LOGIN
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.
Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang. Pikirannya sempat melayang pada anak perempuannya yang berusia tujuh tahun yang sedang butuh biaya sekolah, sebelum sebuah motor kurir berhenti di gerbang pos.
Heri melihat labelnya: Express – Fragile. Karena ia tahu suami Sintya sedang di luar kota dan asisten rumah tangga mereka sedang pulang kampung, Heri mengambil alih tanggung jawab itu. Ia pun berjalan menuju rumah megah bernuansa minimalis modern tersebut. Pintu depan rupanya tidak terkunci rapat, mungkin Sintya lupa karena merasa aman di dalam kompleks.
“Nyonya? Permisi, Nyonya Sintya? Ini ada paket penting,” panggil Heri pelan saat kakinya melangkah masuk ke ruang tengah yang dingin karena AC sentral.
Tidak ada sahutan. Namun, saat ia melewati lorong menuju kamar utama di lantai bawah, sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Ahhh... mmmhh... sedikit lagi...”
Langkah Heri membeku. Itu bukan suara rintihan sakit, melainkan sebuah simfoni hasrat yang murni. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seirama dengan denyutan yang mulai menjalar ke arah selangkangannya. Heri adalah seorang duda yang sudah terlalu lama memendam gairah, dan suara itu bertindak seperti bensin yang menyiram bara api di dalam dirinya.
Ia seharusnya berbalik. Ia seharusnya meletakkan paket itu di meja ruang tamu dan lari keluar. Namun, rasa penasaran yang primitif justru membelenggu kakinya. Dengan gerakan setenang predator, ia mendekat. Matanya tertuju pada celah pintu yang hanya terbuka beberapa senti.
Dari celah sempit itu, mata Heri membola. Sintya, wanita berusia 33 tahun yang biasanya terlihat sangat anggun dan berwibawa dengan pakaian kantor, kini tampil tanpa sehelai benang pun di atas ranjang king size. Kulitnya yang putih mulus tampak berkilat karena keringat tipis di bawah lampu tidur yang temaram.
Heri menelan ludah dengan susah payah. Sintya sedang telentang, kedua kaki jenjangnya terbuka lebar. Tangan kanannya memegang sebuah alat sex toy berwarna merah muda yang bergetar hebat, bekerja keras di antara kedua pahanya. Sementara tangan kirinya meremas payudaranya yang montok dan berisi, membuat pucuk dadanya menegang menantang langit.
“Gila... montok banget,” bisik Heri dalam hati, matanya tak lepas dari pemandangan itu.
Di balik celana seragamnya, 'sang pengawal setia' milik Heri mulai menuntut kebebasan. Senjata pria itu menegang hebat, berdenyut keras mengikuti ritme napas Sintya yang makin memburu. Heri merasakan sesak yang luar biasa. Ada dorongan purba untuk mendobrak pintu itu, membuang alat plastik tak bernyawa tersebut, dan menggantikannya dengan jemarinya yang kasar, atau membenamkan wajahnya di antara gundukan kenyal yang terus membusung setiap kali Sintya menarik napas.
“Aku nggak nyangka Nyonya se-agresif ini kalau sendirian,” batin Heri lagi, sambil terus menelan ludah yang terasa kering.
“Oohh... iya, di situ... Ahhh! Mas... kamu nggak pernah ada buat aku!” Sintya mengerang keras, tubuhnya melengkung indah saat mencapai puncak. Alat itu ditarik keluar, meninggalkan kilatan cairan yang memantulkan cahaya lampu.
“Coba aja aku yang di sana, pasti Nyonya bakal lebih puas,” ucapnya dengan pelan sambil terus menahan ‘burung’-nya yang hampir lepas yang berdenyut hebat di bawah sana.
Heri terengah-engah hanya dengan menontonnya. Pikirannya sudah kacau balau, membayangkan betapa hangatnya tubuh majikannya itu. Ia terlalu fokus menikmati pemandangan hingga lupa bahwa ia sedang berdiri di ambang pintu orang lain.
