Share

Program Kehamilan

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-06-03 10:14:08

Keesokan paginya, suasana kamar sudah berganti terang. Juned berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemeja kasualnya dan memastikan penampilannya sudah rapi serta siap untuk pergi menemui Desi sesuai janji mereka jam 9 nanti.

Saat melangkah turun ke lantai bawah menuju pintu keluar, langkah Juned terhenti ketika melewati area ruang makan. "Ned, kamu gak sarapan dulu?" tanya Ratna yang saat itu sedang menikmati sarapan paginya di meja makan bersama dengan Maudy.

Juned menoleh, membetulkan leta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Sentuhan Yang Tidak Tepat

    "Ini Pak kamar resort-nya, Pak Juned dan Bu Caca bisa beristirahat dulu di sini. Kalau mau pesan makanan atau minuman bisa langsung melalui telepon di sana, Pak. Semua tidak dikenakan biaya sama sekali," ucap Keysha sembari menunjuk sebuah telepon kabel bergaya klasik di atas meja sudut.Juned dan Caca melangkah masuk melintasi ambang pintu, mata mereka serempak mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Kamar resort bernuansa kayu jati itu tampak sangat mewah, lengkap dengan area ruang tamu minimalis yang dilengkapi sofa kulit empuk dan sebuah televisi layar datar berukuran besar di dinding."Oke, Mbak Key. Terima kasih banyak ya," ucap Juned berbalik badan sambil menyunggingkan senyum ramah.Keysha mengangguk takzim lalu menyerahkan kartu akses elektronik ke telapak tangan Juned. "Sama-sama, Pak. Selamat beristirahat. Nanti jika Pak Rio sudah tiba, saya akan segera ke sini lagi untuk menjemput Bapak dan Ibu sekalian," ucap Keysha dengan nada suara yang sangat sopan sebelum akhir

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Tertunda Dan Keterlambatan

    "Nanti di jalan kita makan dulu ya," ucap Juned sembari melangkah lebar keluar dari pintu lift yang baru saja berdenting terbuka di lantai dasar.Caca yang berjalan beriringan di sampingnya mengangguk cepat, tangannya sibuk memeluk sebuah laptop tipis di dada. "Iya, Pak. Kebetulan perut saya juga udah mulai bunyi dari tadi," sahut Caca dengan senyum manis yang mengembang di bibir tipisnya.Mereka berdua berjalan melintasi lobi utama gedung yang sejuk menuju ke arah area parkiran luar. Juned segera membuka pintu kemudi, sementara Caca membuka pintu penumpang depan dengan gerakan riang. Baru sekitar lima belas menit mobil menembus kepadatan kota, suasana di dalam kabin mulai terasa mencair. Caca tidak bisa diam, ia terus mengajak Juned mengobrol sepanjang jalan. Namun, gaya bicara Caca perlahan mulai bergeser, diiringi obrolan yang sedikit memancing dan gestur genit yang ditujukan khusus untuk pria di sampingnya itu.Di pertengahan jalan, tepat beberapa ratus meter sebelum gerbang masu

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Pertemuan Yang Jauh

    "Kontaknya udah ku-kirim ke WhatsApp kamu ya, Ned. Kamu tanya detailnya ketemu di mana dan jam berapa," ucap Ratna sembari menyampirkan tas jinjingnya ke pundak, bersiap untuk melangkah pergi dari ruang pimpinan.Juned mengangguk cepat, tangannya meraba saku celana untuk memastikan ponselnya sudah aktif. "Yaudah, nanti coba ku-hubungi orangnya sekalian ku-tanya lokasinya," sahut Juned.Ratna tersenyum tipis, memberikan tepukan ringan di pundak Juned sebelum berbalik arah. Tak lama kemudian, sosok sang pemilik perusahaan itu melangkah anggun keluar ruangan, berjalan cepat menuju lift khusus di ujung lorong. Sementara itu, Juned memutar tubuhnya dan melangkah kembali ke dalam ruang kubikel eksekutifnya sendiri yang terasa lebih tenang.Sesampainya di meja kerja, Juned mengempaskan tubuhnya ke kursi, mengeluarkan ponsel dari saku, dan langsung membuka ruang obrolan dengan Caca. Ia mengetikkan pesan singkat, meminta gadis itu untuk segera datang ke ruangannya sekarang juga.Tanpa membalas

