Share

Jatah Malam Nyonya Besar
Jatah Malam Nyonya Besar
Penulis: Nona Mentari

BAB 1

Penulis: Nona Mentari
last update Tanggal publikasi: 2026-05-06 23:26:41

“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.

Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang. Pikirannya sempat melayang pada anak perempuannya yang berusia tujuh tahun yang sedang butuh biaya sekolah, sebelum sebuah motor kurir berhenti di gerbang pos.

Heri melihat labelnya: Express – Fragile. Karena ia tahu suami Sintya sedang di luar kota dan asisten rumah tangga mereka sedang pulang kampung, Heri mengambil alih tanggung jawab itu. Ia pun berjalan menuju rumah megah bernuansa minimalis modern tersebut. Pintu depan rupanya tidak terkunci rapat, mungkin Sintya lupa karena merasa aman di dalam kompleks.

“Nyonya? Permisi, Nyonya Sintya? Ini ada paket penting,” panggil Heri pelan saat kakinya melangkah masuk ke ruang tengah yang dingin karena AC sentral.

Tidak ada sahutan. Namun, saat ia melewati lorong menuju kamar utama di lantai bawah, sebuah suara menghentikan langkahnya. 

“Ahhh... mmmhh... sedikit lagi...”

Langkah Heri membeku. Itu bukan suara rintihan sakit, melainkan sebuah simfoni hasrat yang murni. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seirama dengan denyutan yang mulai menjalar ke arah selangkangannya. Heri adalah seorang duda yang sudah terlalu lama memendam gairah, dan suara itu bertindak seperti bensin yang menyiram bara api di dalam dirinya.

Ia seharusnya berbalik. Ia seharusnya meletakkan paket itu di meja ruang tamu dan lari keluar. Namun, rasa penasaran yang primitif justru membelenggu kakinya. Dengan gerakan setenang predator, ia mendekat. Matanya tertuju pada celah pintu yang hanya terbuka beberapa senti.

Dari celah sempit itu, mata Heri membola. Sintya, wanita berusia 33 tahun yang biasanya terlihat sangat anggun dan berwibawa dengan pakaian kantor, kini tampil tanpa sehelai benang pun di atas ranjang king size. Kulitnya yang putih mulus tampak berkilat karena keringat tipis di bawah lampu tidur yang temaram.

Heri menelan ludah dengan susah payah. Sintya sedang telentang, kedua kaki jenjangnya terbuka lebar. Tangan kanannya memegang sebuah alat sex toy berwarna merah muda yang bergetar hebat, bekerja keras di antara kedua pahanya. Sementara tangan kirinya meremas payudaranya yang montok dan berisi, membuat pucuk dadanya menegang menantang langit.

“Gila... montok banget,” bisik Heri dalam hati, matanya tak lepas dari pemandangan itu.

Di balik celana seragamnya, 'sang pengawal setia' milik Heri mulai menuntut kebebasan. Senjata pria itu menegang hebat, berdenyut keras mengikuti ritme napas Sintya yang makin memburu. Heri merasakan sesak yang luar biasa. Ada dorongan purba untuk mendobrak pintu itu, membuang alat plastik tak bernyawa tersebut, dan menggantikannya dengan jemarinya yang kasar, atau membenamkan wajahnya di antara gundukan kenyal yang terus membusung setiap kali Sintya menarik napas.

“Aku nggak nyangka Nyonya se-agresif ini kalau sendirian,” batin Heri lagi, sambil terus menelan ludah yang terasa kering.

“Oohh... iya, di situ... Ahhh! Mas... kamu nggak pernah ada buat aku!” Sintya mengerang keras, tubuhnya melengkung indah saat mencapai puncak. Alat itu ditarik keluar, meninggalkan kilatan cairan yang memantulkan cahaya lampu.

“Coba aja aku yang di sana, pasti Nyonya bakal lebih puas,” ucapnya dengan pelan sambil terus menahan ‘burung’-nya yang hampir lepas yang berdenyut hebat di bawah sana.

Heri terengah-engah hanya dengan menontonnya. Pikirannya sudah kacau balau, membayangkan betapa hangatnya tubuh majikannya itu. Ia terlalu fokus menikmati pemandangan hingga lupa bahwa ia sedang berdiri di ambang pintu orang lain.

