Beranda / Urban / Jatah Nyonya Dan Nona Muda / Keputusan dan Pertemuan

Share

Jatah Nyonya Dan Nona Muda
Jatah Nyonya Dan Nona Muda
Penulis: NomNom69

Keputusan dan Pertemuan

Penulis: NomNom69
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 15:52:35

Juned menatap kosong selembar surat PHK di atas meja kayu yang mulai kusam. Bayangan wajah istrinya dan suara Desi yang penuh nyinyir kembali melintas di benaknya.

Denting notifikasi ponsel mengalihkan perhatiannya pada sebuah pesan gambar dari temannya. Matanya membelalak melihat foto Desi yang sedang mendorong troli belanja bersama Andre di sebuah minimarket.

Rahang Juned mengeras.

Sudah enam bulan istrinya bekerja di Jakarta. Namun, ia tak menyangka kalau foto itu diterima. Foto yang dikirimkan supir di rumah majikan istrinya membuatnya naik pitam.

Jari Juned bergetar saat meneruskan foto tersebut ke nomor W******p istrinya untuk meminta penjelasan. Ia menunggu dengan perasaan tidak keruan sampai status pesan tersebut berubah menjadi biru.

"Ini maksudnya apa, Des?" tanya Juned melalui pesan singkat.

Tak butuh waktu lama, balasan dari Desi muncul dengan nada yang sangat ketus dan seolah tanpa dosa. 

"Apa sih! Aku diajak belanja doang buat keperluan nyonya!" balas Desi di layar ponsel.

Juned memejamkan mata sejenak, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya karena dikhianati seperti ini. 

Ia segera membalas pesan itu untuk mengingatkan statusnya sebagai suami yang sah.

"Tapi Des, aku ini kan suamimu," balas Juned lagi. “Andre mantan kamu, kan?”

Desi tak menjawab. 

“Sejak kapan Andre di Jakarta?”

Desi tidak berhenti menyerang, ia justru mengirimkan balasan yang jauh lebih menyakitkan hati Juned. “Bukan urusan kamu! Aku disini tuh kerja! Gausah pikir aneh-aneh!”

"Kamu nggak becus nyari duit! Segala kena PHK! Bikin malu aku aja!" bentak Desi lewat pesan tersebut. “Masih mending aku kerja di Jakarta!”

 “Mau makan darimana kalau gak ada duitnya!”

Juned melempar ponselnya ke kasur dan memilih untuk mengakhiri perdebatan yang hanya menguras emosinya itu. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar bisa berpikir lebih jernih.

"Sabar, Juned. Pasti ada jalan lain," batinnya sambil menyalakan keran air.

Baru saja selesai berpakaian, ponsel Juned kembali berdering nyaring menampilkan temannya di layar. Teman senasibnya.

"Ned, gue ada lowongan jadi supir di Jakarta. Lu kan bisa nyetir, mau nggak?" tanya Wahyu dari seberang telepon.

Mendengar tawaran itu, semangat Juned yang sempat padam kini perlahan-lahan mulai bangkit kembali. 

Juned tersenyum girang, pasalnya ia memang butuh uang. Meskipun belum memiliki anak dengan Desi, bukankah ia juga harus membahagiakan istrinya segera? Belum lagi hatinya kian tak tenang istrinya tak pulang-pulang. Bisa sekalian jemput istrinya pulang kan di Jakarta? 

Benar.

Juned mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa seolah baru saja mendapatkan napas baru di tengah himpitan masalah. Ia merasa tawaran kerja ini adalah jawaban tuhan setelah istrinya sendiri mencampakkannya begitu saja.

"Akhirnya ada jalan keluar juga," gumam Juned sambil mulai mengemas pakaiannya ke dalam tas.

Juned memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas ranselnya dengan gerakan cepat. Tanpa ragu, ia mengetik pesan singkat untuk istrinya sebelum benar-benar meninggalkan rumah kontrakan mereka.

"Aku mau kerja ke Jakarta," tulis Juned singkat di layar ponselnya. “Tunggu aku bawa kamu pulang.”

Ia langsung menyampirkan tas ke bahu dan berjalan menuju jalan raya tanpa mempedulikan apakah pesannya akan dibalas atau tidak. Tekadnya sudah bulat untuk membuktikan bahwa dirinya bisa sukses meski baru saja dihina oleh istrinya sendiri.

“Akan aku buktikan, Desi." gumam Juned sambil menaiki bus jurusan kota.

Setelah perjalanan memakan waktu seharian, bus akhirnya berhenti di terminal kota yang tampak sangat ramai dan bising. Juned segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomor calon majikannya yang diberikan oleh temannya.

"Selamat malam, Bu. saya Juned yang ingin bekerja menjadi supir. Apa saya bisa datang malam ini atau tunggu besok pagi saja?" tanya Juned dengan nada bicara yang sangat sopan.

Di seberang telepon, suara seorang wanita terdengar memberikan jawaban yang membuat hati Juned merasa sedikit lega. Ternyata calon majikannya tidak keberatan jika ia langsung datang ke lokasi pada malam itu juga.

