LOGIN"Jadi... kamu tidur di sini sama adik iparmu, Ned?" tanya Ratna dengan nada datar, jemarinya mengetuk-ngetuk pelan permukaan seprai di samping paha Juned yang kini sudah terduduk bersandar kaku di kepala ranjang."I-iya... Kamu kok enggak bilang kalau udah pulang?" sahut Juned gagap, meremas selimut tebal yang menutupi dada hingga batas lehernya demi menyembunyikan keringat dingin yang mendadak menetes.Ratna menghembuskan napas panjang, melipat kedua tangannya di dada seraya berpaling. Pandangan matanya yang dingin merayap perlahan, mengunci sosok Nayla yang berdiri kaku di dekat pintu dengan jemari saling bertautan erat dan wajah yang kian pucat pasi."Siapa nama kamu?" tanya Ratna, meneliti penampilan Nayla dari ujung rambut hingga daster tipis yang melekat di tubuh gadis itu."N-Nayla, Bu..." jawab Nayla terbata-bata, merapat ke kusen pintu seolah ingin menghilang ditelan tembok."Kamu lagi ngapain tadi di dapur?" cecar Ratna tanpa mengalihkan sorot matanya yang sarat nada intimid
Nayla menyunggingkan senyum nakal, mengabaikan rasa kantuk yang sempat menguasai matanya. Gadis itu makin merapatkan tubuhnya, lalu mulai mendaratkan kecupan-kecupan kecil beruntun di sepanjang rahang hingga leher Juned."Tapi sebelum tidur... Mas enggak mau 'oleh-oleh' dulu?" bisik Nayla renyah seraya mengecup bibir Juned sekilas.Tangan Nayla yang mulus merayap turun perlahan di atas perut tegap Juned, menyusup masuk ke dalam celana pria itu dan langsung menjamah area kejantanannya yang mulai hangat."Nayla... katanya tadi mau tidur?" gumam Juned dengan suara memberat, menatap gadis di sampingnya."Kan tidur masih lama, Mas..." sahut Nayla mengedipkan sebelah matanya, seraya mempermainkan jemarinya dengan remasan halus yang kian nakal. "Lagian... kasihan kan adiknya Mas Juned kalau dibiarin kesepian gini?"Juned menghembuskan napas berat, menikmati sentuhan manja yang mulai membangkitkan kembali gairahnya."Nakal ya kamu..." desik Juned seraya merengkuh pinggang Nayla lebih rapat.N
Nayla justru bersikap begitu enteng menghadapi raut cemas pria di hadapannya. Gadis itu terkekeh pelan, lalu menyusupkan jemarinya untuk membelai lembut rahang Juned yang tampak tegang."Ya hamil tinggal hamil aja, Mas, apa susahnya?" ujar Nayla dengan santai tanpa beban. "Toh kalau sampai benih Mas Juned jadi, ini kan anak Mas sendiri. Aku enggak pernah ya ngelakuin hal kayak gini sama cowok lain, dari dulu cuma sama Mas Juned doang."Juned mengerutkan dahinya dalam-dalam. Otaknya mencoba memutar ingatan masa lalu, merangkai kembali momen pertama kali mereka melakukan hubungan intim yang membayangi pikirannya."Tapi... seingat Mas, pas pertama kali kita ngelakuin dulu, kamu udah enggak perawan kan, Nay?" tanya Juned mengonfirmasi, menatap lurus mata gadis di pangkuannya untuk mencari kebenaran.Nayla menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, membalas tatapan Juned tanpa ada rasa canggung sedikit pun."Oh, yang itu..." sahut Nayla rileks seraya merapikan poni rambutnya yang lepek oleh
Nayla melangkah keluar menyusuri pintu kaca menuju pelataran halaman belakang, menghampiri Juned yang tengah duduk santai di pinggir kolam."Mas, masakannya udah matang nih," ujar Nayla seraya tersenyum manis. "Tinggal nunggu nasinya sebentar lagi matang."Juned mendongak, menghembuskan asap rokoknya ke udara lalu mengangguk pelan. "Oke, makasih ya."Nayla tak lantas kembali ke dapur. Gadis itu justru makin mendekat, merapat tepat di hadapan tempat duduk Juned dengan tatapan mata yang berkilat manja.Tanpa ragu, jemari halus Nayla bergerak turun meraih kepala resleting celana Juned, lalu menariknya perlahan hingga terbuka lebar."Lanjutin yang tadi yuk, Mas..." bisik Nayla pelan dengan binar mata nakal.Sentuhan jemari hangat Nayla perlahan membangkitkan kembali kejantanan Juned yang sempat tertidur lelah. Dalam hitungan detik, ketegangan itu kembali membumbung kekar tepat di hadapan Nayla yang kini menyunggingkan senyum penuh kehangatan.Nayla merangkak naik ke atas pangkuan Juned, m
Juned berdiri seraya merapikan celananya yang merosot dengan kasar, meluapkan kejengkelannya yang memuncak."Siapa sih, ganggu aja..." gerutu Juned pelan dengan nada penuh kekesalan, membuang napas berat seraya mengusap wajahnya yang masih hangat.Pria itu menoleh ke arah Nayla yang masih terkulai lemas di atas meja dapur, mencoba menenangkan gadis yang kini tampak panik dengan gaun yang berantakan. Juned merengkuh pelan bahu Nayla dan mengelus pipinya yang kemerahan."Kamu tetap di dapur aja, lanjutin masaknya," pimpin Juned seraya menarik ke bawah daster Nayla yang sempat terangkat tinggi.Nayla mengangguk cepat seraya merapikan rambutnya yang berantakan dan menurunkan kakinya dari atas meja. "I-iya, Mas... biar aku yang urus dapur."Dengan langkah lebar dan gusar, Juned berbalik meninggalkan area dapur, menyusuri koridor dingin menuju pintu depan untuk menemui tamu tak tahu diri yang memutus kenikmatan mereka.Tiba di depan pintu utama, Juned menyambar gagang pintu lalu memutarnya
Setelah mematikan kran shower dan memastikan tubuh mereka menyapu sisa-sisa air, Nayla mendekat seraya melilitkan handuk putihnya lebih rapat."Mas, nanti aku mau masak buat makan malam ya?" panggil Nayla halus, menatap Juned dengan binar mata polosnya. "Kayaknya bahan makanan di kulkas masih banyak banget deh, sayang kalau didiemin aja gak dipakai. Boleh, kan?"Juned menyapu rambutnya yang masih basah ke belakang, lalu tersenyum tipis menatap gadis di hadapannya. "Boleh, masak aja seada-adanya di kulkas.""Asyik! Ya udah, aku ganti baju dulu di kamar bawah ya, Mas," seru Nayla gembira seraya melangkah keluar dari area kamar mandi, meninggalkan jejak telapak kaki basah di lantai."Iya, Mas juga mau naik ke lantai atas dulu," sahut Juned pelan seraya mengapit pakaian kotornya. "Baju-baju Mas masih di atas semua."Nayla membalikkan badan sejenak di ambang pintu kamar bawah, mengukir senyum manis sebelum akhirnya menghilang di balik pintu. Sementara itu, Juned menaiki satu per satu anak