“Apa Nyonya sering kayak gini kalau suaminya lagi nggak ada?”
Pikiran Heri terus melayang sambil terus menelan ludahnya berulangkali. Betapa beruntungnya dia, pikirnya. Karena melihat pemandangan surga dunia yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Sintya mulai mengatur napas, lalu menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Heri sadar ia harus segera pergi sebelum tertangkap basah. Ia membalikkan badan dengan terburu-buru, namun gerakannya yang kikuk menjadi bumerang.
Prang!
Siku Heri menyenggol vas bunga keramik kecil yang terletak di atas meja konsol tepat di samping pintu. Bunyi pecahannya terdengar seperti ledakan bom di tengah keheningan malam itu. Darah Heri seolah berhenti mengalir. Ia mematung, matanya melotot menatap pecahan keramik di bawah kakinya.
Di dalam kamar, suara desahan itu langsung hilang, berganti dengan keheningan yang mencekam. Heri bisa mendengar suara gesekan kain, tanda Sintya sedang meraih jubah mandinya dengan cepat.
“Siapa di sana?!”
Pukul delapan pagi, Heri berdiri tegap di sudut ruangan, membetulkan posisi kancing jas abu-abu gelapnya di hadapan cermin.Langkah taktisnya dimulai pagi ini tanpa sedikit pun memberikan peringatan awal kepada pihak Dinas Pertanahan Daerah maupun Konsorsium Sanjaya.Di samping panggung mini, sebuah maket megah berskala presisi berdiri kokoh di bawah sorotan lampu sorot.Maket tersebut menampilkan rancangan pengembangan area Drive-Thru modern, VIP Lounge berlantai dua, serta area ruang hijau pesisir bernilai investasi puluhan miliar rupiah yang menyatu sempurna di atas lahan 800 meter persegi milik Pak Ridwan.Sintya melangkah mendekati suaminya, merapikan sedikit kerah kemeja Heri dengan jemarinya yang halus.Anggun dalam balutan gaun formal berwarna gelap, Sintya menampilkan ketenangan seorang wanita berkelas yang siap berdiri di garis depan pertarungan hukum."Semua wartawan dari media berita utama sudah siap di posisi, Mas," bisik Sintya lembut, menatap netra tegas Heri dengan pen
Pukul delapan malam, di dalam ruang kerja manajemen keuangan, Karin masih bertahan di meja besarnya. Meja kayu mahoni itu penuh oleh tumpukan berkas cetak, lembar audit internal, serta kertas laporan arus kas yang tertata rapi.Dua layar monitor resolusi tinggi di hadapannya menyala terang, membiaskan cahaya kebiruan pada paras ayu nan tegas wanita itu.Jemari Karin yang lentik menari lincah di atas papan ketik, menelusuri ratusan baris data transaksi keuangan digital yang sengaja disamarkan.Ketenangan ruangan itu perlahan terpecah oleh gema langkah kaki tegap yang terdengar mendekat dari arah koridor utama.Bunyi pantulan sepatu kulit eksklusif itu begitu khas dan sangat dihafal oleh Karin.Heri melangkah masuk dengan santai. Jas resmi yang digunakannya saat rapat maraton siang tadi kini sudah dilepas, menyisakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga separuh lengan bawah, menampakkan jam tangan mewah dan lengan kokoh sang CEO.Di tangan kanannya, Heri membawa seca
Pukul lima subuh, udara dingin pesisir masih merayap tebal menyelimuti area sekitar restoran cabang empat.Di tengah ketenangan, Maman melangkah tenang melakukan patroli rutin sendirian.Matanya yang tajam dan terlatih terus mengamati setiap sudut perimeter luar.Bagi Maman, jeda antara malam dan terbitnya matahari adalah waktu paling krusial untuk memastikan benteng pertahanan Heri Utama tidak memiliki celah sedikit pun.Saat langkah kaki tegapnya tiba di batas lahan kosong seluas 800 meter persegi milik Pak Ridwan, lahan yang rencananya akan disulap menjadi area Drive-Thru dan VIP Lounge, pandangan Maman seketika terkunci pada pergerakan mencurigakan.Dua unit mobil bak terbuka berhenti tanpa menyalakan lampu utama di bahu jalan yang remang. Dari bak belakang, enam pria berbadan tegap melompat turun secara senyap.Masing-masing membawa gulungan tali, beberapa batang kayu berujung runcing yang dililit cat kuning-hitam, serta gulungan kain spanduk tebal.Tanpa membuang waktu, mereka m