“Apa Nyonya sering kayak gini kalau suaminya lagi nggak ada?”

Pikiran Heri terus melayang sambil terus menelan ludahnya berulangkali. Betapa beruntungnya dia, pikirnya. Karena melihat pemandangan surga dunia yang tak pernah dia lihat sebelumnya.

Sintya mulai mengatur napas, lalu menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Heri sadar ia harus segera pergi sebelum tertangkap basah. Ia membalikkan badan dengan terburu-buru, namun gerakannya yang kikuk menjadi bumerang.

Prang!

Siku Heri menyenggol vas bunga keramik kecil yang terletak di atas meja konsol tepat di samping pintu. Bunyi pecahannya terdengar seperti ledakan bom di tengah keheningan malam itu. Darah Heri seolah berhenti mengalir. Ia mematung, matanya melotot menatap pecahan keramik di bawah kakinya.

Di dalam kamar, suara desahan itu langsung hilang, berganti dengan keheningan yang mencekam. Heri bisa mendengar suara gesekan kain, tanda Sintya sedang meraih jubah mandinya dengan cepat.

“Siapa di sana?!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 179

    Matahari pagi menyiram pekarangan rumah kayu sederhana itu dengan pendar hangat yang lembut. Suasana haru membungkus persiapan kepulangan mereka ke kota.Di samping SUV hitam yang terparkir anggun, Nathan tampak bergerak sangat lincah.Wajah polos anak laki-laki itu berbinar riang; tangannya bolak-balik memasukkan tas ransel dan perbekalan desa ke dalam bagasi mobil.Binar di matanya adalah binar kebahagiaan murni seorang anak yang akhirnya bisa menyatu kembali di sisinya sang ayah.Heri memungkas ikatan tali di bagasi, lalu berbalik melangkah menghampiri Pak Arya dan Ibu Dewi yang berdiri mematung di teras.Pria bertubuh tegap itu membetulkan posisi jaket kulitnya, melangkah penuh wibawa namun menyimpan kelembutan luar biasa di dasar matanya.Heri berlutut, meraih jemari renta kedua orang tuanya secara bergantian, lalu mencium punggung tangan mereka dengan ketulusan yang teramat pekat."Pak, Bu, Heri pamit mau bawa Nathan ke kota," tutur Heri, suaranya bariton rendah, bergetar menaha

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 178

    Pagi hari di kawasan perkemahan dan taman perbukitan dekat hotel terasa sangat sejuk. Udara dingin pegunungan perlahan terhalau oleh pendar hangat mentari pagi yang menerobos celah-celah pepohonan pinus.Heri melangkah perlahan mengelilingi area taman dengan satu tangan merengkuh pinggang Sintya secara protektif, menikmati keheningan pagi sebelum mereka dijadwalkan kembali ke Jakarta keesokan harinya.Namun, ketenangan itu mendadak menguap saat derap langkah kaki berhak rendah terdengar tergesa-gesa mendekati mereka dari arah lorong taman.Heri memutar tubuhnya perlahan, memosisikan dirinya di depan Sintya secara insting.Sepasang mata elangnya mendapati Rani berdiri di hadapan mereka dengan napas memburu dan raut wajah kaku yang menahan amarah meluap-luap."Heri!" panggil Rani dengan suara melengking tajam, menunjuk langsung ke arah Heri. "Aku nggak setuju kalau kamu bawa Nathan pergi ke kota!"Mendengar seruan menuntut itu, Heri tidak langsung tersulut emosi.Pria bertubuh tegap itu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 177