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kenaikan

    "Waduh, kenapa ya tuh anak tiba-tiba dipanggil Ratna?" gumam batin Juned gelisah. "Mudah-mudahan gak ada apa-apa sama dia."Kedua tangannya bergerak cepat menyusun lembaran kertas, merapikan tepi dokumen hingga sejajar. Setelah memastikan semua berkas lengkap di dalam map, Juned menarik napas panjang dan melangkah keluar dari ruang kubikel eksekutifnya.Ia berjalan lurus menuju pintu kaca buram ruangan Ratna yang terletak tepat di depannya. Melalui celah kaca, tampak siluet Caca yang duduk tegak dengan punggung kaku menghadap meja besar sang pemilik perusahaan. Juned mengetuk pintu kayu tipis di samping kaca itu dua kali secara pelan, lalu mendorongnya perlahan hingga terbuka."Udah siap semua, Ned?" tanya Ratna mendongak, menyambut kedatangan staf andalannya."Udah kok ini," ucap Juned sembari melangkah masuk. Ia meletakkan map tebal di atas meja kerja, lalu melirik sekilas ke arah Caca yang wajahnya masih terlihat sedikit tegang.Ratna mengangguk puas melihat berkas yang disodorkan.

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Teguran Di Pagi Hari

    Suasana di dalam kabin mobil terasa tenang di tengah kepadatan arus lalu lintas pagi itu. Juned fokus membelah jalanan kota menuju ke arah kantor dengan kedua tangan yang mantap memegang setir, sementara Ratna duduk santai di kursi penumpang sampingnya. Di sela-sela keheningan, Ratna menoleh memecah kesunyian. "Gimana, Ned? Udah kamu transfer buat mertuamu?" tanya Ratna memastikan. Juned memutar kemudinya sedikit ke kiri, lalu menoleh sekilas ke samping ke arah Ratna sebelum kembali menatap jalanan di depan. "Udah kok tadi sebelum kita berangkat," jawab Juned ringkas. Ratna mengangguk-angguk, lalu membetulkan posisi duduknya agar lebih menghadap ke arah Juned. "Terus... duit kamu sendiri masih ada gak?" tanya Ratna lagi, nadanya terdengar menyelidik namun penuh perhatian. Juned mengulas senyum tipis mendengar pertanyaan itu. "Masih ada kok, tenang aja," sahut Juned meyakinkan wanita di sampingnya.

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Pagi Yang Mendesak

    Juned mengusap punggung tangan Caca yang masih mencengkeram pergelangan tangannya, mencoba melepaskan genggaman itu dengan lembut. "Saya ambil celana dulu di dapur ya, Ca, nanti balik lagi ke sini sebentar," ucap Juned dengan suara pelan dan menenangkan. Caca yang matanya sudah sayu saking lelahnya hanya mengangguk pelan, lalu membiarkan tangannya terlepas. "Jangan lama-lama ya, Pak..." sahutnya lirih. Juned bangkit dari ranjang, lalu melangkah lebar menuju dapur untuk mengambil celana dan handuknya yang tergeletak di dekat meja bar. Sambil menarik celananya ke atas dan merapikan posisinya, Juned mengembuskan napas panjang yang terdengar berat. Hadeuh... gini nih malesnya kalau habis main malah disuruh nemenin, mana udah jam sepuluh lagi, gumam batin Juned kesal sembari membenahi pakaiannya yang tersisa. Setelah beres, Juned melangkah kembali masuk ke dalam kamar Caca dengan langkah kaki yang sengaja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status