Share

Obrolan Di Mobil

Penulis: WAZA PENA
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-10 12:40:29

Dinda menoleh cepat, jelas terkejut. Namun ia tidak langsung marah, hanya menatap Leo seolah mencoba membaca apakah pertanyaan itu serius atau sekadar ketakutan biasa jelang pernikahan.

“Ber—berkhianat?” ulang Dinda pelan.

Leo tidak bisa menatap matanya. “Iya… kalau… misalnya aja.”

Hening sebentar.

Dinda menarik napas dan memandang ke luar jendela sebelum menjawab.

“Aku bakal sakit hati, Mas.”  Nada suaranya stabil, tapi ada ketegasan di sana. “Tapi aku juga percaya… kalau orang itu nyesel dan mau berubah, keluarga tetap bisa diperbaiki.”

Leo mengepal tangan di pangkuannya.

“Tapi kalau dia nggak mau berubah?” bisiknya.

Dinda menatap Leo dan kali ini matanya tidak berkelakar. Ada kejujuran yang tajam.

“Kalau dia sengaja menghancurkan keluarga kita, berarti dia nggak layak dipertahankan.”

Leo tersentak pelan. Kalimat itu menancap seperti paku di dadanya.

Dinda melanjutkan, suaranya lebih lembut namun tetap tegas, “Mas… aku cuma mau rumah tangga yang jujur. Kita nggak perlu sempurna, tapi jangan saling nyakitin.”

Leo menunduk. “Iya… aku ngerti.”

Dinda mengusap bahunya, tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia jawab.

Leo memejamkan mata sejenak karena ironisnya, di saat Dinda bicara tentang kejujuran dan keluarga utuh, Leo sudah membawa rahasia paling kotor sejak tadi.

Leo menyalakan kembali mobil dan melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang meski ada beban yang masih tersisa. 

Setelah beberapa saat di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Dinda. Hujan gerimis masih terus turun, membuat suasana malam terasa semakin dingin.

Leo dan Dinda bergegas masuk ke dalam rumah, menggigil sedikit karena dinginnya udara di luar.

Begitu masuk ke dalam rumah, Dinda langsung menunjukkan perhatiannya kepada Leo.

"Mas, kamu kelihatan lelah banget. Aku buatin teh panas, ya?" tawarnya dengan senyum lembut.

Leo hanya mengangguk sambil tersenyum, berusaha menyingkirkan pikiran tentang apa yang terjadi di dalam mobil tadi.

Meskipun hatinya masih sedikit berat, melihat perhatian Dinda membuatnya merasa lebih tenang. Mereka duduk di ruang tamu, menikmati kehangatan rumah yang kontras dengan dinginnya udara di luar.

Sementara Dinda sibuk di dapur, Bu Mela muncul dari ruang dalam, tersenyum melihat kedekatan mereka.

"Kalian memang kelihatan cocok sekali," ucap Bu Mela sambil mendekati Leo.

Leo tersenyum kikuk, merasa sedikit canggung di depan Bu Mela setelah perjanjian yang mereka lakukan sebelumnya.

Setelah beberapa saat, Dinda kembali dengan dua cangkir teh panas dan duduk di sebelah Leo.

"Ini, Sayang. Biar kamu hangat," ujar Dinda sambil menyerahkan cangkir itu.

Leo menerima teh itu dengan senyum hangat, "Terima kasih, Sayang."

Bu Mela memperhatikan mereka sejenak sebelum berkata, "Leo, di luar hujan, sudah malam juga, terus kamu kelihatan sangat lelah. Kenapa nggak menginap saja di sini malam ini? Lebih aman daripada kamu harus pulang dalam keadaan seperti ini."

Leo ragu sejenak, merasa tidak enak hati.

"Aduh … nggak usah, Buk. Takut merepotkan," ujar Leo.

Namun, Bu Mela segera menenangkannya.

"Nggak usah khawatir. Kamu bisa tidur di kamar tamu. Lagipula, Dinda juga pasti setuju, kan, Sayang?" Bu Mela menoleh ke arah putrinya.

Dinda mengangguk setuju, menunjukkan rasa peduli yang tulus kepada tunangannya,"Iya, Mas. Menginap aja di sini. Aku nggak pengen kamu sakit karena kelelahan. Ingat pernikahan kita hanya menghitung hari."

Leo merasa hatinya sedikit lega mendengar itu, meski masih ada rasa canggung.

"Baiklah, kalau begitu saya terima tawarannya, Bu. Tapi maaf jika aku merepotkan ibu sama Dinda," ucap Leo sambil melirik Dinda yang tersenyum malu.

Bu Mela tertawa kecil, "Tentu saja tidak, Leo. Kamu kan sudah ibu anggap anak ibu juga."

Leo mengangguk, merasa sedikit lebih tenang meski hatinya masih dipenuhi berbagai perasaan. Dalam hatinya, dia senang bisa lebih dekat dengan Dinda, meski tetap berusaha menjaga jarak sesuai dengan komitmen mereka.

