Masuk“Tapi, Bu… ini nggak benar,” katanya terbata-bata, suaranya nyaris hilang, berusaha menarik tangannya dari Bu Mela.
Bu Mela tak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengangkat telunjuknya, perlahan menyentuh bibir Leo, lalu menekan pelan agar anak itu diam. Jari manisnya yang lentik terasa hangat, dan aroma lotion vanilla di kulitnya makin kuat.
“Sst… tenang saja, Leo. Hanya kita berdua di sini,” bisiknya lembut, tapi nada di baliknya terdengar seperti perintah.
Leo merasa semakin bingung dan terjebak. Di satu sisi, dia tahu betapa salahnya situasi itu, dia mencintai Dinda dan tidak ingin mengkhianatinya. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa mengabaikan desakan Bu Mela, terutama dengan ancaman yang sudah disampaikan sebelumnya.
Jantungnya berdebar kencang, dan dia merasa terjebak di antara kewajibannya kepada Dinda dan tekanan dari Bu Mela.
Terlebih, penampilan Bu Mela malam ini benar-benar membuat sisi lelakinya diuji habis-habisan.
Daster satin krem tipis yang dipakainya benar-benar nyaris tembus pandang di bawah lampu kamar. Cahaya kuning temaram membuat siluet tubuhnya terlihat jelas.
Dadanya yang masih kencang untuk usia 42 tahun, pinggang ramping, dan pinggul yang melengkung sempurna. Titik sensitif yang mengeras samar-samar terlihat menonjol di balik kain tipis itu, bergerak lembut tiap dia bernapas.
Leo menelan ludah. Dia berusaha memalingkan muka, tapi matanya tetap mencuri pandang.
Bu Mela tersenyum kecil, tahu betul apa yang sedang terjadi di kepala anak itu.
“Ibu cuma butuh sedikit kehangatan, Leo,” katanya sambil melangkah lebih dekat, sampai lututnya hampir menyentuh lutut Leo. “Kamu… pasti bisa bantu Ibu, kan?”
Dia mencondongkan tubuh perlahan. Daster itu melorot sedikit di bahunya, memperlihatkan belahan dada yang putih mulus dan aroma tubuhnya yang hangat langsung menyelinap ke hidung Leo.
Anak itu merasakan darahnya berdesir keras ke bawah perut, meski otaknya berteriak “tidak”.
“Bu… aku nggak bisa… aku punya Dinda…” suara Leo serak, tapi tubuhnya tak bergerak mundur. Malah, tanpa sadar, tangannya mencengkeram sprei lebih kuat.
Bu Mela terkekeh pelan. Dia menurunkan tubuhnya perlahan, duduk di pangkuan Leo, tepat di atas pahanya sehingga Leo bisa merasakan kehangatan dan kelembutan bokongnya yang hanya ditutupi kain tipis itu.
“Punya Dinda ya?” Bu Mela mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik tepat di telinga Leo. “Tapi, sebelumnya kamu kan sudah berjanji untuk melakukan syarat yang ibu kasih tadi.”
Leo tersentak, napasnya tersengal. Tubuhnya bereaksi hebat, tapi pikiran tentang Dinda dan perjanjiannya dengan Bu Mela membuat hatinya sesak.
Tiba-tiba, Bu Mela menggerakkan tubuhnya, menggesek bagian tubuh Leo yang telah mengeras dengan bokongnya.
“Lagipula, yang ini sepertinya lebih setuju dengan ibu,” katanya sambil terus bergerak.
Leo menggeram rendah, berusaha menahan suaranya. Ia menutup mata rapat-rapat. Jantungnya mau copot.
Di kepalanya terbayang wajah Dinda yang tersenyum manis, tapi di depannya ada tubuh wanita matang yang sangat menggoda. Dengan dada penuh yang menonjol, pinggang kecil, dan bokong yang terasa hangat di atas pahanya.
Tangan Bu Mela masih berada di dalam kaus Leo, jari-jarinya mengelus dada Leo pelan, membuat Leo menggigil tanpa bisa mengontrol.
“Bu… aku mohon… kita berhenti di sini…” suara Leo nyaris putus asa.
Bu Mela malah tertawa kecil, tawa yang rendah dan berbahaya. “Kamu harus tepati janjimu, Leo. Jangan jadi lelaki yang ingkar janji.”
Leo menggeram rendah, lalu menggelengkan kepalanya. “Bu, untuk kali ini, tolong jangan dulu.”
Bu Mela berhenti sejenak. Dia menatap Leo lama, napasnya masih berat. Lalu dia tersenyum, senyum yang dingin sekaligus kecewa.
