首頁 / Male Adult / Dimanja Nyonya Dan Nona Muda / Sebuah Rencana dan Rahasia

分享

Sebuah Rencana dan Rahasia

作者: NomNom69
last update publish date: 2026-07-03 13:41:49

Juned mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja, mencoba mencari jalan tengah. "Gini deh, Na, coba nanti aku ngobrol lagi sama Caca, biar kubaca pribadi dia bisa jaga rahasia gak nanti," ucap Juned memberikan usul.

Ratna menatap Juned ragu, guratan cemas masih jelas di wajahnya. "Hmmm... kamu yakin bisa mastiin dia nanti bisa jaga rahasia apa gak kalau tinggal sama kita?" ucap Ratna meminta kepastian.

"Itu dia, Na, makanya coba kupastiin dulu. Lagian kamu juga udah kepalang nawarin juga kan ke dia
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Keliling Kampus

    Matahari pagi menyiram pelataran rumah dengan sinar hangatnya saat Juned dan Nayla selesai merapikan piring bekas sarapan di meja makan.Nayla tampil manis menggunakan kaus polos dipadu celana jins santai, merapikan rambutnya yang masih agak basah di depan cermin. "Mas, aku udah siap nih!" serunya gembira seraya memutar tubuhnya perlahan.Juned yang sedang mengancingkan kemeja santainya hanya tersenyum tipis melihat tingkah polos gadis itu. "Yaudah, yuk berangkat sekarang biar gak keburu siang."Perjalanan menuju area kampus ternama di kota itu ditempuh dalam waktu dua puluh menit. Begitu mobil terparkir rapi di bawah rindangnya pohon angsana, Nayla langsung turun dengan mata berbinar, memandangi megahnya deretan gedung fakultas di hadapannya."Wah, luas banget ya, Mas..." gumam Nayla seraya merapatkan jarak dan menggamit lengan Juned dengan erat.Mereka mulai melangkah santai menyusuri jalan setapak yang rindang di sekitar taman tengah kampus. Beberapa mahasiswa terlihat duduk berger

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kebenaran

    Setelah kepuasan itu mereda, kucuran air shower akhirnya dimatikan. Mereka membasuh diri, berganti pakaian santai, lalu berjalan menuju area kolam renang dengan dua cangkir kopi panas di tangan.Nayla duduk meluruskan kakinya di tepi kolam, membiarkan ujung jarinya menyentuh permukaan air yang tenang. "Seger banget ya, Mas, habis mandi," gumamnya seraya menyesap kopi perlahan.Juned mendaratkan tubuhnya di samping Nayla, meletakkan cangkirnya di lantai semen. "Iya, bikin pikiran rada adem."Nayla menyandarkan kepalanya di bahu Juned, menatap pantulan cahaya lampu di air. "Pikiran Mas Juned lagi berisik, ya?"Juned tersenyum tipis, merangkul pundak Nayla erat-erat. "Enggak juga, cuma lagi banyak yang harus dipikirin aja."Juned menyesap kopinya perlahan, membiarkan uap panasnya menguar di udara sebelum memecah keheningan di antara mereka."Nay, Mbakmu akhir-akhir ini di rumah gimana?" tanya Juned santai, namun matanya menatap lurus ke depan.Nayla menengadah dari bahu Juned, menatap wa

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Hentakan Dalam Air

    Juned memijat pangkal hidungnya pelan, menatap layar ponselnya tanpa berniat membalas pesan menuntut dari Desi.Ia tahu betul Desi sebenarnya sudah paham kalau adiknya, Nayla, pergi ke tempatnya untuk sekadar main sekaligus melihat-lihat kampus di kota. Hanya saja, lantaran hubungan mereka sedang panas dan perang dingin sejak kemarin, Desi sengaja mencari alasan untuk meluapkan kekesalannya."Mulai lagi drama nyari gara-garanya," gumam Juned malas, mematikan layar ponselnya tanpa membalas sepatah kata pun.Ia memasukkan kembali ponsel itu ke saku celana, membuka pintu mobil, dan memutar kunci kontak. Tanpa membuang waktu, Juned menancap gas membelah jalanan sore menuju rumah Bu Ratna, siap menghadapi obrolan seru—sekaligus adu argumen—yang sudah menunggunya di sana.Mobil Juned berhenti tepat di belakang barisan kendaraan yang mengular di persimpangan lampu merah. Ia bersandar santai pada jok pengemudi, saat getaran ponsel di dasbor kembali mengalihkan perhatiannya.Satu pesan dari De

