Share

Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah
Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah
Auteur: KarenW

Bab 1

Auteur: KarenW
Sudut Pandang Sera:

Seperti biasa, hari ini aku mampir untuk memaksa Kael keluar makan malam. Namun, yang kudapat justru pengakuan bahwa dia tidak pernah menyukaiku dan justru menganggapku sebagai beban. Dia bahkan berencana menggunakan pernikahan palsu dengan cinta masa kecilnya untuk menghancurkan hatiku.

"Kamu mau menikah sama Vivian? Dan acaranya lima hari lagi?" Suara seseorang terdengar tidak percaya.

Suara Kael terdengar jelas dari balik pintu. "Iya. Dia bahkan sudah fitting gaunnya."

Aku langsung terpaku, jari-jariku mencengkeram tas lebih erat.

Suara pria lain menimpali, "Tunggu, terus anaknya Lusian, Sera, gimana? Bukannya kalian berdua ada hubungan? Maksudku, kami semua kira kalian tinggal tunggu diumumkan saja."

Napasku tercekat saat mendengar namaku sendiri.

Dia terdiam sesaat. Diam yang panjang dan terasa lambat.

Kemudian, Kael tertawa kecil.

"Memangnya kenapa?" katanya santai. "Aku nggak pernah berniat menjadikannya pacarku. Coba pikir, Lusian bisa membunuhku. Lagian dia bukan tipeku. Nggak seperti Vivian."

Bukan tipenya. Dia tidak ... tertarik.

Rasanya sangat sakit mendengarnya.

Pria itu masih mendesak, "Tapi kalau kamu sama Sera, Lusian pasti bakal mendukungmu. Dia sangat menyayanginya. Kalau kamu menikahinya dan mengambil alih Keluarga Darama, kamu bisa jadi pria paling berkuasa di Kota Noya."

Kael tertawa lagi, seolah-olah semua itu tidak berarti. "Iya, tapi aku nggak mencintainya. Aku sudah mencintai Vivian sejak lama."

Dia mengatakannya begitu saja, dadaku terasa seperti hancur.

Dia masih melanjutkan, "Pernikahan ini nggak akan resmi. Aku tahu Sera suka padaku. Aku cuma memanfaatkan ini untuk menjauh darinya selamanya. Sekalian juga, semoga bisa membuat Vivian melihatku dengan cara yang berbeda."

"Selama ini dia cuma menganggapku teman, tapi setelah pernikahan, siapa tahu? Mungkin akhirnya dia melihatku seperti aku melihatnya. Setelah bertahun-tahun, mungkin kali ini berhasil."

Satu langkah. Dua tujuan.

Aku tertawa pahit, tubuhku gemetar. Astaga, sebodoh apa aku selama ini? Sampai berpikir aku dan Kael bisa bersama?

Aku bisa merasakan darahku menyusut, jari-jariku mati rasa, dan lututku lemas.

Aku berbalik, mundur dari pintu selangkah demi selangkah.

Suara Kael perlahan menjauh, tetapi kata-katanya tidak. Semuanya terus bergema tajam dan tanpa ampun di kepalaku.

"Aku nggak mencintainya ...."

"Bukan tipeku ...."

"Menjauhkannya untuk selamanya."

Satu per satu menghantam lebih keras dari sebelumnya.

Jadi selama ini .... Makan malam larut, hadiah-hadiah, bisikan pelan yang berubah jadi ciuman itu, semuanya bohong?

Apa dia hanya berpura-pura, sementara aku percaya pada masa depan yang bahkan tidak pernah dia inginkan?

Hanya satu pikiran yang tersisa di kepalaku. Aku harus pergi dari sini.

Jadi aku berlari.

Sambil berlari, pikiranku tanpa sadar kembali ke malam semuanya bermula. Ulang tahunku yang ke-21.

Hari itu, ayahku mengadakan pesta besar dan Kael minum lebih banyak dari biasanya sepanjang malam.

"Sera sayang," kata ayahku sambil menepuk punggungku. "Tolong antar Kael ke kamar tamu ya."

Aku menurut.

Kuselipkan lenganku di bawah lengannya dan membantunya menaiki tangga, langkah demi langkah. Dia bergumam bilang dirinya baik-baik saja.

Aku mengabaikannya.

