Home / Urban / Jatah Malam Untuk Mertua / Kemesraan Di Mobil

Share

Kemesraan Di Mobil

Author: WAZA PENA
last update Last Updated: 2025-06-10 12:40:29

"Owh, enggak. Aku hanya membayangkan bagaimana acara pernikahan kita nanti, kayaknya bakal seru." Leo berupaya membuat Dinda tidak curiga.

"Iya pasti dong, Mas. Pasti kamu membayangkan malam pertama yah," ledek Dinda, tertawa kecil.

"Hehe, tau aja kamu," balas Leo yang juga tertawa.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang hangat, bercanda tentang masa depan mereka yang penuh kebahagiaan. Meski di balik senyuman itu, Leo masih menyimpan kekhawatiran, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan apa pun demi memastikan pernikahan mereka berjalan lancar dan bahagia. Bagi Leo, cinta mereka adalah segalanya, dan dia tidak akan membiarkan apa pun merusak itu.

Ketika mobil yang dikendarai Leo berhenti di depan sebuah kafe yang nyaman dan terpencil, Dinda tersenyum senang. Tempat ini memang menjadi favorit mereka berdua, sebuah kafe kecil yang terletak di tepi danau dengan pemandangan indah dan suasana yang tenang. Mereka sering datang ke sini untuk berbagi cerita dan merencanakan masa depan.

"Tempat ini selalu bikin aku merasa tenang, Mas. Di sini adem," ucap Dinda saat mereka berjalan berdua menuju teras kafe.

"Aku juga suka tempat ini, Sayang," jawab Leo sambil menggandeng tangan Dinda lebih erat.

"Rasanya damai, kayak dunia ini cuma milik kita berdua," imbuhnya.

Mereka memilih meja di dekat jendela besar yang menghadap ke danau, di mana sinar matahari pagi memantulkan kilau emas di permukaan air. Setelah memesan minuman favorit mereka, Leo dan Dinda kembali larut dalam obrolan yang hangat dan penuh cinta.

"Gak kerasa yah, Mas. Kurang dari seminggu lagi kita menikah." Dinda memulai, matanya berbinar saat dia menatap Leo.

"Akhirnya kita akan melangsungkan pernikahan, Mas. Rasanya aku nggak percaya. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan," tambahnya, matanya berbinar.

Leo menatap Dinda dengan penuh kasih sayang.

"Iya, Sayang. Aku juga nggak sabar. Setiap kali aku bayangin kita menikah, rasanya aku semakin jatuh cinta sama kamu," ujar Leo dengan tulus.

"Kamu nggak cuma cantik, tapi juga pintar, baik hati, dan... sempurna buatku," imbuhnya, melempar senyuman.

Pujian itu membuat pipi Dinda merona, senyumnya merekah,"Kamu terlalu baik, Mas. Aku juga merasa beruntung bisa ketemu dan akhirnya mau menikah sama kamu. Kita akan jadi pasangan yang hebat"

"Tentu saja," jawab Leo sambil mengulurkan tangannya, menyentuh tangan Dinda di atas meja.

"Aku akan selalu ada buat kamu, apa pun yang terjadi." Leo menggenggam erat tangan kekasihnya.

Dinda meremas tangan Leo lembut, merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka.

"Aku juga akan selalu mendukung kamu, Mas. Nanti kalau kita sudah menikah, kita bisa mewujudkan semua impian kita, termasuk punya anak banyak," dengan nada bercanda dengan nada bercanda namun serius.

Leo tertawa kecil, tapi di balik tawa itu, dia merasakan gelombang keinginan yang semakin kuat untuk segera menjadi suami Dinda. Dia membayangkan masa depan mereka yang penuh dengan kebahagiaan, tawa anak-anak, dan cinta yang terus tumbuh. Ada rasa rindu yang mendalam dalam dirinya, rindu untuk bisa memeluk Dinda dengan penuh gairah sebagai seorang suami, memberikan seluruh cintanya kepada wanita yang telah membuatnya merasa hidup.

"Kamu benar-benar serius soal punya anak banyak ya?" tanya Leo sambil menatap Dinda dengan tatapan yang intens.

Dinda mengangguk sambil tersenyum lembut,"Iya, Mas. Aku pengen rumah kita penuh dengan anak-anak yang sehat dan ceria. Aku pengen kita jadi keluarga yang bahagia"

Leo menelan ludah, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Aku juga nggak sabar, Sayang. Aku pengen kita segera menikah, dan... aku pengen menumpahkan semua perasaan ini sama kamu," ucap Leo dengan suara yang lebih pelan, namun penuh makna.

