LOGINJuned memasukkan kunci mobil ke saku celananya, lalu beranjak dari ruangan Sinta. "Aku balik ke ruanganku dulu ya, Sin.""Sip, jangan lupa berkas Lomboknya dibaca lagi," sahut Sinta tersenyum.Juned kembali ke ruang kerjanya dan sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen hingga tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul maret tengah hari.Klek!Juned meregangkan tangannya yang pegal, tepat saat perutnya mulai menyuarakan rasa lapar. Ia melangkah keluar ruangan dan melihat Caca sedang merapikan meja kerjanya."Ca, belum makan siang?" tanya Juned santai.Caca mendongak, tersenyum malu-malu. "Belum, Pak. Baru mau nyari makan."Tak lama, Sinta keluar dari ruangannya sambil merapikan rambut. "Ned, makan siang bareng yuk? Mau makan di mana?""Di kantor aja lah, Sin. Mumpung lagi mager keluar," jawab Juned. "Ajak Caca sekalian tuh, kita pesen makanan online aja."Caca sempat ragu dan melirik Sinta canggung. "Eh, enggak apa-apa nih, Pak, Bu... saya ikut?""Ya enggak apa-apa dong, Ca, makin ra
"Ned, ikut ke ruangan saya sekarang. Kita bahas laporan tim yang di Bali kemarin."Sinta lalu melirik Caca yang masih menunduk kaku. "Caca, kamu ke pantry sekarang. Bilang ke OB suruh antarkan kopi Pak Juned ke ruangan saya."Tanpa menunggu jawaban, Sinta membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.Caca melirik Juned dengan raut wajah cemas, jemarinya meremas map kencang-kencang. "Pak... Bu Sinta marah ya sama saya?" bisik Caca panik.Juned terkekeh pelan, menepuk bahu Caca menenangkan. "Tenang aja, dia enggak bakal marah kok. Santai aja."Ia beranjak dari kursinya lalu merapikan kemejanya. "Udah, sana kamu ke pantry. Saya mau ke ruangan Sinta dulu."Juned mendorong pintu ruangan Sinta, lalu melangkah masuk dan memutar kursi di hadapan meja kerja wanita itu.Sinta menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang seraya menatap Juned dengan gelengan kepala. "Kamu tuh ya... jangan terlalu sering godain si Caca. Nanti kalau dia baper, repot sendiri kamu."Juned t
Di sela kunyahan nasi gorengnya, Nayla menatap Juned seraya mengetuk-ngetuk pelan pinggiran piring dengan ujung sendok."Mas... nanti pulang kantor jam berapa?" tanya Nayla.Juned meneguk air putih di gelasnya hingga tandas, lalu menyapu bibirnya dengan tisu. "Paling pulang jam limaan dari sana. Sampai sini ya... mendekati Magrib lah."Nayla mengangguk-angguk kecil, jemarinya memutar-mutar gagang sendok di atas piring yang mulai bersih. "Terus, aku perlu masak buat makan malam nanti, enggak?"Juned menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap mata Nayla dalam-dalam. "Kalau kamu capek atau malas, enggak usah masak. Nanti malam kita makan di luar aja."Nayla memiringkan kepalanya, menanti kelanjutan ucapan Juned dari raut wajah suaminya yang mendadak berubah serius."Sekalian nanti Mas mau tanya-tanya soal Desi waktu di sana," lanjut Juned dengan nada bicara yang merendah, menatap tajam ke arah istrinya. "Kamu pasti punya banyak cerita atau info soal dia, kan?"Nayla menarik napa
"Kamu belum mengabari Desi kalau sudah sampai di sini?" tanya Juned.Nayla menggelengkan kepalanya pelan sambil berusaha bangkit menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.Juned lalu menyerahkan ponsel yang terus berdering itu ke jemari Nayla.Nayla menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut, lalu menempelkannya ke telinga. "Halo, Mbak Desi?""Iya, Mbak. Aku udah sampai dari tadi kok di rumah tempat Mas Juned kerja," ucap Nayla santai seraya merapikan rambutnya yang berantakan. "Ini aku baru banget selesai ganti baju.""Oh, syukur deh kalau udah sampai," sahut suara Desi samar dari balik telepon. "Gimana di sana? Mas Juned kelihatan capek enggak?"Nayla melirik ke arah Juned yang sedang duduk di tepi kasur sambil mengusap dadanya yang masih naik turun. Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Enggak kok, Mbak. Mas Juned segar-segar aja. Ini orangnya lagi duduk di samping aku."Nayla memiringkan ponselnya sedikit ke arah Juned. "Mbak Desi mau ngomong sama Mas Juned enggak? Nih tak ka
Nayla bergeser semakin mendekat hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka, membuat hembusan napas hangatnya menyapu leher Juned. Ia meraup cangkir teh hangat di meja, menyesapnya perlahan satu tegukan, lalu meletakkannya kembali dengan denting halus. Jemari lentiknya bergerak lembut mengusap dada bidang Juned, melingkari leher pria itu sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya dengan manja. "Sebenarnya kamu jauh-jauh datang ke sini cuma mau cerita soal Desi di rumah, atau gimana?" tanya Juned seraya membelai helai rambut langsing istrinya. Nayla seketika mendongak, menunjukkan bibirnya yang mengerucut cemberut dengan tatapan mata yang berpendar menggoda. "Mbak Desi nanti-nanti aja dulu sih, Mas! Aku kan baru aja sampai, masih kangen," bisik Nayla manja, jemarinya kini memainkan kerah kaus yang dikenakan Juned. "Masa baru ketemu, yang ditanyain malah Mbak Desi mulu... Emangnya Mas enggak kangen sama aku?" Juned terkekeh pelan, mengikis ketegangan di dadanya seraya mengusap pingg
Jempol Juned bergerak cepat mengetik balasan di layar ponselnya, memberi tahu kalau ia sedang dalam perjalanan. "Iya, Nay. Tunggu ya, aku otw sekarang," balas Juned lewat pesan singkat. Tanpa membuang waktu lagi, Juned buru-buru masuk ke dalam rumah. Ia menyambar kunci mobil milik Bu Ratna yang tergantung di dekat pintu, lalu bergegas memacu kendaraannya membelah jalanan malam menuju stasiun kota. Tidak butuh waktu lama bagi Juned untuk tiba di area parkir stasiun. Begitu mobilnya berhenti di pelataran, ia melihat sosok Nayla berdiri di dekat lobi dengan membawa sebuah koper sedang. Juned segera keluar, menghampiri, lalu membantu mengangkat koper itu ke bagasi mobil. "Kok berangkatnya sorean gini, Nay? Kenapa enggak pagi tadi biar sampai siang?" tanya Juned sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya. Nayla tersenyum kecil sambil masuk ke dalam kabin. "Takutnya kalau aku sampai siang, Mas Juned masih sibuk kerja." Juned mengangguk paham, lalu ikut masuk dan duduk di kursi