Setelah Dinda memastikan bahwa Leo mendapat tempat tidur yang nyaman di kamar tamu, ia meninggalkan Leo di kamar itu usai mengucapkan selamat malam.

Leo berbaring di tempat tidur, matanya memandang langit-langit kamar sambil merenungkan kejadian hari ini.

Perasaan campur aduk memenuhi pikirannya, antara rasa cinta yang mendalam untuk Dinda, rasa bersalah atas perjanjian yang telah ia buat dengan Bu Mela.

Malam itu, meski tubuhnya lelah, pikirannya tetap terjaga, dipenuhi dengan harapan untuk masa depan yang akan segera datang, namun juga dengan keraguan dan kebimbangan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Leo terbangun dari tidurnya saat mendengar suara pintu kamar terbuka perlahan. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh cahaya samar dari lampu koridor.

Jantungnya berdegup kencang ketika melihat sosok Bu Mela melangkah masuk dengan perlahan. Pakaian daster yang dikenakan Bu Mela begitu tipis dan menggoda, menampilkan siluet tubuhnya yang montok dengan sangat jelas.

Leo menelan ludah, merasa campuran antara kaget dan kebingungan.

"Bu... Ada apa?" tanya Leo dengan suara serak, mencoba tetap tenang meski pikirannya mulai kacau balau karena penampilan calon mertuanya.

Bu Mela hanya tersenyum tipis, senyum yang membawa aura misterius sekaligus menggoda. Dia duduk di tepi ranjang, sangat dekat dengan Leo, membuat udara di sekitarnya terasa semakin panas.

"Leo, ibu nggak bisa tidur. Rasanya dingin sekali malam ini," bisiknya, matanya menatap Leo dengan pandangan yang sulit diartikan.

Leo merasakan tubuhnya kaku, pikirannya berputar-putar mencari alasan untuk memahami situasi ini.

“Gimana kalau kamu hangatkan ibu malam ini?” Bu Mela membelai lengan Leo dengan senyum menggoda.

Ia juga lelaki normal. Mendapat serangan seperti ini, jelas tubuhnya bereaksi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Belum juga malam pertama dengan anaknya, ibunya sudah mendahului minta jatah
goodnovel comment avatar
Nur Sidah
mertua perempuan gatal minta di garuk pk anacondanya leo,
goodnovel comment avatar
orchid
waduuh bahaya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Gairah Bersama Suster Priska 21+

    "Ahh.. Ohh..." Suster Priska terus mendesah, matanya terpejam seolah-olah sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Leo.Kemudian Leo berhenti, ia menatap Suster Priska dengan napas yang masih berat. Perempuan itu sudah terbaring di atas ranjang kecil di ruang istirahat tersebut. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya memerah, dan dadanya naik turun mengikuti napas yang belum sepenuhnya tenang."Kamu benar-benar cantik," ucap Leo tersenyum. "Membuatku bergairah."Perlahan Leo merebahkan tubuhnya di samping Priska. Namun sebelum itu, tangannya sempat menyentuh bahu perempuan tersebut, lalu dengan lembut ia mendorongnya hingga benar-benar berbaring nyaman di atas ranjang."Ahh, Pak Leo...."Tatapan mereka kembali bertemu.Mata Suster Priska terlihat lembut, namun juga penuh hasrat yang belum sepenuhnya hilang.Beberapa detik mereka hanya saling menatap.Suasana di ruangan kecil itu terasa hangat, seolah waktu berhenti sejenak hanya untuk mereka berdua.Leo kemudian mendekat lagi. Bibirny

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Malam Yang Panas 21++

    Beberapa menit kemudian. Leo masih duduk di kursi panjang ruang tunggu. Lampu lorong rumah sakit yang redup membuat suasana terasa sunyi dan tenang. Hanya sesekali terdengar langkah kaki perawat yang lewat di kejauhan.Di sampingnya, Sindi sudah tertidur pulas. Tubuhnya sedikit meringkuk di kursi, kepalanya bersandar ke dinding. Napasnya terdengar teratur.Leo memperhatikan Sindi beberapa saat."Dia sudah pulas lagi," gumamnya.Dalam hatinya ia merasa bersalah. Perempuan itu begitu tulus membantu menjaga Dinda sejak melahirkan. Bahkan malam ini pun Sindi rela bergantian berjaga agar Leo bisa beristirahat.Namun Leo justru memiliki rencana lain.Matanya perlahan beralih ke arah lorong yang panjang. Ingatannya kembali pada pesan dari Suster Priska beberapa menit lalu."Pak Leo, nanti ke sini saja di ruang tidurku. Tugas aku sepuluh menit lagi selesai."Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.Leo menelan ludah pelan. Ada rasa berdebar yang sulit dijelaskan.Ia kembali melirik Sindi yan

