraninya mata kotor kamu itu ngeliat saya tanpa busana!” teriak Sintya penuh amarah. “Kamu nggak tahu diri ya? Saya gaji kamu buat jaga keamanan, bukan buat jadi pengintip mesum!”

“Nyonya, saya mohon... saya khilaf...” tangis Heri mulai pecah.

“Khilaf matamu! Saya nggak mau tahu. Saya akan telpon atasan kamu sekarang juga. Kamu harus dipecat secara tidak hormat biar nggak ada perusahaan yang mau terima satpam otak mesum kayak kamu!” Sintya meraih ponselnya di atas nakas, jemarinya bergerak cepat mencari kontak perusahaan outsourcing.

Heri merayap maju, mencoba menggapai kaki Sintya untuk memohon. “Nyonya, tolong! Saya mohon jangan telpon mereka. Saya bakal lakuin apa aja, Nyonya. Apa aja! Asal jangan pecat saya.”

“Diam kamu! Jangan sentuh saya!” Sintya menjauhkan kakinya dengan jijik. Ia mulai menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo? Ya, ini Sintya dari Citra Kencana. Saya mau lapor soal petugas keamanan atas nama Heri Hermawan—”

Tepat saat kalimat itu menggantung, sebuah kilatan cahaya putih yang sangat terang menyambar dari balik jendela, disusul suara Duar! yang menghantam bumi dengan getaran luar biasa. Petir itu begitu dekat.

Ctek!

Lampu kamar langsung padam. Seluruh rumah menjadi gelap gulita seketika.

“Aaaaaakhhh!” Sintya menjerit kencang, menjatuhkan ponselnya ke lantai karena terkejut luar biasa. Dalam kegelapan total itu, Sintya yang tadinya galak tiba-tiba kehilangan tumpuan dan limbung.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 9

    Tanpa membuang waktu lagi, Heri menyambar pinggiran tank top putih yang dikenakan Sintya. Dengan satu sentakan kuat yang penuh dominasi, ia menarik pakaian tipis itu melewati kepala sang majikan dan melemparkannya asal ke atas meja makan.Sintya kini setengah polos, menyisakan pemandangan dada yang membusung indah di depan mata Heri.Heri tidak menunggu aba-aba. Ia langsung menunduk dan melahap gundukan kenyal itu dengan rakus.“Aaakh! Heri!” Sintya menjerit kencang, tubuhnya melengkung saat lidah kasar Heri menyapu putingnya yang sudah mengeras. “Pelan, Her... mmmh, tapi jangan berhenti. Aku udah lama banget nggak ngerasain ini... Mas Reno nggak pernah mau sepert ini.”Heri tidak peduli dengan keluhan soal suaminya. Fokusnya hanya pada rasa manis dan hangat kulit Sintya. Ia menyusu dengan sangat agresif, menciptakan suara isapan yang memenuhi keheningan ruang tengah. Adrenalin Heri memuncak; rasa puas karena bisa memiliki apa yang selama ini hanya bisa ia intip membuatnya semakin ber

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 8

    Heri menarik napas panjang, dan menatap lekat sepasang mata Sintya yang masih tampak gelisah. “Jujur aja, Nyonya. Pas saya lihat Nyonya tadi malam... 'burung' saya bergejolak. Saya laki-laki normal,” aku Heri dengan suara rendah yang jujur.“Tapi saya tahu diri. Saya cuma satpam, dan saya hargai Nyonya sebagai majikan saya. Makanya saya tahan sebisa mungkin.”Jawaban blak-blakan itu seketika membungkam Sintya. Wanita itu terpaku, seolah tidak menyangka Heri akan seberani itu mengakui gairahnya namun tetap menunjukkan rasa hormat. Heri berdehem, memecah kecanggungan. “Bintik merahnya sudah nggak kelihatan, Nyonya. Sudah aman.”Sintya hanya mengangguk kaku. Ia segera menyambar ponselnya yang terus bergetar. “Ya, Mas? Oh, baru mau telepon balik,” ujar Sintya. Wajahnya berubah drastis, memasang senyum ramah yang terlihat sangat palsu di mata Heri.Heri melangkah mundur, berniat keluar dari ruang tengah untuk memberi privasi. Namun, baru beberapa langkah, telinganya menangkap suara Reno da

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabuni piring pertama, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat.“Heri! Heri, gawat! Sini kamu!” seru Sintya dengan nada panik yang sangat tinggi.Heri menoleh, tangannya masih penuh busa. “Kenapa lagi, Nyonya? Ada yang bocor lagi?”“Mas Reno, suamiku! Dia mau video call sekarang juga. Tapi lihat ini!” Sintya menunjuk leher jenjangnya di depan cermin besar yang ada di lorong dapur.Heri mendekat, matanya memicing. Di kulit putih mulus itu, ada bercak kemerahan yang cukup kontras. Mungkin karena gigitan nyamuk saat mereka berpelukan di lantai dalam gelap semalam, atau mungkin alergi debu. Tapi masalahnya, letak dan bentuknya benar-benar mirip bekas ciuman.“Waduh, Nyonya. Itu kelihatan kayak.

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hitam panas dan sepiring sandwich isi daging. Wajah majikannya itu masih datar, dagunya terangkat tinggi seolah sedang memberikan sedekah pada pengemis.Heri tersenyum tipis, menerima piring itu hingga jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan jari Sintya yang halus. “Makasih, Nyonya. Kebetulan saya memang belum sarapan.”“Ya sudah, habiskan di pos. Jangan berantakan di sini,” usir Sintya.Baru saja Heri berbalik, suara bel pintu berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk tanpa permudah. Namanya Karin, sahabat sosialita Sintya yang terkenal paling berani di geng mereka. Karin mengenakan mini dress merah ketat yang potongan dadanya sangat rendah, membuat asetnya yang montok seolah

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbuka.“Heri, kamu...”Sintya berdiri di ambang pintu. Langkahnya terhenti, matanya tertuju pada tubuh atletis satpamnya itu. Heri bisa melihat jakun Sintya naik turun, matanya terpaku pada sisa tetesan air yang mengalir di sela otot dada Heri. Pria itu berdehem keras, merasa kikuk sekaligus ada rasa bangga yang aneh.“Nyonya? Nyari saya? Maaf, saya lagi ganti baju,” tegur Heri sambil meraih kaos oblongnya.Sintya tersentak, wajahnya memerah sesaat sebelum kembali ke mode angkuh. “Enggak usah kepedean. Itu... pipa wastafel dapur mampet gara-gara air hujan kemarin kayaknya. Cepat ke dalam, benerin sekarang!”“Siap, Nyonya. Saya pakai baju dulu,” jawab Heri singkat.Sepuluh menit kemudian, Heri s

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan Sintya dan ancaman pemecatan yang menggantung di lehernya.Tiba-tiba, sebuah suara tangisan lirih terdengar dari arah kamar. Heri tegak duduk, menajamkan pendengaran.“Mas... Mas Reno... angkat, Mas... Tolong aku...”Heri menyalakan senter ponselnya. Ia melihat Sintya merangkak keluar dari pintu kamar. Wanita itu tidak lagi tampak seperti majikan yang angkuh. Ia gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal, dan air mata membasahi pipinya yang mulus. Ponsel di tangannya terus menunjukkan panggilan yang tidak terjawab.“Nyonya? Nyonya kenapa?” Heri buru-buru mendekat, namun tetap menjaga jarak.“Gelap, Heri... Sempit... Aku nggak bisa napas!” Sintya menjerit saat petir kembali menggelegar. Ia mele

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status