تسجيل الدخول“Halo?” Agnes masuk ke kamar kosnya sambil melemparkan tas ke lantai.
“Halo,” terdengar suara Vivi, teman baiknya, yang menjawab dengan nada seperti baru bangun tidur.
“Udah tidur?”
“Kalau aku udah tidur, nggak bakalan jawab telepon kamu. Ada apa?”
“Aku tadi ada pasien,” jawab Agnes sambil membuka blazer kerjanya.
“Bagus lah, makin banyak dong tabungannya?”
“Masalahnya bukan itu.”
“Apa? Pasiennya susah?”
“Nggak.”
Agnes terdiam. ‘Dia malah super duper baik, ganteng, kaya….’
“Nes?”
“Kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”
“Wuih! Ini baru cerita,” Vivi terdengar bersemangat. “Siapa dia? Orang mana? Ganteng? Kaya? Aku kenal?”
Agnes menggelengkan kepala, “Nggak. Nggak jadi deh.”
“Astaga! Kebiasan ya, nelepon, mau curhat, terus nggak jadi!”
“Sori. Ya udah, tidur lagi sana. Daaah!”
“AG…!”
Agnes mematikan sambungan telepon lalu merebahkan diri ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya terlipat di dadanya, tangan kirinya terlentang di kasur.
‘Apa yang baru saja terjadi? Pasien baru dengan penyakit seksual yang ternyata langsung sembuh di tanganku?’
Ia mengangkat tangan kanan dan memperhatikan telapak tangannya, jari-jarinya yang tadi menelusuri badan.
‘Daniel Mathew. Daniel.’
Ia memejamkan mata, mengingat suara Daniel yang hangat di telinganya.
‘Dia menyuruhku menggunakan tubuhku untuk menyembuhkannya?’
**
Tanpa menggunakan sehelai kain, Daniel berdiri di bawah air pancuran kamar mandinya. Air dingin menghujani kepalanya yang terasa panas karena apa yang terjadi sebelumnya. Matanya terpejam. Napasnya memburu.
Ia membayangkan Agnes, sekarang berada di hadapannya. Tangan Agnes merangkulnya. Dahinya menyentuh dahi Agnes. Ia mencoba membayangkan apa yang akan dilakukan Agnes pada sesi selanjutnya, dengan tubuhnya.
Namun semua itu sia-sia. Badannya tidak bereaksi.
Daniel meninju dinding kamar mandi. Ia membutuhkan Agnes. Hanya sentuhan Agnes secara langsung lah yang bisa membuatnya menjadi pria seutuhnya. Dimatikannya air shower di kamar mandinya, ia lalu berdiri di wastafel. Ia menatap wajahnya sendiri dan menyadari bahwa yang menyembuhkan dirinya, yang diperlukannya hanya sentuhan Agnes.
**
Agnes yang baru sampai di ruang kerjanya tepat pukul 8 pagi, sedang bicara pada mamanya ditelepon, “Debt collectornya nggak balik lagi, kan?”
“Nggak.”
“Syukurlah.”
“Kamu dapat uang sebanyak itu dari mana, Nes?” mamanya terdengar bingung.
Agnes terdiam. ‘Aku tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya.’
“Bukan pinjol kan?” tanya Elvira.
“Nggak! Nggak, bukan pinjol.”
“Kamu pinjam orang kantor?”
“Ehem…,” Agnes merapikan rambutnya, bingung mencari jawaban, “ya. Bisa dibilang begitu.”
“Siapa? Mama boleh ketemu….”
“Nggak!” Agnes langsung menghentikan kalimat Elvira.
“Kenapa?”
“Ehmmm… dia sibuk.”
“Paling nggak… mama mau bikinin kue, sekedar terima kasih aja, Nes.”
Agnes duduk di kursi kerjanya, ‘Kalau mama ketemu sama Daniel, bisa jadi mama langsung nyuruh aku nikah sama dia.’
“Nes,” Elvira membuyarkan lamuman Agnes.
“Ma. Kita ngobrol lagi nanti ya? Udah mama tenang aja. Jangan mikirin soal uang itu. Yang penting sekarang rumah aman.”
“Ya udah. Kamu jangan lupa makan. Jangan kebanyakan kerja. Jangan lupa istirahat.”
“Iya, Ma.” Agnes menurunkan ponselnya, lalu duduk di kursi.
Ia melihat ke sekeliling, mengingat apa yang terjadi malam sebelumnya di ruangan itu. Daniel menuntun tangannya menyusuri dada sampai ke celananya.
‘Apa yang terjadi kalau aku sampai benar-benar menyentuh apa yang di balik celana itu? Aku sentuh lengannya saja dia ….”
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Agnes.
“Ya?” tanya Agnes, kaget.
