LOGINHeri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.
“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan nada tajam. Matanya menyipit penuh selidik.
Heri gemetar hebat, tangannya yang memegang paket plastik itu berkeringat dingin. “I-ini, Nyonya... ada paket penting. Tadi kurirnya bilang harus sampai sekarang. Maaf, Nyonya, pintu depan tadi nggak terkunci, saya... saya juga nggak sengaja mecahin vas itu,” ucap Heri terbata-bata.
Sintya diam, matanya menyapu Heri dari ujung sepatu hingga ke wajah. Heri yang tertunduk justru tidak sengaja melihat ke arah kerah kimono Sintya yang melonggar. Dari sudut itu, ia bisa melihat gundukan dada Sintya yang besar menyembul, putih dan mulus. Heri menelan ludah. Bayangan Sintya yang sedang memegang payudara itu sendiri tadi kembali menghantam otaknya.
“Bawa masuk paketnya. Taruh di meja dalam,” perintah Sintya dingin.
“Baik, Nyonya.”
Heri mengangguk patuh seperti kerbau dicocok hidung. Ia melangkah masuk ke dalam kamar yang aromanya sangat khas, perpaduan parfum mahal dan bau gairah yang tertinggal. Mata Heri tak sengaja melirik ke arah sprei yang berantakan.
Di sana, ada noda basah yang cukup lebar, bukti puncak kepuasan yang baru saja dialami majikannya. Heri menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran kotor, lalu menaruh paket itu di meja konsol dekat kamar mandi.
“Sudah, Nyonya. Saya... saya permisi dulu,” pamit Heri sambil buru-buru berbalik. Sintya sekarang sudah duduk di tepi tempat tidur, menyilangkan kaki jenjangnya.
“Tunggu dulu,” potong Sintya. “Kenapa kamu kelihatan gugup begitu? Keringatan kamu sampai kayak gitu, kayak orang habis lari maraton.”
Heri menyeka dahinya dengan punggung tangan. “Anu... gerah, Nyonya. Terus saya juga takut soal vas tadi.”
Sintya tertawa remeh, lalu matanya turun ke arah bawah, tepat ke arah celana seragam Heri yang masih menonjol keras. “Takut ya? Tapi burung kamu kenapa malah bangun begitu? Kamu habis ngintip aku, ya?”
Heri terkesiap, mulutnya menganga lebar. Ia refleks menutupi bagian depannya dengan kedua tangan, wajahnya merah padam. “Enggak, Nyonya! Sumpah, saya nggak... saya nggak maksud begitu!”
“Jangan bohong kamu! Kamu pikir aku bodoh?” bentak Sintya sambil melipat tangan di dadanya, membuat dadanya semakin terangkat naik. “Jujur sekarang, atau aku telpon kantor kamu dan aku bilang kamu mau kurang ajar sama aku!”
Mendengar ancaman itu, pertahanan Heri runtuh. Ia langsung bersimpuh di lantai, berlutut di hadapan Sintya dengan tubuh menggigil.
“Maafin saya, Nyonya... Maafin saya! Tadi saya bener-bener nggak sengaja. Saya denger suara Nyonya, saya pikir Nyonya sakit atau kenapa, makanya saya liat...” ujar Heri sambil menunduk dalam.
“Tolong jangan pecat saya, Nyonya. Zaman sekarang susah cari kerja. Anak saya di kampung butuh uang buat bayar sekolah. Cuma ini pekerjaan saya satu-satunya.”
Sintya tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun. Ia justru berdiri dan berkacak pinggang, menatap Heri dengan tatapan merendahkan.
“Ooh, jadi sekarang bawa-bawa anak? Kamu itu kurang ajar, Heri! Kamu itu cuma satpam, berani-beraninya mata kotor kamu itu ngeliat saya tanpa busana!” teriak Sintya penuh amarah. “Kamu nggak tahu diri ya? Saya gaji kamu buat jaga keamanan, bukan buat jadi pengintip mesum!”
“Nyonya, saya mohon... saya khilaf...” tangis Heri mulai pecah.