Raut tenang yang semula dipasang Pak Broto runtuh sepenuhnya. Makelar tanah elit itu menyambar map kulit cokelatnya di atas meja dengan jemari yang sedikit gemetaran, berusaha keras menjaga martabatnya yang tersisa.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Broto berbalik cepat dan melangkah keluar dari ruang kerja Heri, dibuntuti oleh dua pengawalnya yang bergegas pergi dengan raut wajah keciutan usai terkena tatapan maut Maman.Pintu ganda berukir jepara itu kembali tertutup rapat. Keheningan yang dingin dan berwibawa seketika menyelimuti ruangan.Heri tidak membuang waktu. Dengan satu ketukan singkat di meja kerjanya, ia memanggil tim intinya untuk segera merapat.Dalam hitungan menit, Sintya melangkah anggun memasuki ruangan sembari membawa folder berkas legalitas, disusul Karin yang memegang tablet analisis finansial.Maman menutup pintu utama dan menguncinya dari dalam, lalu berdiri bersedekap dada di sisi ruangan bagaikan benteng yang tak tergoyahkan."Broto baru saja memperlihatkan
Pagi harinya, ruang kerja utama di kantor pusat Heri diliputi atmosfer yang amat dingin dan tertata.Pintu ganda berukir jepara di ujung ruangan terdorong terbuka secara perlahan.Sesosok pria paruh baya melangkah masuk dengan gaya berjalan yang sangat tenang dan percaya diri.Pria itu adalah Pak Broto, sang makelar tanah elit yang memegang peranan penting di kawasan pesisir.Penampilannya terlihat teramat rapi dan terpandang dalam balutan kemeja batik sutra bernuansa tembaga mahal, kacamata berbingkai emas, serta jam tangan berkelas yang melingkar di pergelangan tangannya.Di balik pintu yang setengah terbuka, dua pria berbadan tegap dengan setelan safari gelap tampak berjaga penuh kewaspadaan, bertindak sebagai pengawal pribadi Broto.Namun, melangkah masuk ke dalam ruangan Heri seperti melangkah ke dalam sarang predator yang sangat matang.Pendar dominasi jantan dan wibawa dingin yang memancar dari Heri seketika meresap ke seluruh sudut ruangan, menekan keangkuhan terselubung yang
Ruang kerja utama di lantai dua restoran cabang empat, Heri sedang duduk tegap di kursi kepemimpinannya saat Karin datang memasuki ruangannya.Karin kini berdiri tegap di depan layar proyektor interaktif. Penampilannya yang sangat professional, dengan balutan kemeja sutra dan celana kain berpotongan tinggi, memancarkan aura kepercayaan diri seorang Manajer Keuangan Pusat.Jemari lentiknya menekan tombol remote, memunculkan peta tata letak bangunan cabang empat beserta area sekitarnya dalam resolusi tinggi."Hasil finansial minggu pertama benar-benar berada di atas kurva proyeksi terbaik kita, Pak Heri," buka Karin dengan suara jernih, mantap, dan terstruktur rapi."Tingkat okupansi meja VIP mencapai seratus persen setiap jam makan malam, namun hal itu memicu penumpukan antrean kendaraan yang cukup panjang di bahu jalan utama."Heri mengangguk tipis, pandangannya terkunci rapat pada peta digital di layar."Penumpukan di jalan utama bisa merusak citra eksklusif restoran kita. Apa solusi
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit







