LOGINSintya terkesiap, kalimat protesnya tertahan di tenggorokan begitu tatapan dingin Heri mengunci sepasang matanya. Atmosfer kamar mewah yang semula pengap oleh sisa gairah terlarang mendadak berubah mencekam.Sebelum Sintya sempat membalas, sebuah cahaya berpendar dari sudut ruangan menarik perhatian Heri. Layar ponsel Sintya yang tergeletak di atas meja rias terus berkedip, membelah kegelapan dengan warna putih terang yang ritmis, menampilkan nama Reno.Heri menahan napas, menghentikan gerakannya di sisi ranjang. Kepalanya langsung berputar ke arah pintu dan jendela, memastikan seluruh taktik pertahanannya tetap aman. Sisa alkohol di kepala Sintya seolah menguap sebagian, digantikan oleh ketakutan yang mendadak menyerang wajah cantiknya yang berantakan.Dengan napas memburu akibat ketegangan yang mendadak memuncak, Heri melangkah cepat tanpa suara di atas lantai marmer dingin. Ia meraih ponsel tersebut, merasakan getaran intens di telapak tangannya, lalu kembali ke tepi ranjang dan me
Nafsu mentah dan alkohol melebur menjadi satu di dalam kamar tidur utama yang dingin itu. Heri tidak lagi menahan diri; ia merangkak naik ke atas ranjang milik Reno, mendominasi tubuh Sintya dengan keliaran yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.Setiap sentuhannya tidak lagi memiliki sisa-sisa rasa hormat seorang bawahan. Kain seprai sutra abu-abu di bawah mereka berkerut hebat, menjadi saksi bagaimana Heri merebut kendali penuh atas wilayah kekuasaan pria yang paling berkuasa di kompleks ini.Bercinta liar di atas ranjang pria yang ingin ia jatuhkan memberikan sensasi kepuasan taktis yang luar biasa di kepala Heri. Ada kepuasan primitif yang meletup di dalam dadanya ketika menyadari bahwa Reno, sang multijutawan yang mengancam mata pencahariannya, saat ini sedang dikelabui habis-habisan di rumahnya sendiri."Heri... kamu denger aku, kan? Bikin aku lupa... bikin aku lupa sama bajingan itu!" Sintya mendesak, suaranya parau berbaur dengan deru napas yang memburu di dekat telinga Her
Mau tidak mau, Heri harus meladeni kegilaan wanita di hadapannya ini. Melalui kaca spion tengah, ia bisa melihat tatapan tidak nyaman dari sopir taksi yang mulai curiga dengan drama domestik di kursi belakang.Otak taktis Heri segera mengambil keputusan cepat. Menolak Sintya dalam kondisi mabuk parah seperti ini hanya akan memicu teriakan histeris yang berpotensi membangunkan seisi kompleks mewah tersebut.Heri menghela napas pendek, lalu mengangguk kecil. Ia lalu merogoh saku celananya, menyerahkan selembar uang seratus ribuan lagi kepada sopir taksi sebagai uang tutup mulut, lalu membuka kunci pintu mobil.Dengan gerakan cekatan dan bertenaga, Heri membopong tubuh Sintya yang terkulai lemas keluar dari kabin taksi. Lengan berototnya mengunci tubuh wanita itu dengan erat, memastikan gaun malam merah menyalanya tidak tersingkap saat mereka bergerak cepat menembus kegelapan halaman belakang.Heri melangkah tanpa suara, memanfaatkan bayang-bayang pohon palem, lalu menyelinap masuk melew
"Heh! Maksud kamu apa, ya?! Datang-datang malah menyiram orang!" teriak wanita bergaun perak sambil berdiri dari sofa dengan berkacak pinggang, membela temannya yang kini sibuk mengeringkan wajah dengan tisu."Diam kamu! Pria ini punya aku! Jangan berani-berani kalian sentuh dia lagi!" balas Sintya dengan suara melengking, jarinya yang berkuku merah marun menunjuk tepat ke wajah wanita itu. Tubuhnya bergoyang limbung, nyaris kehilangan keseimbangan jika saja ia tidak memegangi tepi meja marmer.Keributan singkat itu membuat Heri langsung bertindak cepat. Otak taktisnya memperingatkan bahwa jika hal ini dibiarkan selama dua menit lagi, sekuriti club akan datang dan reputasi Sintya, satu-satunya tiket emas miliknya bisa hancur berantakan di tangan media atau kolega Reno.Heri segera berdiri, tubuh kekarnya langsung memotong jarak antara Sintya dan ketiga wanita malam tersebut, menjadi perisai hidup."Cukup. Jangan diteruskan," potong Heri dengan nada suara yang rendah namun penuh peneka