Saat akhirnya kubaringkan dia di tempat tidur kamar tamu, aku ragu. Tatapanku tertahan di kancing paling atas kemejanya, mempertimbangkan apakah aku harus membantunya melepas pakaian.

Sejak dulu aku tahu aku punya perasaan untuknya. Itu terlarang. Aku sadar. Ayahku bahkan menyuruhku memanggilnya "Om Kael".

Namun, aku meyakinkan diri sendiri bahwa dia hanya sepuluh tahun lebih tua dariku. Apa yang kurasakan, apa yang mungkin kami miliki, masih bisa diterima.

Jadi malam itu, untuk pertama kalinya, aku memutuskan untuk bersikap lebih berani.

Tanganku terulur. Ujung jariku menyentuh kerahnya dan perlahan, dengan sengaja, kubuka kancingnya. Kemudian, satu lagi.

Tangan Kael langsung bergerak, lebih cepat dari yang kuduga dan menangkap tanganku.

"Sera," katanya pelan, suaranya rendah, matanya sedikit kabur tapi fokus. "Kamu lagi ngapain?"

Aku terdiam membeku.

"Aku ... cuma mau bantu," gumamku, menatap ke mana saja selain wajahnya.

Dia tidak melepaskan tanganku cukup lama. Dia hanya menatapku, mendekatkan jarak di antara kami.

Dia tertawa pelan. "Kalau aku nggak tahu apa-apa," gumamnya. "Aku bisa saja mengira kamu tertarik padaku."

Nada suaranya dingin, tetapi anehnya menggoda.

"Kalau memang iya?" balasku, sebelum sempat berpikir.

Sudut bibirnya terangkat. "Kamu ingat aku ini teman ayahmu, 'kan? Aku Om Kael."

"Terus kenapa?" Aku mendekat, bibirku hanya berjarak sejengkal darinya. "Kamu cuma sepuluh tahun lebih tua. Apa melakukan sesuatu yang terlarang sudah nggak menarik lagi buatmu? Ayahku masih di bawah. Dan kita berdua ...."

Tatapannya turun ke bibirku, tetapi dia tidak menjauh.

"Kael yang hebat takut sama perempuan 21 tahun?" bisikku.

Dia menghela napas kecil, lalu tertawa. "Aku nggak pacaran dengan perempuan yang terlalu muda."

Kemudian, dia memiringkan kepala, seolah-olah berpikir. "Tapi kalau kamu sudah 27 tahun dan masih menyukaiku, mungkin bakal kupikirkan kembali."

Alisku terangkat. "Janji?"

Genggamannya di tanganku sedikit menguat. "Janji."

Aku mencondongkan tubuh ke depan, lalu mengecup bibirnya. "Sudah disegel. Sekarang kamu nggak bisa mengingkarinya."

Saat itu terasa begitu romantis. Seperti cerita dongeng.

Dulu, aku juga berpikir begitu.

Aku hanya tidak pernah menyangka semuanya akan berakhir seperti ini setelah aku mendengar Kael terang-terangan mengakui dia tidak pernah menyukaiku, selalu menganggapku tidak lebih dari sebuah beban.

Aku bahkan tidak sadar sudah berlari sejauh apa sampai suasana di sekitarku berubah. Suara kota meredup. Aku melambat, napasku gemetar. Aku mendapati diriku berdiri di depan sebuah toko es krim.

Di dalam, sepasang kekasih tertawa sambil berbagi satu es krim. Di kaca, justru aku melihat bayanganku sendiri, mata merah, tangan gemetar, versi diriku yang tidak tahu harus melakukan apa.

Kecuali ... sebenarnya aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku mengeluarkan ponsel dan menekan tombol panggil.

"Ibu?" Suaraku pecah. "Aku kepikiran untuk terbang ke Ivia, mau nyusul Ibu sama Ayah."

Beberapa detik hanya terdengar suara statis, lalu suara hangat yang kurindukan muncul. "Sera! Akhirnya! Kamu mau liburan, atau ...?"

"Bukan." Aku menelan ludah, pandanganku kabur menatap kaca. "Aku mau pindah. Kali ini benar-benar pindah."

Ada keheningan sesaat. Kemudian, disusul tawa kecil penuh kelegaan. "Baiklah, Sayang. Santai saja. Kami tunggu di sini."

