Share

Rindu Yang Sebenarnya

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-04-29 11:00:47

"Maaf ya Mas... tadi ada kurir nganter paket," ucap Desi sambil menutup pintu kamar setelah kembali dari depan.

"Oalah... ganggu aja," gerutu Juned sambil menarik napas panjang, mencoba menetralkan kembali rasa kesalnya.

Desi kembali mendekat dan duduk di pangkuan Juned, tangannya melingkar di leher suaminya. "Kamu beneran belum laper Mas?" tanya Desi lembut, menatap mata Juned dalam-dalam.

"Laper sih, tapi aku kepengen makan kamu," bisik Juned den
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kenikmatan Di Suasana Dan Tempat Baru

    Maudy yang kelihatannya sudah tidak sabar, segera bangkit dari duduknya. Ia menunjuk ke arah jalan setapak di bawah villa yang langsung menuju ke bibir pantai. ​"Ma, aku mau jalan-jalan ke sana sebentar ya, mau cari angle foto yang bagus," pamit Maudy sambil menyampirkan tali kameranya di bahu. ​Ratna mengangguk pelan. "Iya, asal jangan jauh-jauh banget. Kamu belum hafal jalanan di sini." ​"Siap! Mas Juned mau ikut nggak?" tawar Maudy sambil melirik ke arah Juned. ​Juned yang baru saja menyandarkan punggungnya di sofa menggeleng pelan. "Nggak dulu deh, mau ngaso sebentar, kaki rasanya masih kaku habis di pesawat tadi." ​"Ya sudah, aku pergi dulu ya!" Maudy langsung melesat keluar villa, tampak asyik memotret setiap sudut tanaman dan pemandangan laut yang menurutnya cantik. ​Begitu pintu villa tertutup rapat dan suasana menjadi hening, Ratna perlahan menoleh ke arah Juned. Ia melirik suaminya it

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Liburan Yang Menyenangkan

    Kabin pesawat mulai bergetar saat mesin turbin menderu kencang, bersiap untuk lepas landas. Juned duduk di tengah, diapit oleh Ratna dan Maudy, dengan kedua tangan yang mencengkeram pinggiran kursi sampai buku-buku jarinya memutih. ​Ratna yang menyadari perubahan raut wajah sopirnya itu langsung menoleh. "Ned, kamu kenapa? Kok kelihatannya tegang banget begitu?" tanya Ratna lembut. ​Juned menelan ludah, matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip. "Iya... soalnya ini pertama kalinya aku naik pesawat," jawabnya jujur dengan suara agak bergetar. ​Ratna tersenyum tipis, sorot matanya tampak menenangkan. Tanpa ragu, ia meraih tangan kanan Juned dan menggenggamnya erat, memberikan kehangatan yang perlahan mengusir rasa cemas pria itu. ​"Tenang saja, nggak akan ada apa-apa kok. Nikmati saja sensasinya," ucap Ratna santai. ​Maudy yang duduk di sisi kiri juga tidak mau ketinggalan. Ia melihat tangan kiri Juned yang

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Stamina Untuk Liburan

    Maudy langsung tertawa kecil melihat ekspresi bingung Juned. Ia melompat ke atas kasur dan menarik selimut. "Tenang saja, Mas. Malam ini cuma tidur saja kok, janji!" selorohnya sambil melirik nakal ke arah ibunya. ​Ratna tersenyum lebar, ia bangkit sedikit dan memberikan isyarat agar Juned mendekat. "Malam ini dan seterusnya, nggak ada lagi panggilan Nyonya, Ned. Paham?" ​"Betul! Dan nggak ada lagi panggilan Nona," sahut Maudy menimpali dengan nada manja. "Ayo sini, Mas. Yuk tidur, biar subuh nanti nggak kesiangan." ​Juned menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang menggila. Ia perlahan melangkah menuju tempat tidur king size itu, merasa dunianya benar-benar berjungkir balik tepat sebelum perjalanan ke Raja Ampat dimulai. Jam empat subuh, suasana kamar masih remang-remang. Juned perlahan membuka mata dan langsung merasa kaku. Di lengan kanannya ada Ratna, dan di lengan kirinya ada Maudy—keduanya masih

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Status Yang Mulai Luntur

    Ratna membuka pintu belakang dan masuk dengan gerakan anggun, aroma parfum mahalnya seketika memenuhi kabin mobil. Ia melirik jam tangan emasnya sebentar sebelum menatap Juned lewat spion tengah. ​"Tumben, Ned, agak telat jemputnya?" tanya Ratna sambil menyandarkan punggungnya. ​Juned buru-buru membetulkan posisi duduknya, tangannya sedikit gemetar saat memegang kemudi. "Maaf, Ya. Kayaknya tadi saya keasyikan ngobrol, jadi kelamaan di tempat istri saya." ​Ratna justru tersenyum tipis, raut wajahnya tidak tampak marah. "Oh, Ya sudah, nggak apa-apa kok. Yuk, jalan sekarang, langsung pulang aja." ​"Siap," jawab Juned singkat. ​Ia mulai menginjak pedal gas, memutar kemudi untuk keluar dari area lobby. Sambil mobil melaju pelan, mata Juned terus melirik ke arah spion samping, memperhatikan Andre yang kini berjalan menuju mobil mewahnya sendiri sambil merangkul wanita muda tadi. ​"Nanti malam jangan

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Hubungan Yang Tak Diketahui

    Desi mengernyitkan dahi melihat tingkah Juned yang tampak gelagapan. "Kenapa, Mas? Kok kaget gitu?" tanya Desi sambil berjalan mendekat dan membawa nampan berisi teh. ​"Nggak apa-apa, Des. Tadi lagi balas pesan dari Nayla," sahut Juned berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar memburu. ​Desi mengangguk pelan, lalu mengambil posisi duduk di kursi rotan tepat di samping Juned. Sambil menaruh teh di meja, ia melirik ponsel suaminya yang sudah tengkurap. "Emang Nayla chat apa siang-siang begini?" tanya Desi lagi dengan nada santai. ​"Cuma kirim foto laptopnya tadi, katanya ada yang rusak. Tapi gambarnya pakai mode sekali lihat gitu, aneh banget emang itu anak," jawab Juned berbohong, suaranya terdengar meyakinkan meski jemarinya masih sedikit gemetar. ​Desi hanya ber-oh ria sambil menyeruput tehnya, tampaknya tidak menaruh curiga lebih dalam pada alasan yang diberikan suaminya. ​"Terus nanti Mas jemput Nyon

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kesan Pertama Yang Ramah

    Desi dengan gerakan kilat menyambar dasternya dan memakainya kembali, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari. Ia menoleh ke arah Juned yang masih mematung panik di atas kasur. ​"Gimana apanya? Ya nggak apa-apa, Mas! Santai aja," bisik Desi sambil memberikan isyarat agar Juned segera berpakaian. ​Desi langsung melangkah keluar kamar dengan wajah yang dibuat sealami mungkin untuk menyambut majikannya. Sementara itu, Juned bergerak seperti kilat mencar celana dan bajunya, memakainya dengan tangan gemetar hingga hampir salah memasukkan kancing. ​Tak lama kemudian, Desi muncul kembali di ambang pintu kamar dengan senyum kecil. "Mas, ayo keluar. Ibu mau ketemu," panggil Desi. ​Juned menarik napas dalam-dalam, merapikan kerah bajunya sekali lagi sebelum mengekor di belakang Desi menuju ruang tamu. Di sana, duduk seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan namun sederhana. Sosoknya terlihat sedikit lebih senior dibandi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status