Masuk
Leo berdiri di depan pintu rumah calon istrinya, merasa sedikit gugup. Hari itu adalah kesempatan terakhirnya untuk bertemu dengan keluarga Dinda sebelum pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
Setelah beberapa saat, pintu terbuka, dan Bu Mela, ibu Dinda, menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Oh, Leo. Silakan masuk. Dinda masih di kamar mandi, tapi sebentar lagi selesai," ujar Bu Mela sambil mempersilakan Leo duduk di ruang tamu.
Leo merasa sedikit canggung, tapi dia berusaha menjaga sikapnya. Setelah beberapa menit, mereka mulai berbicara ringan, membahas persiapan pernikahan yang semakin dekat. Leo merasa lega karena semuanya tampak berjalan lancar.
Namun, suasana berubah saat Bu Mela tiba-tiba berhenti berbicara dan menatap Leo dengan sorot mata yang tajam.
"Leo," ucap Bu Mela dengan suara yang lebih serius. "Ada satu hal yang ingin Ibu bicarakan denganmu sebelum kalian menikah.”
Leo merasa ada sesuatu yang ganjil, tapi dia tetap mengangguk, menunggu Bu Mela melanjutkan.
"Sebenarnya, Ibu ingin meminta sesuatu darimu," ujar Bu Mela, suaranya sedikit bergetar, namun tetap tegas.
"Ibu tahu ini mungkin akan mengejutkanmu, tapi Ibu butuh kasih sayang, Leo. Ibu ini kan seorang janda, dan setelah ibu bercerai, Ibu merasa sangat kesepian," imbuhnya, sorot matanya penuh harap.
Leo menelan ludah, tidak yakin dengan arah pembicaraan ini.
“Ibu… butuh kasih sayang seorang lelaki,” ucapnya pelan namun jelas. “Dan Ibu ingin kamu… berbagi jatah malam setelah kamu menikah dengan Dinda.”
Leo tak bisa berkata-kata. Kata-kata itu menampar telinganya.
“Kalau kamu menolak,” lanjut Bu Mela tanpa kedip, “Ibu tidak akan restui pernikahan kalian.”
Leo memandangnya, berharap Bu Mela hanya salah bicara. Tapi wajahnya serius, tanpa sedikitpun keraguan.
“Bu… itu—” Leo tidak sanggup merangkai kalimat.
“Itu syaratnya,” potong Bu Mela. “Kalau kamu benar-benar mau menikah dengan Dinda, buktikan.”
Diam panjang menyelimuti ruangan. Leo ingin menolak, ingin berdiri dan pergi. Tapi bayangan Dinda, wanita yang sudah ia perjuangkan bertahun-tahun, menghantamnya lebih keras daripada ancaman itu sendiri.
Leo tahu Dinda begitu mencintainya. Ia tahu pernikahan ini sangat penting bagi keluarga Dinda. Ia tahu membatalkannya akan menghancurkan semuanya.
Dan Leo… tidak sanggup kehilangan Dinda.
Akhirnya ia mengangguk perlahan. “Baik, Bu… Saya setuju.”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Bu Mela tersenyum puas, lalu kembali bersikap seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi.
Leo justru merasa seluruh ruangan menjadi lebih sempit.
Tangga berderit. Dinda turun sambil tersenyum cerah, membawa aura polos yang langsung menusuk hati Leo.
“Mas, maaf lama ya.”
Leo tersenyum kaku. “Nggak, kok.”
Ia hampir tidak bisa menatap Dinda setelah keputusan gila yang barusan ia buat.
Mencari alasan untuk pergi dari rumah itu, Leo mengajak Dinda keluar.
Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Leo menghirup udara panjang seperti ingin melarikan diri dari sesuatu yang menempel di kepalanya.
Di dalam mobil, Dinda bercerita tentang hal-hal kecil mengenai pesta, rumah masa depan, dan rencana setelah menikah. Biasanya Leo akan ikut bersemangat, tapi kali ini setiap kata yang keluar dari mulut Dinda justru menambah sesak dadanya.
“Mas? Kamu kok diam banget hari ini?” tanya Dinda.
Leo mengerjap. “Oh? Nggak apa-apa kok, cuma capek.”
Jawaban aman. Tidak jujur. Tapi Dinda menerimanya tanpa curiga.
Leo memutar mobil menuju taman yang sepi. Bukan tempat khusus, hanya ruang tenang di mana ia bisa mendengar pikirannya sendiri tanpa gangguan.
Dinda memandangnya dengan khawatir begitu mobil berhenti. “Mas… kamu yakin nggak apa-apa?”
Leo menarik napas panjang. Semua ingin ia ceritakan. Tapi ia teringat ancaman Bu Mela. Teringat bagaimana keluarga Dinda begitu bergantung pada restu sang ibu.
Teringat cinta Dinda yang begitu besar padanya. Dan Leo langsung merasa seperti pria paling pengecut di dunia.