Dinda merasakan desiran di hatinya mendengar kata-kata Leo. Ada rasa hangat dan rindu yang tumbuh di dalam dirinya.

"Aku juga sama, Mas. Aku pengen kita segera jadi suami istri, berbagi segalanya... termasuk kasih sayang yang kita punya," balas Dinda tersenyum.

Obrolan mereka berlanjut dengan semakin banyak rencana tentang masa depan, tentang bagaimana mereka akan menghabiskan hidup bersama, dan tentang impian-impian yang akan mereka wujudkan. Di dalam hati mereka, ada perasaan yang semakin membara, sebuah keinginan kuat untuk segera memulai kehidupan baru sebagai suami istri, di mana mereka bisa saling mencintai sepenuhnya tanpa batasan.

Leo dan Dinda tenggelam dalam momen itu, menikmati kebersamaan mereka dengan penuh cinta dan harapan. Meski ada bayangan gelap yang menghantui pikiran Leo, untuk saat ini, dia memilih untuk fokus pada cinta yang mereka miliki, berharap bahwa apa pun yang akan terjadi, mereka akan bisa menghadapinya bersama.

Dalam suasana malam yang sepi dan hanya ditemani suara hujan gerimis, Leo merasa semakin sulit untuk menahan desakan hasrat yang kian membara di dalam dirinya. Semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin besar dorongan itu muncul, membelenggu pikirannya hingga membuatnya tidak mampu berpikir jernih. Di sampingnya, Dinda duduk diam, wajahnya masih terlihat tenang meski ada sedikit kebingungan yang tampak di matanya.

Setelah beberapa menit berusaha menenangkan diri, Leo akhirnya tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia menepi di pinggir jalan lagi, kali ini dengan lebih mendesak. Dengan suara yang terdengar sedikit putus asa berupaya mengungkapkan.

"Sayang... Aku tahu ini salah, tapi aku benar-benar nggak bisa menahannya lagi. Aku butuh bantuanmu, Sayang," ucap Leo lirih.

Dinda menoleh dengan tatapan cemas.

"Mas, kamu ngomong apaan sih? Aku nggak yakin kita harus melakukannya. Kita sudah dekat dengan hari pernikahan kita, dan--"

"Aku ngerti, Sayang. Aku ngerti itu!" potong Leo, suaranya terdengar serak.

"Tapi aku benar-benar nggak kuat lagi. Aku... aku cuma minta kamu bantuin aja, nggak lebih," tambahnya seraya menahan hawa nafsu yang membara.

Dinda melihat ke dalam mata Leo, melihat betapa gelisah dan tersiksanya tunangannya itu. Meskipun hatinya merasa bimbang, ada bagian dari dirinya yang tidak tega melihat Leo dalam kondisi seperti ini. Dia mencintai Leo dan tahu bahwa dia juga manusia dengan segala kelemahan.

Setelah menghela napas panjang, Dinda berkata dengan suara pelan.

" Hmmm, ya udah. Aku akan bantu aja. Tapi hanya kali ini saja, ya?" Dinda menatap dalam-dalam calon suaminya.

Leo mengangguk, merasa sedikit lega meski rasa bersalah masih mengganjal di hatinya

"Iya, Sayang. Aku janji ini nggak akan sering-sering," jawab Leo tersenyum senang.

Dengan tangan gemetar, Dinda mendekati Leo dan mulai membantu seperti yang diminta. Suasana di dalam mobil menjadi sunyi, hanya terdengar napas mereka yang semakin berat. Meski ini bukan sesuatu yang Dinda harapkan akan mereka lakukan sebelum pernikahan, dia melakukannya dengan perasaan campur aduk antara cinta, kasih sayang, dan ketidakpastian.

"Ugh... lebih cepat lag, Sayang," pinta Leo, suaranya memburu.

"Iya, Mas. Aku gak nyangka punyamu besar banget sih," ucap Dinda, merasa ketakutan melihat senjata milik Leo yang besar dan panjang.

Leo merasakan kelegaan yang luar biasa saat Dinda membantunya. Dia berusaha menahan suara dan mengendalikan perasaannya, tetapi dorongan itu begitu kuat. Meski Dinda melakukannya dengan penuh hati-hati, Leo merasakan bahwa ini adalah cara mereka untuk meredakan ketegangan yang telah menumpuk sepanjang hari.