Aku mengangguk, meski ibuku tidak bisa melihatku, lalu mengusap wajah dengan punggung tangan.

"Tinggal beberapa hari lagi," bisikku. "Aku bakal bereskan semuanya, lalu pergi dari Kota Noya."
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 15

    Sudut Pandang Kael:Aku tidak bergerak.Sudah lama sekali aku hanya berdiri di sana, sejak Sera pergi bersama pria yang bernama Josh itu.Aku bahkan tidak ingat nama lengkapnya. Yang aku tahu, aku marah.Tidak, aku murka.Aku sendiri tidak benar-benar tahu kenapa. Mungkin karena di kepalaku, aku membayangkan pertemuan kami akan sangat berbeda.Dia seharusnya berlari ke arahku dengan tangan terbuka dan mata berkaca-kaca. Dia seharusnya jatuh ke pelukanku seperti dulu, seolah-olah tempatnya memang ada padaku.Namun, dia malah memeluk pria itu.Josh …. Siapa pun nama belakangnya. Apa dia kaya? Berpengaruh? Lebih baik dariku?Tidak. Tidak mungkin.Memang, bisnis kasinoku sedang tidak dalam kondisi terbaik, terutama setelah masalah dengan Eric dan semua kekacauan media yang dia sebabkan dalam hidupku.Para investor mundur. Bisik-bisik mulai terdengar. Terlalu banyak orang mulai menatapku seolah-olah aku tidak lagi sehebat dulu.Namun, aku masih punya nama, masih punya pengaruh di dunia mafi

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 14

    Sudut Pandang Sera:Aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini."Ayah. Ini sahabat terbaikmu, yang juga pria yang kamu suruh kupanggil Om, yang juga pria yang kucintai, yang memutus hubungan denganku dengan pernikahan palsu."Ya, jelas tidak mungkin.Sebelum aku sempat menyusun kebohongan yang masuk akal, Josh lebih dulu menundukkan kepala sedikit. "Aku tadi cuma bicara dengan Sera. Dia minta aku mengajaknya keluar sebentar untuk cari udara segar. Kalau kamu nggak keberatan, Pak."Di bawah tatapan penasaran ratusan anggota mafia, Josh menyelipkan jemarinya ke jemariku dengan sengaja, lalu mengangguk sopan pada ayahku.Tatapan ayahku beralih ke tangan kami yang saling menggenggam. Suasanya sontak terasa menegangkan untuk sesaat. Kupikir dia akan marah besar.Namun, dia justru diam sejenak, lalu tersenyum dan menepuk bahuku. "Pergilah. Biar Ayah yang urus di sini."Josh tidak menunggu. Dia menarikku perlahan menembus kerumunan dan aku membiarkannya. Tangannya terasa

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 13

    Sudut Pandang Sera:Ayahku mengadakan pesta makan malam di salah satu hotel terbaik di pusat kota.Saat aku dan Josh tiba, aku kira cuma acara yang kecil dan tertutup, makan malam dengan paling banyak empat orang.Sebaliknya, aku langsung masuk ke aula dengan setidaknya seratus tamu, lampu kristal berkilau di atas kepala, dan gelas-gelas sampanye sudah saling beradu dalam perayaan."Astaga, ini pasti ulah Ayah," gumamku pelan."Sera!" Suara ayahku menggema di seluruh ruangan. "Semuanya, putriku sudah datang! Dialah yang berhasil menutup kesepakatan di kasino Keluarga Darama hari ini!"Detik berikutnya, aku langsung mendengar tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Aku bisa merasakan pipiku memanas."Josh," bisikku, malu setengah mati. "Aku nggak tahu acaranya bakal sebesar ini."Ini bukan sekadar makan malam keluarga. Ini pertemuan besar, ajang kumpul-kumpul semua keluarga mafia penting dalam radius ratusan kilometer. Tiba-tiba aku menjadi tidak yakin bahwa mengajak Josh adalah id