Heri tertawa rendah mendengar tawaran blak-blakan itu. Suara tawanya yang berat bergaung di sela-sela dentuman bas club yang kian memekakkan telinga. Ia sama sekali tidak merasa canggung atau terintimidasi oleh keliaran wanita-wanita malam tersebut. Sebaliknya, ia merasa berada di atas angin.Sambil mengembuskan napas hangat di perpotongan leher wanita di sampingnya, Heri berbisik dengan nada bercanda yang terdengar begitu kasual."Aku nggak punya uang untuk membayar service mahal kalian malam ini," ucap Heri, membiarkan tangannya tetap bersandar santai di sandaran sofa beludru.Mendengar ucapan Heri, ketiga wanita itu langsung tertawa renyah. Suara tawa mereka yang centil berbaur dengan musik up-beat, menganggap Heri hanya sedang merendah untuk merayu mereka lebih jauh.Bagi mereka, pria yang mengenakan kemeja satin hitam berkilau dengan potongan dada bidang seperti Heri tidak mungkin orang biasa. Cara Heri duduk, tatapan matanya yang tajam, hingga ketenangannya saat dikepung tiga wa
Heri kini dikerumuni oleh para wanita malam yang terpesona oleh penampilannya yang necis dan aura maskulinnya yang kuat. Di bawah temaram lampu neon yang berpendar biru-merah, kemeja satin hitamnya memantulkan cahaya, mempertegas setiap lekuk otot dadanya yang bidang.Aroma maskulin bercampur wewangian premium yang melekat pada tubuh Heri seolah menjadi magnet tak kasat mata bagi ketiga wanita yang kini berebut ruang di sofa VIP-nya.Wanita bergaun perak di sisi kanannya bergelayut manja di lengan kekar Heri, merapatkan dadanya yang rendah ke otot trisep Heri tanpa canggung.Sementara itu, wanita bergaun mini hitam di sisi kiri dengan cekatan mengambil botol wiski mahal milik Sintya, menuangkan cairan emas itu ke dalam gelas Heri yang mulai kosong dengan gerakan anggun yang dibuat-buat."Minum lagi dong, Tampan. Masa pria gagah kayak kamu gelasnya dibiarin kering begini," goda wanita di sisi kiri, menyodorkan gelas tersebut langsung ke bibir Heri.Heri yang dasarnya memiliki insting p
"Nggak usah ngarang kamu, Her!" Sintya mencelos, matanya melotot tajam menatap Heri yang masih memamerkan senyum tipisnya. Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan Reno tidak mendadak muncul dari balik pintu kaca teras."Aku cuma nggak mau berbagi apa yang udah jadi milikku dengan orang lai
Heri menatap Karin yang membuka pintu mobilnya dan melangkah turun. Wanita itu mengenakan tank top ketat berwarna krem yang dipadukan dengan celana jins pendek, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sintal dan seksi.Langkah anggun Karin yang menghampiri pos satpam tempat Heri berada langsung memicu g
Heri melangkah tanpa suara menaiki anak tangga samping yang terhubung langsung ke koridor dalam rumah. Langkah kakinya yang berselimut sepatu lars terasa sangat ringan, nyaris tak terdengar.Menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa, ia berhasil menyelinap masuk ke lorong lantai dua. Ia meraya
Heri mengancingkan kerah seragam satpamnya yang berwarna biru tua dengan tangan yang sedikit gemetar. Rasa kantuk dan lelah yang luar biasa menggelayuti pelupuk matanya setelah dihajar ronde pertempuran brutal bersama Sintya sampai menjelang subuh tadi.Namun, ia tidak boleh terlihat kacau. Heri me