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Kode Dari Suster Priska

    Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sebelas. Suasana rumah sakit jauh lebih sepi dibandingkan sore tadi. Lampu-lampu di lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang di lantai mengilap.Leo menoleh pada Sindi yang masih duduk di sampingnya di ruang tunggu."Sindi," ucapnya pelan, "kamu tidur saja. Biar aku yang jaga, kamu udah nguap terus."Sindi menatap Leo sejenak. "Kamu yakin, Mas?""Iya. Kamu dari kemarin juga kurang istirahat."Sindi mengangguk pelan. "Ya udah deh. Tapi Mas Leo juga jangan maksa begadang kalau ngantuk."Leo tersenyum tipis. "Iya..."Sindi berdiri, menepuk bahu Leo ringan sebelum masuk ke kamar rawat untuk beristirahat di sofa kecil yang tersedia di dalam.Beberapa menit kemudian, suasana benar-benar sunyi.Leo duduk sendiri di kursi ruang tunggu. Tangannya terlipat di dada, pandangannya kosong menatap lorong.Pikirannya kembali berkecamuk. Dua hari lagi acara pernikahan yang terpaksa harus ia jalani demi menutup ancaman Ayu.Dan di sisi l

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Janji Yang Harus Ditepati

    Lorong rumah sakit sore itu tidak terlalu ramai. Aroma antiseptik samar terasa di udara. Langkah Leo terdengar pelan menyusuri lantai mengilap menuju ruang administrasi.Namun tiba-tiba langkahnya melambat.Dari ujung lorong, seorang perawat berjalan ke arahnya. Suster Priska tampak anggun dalam seragam putihnya. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya dihiasi senyum yang terasa lebih hangat dari biasanya.Tatapan mereka bertemu. Leo merasakan degup jantungnya berdetak kencang. Priska tersenyum manis."Selamat sore, Pak Leo," sapanya lembut.Sapaan itu terasa berbeda. Ada nada yang lebih pribadi di dalamnya.Leo balas tersenyum. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Untuk beberapa detik, ia lupa hendak ke mana."Sore, Suster," jawabnya pelan.Saat jarak mereka semakin dekat, Leo tiba-tiba berkata, "Suster. Tunggu sebentar?"Priska berhenti. Matanya menatap Leo penuh tanya, tapi tetap tersenyum."Iya, Pak?"Leo menelan ludah tipis. "Aku masih penasaran sama kamu…"Kalimat itu meluncur beg

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Tekad Didalam Tekanan

    Pak Haris kembali berbicara, "Kamu yang siapkan semuanya ya. Administrasi, kendaraan, dan kebutuhan di rumah.""Iya, Pak. Nanti aku yang urus," jawab Leo cepat."Dan mulai sekarang," lanjut Pak Haris, "kurangi urusan luar yang tidak perlu."Leo mengangguk lagi. "Baik, Pak."Ia mendekat ke ranjang, menatap bayi kecil yang tertidur. Wajah mungil itu begitu polos, begitu tenang."Mas senang kan?" tanya Dinda pelan.Leo tersenyum. "Senang banget, Sayang."Itu bukan kebohongan. Ia memang senang Dinda bisa segera pulang.Namun di sudut pikirannya, ada perasaan lain.Tentang Priska. Ia ingat tatapan di lorong semalam. Ingat sentuhan, ingat bisikan yang masih terasa hangat.Dengan pulang ke rumah, pertemuan mereka tentu akan lebih jarang.Tapi kemudian Leo tersenyum tipis. Ia sudah menyimpan nomor Priska. Artinya, jarak bukan lagi penghalang.Pikiran itu membuatnya sedikit lebih tenang, bahkan di tengah suasana keluarga yang penuh harapan.Bu Ratna kemudian berdiri. "Leo... Kami tadi sudah b

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Rayuan Maut Ayu

    Ayu menggenggam tangan Leo lebih erat."Ayo, Mas kita ke kamar yuk," ajaknya pelan, nada suaranya berubah lembut dan menggoda.Leo langsung menegang. "Ayu, jangan. Aku nggak bisa lama-lama di sini.""Aku tahu," jawab Ayu cepat. "Tapi aku butuh itu, Mas. Cuma sebentar."Leo mencoba menarik tangannya pelan. "Aku ke sini bukan untuk itu."Namun Ayu tidak menyerah. Ia tersenyum manja, mendekatkan wajahnya, lalu dengan lembut menuntun Leo menyusuri lorong kecil menuju kamar."Ayu…" Leo masih berusaha menahan diri, meski langkahnya tetap mengikuti.Di dalam kepalanya, bayangan Dinda muncul. Wajah istrinya yang tadi meminta ia cepat kembali ke rumah sakit. Bayi mereka yang masih merah dan rapuh.Tapi godaan di depan mata terasa begitu nyata.Sesampainya di kamar, Leo berhenti di ambang pintu."Ayu, cukup," ucapnya pelan."Cukup apa?""Aku sudah menepati janjiku untuk datang ke sini. Tapi bukan untuk hal itu."Namun Ayu tiba-tiba mendorong tubuh Leo perlahan hingga ia terduduk di tepi tempat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status