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 12

    Sudut Pandang Sera:Sejak aku menyusul orang tuaku ke Ivia, hari-hariku penuh dengan usaha memahami seluk-beluk bisnis ayahku. Rapat, kunjungan, jabat tangan, nama-nama yang harus kuingat, dan angka-angka yang berusaha tidak kubenci ….Aku meyakinkan diri kalau semua kesibukan ini membantu menjaga pikiranku agar tidak kembali melayang ke Kota Noya, ke semua hal yang pernah berantakan di sana.Hari ini pun tidak berbeda. Saat salah satu staf ayahku sedang mengajakku berkeliling kebun anggur, menjelaskan soal jadwal panen dan tingkat keasaman anggur, ponselku tiba-tiba bergetar.Dari Lila."Kamu sudah dengar belum?" katanya bahkan sebelum aku sempat menyapa. "Vivian dan Eric sama-sama ditahan. Sedangkan Kael …. Kasino dan reputasinya lagi dihancurkan habis-habisan sama gosip. Seluruh dunia mafia Kota Noya lagi 'dibersihkan' besar-besaran."Nada suaranya terdengar sangat puas.Aku tidak berniat memadamkan semangatnya, tetapi jujur saja, aku sudah tidak peduli lagi. Jadi aku hanya mengatak

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 11

    Sudut Pandang Kael:"Pak Kael." Suara asistenku terdengar dari telepon. "Kami sudah mengamankan Vivian di dalam kasino Bapak. Tapi kondisi mentalnya tampak ... nggak stabil. Sedangkan Eric …. Dia menghilang dari rumah sakit, sampai sekarang nggak terlihat. Kami menduga dia sedang menunggu berita tentang Bapak meledak dulu, baru bergerak."Aku menggumam pelan sebagai tanda paham, lalu menutup telepon.Aku pergi dari rumah sakit terlalu terburu-buru karena ingin mengejar Sera sampai membiarkan bajingan seperti Eric lolos. Namun setidaknya, aku masih punya Vivian.Menahannya di dekatku adalah langkah strategis. Dia adalah umpannya. Eric tidak akan terus bersembunyi. Tidak selama wanita yang mengandung anaknya ada di tanganku.Kalau skandal ini sampai keluar ke publik, dampaknya akan menghantam kami berdua. Eric bukan orang sembarangan. Dia dikenal sebagai sahabatku. Dia juga akan ikut jatuh. Jadi aku berharap masih bisa memaksanya duduk dan bernegosiasi.Namun, aku tidak menyangka dia sud

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 10

    Sudut Pandang Kael:Rahangku mengeras.Eric melanjutkan, nadanya penuh ejekan. "Aku cuma muak hidup dalam bayang-bayangmu. Aku sama pintarnya denganmu. Sama kayanya. Tapi nggak, itu nggak cukup. Kamu harus selalu jadi anak emas. Kamu selalu dipuja semua orang. Kamu pikir berteman denganmu bikin orang merasa bersyukur? Seolah-olah kamu ini semacam bos mafia yang sedang bagi-bagi bantuan?"Telingaku berdengung."Bisnis narkoba keluargaku berkembang gara-gara koneksimu?" Eric mencibir. "Iya, terus saja percaya itu. Kael yang hebat, sendirian membantu semua orang jadi kaya. Mau aku kasih medali?"Dia mengeluarkan ponselnya. "Tunggu saja. Kita lihat seberapa kuat kasino kesayanganmu bertahan saat berita ini meledak. Semoga kamu menikmati melihat semuanya hancur."Vivian ikut menimpali, "Aku masih nggak habis pikir gadis bodoh seperti Sera bisa mencintaimu. Jujur saja, aku nggak tahu siapa yang lebih tolol, dia atau kamu."Dia memiringkan kepala dengan nada mengejek. "Oh iya, omong-omong soa

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 9

    Sudut Pandang Kael:"Kael?"Vivian baru sadar lima jam kemudian.Aku tidak bergerak dari sofa, hanya menatapnya, merasakan sesuatu yang dingin meresap sampai ke tulang."Kael," bisiknya, matanya mulai berkaca-kaca. "Gimana dengan bayi kita?"Aku berdiri dan berjalan mendekati ranjangnya perlahan. "A

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 8

    Sudut Pandang Kael:Rasanya hampir seperti Sera sudah benar-benar hilang dari hidupku.Seharian ini kami tidak saling bicara sama sekali. Mengingat hari ini adalah ulang tahunnya sekaligus hari pernikahanku, itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.Tetap saja, aku memutuskan untuk mengambil langkah

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status