Share

Bab 112

Author: ararasa
last update publish date: 2026-09-21 05:18:00

Beruntung ada Vivi, malam itu Agnes bisa tidur dengan lumayan nyenyak walau ada jutaan beban masalah yang menghimpit batinnya. Kehadiran sahabatnya bagai jangkar di tengah samudra kecemasan yang mengamuk. Karena hari Minggu, Vivi pun bisa menemani Agnes menikmati sarapan pagi di ruang makan *penthouse* yang megah namun dingin.

“Sudah berapa lama kerja sama Mas Daniel?” tanya Vivi, mencoba mencairkan keheningan dengan obrolan ringan.

“Sudah hampir sepuluh tahun, Mbak,” jawab
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 112

    Beruntung ada Vivi, malam itu Agnes bisa tidur dengan lumayan nyenyak walau ada jutaan beban masalah yang menghimpit batinnya. Kehadiran sahabatnya bagai jangkar di tengah samudra kecemasan yang mengamuk. Karena hari Minggu, Vivi pun bisa menemani Agnes menikmati sarapan pagi di ruang makan *penthouse* yang megah namun dingin.“Sudah berapa lama kerja sama Mas Daniel?” tanya Vivi, mencoba mencairkan keheningan dengan obrolan ringan.“Sudah hampir sepuluh tahun, Mbak,” jawab Mbak Sisil yang terpaksa ikut bergabung di meja makan karena terus-menerus didesak oleh Vivi. Ada kecanggungan halus yang terpancar dari gesturnya, namun kehangatan suasana perlahan meluluhkan rasa sungkannya.Mbak Sisil menceritakan bahwa Daniel selalu menyuruhnya untuk makan bersama, “Tapi percuma. Saya kalau makan di sini, Mas Daniel makan di atas.”“Oh, gitu?” tanya Vivi kaget, alisnya terangkat menatap Sisil.“Mas Daniel itu pendiam. Jarang ngomong. Kalau ada kerj

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 111

    Dunia di sekeliling Agnes terasa berputar terlalu cepat, memusnahkan ketenangan jiwa yang tadinya berusaha ia bangun.Agnes termenung di sofa, menatap lurus ke arah balkon yang terbuka lebar. Ruang tengah yang mewah itu mendadak terasa bak penjara tak kasatmata yang menyiksa batinnya. Angin malam yang dingin berembus kencang, menerpa kulitnya hingga meremang, namun ia sama sekali tidak memedulikannya. Dalam kepasrahan yang pekat, ia berharap angin itu bisa membawa semua masalahnya berlalu dan melenyapkan keputusasaan yang mengimpit rongga dadanya.Kalau ada orang yang menginginkan hidupnya penuh dengan masalah hanya agar tidak merasa bosan, Agnes akan mengutuk orang itu dalam hati. Sebab kini ia sadar betul, hidup tanpa masalah adalah sebuah rezeki serta kedamaian tak ternilai yang tidak didapatkan oleh semua orang.Dengan jemari yang dingin dan gemetar, ia mengambil ponselnya dari atas meja. Di layar yang menyala terang, tertera pesan dari Daniel yang men

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 110

    Hening.Agnes menatap Rudi dan Sabina yang masih duduk di hadapannya. Ruang tengah yang luas itu terasa kosong dan mencekam, menyerap seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya. Kehampaan yang amat pekat menyelimuti atmosfer penthouse, menghimpit napas Agnes hingga terasa sesak. Angin malam yang dingin menyelinap masuk dari sela-sela pintu balkon, meniupkan gorden putih yang melambai-lambai pelan seolah mengirimkan sinyal bisu agar Agnes tetap tegar berdiri di atas kakinya sendiri. Dalam gulita rasa cemas yang merayapi ulu hatinya, diam-diam jari Agnes yang gemetar menekan tombol rekaman suara di ponselnya, memancarkan setitik keteguhan untuk bertahan.“Aku diundang untuk datang di malam keberhasilannya dapat beasiswa LPDP. Bukan cuma aku, tapi juga teman-teman prianya,” lanjut Sabina yang kini raut wajahnya berubah drastis. Yang tadinya genit, manja, dan ceria, kini mendadak berubah menjadi redup, sedih, dan dipenuhi gelombang dendam yang membara.

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 109

    Agnes memilih membisu, membiarkan Rudi terus menumpahkan narasi manipulasinya. Di dalam keheningan yang menyesakkan itu, dada Agnes bergemuruh hebat, dihantam oleh rasa tidak percaya akan betapa dinginnya nurani pria di hadapannya.“Waktu saya masih muda, memang saya terlalu banyak main,” Rudi melanjutkan ceritanya tanpa nada penyesalan sedikit pun. “Namanya juga anak muda,” lanjutnya seraya melirik Sabina dengan pendar kebanggaan yang semu.Sabina terkekeh, gestur yang terkesan amat dibuat-buat demi menyelaraskan diri dengan sang sutradara.Agnes memperhatikan gerak-gerik itu dengan pandangan tajam penuh selidik. Ia bisa melihat bagaimana sesekali Sabina merapikan kerah baju Rudi, sebuah perhatian kecil yang begitu janggal. Mana ada seorang wanita yang sudi melakukan hal seintim itu pada pria yang telah memperkosanya? batin Agnes, didera oleh kebingungan yang makin mengiris logikanya.“Dan pekerjaan saya menuntut un

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 108

    “Lama banget sih!” Sabina berdiri dengan pose yang bersedekap penuh kecemasan dan ketidaksabaran. Jemarinya terus mengetuk-ngetuk ponsel di genggamannya sambil memeriksa sesuatu dengan gelisah. “Kayaknya aku pernah dapet kartu namanya deh.”“Sabar,” sahut seorang pria paruh baya yang berdiri santai di sebelah Sabina, mengenakan topi untuk menyamarkan garis wajahnya.Pintu penthouse Daniel terbuka perlahan.Agnes berdiri kaku di ambang pintu. Pupil matanya membesar dengan tingkat kewaspadaan yang memuncak, menatap nyalang Sabina yang datang bersama sosok yang amat

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 107

    Agnes menepis ponsel Vivi dengan ketegasan yang didorong oleh kepanikan terselubung. "Sudah, jangan dibaca lagi!""Eh, tapi kenapa Sabina datang ke rumahnya Rudi Baskara?" Vivi menyimpan ponselnya ke dalam tas sambil menatap Agnes, matanya memancarkan kecurigaan dan keheranan yang tak tertahankan."Mana aku tahu," cetus Agnes singkat, mencoba memagari dirinya agar rasa cemas yang merayapi ulu hatinya tidak semakin meluap."Aku dulu suka film-filmnya Rudi Baskara. Film yang selalu dapat penghargaan di luar negeri. Keren sih, tapi sekarang... semuanya hanya omong kosong, tahi anjing," umpat Vivi, memiringkan bibirnya sinis.Agnes menghela napas panjang, meresapi kebenaran pahit itu di tengah kecamuk batinnya. "Makanya. Kalau cinta sama seseorang, jangan kecintaan. Begitu juga benci, jangan kebencian."Vivi terkekeh pelan, rasa geli mengikis ketegangannya. "Tapi kalau cintanya kayak kamu, kecintaan sama Daniel, bukan sesuatu yang dilarang dong?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status