Se connecter"Maaf ya Mas... tadi ada kurir nganter paket," ucap Desi sambil menutup pintu kamar setelah kembali dari depan.
"Oalah... ganggu aja," gerutu Juned sambil menarik napas panjang, mencoba menetralkan kembali rasa kesalnya. Desi kembali mendekat dan duduk di pangkuan Juned, tangannya melingkar di leher suaminya. "Kamu beneran belum laper Mas?" tanya Desi lembut, menatap mata Juned dalam-dalam. "Laper sih, tapi aku kepengen makan kamu," bisik Juned den"Itu dia, Na. Aku juga sampai sekarang masih bingung banget," ucap Juned sembari mengusap wajahnya yang tampak semakin kusut. Ia mengembuskan napas berat, menatap lurus ke dalam manik mata Ratna yang masih membelalak. "Sampai sekarang... aku masih berusaha keras buat tetap percaya sama Desi, walaupun hasil tes medis aku kemarin jelas-jelas bilang begitu."Dengan gerakan lambat yang penuh kelembutan, Ratna menggeser tubuhnya lalu mendekap erat tubuh tegap Juned yang terasa tegang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Juned, membiarkan kehangatan tubuhnya menyalurkan ketenangan. "Selama kamu memilih buat tetap percaya sama istrimu itu, ya gak apa-apa, Ned. Aku bakal selalu dukung kamu terus di sini," bisik Ratna dengan nada suara yang teramat lembut di dekat telinga Juned.Juned membalas pelukan itu pelan, merasakan sedikit beban di pundaknya terangkat. "Makasih banyak ya, Na," ucap Juned lirih."Sama-sama, Ned," sahut Ratna sembari merenggangkan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah June
"Ayo masuk, Des," ucap Juned sedikit terengah, sembari membantu Desi membawakan tas-tasnya yang tergeletak di bawah kakinya untuk dimasukkan ke bagasi belakang mobil."Makasih ya, Mas," ucap Desi lirih sambil melangkah masuk ke dalam pintu penumpang depan yang sudah dibukakan."Kamu kenapa kok mendadak banget pulang ke desa, Des? Bawa tas mana banyak banget lagi kayak orang mau pindahan. Kamu... kamu udah gak kerja lagi di sana?" tanya Juned bertubi-tubi dengan nada suara yang menuntut penjelasan.Desi yang duduk di sampingnya seketika meremas kedua telapak tangannya sendiri di atas pangkuan. Wajahnya tertunduk dalam, menghindari tatapan mata Juned. "I-iya, Mas... aku... aku sebenarnya udah berhenti kerja dari rumah majikanku. Maaf ya, aku gak ngabarin kamu dulu soal keputusan ini," ucap Desi memelas dengan nada suara yang bergetar bersalah.Juned menghela napas panjang, membuang pandangannya sejenak ke arah jendela luar sebelum kembali fokus pada marka jalan di depannya. "Untung aja
"Pak, bukannya Bapak udah punya istri? Kok nanggepin ajakan Pak Rionya gitu?" tanya Caca, memecah keheningan di antara deru mesin mobil. "Ya kan gak mungkin saya langsung nolak dan bilang kalau saya udah beristri begitu, Ca. Lagian juga itu cuma ucapan basa-basi orang tua aja, belum tentu beneran serius, kan?" jawab Juned dengan nada suara yang santai, mencoba meredam suasana.Caca mengalihkan pandangannya ke kaca depan, memperhatikan rintik gerimis tipis yang mulai membasahi kaca mobil. "Hmmm... iya sih, Pak," ucap Caca pelan. Namun, rasa penasaran yang bergejolak di dadanya membuat gadis itu kembali memutar tubuhnya menghadap Juned. "Tapi... Bapak gak ada niatan buat selingkuh dari istri Bapak, kan?" tanya Caca kembali, kali ini dengan tatapan mata yang menuntut jawaban jujur.Juned menoleh kembali ke arah Caca selama beberapa detik, lalu sedetik kemudian ia tertawa pelan, membuat bahunya sedikit berguncang di balik kemudi.Melihat respons tersebut, Caca spontan memukul pelan lenga
"Jadi? Jadi Pak Rio itu Pak Victorio?" ucap Juned dengan nada suara yang bergetar tak percaya. Kedua matanya masih membelalak sempurna, menatap sosok pria paruh baya di hadapannya.Caca yang berdiri tepat di samping Juned hanya bisa terdiam. Ia ikut merasa heran sekaligus terkejut, bergantian menatap Juned dan Pak Victor tersebut dengan kening berkerut dalam."Iya, Ned. Itu kan memang nama panjang saya, Victorio. Ada rekan bisnis yang manggilnya Victor, tapi kalau di lingkungan kantor sini biasa dipanggil Rio," jawab Pak Rio sembari melambaikan tangan kanannya di udara dengan santai.Keysha yang berdiri di dekat pintu juga tidak menyangka kalau bos besarnya ternyata sudah saling mengenal sangat dekat dengan Juned. Ia hanya tersenyum ramah, "Silakan duduk dulu Pak Juned, Bu Caca," ucap Keysha dengan sangat sopan sembari mengisyaratkan tangan ke arah kursi kosong di hadapan meja rapat. "Gimana kabarmu, Ned?" tanya Pak Rio membuka percakapan informal."Baik, alhamdulillah, Pak. Bapak se
Juned menggerakkan jarinya dengan cepat di atas layar ponsel, mengetikkan balasan dengan ketukan yang beruntung akibat rasa panik yang tertahan."Bukan masalah lagi, Na, tapi ini masalah gede banget. Kan Caca gak tau kalau selama ini aku tinggal serumah sama kamu. Kalau dia beneran bersedia tinggal sama aku karena tugas dari kamu, gimana coba?"Ia menatap nanar layar gawainya, menunggu gelembung ketikan dari seberang. Tak berapa lama kemudian, ponselnya bergetar pendek menampilkan balasan dari Ratna."Yaudah gak apa-apa, Ned. Dia bisa nempatin kamar lama kamu yang di bawah kok."Membaca baris kalimat itu, Juned langsung menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit dengan sisa tenaga, merasa isi kepalanya mendadak menjadi sangat rumit akibat jalan pikiran sang pemilik perusahaan yang terlalu enteng."Gampang banget ya kalau ngomong," gumam batin Juned merutuki keputusan sepihak tersebut.Napasnya tertahan sejenak saat ia kembali mengetikkan sanggah
"Kok Ratna sampai segitunya sih?" gumam batin Juned yang mendadak diselimuti rasa tidak percaya. Tangannya yang memegang potongan kue kini tampak kaku di udara, sementara otaknya berputar keras memikirkan motif di balik keputusan sang pemilik perusahaan.Caca yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah atasannya langsung memiringkan kepala, menatap bingung. "Kenapa, Pak?" tanya Caca, sepasang alisnya bertaut halus.Juned buru-buru menurunkan tangannya, meletakkan kembali camilan itu ke atas piring kecil dengan canggung. Ia berdeham kecil untuk menutupi rasa terkejutnya yang teramat sangat. "Gak apa-apa, Ca. Saya... saya cuma baru tahu soal posisi ini, makanya agak kaget," jawab Juned, mencoba mengatur intonasi suaranya agar terdengar seolah itu hanya kejutan bisnis biasa.Caca mengangguk-angguk paham, lalu membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman menghadap Juned. Ia melipat tangannya di atas pangkuan dan mulai menjelaskan lebih detail obrolannya dengan Ratna di ruangan tadi