“Khilaf matamu! Saya nggak mau tahu. Saya akan telpon atasan kamu sekarang juga. Kamu harus dipecat secara tidak hormat biar nggak ada perusahaan yang mau terima satpam otak mesum kayak kamu!” Sintya meraih ponselnya di atas nakas, jemarinya bergerak cepat mencari kontak perusahaan outsourcing.
Heri merayap maju, mencoba menggapai kaki Sintya untuk memohon. “Nyonya, tolong! Saya mohon jangan telpon mereka. Saya bakal lakuin apa aja, Nyonya. Apa aja! Asal jangan pecat saya.”
“Diam kamu! Jangan sentuh saya!” Sintya menjauhkan kakinya dengan jijik. Ia mulai menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo? Ya, ini Sintya dari Citra Kencana. Saya mau lapor soal petugas keamanan atas nama Heri Hermawan—”
Tepat saat kalimat itu menggantung, sebuah kilatan cahaya putih yang sangat terang menyambar dari balik jendela, disusul suara Duar! yang menghantam bumi dengan getaran luar biasa. Petir itu begitu dekat.
Ctek!
Lampu kamar langsung padam. Seluruh rumah menjadi gelap gulita seketika.
“Aaaaaakhhh!” Sintya menjerit kencang, menjatuhkan ponselnya ke lantai karena terkejut luar biasa. Dalam kegelapan total itu, Sintya yang tadinya galak tiba-tiba kehilangan tumpuan dan limbung.
“Dasar perempuan gak tahu terima kasih! Harusnya kamu bersyukur punya suami yang masih sayang sama kamu yang bisanya cuma males-malesan di rumah!”Namun, Sintya kali ini masa bodoh. Ia langsung mematikan telepon tersebut bahkan sebelum Reno menyelesaikan kalimat makian terakhirnya. Dengan sentakan napas memburu, ia melemparkan benda pipih itu ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi benturan yang cukup keras.Heri yang sejak tadi berdiri menyandarkan punggungnya di dekat pilar pembatas ruangan, melipat tangan di dadanya sambil geleng-geleng kepala.Seringai tipis yang dingin terukir di wajah maskulinnya. Otak taktisnya baru saja menyaksikan bagaimana sebuah manipulasi psikologis kelas teri dimainkan oleh seorang pria yang sedang terdesak finansial."Hebat juga suami kamu," sindir Heri, suaranya bariton rendah namun sarat akan nada mengejek. "Ternyata Reno pandai menjilat lidah, bahkan balik menyalahkan kamu di saat dia yang sebenarnya lagi mengemis uang.""Ya, begitulah kenyataannya
Mereka telah tiba di Jakarta. Atmosfer ibu kota yang padat dan gerah langsung menyambut kepulangan mereka, seolah menarik paksa keduanya kembali ke realitas yang penuh intrik.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah mewah milik keluarga Sintya, wanita itu tidak membuang waktu. Sambil meletakkan tas jinjing bermereknya di atas sofa ruang tamu, Sintya langsung mengatur strategi dengan Heri.Ia merogoh ponselnya, membuka kembali salinan dokumen PDF berisi draf gugatan cerai buatan pengacara Reno yang sempat dikirim oleh nomor misterius di Lombok kemarin. Tubuh Sintya masih menyiratkan kelelahan fisik, namun matanya memancarkan kecemasan sekaligus dendam yang membara.Sintya menunjukkan layar ponselnya pada Heri yang berdiri siaga di dekat meja konsol. "Heri, coba kamu lihat lagi. Apa dokumen ini sudah cukup untuk melayangkan gugatan cerai pada Reno? Kita punya bukti perselingkuhan dia di Bali dari Maman, tapi mereka juga punya foto kita di pantai. Aku takut posisi kita malah lemah."Heri m