"Lebih cepat lagi, Sayang. Aku mau mencapai puncak." Leo meringis merasakan aliran darahnya memuncak.

"Iya, Mas," sahut Dinda yang juga sebenarnya merasa terangsang.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Leo akhirnya mencapai puncaknya. Dia terengah-engah, merasa campuran antara kelegaan dan rasa bersalah. Dinda menarik tangannya kembali, wajahnya sedikit memerah, dan dia menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan pikirannya.

"Arrgghh." Leo mengerang kenikmatan ketika muliknya menyemburkan lahar hangat.

Dinda kaget melihat itu, tangannya pun terkena cairan berwarna putih dan kental.

"Ihh, Sayang... Banyak banget sih," lirih Dinda yang langsung mengambil beberapa lembar tisu.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatah Malam Untuk Mertua    AIR MATA KEBAHAGIAAN

    Pagi itu udara terasa berbeda. Matahari baru saja muncul dari ufuk timur, sinarnya masuk melalui sela-sela tirai kamar. Dinda terbangun dengan napas terengah, tangannya refleks memegang perut yang terasa menegang. "Mas…," suaranya lirih, namun terdengar panik.Leo yang sedang bersiap di meja rias langsung berbalik. "Kenapa, Sayang? Sakit?" tanyanya cemas sambil menghampiri."Kayaknya… ini sudah waktunya," jawab Dinda dengan wajah menahan sakit. Matanya berkaca-kaca.Leo langsung memanggil kedua orang tuanya, Pak Arman dan Bu Ratna, yang langsung sigap membantu. Dalam waktu singkat mereka sudah bersiap menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Leo menggenggam tangan Dinda erat, seakan tidak ingin melepaskannya sedetik pun."Sayang, tarik napas dalam… buang pelan-pelan, ya. Kita sudah dekat," ucap Leo berulang kali, mencoba menenangkan walau hatinya sendiri berdegup tak karuan.Setibanya di rumah sakit, perawat segera membawa Dinda ke ruang bersalin. Leo sempat ingin ikut masuk, tapi do

  • Jatah Malam Untuk Mertua    Kebahagiaan Baru

    Satu bulan kemudian, kehidupan Leo dan Dinda terasa semakin membaik. Hari-hari mereka kini dipenuhi senyum dan ketenangan. Perut Dinda semakin membuncit, menandakan usia kandungannya telah memasuki tahap akhir. Setiap gerakan kecil dari janin di dalam rahimnya membuat Dinda tersenyum bahagia.Suatu sore, Leo duduk di sampingnya sambil menatap penuh sayang. “Aku nggak sabar, Sayang… sebentar lagi kita bisa lihat anak kita lahir,” ucapnya lirih, suaranya dipenuhi harapan dan kegembiraan.Dinda membalas tatapan itu dengan senyum hangat. "Aku juga, Mas. Rasanya campur aduk… senang, deg-degan, takut juga. Tapi aku bersyukur, anak kita lahir di keluarga yang penuh kasih."Kebahagiaan mereka semakin lengkap karena hubungan dengan mertua berjalan harmonis. Ibu Leo selalu memperhatikan Dinda, memastikan ia makan cukup, istirahat, dan tidak terlalu lelah. Setiap pagi, aroma masakan hangat buatan sang mertua menyambut mereka di meja makan, menambah suasana rumah yang begitu nyaman.Di tengah keb

  • Jatah Malam Untuk Mertua    Pak Bram dijebloskan

    Pagi itu, suasana di halaman depan rumah Pak Bram terasa tegang. Udara pagi yang biasanya segar kini terasa berat, seolah ikut merasakan amarah yang membara di dada Leo. Lelaki itu melangkah cepat, langkah kakinya menghentak lantai teras kayu. Wajahnya kaku, rahang mengeras, matanya menyala dengan tatapan penuh kemarahan.Pak Bram, ayah angkatnya, sedang duduk santai di kursi rotan sambil menyeruput kopi hitam. Begitu melihat Leo datang, alisnya terangkat, seolah terkejut namun tetap berusaha mempertahankan ekspresi tenang."Ada apa pagi-pagi begini, Leo?" tanya Pak Bram, nadanya datar, tapi ada sedikit nada waspada di balik suaranya.Leo tidak langsung menjawab. Dia berdiri di hadapan ayah angkatnya itu, menatap tajam seakan ingin menembus lapisan topeng yang selama ini menutupi wajah pria tua tersebut. "Aku mau tanya, kenapa Bapak tega memfitnah Dinda?!"Pak Bram mengerutkan kening, berpura-pura tidak mengerti. "Fitnah apa? Aku nggak ngerti maksud kamu.""Jangan pura-pura nggak tahu