“Aku cuma mikir soal pernikahan nanti,” katanya pelan. Separuh kebenaran, separuh kebohongan.
Dinda mengangguk, lalu menyentuh lengannya dengan lembut. “Semua akan baik-baik aja. Kita sudah lewati banyak hal, Mas. Kita bisa jalanin semuanya bareng.”
Kata-kata itu menghantam Leo tepat di titik rapuhnya. Ia menunduk. “Iya…”
Dinda sempat menggenggam tangan Leo, tapi sentuhan itu yang justru membuat Leo merasa makin bersalah.
Karena ia tahu, Dinda tidak pantas menerima pria yang membuat keputusan seperti tadi.
Namun Leo juga tahu, ia tidak sanggup kehilangan Dinda.
“Sayang, nanti setelah kita menikah, kamu pengen tinggal di mana?” tanya Dinda tiba-tiba.
Leo mencoba tersenyum. “Rumah yang dekat taman itu. Tenang, tapi tetap deket ke mana-mana.”
Dinda mengangguk, matanya berbinar. “Iya, terus anak-anak kita bisa main di taman.”
Leo tertawa kecil. “Kamu ngomongnya kayak mau punya banyak anak.”
Dinda menjawab tanpa ragu, bercampur canda, “Memang aku pengen punya banyak anak! Mungkin lima atau enam. Lucu kalau mereka kayak kamu.”
Leo tertawa, tapi ada sedikit ketakutan yang menyelinap. “Lima atau enam? Kita bakal sibuk banget.”
“Tapi kan seru, Mas. Aku suka rumah yang rame.” Ia lalu bersandar pada bahu Leo. “Kamu harus bantu jagain anak-anak nanti. Jangan sibuk kerja terus.”
“Tentu. Aku bakal jadi suami yang baik dan ayah yang bertanggung jawab.”
Dinda tersenyum bahagia. “Aku seneng banget denger itu.”
Setelah tawa kecil itu mereda, Leo kembali terpaku pada wajah Dinda. Senyum wanita itu… polos, penuh harapan, dan tidak sedikit pun mencerminkan beban yang sedang dihancurkan oleh keputusan Leo sendiri.
Dan rasa bersalah itu datang lagi, bahkan lebih besar dari sebelumnya.
Leo mengusap tengkuk, menatap ke depan, lalu suara rendahnya keluar tanpa ia rencanakan.
“Din… boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh,” jawab Dinda lembut.
Leo menelan ludah. “Menurut kamu… kalau dalam rumah tangga nanti… ada salah satu dari kita yang… berkhianat… kamu bakal gimana?”
"Ahh.. Ohh..." Suster Priska terus mendesah, matanya terpejam seolah-olah sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Leo.Kemudian Leo berhenti, ia menatap Suster Priska dengan napas yang masih berat. Perempuan itu sudah terbaring di atas ranjang kecil di ruang istirahat tersebut. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya memerah, dan dadanya naik turun mengikuti napas yang belum sepenuhnya tenang."Kamu benar-benar cantik," ucap Leo tersenyum. "Membuatku bergairah."Perlahan Leo merebahkan tubuhnya di samping Priska. Namun sebelum itu, tangannya sempat menyentuh bahu perempuan tersebut, lalu dengan lembut ia mendorongnya hingga benar-benar berbaring nyaman di atas ranjang."Ahh, Pak Leo...."Tatapan mereka kembali bertemu.Mata Suster Priska terlihat lembut, namun juga penuh hasrat yang belum sepenuhnya hilang.Beberapa detik mereka hanya saling menatap.Suasana di ruangan kecil itu terasa hangat, seolah waktu berhenti sejenak hanya untuk mereka berdua.Leo kemudian mendekat lagi. Bibirny
Beberapa menit kemudian. Leo masih duduk di kursi panjang ruang tunggu. Lampu lorong rumah sakit yang redup membuat suasana terasa sunyi dan tenang. Hanya sesekali terdengar langkah kaki perawat yang lewat di kejauhan.Di sampingnya, Sindi sudah tertidur pulas. Tubuhnya sedikit meringkuk di kursi, kepalanya bersandar ke dinding. Napasnya terdengar teratur.Leo memperhatikan Sindi beberapa saat."Dia sudah pulas lagi," gumamnya.Dalam hatinya ia merasa bersalah. Perempuan itu begitu tulus membantu menjaga Dinda sejak melahirkan. Bahkan malam ini pun Sindi rela bergantian berjaga agar Leo bisa beristirahat.Namun Leo justru memiliki rencana lain.Matanya perlahan beralih ke arah lorong yang panjang. Ingatannya kembali pada pesan dari Suster Priska beberapa menit lalu."Pak Leo, nanti ke sini saja di ruang tidurku. Tugas aku sepuluh menit lagi selesai."Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.Leo menelan ludah pelan. Ada rasa berdebar yang sulit dijelaskan.Ia kembali melirik Sindi yan
Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sebelas. Suasana rumah sakit jauh lebih sepi dibandingkan sore tadi. Lampu-lampu di lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang di lantai mengilap.Leo menoleh pada Sindi yang masih duduk di sampingnya di ruang tunggu."Sindi," ucapnya pelan, "kamu tidur saja. Biar aku yang jaga, kamu udah nguap terus."Sindi menatap Leo sejenak. "Kamu yakin, Mas?""Iya. Kamu dari kemarin juga kurang istirahat."Sindi mengangguk pelan. "Ya udah deh. Tapi Mas Leo juga jangan maksa begadang kalau ngantuk."Leo tersenyum tipis. "Iya..."Sindi berdiri, menepuk bahu Leo ringan sebelum masuk ke kamar rawat untuk beristirahat di sofa kecil yang tersedia di dalam.Beberapa menit kemudian, suasana benar-benar sunyi.Leo duduk sendiri di kursi ruang tunggu. Tangannya terlipat di dada, pandangannya kosong menatap lorong.Pikirannya kembali berkecamuk. Dua hari lagi acara pernikahan yang terpaksa harus ia jalani demi menutup ancaman Ayu.Dan di sisi l
Lorong rumah sakit sore itu tidak terlalu ramai. Aroma antiseptik samar terasa di udara. Langkah Leo terdengar pelan menyusuri lantai mengilap menuju ruang administrasi.Namun tiba-tiba langkahnya melambat.Dari ujung lorong, seorang perawat berjalan ke arahnya. Suster Priska tampak anggun dalam seragam putihnya. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya dihiasi senyum yang terasa lebih hangat dari biasanya.Tatapan mereka bertemu. Leo merasakan degup jantungnya berdetak kencang. Priska tersenyum manis."Selamat sore, Pak Leo," sapanya lembut.Sapaan itu terasa berbeda. Ada nada yang lebih pribadi di dalamnya.Leo balas tersenyum. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Untuk beberapa detik, ia lupa hendak ke mana."Sore, Suster," jawabnya pelan.Saat jarak mereka semakin dekat, Leo tiba-tiba berkata, "Suster. Tunggu sebentar?"Priska berhenti. Matanya menatap Leo penuh tanya, tapi tetap tersenyum."Iya, Pak?"Leo menelan ludah tipis. "Aku masih penasaran sama kamu…"Kalimat itu meluncur beg
Pak Haris kembali berbicara, "Kamu yang siapkan semuanya ya. Administrasi, kendaraan, dan kebutuhan di rumah.""Iya, Pak. Nanti aku yang urus," jawab Leo cepat."Dan mulai sekarang," lanjut Pak Haris, "kurangi urusan luar yang tidak perlu."Leo mengangguk lagi. "Baik, Pak."Ia mendekat ke ranjang, menatap bayi kecil yang tertidur. Wajah mungil itu begitu polos, begitu tenang."Mas senang kan?" tanya Dinda pelan.Leo tersenyum. "Senang banget, Sayang."Itu bukan kebohongan. Ia memang senang Dinda bisa segera pulang.Namun di sudut pikirannya, ada perasaan lain.Tentang Priska. Ia ingat tatapan di lorong semalam. Ingat sentuhan, ingat bisikan yang masih terasa hangat.Dengan pulang ke rumah, pertemuan mereka tentu akan lebih jarang.Tapi kemudian Leo tersenyum tipis. Ia sudah menyimpan nomor Priska. Artinya, jarak bukan lagi penghalang.Pikiran itu membuatnya sedikit lebih tenang, bahkan di tengah suasana keluarga yang penuh harapan.Bu Ratna kemudian berdiri. "Leo... Kami tadi sudah b
Ayu menggenggam tangan Leo lebih erat."Ayo, Mas kita ke kamar yuk," ajaknya pelan, nada suaranya berubah lembut dan menggoda.Leo langsung menegang. "Ayu, jangan. Aku nggak bisa lama-lama di sini.""Aku tahu," jawab Ayu cepat. "Tapi aku butuh itu, Mas. Cuma sebentar."Leo mencoba menarik tangannya pelan. "Aku ke sini bukan untuk itu."Namun Ayu tidak menyerah. Ia tersenyum manja, mendekatkan wajahnya, lalu dengan lembut menuntun Leo menyusuri lorong kecil menuju kamar."Ayu…" Leo masih berusaha menahan diri, meski langkahnya tetap mengikuti.Di dalam kepalanya, bayangan Dinda muncul. Wajah istrinya yang tadi meminta ia cepat kembali ke rumah sakit. Bayi mereka yang masih merah dan rapuh.Tapi godaan di depan mata terasa begitu nyata.Sesampainya di kamar, Leo berhenti di ambang pintu."Ayu, cukup," ucapnya pelan."Cukup apa?""Aku sudah menepati janjiku untuk datang ke sini. Tapi bukan untuk hal itu."Namun Ayu tiba-tiba mendorong tubuh Leo perlahan hingga ia terduduk di tepi tempat