“Kamu bener-bener setia ya sama Dinda?” tanyanya pelan.
Leo mengangguk lemah, “Iya, Bu. Aku cinta dia. Sebenarnya aku nggak mau nodai hubungan kami.”
Bu Mela menarik napas panjang. Perlahan ia bangun dari pangkuan Leo, menutup kembali kancing daster yang tadi dibuka, meski tetap terlihat sangat seksi karena kainnya yang basah oleh keringat tipis di dadanya.
“Baiklah,” katanya datar. “Ibu hargai keteguhan hatimu.”
Tapi sebelum berbalik ke pintu, ia menoleh lagi, matanya menyipit.
“Tapi ingat baik-baik, Leo. Pernikahan kalian tetap di tanganku. Malam ini ibu kasih kamu kesempatan. Tapi kalau nanti kamu tolak ibu lagi, Ibu bisa saja bilang ke Dinda kalau kamu yang mendadak nggak mau lanjut. Atau… Ibu batalkan semuanya.”
Dia berbalik, langkahnya anggun meninggalkan kamar. Pintu ditutup pelan.
Leo ambruk ke ranjang, napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya masih panas, bagian bawahnya masih tegang sakit karena hasrat yang dipaksa ditahan.
Di kepalanya berganti-ganti gambar wajah Dinda yang polos… dan tubuh Bu Mela yang tadi hampir telanjang di pangkuannya. Aroma manisnya masih menempel di hidung, kelembutan bokongnya masih terasa di pahanya.
“Aku nggak boleh nyerah… tapi… astaga, tubuhnya… gila…” gumamnya sendiri, tangannya tanpa sadar mengusap wajah, berusaha menghapus bayangan payudara Bu Mela yang tadi hampir menyentuh bibirnya.
Malam itu, Leo tak tidur. Antara rasa bersalah, takut, dan hasrat terpendam yang terus membakar.
"Ahh.. Ohh..." Suster Priska terus mendesah, matanya terpejam seolah-olah sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Leo.Kemudian Leo berhenti, ia menatap Suster Priska dengan napas yang masih berat. Perempuan itu sudah terbaring di atas ranjang kecil di ruang istirahat tersebut. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya memerah, dan dadanya naik turun mengikuti napas yang belum sepenuhnya tenang."Kamu benar-benar cantik," ucap Leo tersenyum. "Membuatku bergairah."Perlahan Leo merebahkan tubuhnya di samping Priska. Namun sebelum itu, tangannya sempat menyentuh bahu perempuan tersebut, lalu dengan lembut ia mendorongnya hingga benar-benar berbaring nyaman di atas ranjang."Ahh, Pak Leo...."Tatapan mereka kembali bertemu.Mata Suster Priska terlihat lembut, namun juga penuh hasrat yang belum sepenuhnya hilang.Beberapa detik mereka hanya saling menatap.Suasana di ruangan kecil itu terasa hangat, seolah waktu berhenti sejenak hanya untuk mereka berdua.Leo kemudian mendekat lagi. Bibirny
Beberapa menit kemudian. Leo masih duduk di kursi panjang ruang tunggu. Lampu lorong rumah sakit yang redup membuat suasana terasa sunyi dan tenang. Hanya sesekali terdengar langkah kaki perawat yang lewat di kejauhan.Di sampingnya, Sindi sudah tertidur pulas. Tubuhnya sedikit meringkuk di kursi, kepalanya bersandar ke dinding. Napasnya terdengar teratur.Leo memperhatikan Sindi beberapa saat."Dia sudah pulas lagi," gumamnya.Dalam hatinya ia merasa bersalah. Perempuan itu begitu tulus membantu menjaga Dinda sejak melahirkan. Bahkan malam ini pun Sindi rela bergantian berjaga agar Leo bisa beristirahat.Namun Leo justru memiliki rencana lain.Matanya perlahan beralih ke arah lorong yang panjang. Ingatannya kembali pada pesan dari Suster Priska beberapa menit lalu."Pak Leo, nanti ke sini saja di ruang tidurku. Tugas aku sepuluh menit lagi selesai."Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.Leo menelan ludah pelan. Ada rasa berdebar yang sulit dijelaskan.Ia kembali melirik Sindi yan
Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sebelas. Suasana rumah sakit jauh lebih sepi dibandingkan sore tadi. Lampu-lampu di lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang di lantai mengilap.Leo menoleh pada Sindi yang masih duduk di sampingnya di ruang tunggu."Sindi," ucapnya pelan, "kamu tidur saja. Biar aku yang jaga, kamu udah nguap terus."Sindi menatap Leo sejenak. "Kamu yakin, Mas?""Iya. Kamu dari kemarin juga kurang istirahat."Sindi mengangguk pelan. "Ya udah deh. Tapi Mas Leo juga jangan maksa begadang kalau ngantuk."Leo tersenyum tipis. "Iya..."Sindi berdiri, menepuk bahu Leo ringan sebelum masuk ke kamar rawat untuk beristirahat di sofa kecil yang tersedia di dalam.Beberapa menit kemudian, suasana benar-benar sunyi.Leo duduk sendiri di kursi ruang tunggu. Tangannya terlipat di dada, pandangannya kosong menatap lorong.Pikirannya kembali berkecamuk. Dua hari lagi acara pernikahan yang terpaksa harus ia jalani demi menutup ancaman Ayu.Dan di sisi l
Lorong rumah sakit sore itu tidak terlalu ramai. Aroma antiseptik samar terasa di udara. Langkah Leo terdengar pelan menyusuri lantai mengilap menuju ruang administrasi.Namun tiba-tiba langkahnya melambat.Dari ujung lorong, seorang perawat berjalan ke arahnya. Suster Priska tampak anggun dalam seragam putihnya. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya dihiasi senyum yang terasa lebih hangat dari biasanya.Tatapan mereka bertemu. Leo merasakan degup jantungnya berdetak kencang. Priska tersenyum manis."Selamat sore, Pak Leo," sapanya lembut.Sapaan itu terasa berbeda. Ada nada yang lebih pribadi di dalamnya.Leo balas tersenyum. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Untuk beberapa detik, ia lupa hendak ke mana."Sore, Suster," jawabnya pelan.Saat jarak mereka semakin dekat, Leo tiba-tiba berkata, "Suster. Tunggu sebentar?"Priska berhenti. Matanya menatap Leo penuh tanya, tapi tetap tersenyum."Iya, Pak?"Leo menelan ludah tipis. "Aku masih penasaran sama kamu…"Kalimat itu meluncur beg
Pak Haris kembali berbicara, "Kamu yang siapkan semuanya ya. Administrasi, kendaraan, dan kebutuhan di rumah.""Iya, Pak. Nanti aku yang urus," jawab Leo cepat."Dan mulai sekarang," lanjut Pak Haris, "kurangi urusan luar yang tidak perlu."Leo mengangguk lagi. "Baik, Pak."Ia mendekat ke ranjang, menatap bayi kecil yang tertidur. Wajah mungil itu begitu polos, begitu tenang."Mas senang kan?" tanya Dinda pelan.Leo tersenyum. "Senang banget, Sayang."Itu bukan kebohongan. Ia memang senang Dinda bisa segera pulang.Namun di sudut pikirannya, ada perasaan lain.Tentang Priska. Ia ingat tatapan di lorong semalam. Ingat sentuhan, ingat bisikan yang masih terasa hangat.Dengan pulang ke rumah, pertemuan mereka tentu akan lebih jarang.Tapi kemudian Leo tersenyum tipis. Ia sudah menyimpan nomor Priska. Artinya, jarak bukan lagi penghalang.Pikiran itu membuatnya sedikit lebih tenang, bahkan di tengah suasana keluarga yang penuh harapan.Bu Ratna kemudian berdiri. "Leo... Kami tadi sudah b
Ayu menggenggam tangan Leo lebih erat."Ayo, Mas kita ke kamar yuk," ajaknya pelan, nada suaranya berubah lembut dan menggoda.Leo langsung menegang. "Ayu, jangan. Aku nggak bisa lama-lama di sini.""Aku tahu," jawab Ayu cepat. "Tapi aku butuh itu, Mas. Cuma sebentar."Leo mencoba menarik tangannya pelan. "Aku ke sini bukan untuk itu."Namun Ayu tidak menyerah. Ia tersenyum manja, mendekatkan wajahnya, lalu dengan lembut menuntun Leo menyusuri lorong kecil menuju kamar."Ayu…" Leo masih berusaha menahan diri, meski langkahnya tetap mengikuti.Di dalam kepalanya, bayangan Dinda muncul. Wajah istrinya yang tadi meminta ia cepat kembali ke rumah sakit. Bayi mereka yang masih merah dan rapuh.Tapi godaan di depan mata terasa begitu nyata.Sesampainya di kamar, Leo berhenti di ambang pintu."Ayu, cukup," ucapnya pelan."Cukup apa?""Aku sudah menepati janjiku untuk datang ke sini. Tapi bukan untuk hal itu."Namun Ayu tiba-tiba mendorong tubuh Leo perlahan hingga ia terduduk di tepi tempat