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kenikmatan Berujung Drama

    Juned memasukkan kunci mobil ke saku celananya, lalu beranjak dari ruangan Sinta. "Aku balik ke ruanganku dulu ya, Sin.""Sip, jangan lupa berkas Lomboknya dibaca lagi," sahut Sinta tersenyum.Juned kembali ke ruang kerjanya dan sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen hingga tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul maret tengah hari.Klek!Juned meregangkan tangannya yang pegal, tepat saat perutnya mulai menyuarakan rasa lapar. Ia melangkah keluar ruangan dan melihat Caca sedang merapikan meja kerjanya."Ca, belum makan siang?" tanya Juned santai.Caca mendongak, tersenyum malu-malu. "Belum, Pak. Baru mau nyari makan."Tak lama, Sinta keluar dari ruangannya sambil merapikan rambut. "Ned, makan siang bareng yuk? Mau makan di mana?""Di kantor aja lah, Sin. Mumpung lagi mager keluar," jawab Juned. "Ajak Caca sekalian tuh, kita pesen makanan online aja."Caca sempat ragu dan melirik Sinta canggung. "Eh, enggak apa-apa nih, Pak, Bu... saya ikut?""Ya enggak apa-apa dong, Ca, makin ra

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Perasaan Tidak Enak

    "Ned, ikut ke ruangan saya sekarang. Kita bahas laporan tim yang di Bali kemarin."Sinta lalu melirik Caca yang masih menunduk kaku. "Caca, kamu ke pantry sekarang. Bilang ke OB suruh antarkan kopi Pak Juned ke ruangan saya."Tanpa menunggu jawaban, Sinta membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.Caca melirik Juned dengan raut wajah cemas, jemarinya meremas map kencang-kencang. "Pak... Bu Sinta marah ya sama saya?" bisik Caca panik.Juned terkekeh pelan, menepuk bahu Caca menenangkan. "Tenang aja, dia enggak bakal marah kok. Santai aja."Ia beranjak dari kursinya lalu merapikan kemejanya. "Udah, sana kamu ke pantry. Saya mau ke ruangan Sinta dulu."Juned mendorong pintu ruangan Sinta, lalu melangkah masuk dan memutar kursi di hadapan meja kerja wanita itu.Sinta menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang seraya menatap Juned dengan gelengan kepala. "Kamu tuh ya... jangan terlalu sering godain si Caca. Nanti kalau dia baper, repot sendiri kamu."Juned t

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Godaan Dan Candaan Dalam Ruangan

    Di sela kunyahan nasi gorengnya, Nayla menatap Juned seraya mengetuk-ngetuk pelan pinggiran piring dengan ujung sendok."Mas... nanti pulang kantor jam berapa?" tanya Nayla.Juned meneguk air putih di gelasnya hingga tandas, lalu menyapu bibirnya dengan tisu. "Paling pulang jam limaan dari sana. Sampai sini ya... mendekati Magrib lah."Nayla mengangguk-angguk kecil, jemarinya memutar-mutar gagang sendok di atas piring yang mulai bersih. "Terus, aku perlu masak buat makan malam nanti, enggak?"Juned menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap mata Nayla dalam-dalam. "Kalau kamu capek atau malas, enggak usah masak. Nanti malam kita makan di luar aja."Nayla memiringkan kepalanya, menanti kelanjutan ucapan Juned dari raut wajah suaminya yang mendadak berubah serius."Sekalian nanti Mas mau tanya-tanya soal Desi waktu di sana," lanjut Juned dengan nada bicara yang merendah, menatap tajam ke arah istrinya. "Kamu pasti punya banyak cerita atau info soal dia, kan?"Nayla menarik napa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status