"Datang saja malam ini, saya ada di rumah kok," jawab suara wanita tersebut dari balik telepon.

Juned langsung mencari pengemudi ojek yang sedang mangkal di pinggir terminal untuk mengantarnya sesuai alamat. Ia merasa sangat bersemangat dan tidak sabar untuk memulai hidup barunya di kota besar ini.

"Pak, ke alamat ini ya. Tolong agak cepat sedikit," ucap Juned sambil menyerahkan ponselnya yang menunjukkan peta lokasi.

Juned berdiri mematung di depan gerbang tinggi yang menjulang, menatap bangunan megah di hadapannya dengan rasa tidak percaya. Ia menekan bel di samping pagar beberapa kali hingga seorang wanita muncul dari balik pintu utama.

"Kamu Juned ya? Silahkan masuk," ucap wanita itu seraya membukakan pagar.

Juned terpana melihat sosok di depannya yang mengenakan daster tipis mewah dengan lekuk tubuh yang sangat jelas terlihat. 

Ia segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa gugupnya namun tetap melangkah mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah.

Juned memejamkan matanya, ingat dirimu Juned!

Wanita itu berjalan dengan anggun membelakangi Juned, membiarkan aroma parfumnya memenuhi ruangan yang mereka lewati. Ia sesekali menoleh sedikit untuk memastikan supir barunya itu tidak tertinggal jauh di belakang.

"Dari kampung jam berapa, Ned?" tanya Wanita itu tanpa menghentikan langkahnya.

Juned berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar gemetar sambil matanya tetap tertuju pada pinggul Wanita itu yang bergoyang pelan.

"Dari jam sembilan, Nyonya," jawab Juned dengan nada bicara yang sopan.

"Hmmm.. Jauh juga ya." Jawab Wanita itu sambil menoleh ke arah Juned.

Mereka tiba di ruang tamu luas yang diisi dengan perabotan mahal. Wanita itu mempersilahkan Juned untuk duduk di salah satu sofa empuk sementara ia sendiri mengambil posisi tepat di hadapan Juned.

"Silakan duduk," ucap Ratna sambil menyilangkan kakinya dengan santai.

Juned segera meletakkan tas ranselnya di lantai dan duduk dengan posisi yang sangat kaku di ujung sofa. 

"Baik, Nyonya. Terima kasih," sahut Juned pelan.

"Nama saya Ratna, saya pemilik rumah ini," ucap wanita itu memperkenalkan diri dengan nada suara yang tenang.

​Juned mengangguk sambil berusaha menjaga pandangannya agar tetap sopan meski daster tipis itu terus mengalihkan fokusnya.

​"Tugasmu di sini antar jemput saya dan anak saya, Maudy," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat.

​"Di rumah ini hanya ada saya dan Maudy, anak saya. Mbak bebersih rumah dan masak cuma di siang hari. Tugasmu disini antar jemput kami dan melayani semua kebutuhan kami," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat. "Jadi, kamu harus memastikan kalau tubuhmu selalu dalam kondisi bugar dan ... kuat."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Kepanikan Di Antara Ketegangan

    Juned berjalan perlahan melewati ruang tengah sambil menenteng kotak kue, ia sempat melirik ke arah tangga tempat Maudy baru saja menghilang. ​"Nyonya, ini pesanan kuenya," ucap Juned sambil meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di atas meja. ​Ratna mengalihkan pandangannya dari layar laptop, ia menyesap tehnya sedikit lalu menatap wajah Juned yang tampak masih agak tegang. ​"Oh, taruh aja di situ, Ned. Kok lama banget? Maudy mana?" tanya Ratna sambil merapikan letak kacamatanya. ​Juned berdiri dengan posisi tegak, ia berusaha menyembunyikan sisa emosinya setelah kejadian di kedai minuman tadi. ​"Non Maudy langsung ke kamar, Nyonya, tadi mampir dulu beli minuman sama Non Maudy," jawab Juned dengan suara yang diatur sesopan mungkin. "Oh gitu. Yaudah tolong ambilin saya dua piring kecil, garpu, sama pisau rotinya di dapur," perintah Ratna sambil mulai membuka pita kotak kue tersebut. Juned segera melangkah ke dapur dan kembali dengan peralatan yang diminta, lalu mel

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Perlindungan Untuk Nona Muda

    Juned sedang fokus menggosok kap mesin mobil dengan kain, mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian panas di dalam rumah tadi. Namun, suara langkah kaki yang ringan dan riang dari arah pintu samping membuat gerakan tangannya seketika melambat. "Aduh, firasat ku kok nggak enak begini ya," gumam batin Juned sambil melirik dari sudut matanya ke arah Maudy yang berjalan mendekat. Maudy menghampiri dengan senyum lebar, ia berdiri sangat dekat dengan Juned yang sedang sedikit membungkuk mengelap bagian pintu. "Mas Juned kok kelihatannya tegang banget sih? Santai aja kali," ucap Maudy sambil tertawa kecil melihat bahu Juned yang kaku. Tanpa permisi, Maudy merunduk dan mendaratkan telapak tangannya di paha Juned, lalu jemarinya mulai merangkak naik perlahan mendekati area kejantanan pria itu. Juned tersentak hingga hampir menjatuhkan kain lapnya, ia menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada Ratna di sekitar situ. "E-eh, Non... jangan begini, nanti kalau kelihatan Nyonya bisa