Heri tidak memberi waktu bagi Sintya untuk bersiap lebih lama. Dengan satu gerakan taktis yang dominan, ia mencengkeram pinggul montok Sintya dan membalikkan tubuh wanita itu hingga menungging di atas tumpukan bantal. Tanpa aba-aba, Heri langsung melesak masuk ke dalam milik Sintya hingga mentok."Ahh! Heri!" Sintya menjerit hebat, suaranya melengking tinggi memecah keheningan kamar.Sentakan yang tiba-tiba itu terasa begitu penuh dan menghantam langsung ke titik terdalamnya.Bukannya memohon agar Heri memperlambat tempo, Sintya justru menggeliat liar di atas kasur, mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam rapat. "Lebih kencang lagi, Heri! Jangan kasih aku ampun, cepet!"Heri mengumpat rendah, suara parau yang keluar dari tenggorokannya terdengar sangat seksi dan berbahaya. "Sialan... Kamu memang jalang gila yang tidak bisa bersikap biasa aja, Sintya," geram Heri, sementara panggulnya mulai bergerak maju-mundur dengan ritme yang konstan namun bertenaga.Heri langsung menghantamnya
Heri terkekeh rendah mendengar tuduhan berapi-api dari wanita di depannya. Ketakutan Sintya yang begitu besar akan kehilangan dirinya justru menjadi bahan bakar utama bagi ego maskulin Heri.Ia pun melangkah maju, memangkas jarak yang sempat tercipta hingga dada bidangnya kembali menekan tubuh Sintya ke dinding pembatas koridor yang dingin."Kamu ini mikir apa sih, Sintya?" bisik Heri tepat di depan wajah Sintya yang cemberut. "Aku bukan pria yang suka ingkar janji. Aku sudah bilang tadi di kamar, cuma kamu yang bakal aku sentuh sampai kapan pun. Dua cewek tadi nggak ada apa-apanya dibanding kamu."Mendengar penegasan yang begitu jantan dan mengunci kepemilikan tersebut, amarah Sintya runtuh dalam sekejap. Sintya langsung tersenyum manis, matanya kembali berbinar dipenuhi kabut gairah yang sempat tertunda. Tanpa banyak bicara lagi, ia meremas jemari kekar Heri dan menarik pria itu dengan langkah terburu-buru menuju vila privat mereka.Begitu pintu jati vi
Lima belas menit kemudian, setelah hanyut dalam ritme musik yang melelahkan, Heri memilih kembali duduk di kursi bar karena capek. Napasnya sedikit memburu, meninggalkan jejak keringat tipis di pelipis dan dada bidangnya yang terekspos.Sita dan Selly tidak membiarkannya bernapas lega; kedua wanita itu langsung mengikutinya, menempelkan tubuh mereka yang basah oleh keringat di sisi kanan dan kiri Heri.Selly mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu yang langsung menaikkan tensi di antara mereka. "Heri, capek ya? Gimana kalau kita pindah tempat? Kita ke toilet sekarang, yuk. Dua lawan satu. Kalau kamu memang cowok perkasa, harusnya kamu nggak bakal menolak kita, kan?"Sita terkekeh, jemarinya bergerak berani mencolek dagu tegas Heri, menantang ego maskulin sang pria jalanan. "Iya, nih. Jangan bilang kamu takut? Sayang banget badan kekar gini kalau ternyata nyalinya ciut cuma karena dihadapkan sama dua cewek sekaligus."Dua wanita itu memberi tantangan yang
Malam terakhir di Lombok ditutup dengan sebuah pesta pantai yang jauh lebih liar dari malam-malam sebelumnya. Panggung kayu besar didirikan tepat di atas pasir, tempat seorang DJ wanita luar kota meramu musik EDM dengan bas yang menggelegar, menggetarkan dada siapa pun yang mendekat.Heri duduk dengan santai di salah satu kursi bar kayu dekat bar terbuka, satu tangannya memegang gelas berisi beer dingin untuk menemani malamnya di sana.Di balik kemeja hitamnya yang sengaja tidak dikancingkan setengah dada, ia menikmati embusan angin laut yang menerpa kulitnya yang hangat.Sementara itu, beberapa puluh meter di depannya, Sintya sedang berjoget dengan teman-teman sosialitanya di tengah kerumunan penari. Sintya tampak sengaja melepaskan semua beban pikirannya tentang Reno, meliukkan tubuh montoknya dengan bebas di bawah sorot lampu neon warna ungu.Tak lama kemudian, datang dua wanita cantik nan seksi yang hanya mengenakan bikini saja menyapa Heri.
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.