    Sore harinya, lembayung senja mulai menyepuh perbukitan desa dengan pendar keemasan yang tenangDi sepanjang jalanan setapak yang sedikit menanjak di dekat pekarangan rumah Ibu Dewi, Nathan tampak asyik mengayuh sepeda merah kesayangannya.Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu tertawa riang setiap kali rodamunya melintasi genangan air kecil, menikmati sisa-sisa kebebasan masa kecilnya di kampung sebelum diboyong ke ibu kota.Namun, keceriaan Nathan mendadak terhenti ketika sebuah bayangan berdiri tepat di tengah jalan kecil tersebut, menghalangi laju sepedanya.Nathan menarik rem sepedanya perlahan. Sosok wanita ber-seragam kerja hotel yang rapi, Rani berdiri dengan melipat kedua tangan di dada.Wajahnya yang terpoles riasan tipis tampak kaku, menyimpan kecemasan dan dengki yang bergejolak sejak kejadian di restoran pagi tadi."Nathan, berhenti sebentar," panggil Rani, suaranya terdengar datar namun menuntut. "Ibu mau bicara sama kamu."Nathan menahan posisi sepedanya dengan kedu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 176

    Aroma kopi hitam hangat dan roti panggang mentega menyambut kehadiran Heri dan Sintya saat mereka memasuki area restoran utama hotel berbintang tersebut.Suasana pagi itu masih terbilang lengang, hanya dipenuhi beberapa tamu yang menikmati pemandangan perbukitan hijau dari balik jendela kaca.Heri menuntun Sintya dengan genggaman tangan yang erat dan protektif, merangkul pinggang ramping wanitanya sembari mencari meja terbaik di sudut ruangan yang menghadap langsung ke panorama alam.Namun, langkah taktis Heri sempat tertahan sesaat ketika pandangan mata elangnya menangkap sosok yang teramat familier di dekat meja bufet sarapan.Rani.Mantan istrinya itu sedang berdiri di sana dengan seragam kerja yang sama, sedang merapikan beberapa piring bufet.Tatapan Rani seketika tertambat pada Heri dan Sintya. Kilatan dengki, gengsi, dan kejengkelan terpancar jelas dari mata wanita itu saat menyaksikan betapa serasi dan mewahnya pasangan di hadapannya.Melihat kehadiran Rani yang kembali mengus

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 175

    Pagi hari telah tiba.Sintya menjadi orang pertama yang terbangun. Wanita itu tersenyum tipis menatap wajah maskulin kekasihnya yang tampak begitu tenang tanpa beban.Perlahan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Sintya turun dari ranjang, membungkus tubuh mulusnya dengan jubah mandi putih, lalu melangkah menuju kamar mandi utama yang bernuansa marmer mewah.Di dalam kamar mandi yang luas itu, Sintya mulai memutar keran, membiarkan air hangat mengalir deras mengisi bathtub porselen berukuran besar.Ia merogoh botol sabun aromaterapi, menuangnya hingga busa-busa putih yang harum melimpah memenuhi permukaan air.Sintya lalu melangkah ke depan cermin besar, menyikat gigi dan membasuh wajah cantiknya dengan lembut.Namun, indra kewaspadaan Heri yang terlatih tidak pernah benar-benar mati, bahkan dalam tidurnya yang lelap.Begitu menyadari kehangatan tubuh Sintya menghilang dari sisinya, mata elang Heri perlahan terbuka. Pria bertubuh tegap itu memutar tubuhnya, mendapati sisa tempat tidu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 174

    Setibanya di kamar, tanpa menunggu waktu, Heri langsung merenggut kaos oblong hitam yang melekat di tubuhnya, melemparkannya secara sembarangan ke atas lantai karpet tebal.Otot-otot dada bidang dan perut six-pack-nya yang mengeras kaku bertelanjang di bawah temaram pendar lampu kamar.Dada Heri naik-turun drastis. Rahang tegasnya mengetat keras, menahan gelombang kekesalan yang masih bergemuruh di ulu hatinya.Pertemuan tak terduga dengan Rani di meja resepsionis tadi benar-benar membakar egonya.Mantan istrinya itu sama sekali belum berubah; masih dangkal, penuh prasangka, dan bermulut tajam seperti saat meninggalkan dirinya dan Nathan dulu.Sintya melangkah mendekat dari arah belakang, meletakkan tas mewahnya di meja rias tanpa mengalihkan pandangan dari punggung lebar Heri yang penuh urat tegang."Pantas saja kamu dulu memilih menceraikan wanita itu," sahut Sintya dengan tenang namun sarat akan nada cemooh untuk Rani."Ternyata mulutnya pedas dan menjijikkan banget kayak gitu."He

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status