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Menuntut Jawaban Di Sela Godaan

    "E-eh, itu Nyonya... begini ceritanya," ucap Juned terbata-bata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ratna melipat tangan di dada. "Jangan coba-coba bohong ya, Ned. Kamu tau kan saya paling nggak suka dibohongi?" ancam Ratna pelan. Juned menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar suaranya terdengar meyakinkan. "Semalam itu Non Maudy mabuk parah Nyonya, pas di jalan pulang dia tiba-tiba lepas itunya sendiri," jelas Juned dengan wajah memelas. Ratna mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mau ngapain dia begitu di dalam mobil?" tanya Ratna lagi dengan nada meninggi. "Katanya mau pipis, dia maksa minta berhenti di pinggir jalan, tapi saya nggak berani, karena bahaya," sahut Juned sambil menundukkan kepala. Ia melanjutkan penjelasannya dengan cepat sebelum Ratna sempat menyela lagi. "Saya tetap jalan terus sampai rumah, eh pas sampai ternyata Non Maudy sudah tidur pulas, jadi saya langsung angkat dia ke kamar." Ratna te

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Sesuatu Yang Tertinggal

    Maudy melepaskan tautan bibir mereka secara paksa, lalu mendorong dada Juned dengan sisa tenaga yang ia miliki. Juned yang tidak siap terhuyung keluar dari pintu mobil yang masih terbuka hingga punggungnya membentur tembok garasi.“Non jangan non!”"Minggir!" bentak Maudy sambil berusaha bangkit. "Non, astaga... Non Maudy sadar!" seru Juned sambil berusaha berdiri tegak. Alih-alih menjawab, Maudy justru duduk di tepi jok belakang dan mulai melepas celana dalamnya dengan gerakan yang sangat berani. "Kamu penasaran kan, Mas? Iya kan? Aku tau kamu pengen banget, kan?" racau Maudy sambil bangkit dan menghampiri Juned. Tangan Maudy bergerak secepat kilat meraih ikat pinggang Juned dan melucuti celana pria itu hingga merosot ke lantai garasi. "Duduk! ku bilang duduk!" perintah Maudy sambil mendorong tubuh kekar Juned hingga duduk dan hampir terbaring di jok belakang yang sempit. Juned terduduk kaku di kursi belakang mobil dengan pintu yang masih terbuka. Ia hanya bisa menatap Maudy

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Tertangkap Basah

    Juned merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan jemarinya yang menyentuh kulit lembut Ratna di bawah kain jarit tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang tak mau berhenti. Belum lagi saat anak majikannya jatuh di dekapannya. Belum lagi bekerja di tempat ini kerjaannya lebih ekstra dari sekadar mengantar.Belum lagi ia menghampiri istrinya sesampai di Jakarta. Semua bercampur jadi satu. ​"Sial, kalau begini terus mana bisa tidur," umpat Juned dengan suara parau yang tertahan. Juned mendesah kasar, tangannya perlahan merogoh ke dalam celana saat bayangan paha mulus Ratna dan dekapan hangat Maudy mulai menyiksa pikirannya. Miliknya sudah menegang keras, menuntut pelepasan yang sedari tadi ia tahan di depan kedua wanita itu. ​"Sial, benar-benar bikin gila," umpat Juned dengan napas yang mulai memburu. Ia memejamkan mata erat, membayangkan jemarinya tidak lagi memijat kaki Ratna, melainkan menjelajahi area sensiti

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Targedi Tak Terduga

    Ratna dan Juned segera merapikan posisi masing-masing agar tidak terlihat mencurigakan di mata Maudy. Ratna merapatkan kedua kakinya dengan cepat sambil menoleh ke arah pintu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin. Maudy menyipitkan mata, menatap bergantian ke arah ibunya dan Juned yang masih memegang botol minyak pijat. "Kalian lagi ngapain?" tanya Maudy penuh selidik. Ratna menghela napas panjang seolah memang sedang menahan rasa sakit di persendian tubuhnya akibat berolahraga tadi sore. "Oh, ini... habis main padel badan Mama pegal semua, jadi Mama suruh Juned mijitin Mama," jawab Ratna tenang. Maudy mengangguk pelan. Ia menatap Juned sejenak. "Kenapa nggak panggil Mbok Ijah aja?" tanya Maudy lagi. Ratna sedikit memperbaiki letak kain jaritnya agar menutupi paha dengan sempurna di depan anak gadisnya itu. "Tadi Mama sudah telepon Bu Lastri katanya Mbok Ijah lagi ada panggilan pijit juga, jadi nggak bisa datang," jawab Ratna meyakinkan. Setelah memberika

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status