  • Jatah Malam Untuk Mertua    Tuduhan Palsu

    Pagi Hari di Kantor Baru. Matahari baru saja meninggi ketika Leo memarkir mobil di halaman gedung megah bertingkat lima. Di bagian depan, papan nama perusahaan itu terpampang jelas, kini sudah resmi atas nama Dinda Prameswari.Leo membuka pintu mobil dan tersenyum. "Ayo, Sayang. Hari ini kamu yang jadi bosnya."Dinda menatap gedung itu dengan mata berkaca-kaca. Rasanya masih seperti mimpi, bahwa tempat yang dulu menjadi sumber ketidakadilan dan rasa sakit hati, kini sepenuhnya miliknya. "Aku… nggak nyangka, Mas. Semua perjuangan kita akhirnya sampai juga di sini."Leo menggenggam tangannya. "Kita sampai di sini bukan karena kebetulan. Kamu berhak, Din. Ini memang milikmu."Mereka melangkah masuk. Begitu pintu lobi terbuka, seluruh karyawan yang sudah diberi pengarahan oleh Pak Arman berdiri rapi di sisi kanan dan kiri, bertepuk tangan menyambut kedatangan pemilik baru mereka. Beberapa karyawan yang dulu mengenal Dinda waktu kecil bahkan menahan air mata, terharu karena gadis yang dulu

  • Jatah Malam Untuk Mertua    Mengadili Bu Mela

    Ruang sidang penuh sesak. Kursi-kursi di barisan belakang dipenuhi wartawan, beberapa memegang kamera, siap mengabadikan setiap momen. Di kursi pengunjung, Pak Arman dan Bu Ratna duduk tegak, wajah mereka tegas namun tenang. Di depan, Leo menggenggam erat tangan Dinda, memberi kekuatan sebelum sidang dimulai. Dinda terlihat gugup, namun Leo terus memenangkannya. Ketika hakim memasuki ruangan, semua berdiri. "Sidang perkara dugaan pemalsuan dokumen dan perampasan hak ahli waris atas nama terdakwa, Melati Wulandari, dibuka." Bu Mela duduk di kursi terdakwa, mengenakan setelan rapi, tapi wajahnya pucat. Sesekali ia menoleh ke arah Leo dan Dinda dengan tatapan tajam, dia terlihat benar-benar benci. Jaksa penuntut bangkit. "Yang Mulia, kami telah mengumpulkan bukti-bukti bahwa terdakwa, Melati Wulandari, secara sengaja menyembunyikan dan memalsukan dokumen waris yang seharusnya menjadi milik saksi korban, Dinda Prameswari. Tindakan ini dilakukan untuk menguasai aset dan saham perusaha

  • Jatah Malam Untuk Mertua    Berkas itu Berhasil Kembali

    Leo dan Dinda masuk ke kamar dengan langkah yang masih terasa berat, seakan-akan mereka baru saja keluar dari mimpi panjang yang belum benar-benar mereka pahami. Leo duduk di tepi ranjang, matanya masih menerawang, memikirkan percakapan barusan dengan kedua orang tua kandungnya."Aku… nggak nyangka, Sayang," ucap Leo pelan, suaranya bergetar. "Mereka… orang tuaku… ternyata selama ini hidup di dunia yang begitu jauh dari kehidupanku. Kaya raya, berpengaruh… tapi aku bahkan nggak tahu mereka ada."Dinda duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Ia bisa merasakan betapa campur aduknya perasaan Leo, antara terkejut, bahagia, dan masih ada sedikit rasa asing yang menyelinap."Tapi satu hal yang bikin aku lega," lanjut Leo sambil menatap mata Dinda."Mereka nggak cuma menerimaku… tapi juga mau membantumu. Kita bisa lawan Bu Mela. Kita bisa ambil kembali hakmu, Sayang."Dinda tersenyum tipis, namun matanya berkaca-kaca. "Aku senang kamu akhirnya ketemu keluargamu, Leo. Dan aku… bersy

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status