Pintu terbuka. Seorang pria yang memakai baju kerja dan jas, berdiri di ambang pintu, “Aku ganggu?”
“Eh, Mas Mario. Masuk, Mas.”
Mario, psikolog yang juga merupakan pemilik klinik, masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu, lalu duduk di kursi hadapan Agnes. “Ada yang aku mau omongin.”
“Ada apa, Mas? Serius banget keliatannya.” Agnes tersenyum.
“Dokter Indra sudah cerita soal pasien kamu.”
“Pasien aku?” tanya Agnes bingung.
“Pasien yang kamu butuhkan sebagai syarat sertifikasi psikolog spesialis terapi seksual.”
“Oh,” Agnes terpaku. ‘Apakah yang dimaskudnya adalah Daniel?’
“Kamu harus catat namanya dalam data kita. Supaya saya bisa mengeluarkan surat rekomendasi, bahwa kamu memang sudah menangani 10 pasien dengan kasus kelainan seksualitas.”
“Tapi…”
“Iya,” Mario mengangguk, mengerti, “tidak ada yang boleh tahu. Dia pasien confidential, rahasia. Untuk itu, kamu sendiri yang masukkan ke data pasien. Bukan orang lain. Lina tidak perlu tahu ada pasien baru.”
Terdengar bunyi pesan di ponselnya Mario.
“Ah. Pasien aku sudah datang.” Mario berdiri, “Ini aku kasih username dan password supaya kamu bisa akses langsung ke data pasien khusus. Jadi tidak perlu melalui Lina. Kamu masukkan nama dan catat kasusnya apa, terapi apa saja yang akan dilakukan.” Mario menekan tombol di ponselnya, sambil berdiri dan melangkah ke pintu.
“Tapi, mas…” Agnes melihat username dan password yang dikirimkan Mario di ponselnya.
“Kalau tidak dicatat, kamu berarti masih kurang pasien untuk sertifikasi kamu, Nes.”
Agnes mengangguk, pasrah. “Iya, mas.”
“Yang penting, kamu yang mengurus data itu. Bukan Lina. Lina jarang mengurus pasien khusus, jadi kamu tenang saja. Cuma kita bertiga yang tahu.” Mario membuka pintu ruangan, sambil tersenyum.
“Baik, Mas,” Agnes membalas senyumannya.
Mario keluar dari ruangan lalu menutup pintu dengan rapat.
Agnes menatap laptopnya, membuka daftar pasien khusus, lalu menggunakan username dan password di laptopnya. Ia mencatat nama Daniel, menuliskan keluhan, dan rencana terapi yang akan dilakukan dan yang sudah dilakukannya.
Jemarinya bergetar. Ia merasa ketakutan data tersebut bocor. Ia tidak ingin kehilangan kepercayaan orang yang sudah membantu keluarganya keluar dari masalah yang rumit.
Tak lama kemudian, ada nomor tak dikenal muncul di layar ponselnya, meneleponnya.
Agnes menjawab telepon itu, “Halo?”
“Hai.”
Agnes memejamkan mata, dadanya terasa penuh. Ia tahu suara berat dan hangat itu adalah suara Daniel. “Mas… Daniel?”
“Nanti malam, asisten aku jemput kamu jam sembilan. Dia akan antar kamu langsung ke penthouse aku. Untuk sesi berikutnya.”
“Tapi…,”
“Nggak bisa?”
Agnes menggelengkan kepalanya, “Bisa. Bisa.”
“Oke. See you.”
Agnes mengambil napas panjang, “See…you.”
“Pulang, mbak?” sapa Lina yang sedang merapikan isi tasnya di meja resepsionis.“Iya,” jawab Agnes tersenyum sambil melangkah keluar dari klinik sambil berdoa data Daniel Mathew yang dimasukkannya ke dalam daftar pasien khusus tidak terbaca oleh Lina.Mobil mewah milik asistennya Daniel, sudah berhenti di depan pintu klinik. Pintu penumpang tengahnya, terbuka. Agnes melongo ke dalam mobil.Asisten Daniel, Deri yang sedang menyetir, menoleh ke belakang dan tersenyum, “Masuk, mbak.”“Iya.” Agnes masuk ke kursi penumpang tengah. Pintu mobil otomatis tertutup perlahan.Tak lama kemudian mobil berjalan.Agnes membuka ponselnya, memeriksa apakah ada gosip terbaru mengenai Daniel di media sosial. Beberapa akun gosip mengunggah berita tentang film terbarunya Daniel. Pemeran utama perempuannya adalah, Renata, aktris cantik yang juga lulusan Harvard. Ia lalu membuka kolom komentar. Ada beberapa komentar yang menarik perhatiannya.@Acilovjimin : Daniel cocokan sama Renata ketimbang sama Sabina.
“Halo?” Agnes masuk ke kamar kosnya sambil melemparkan tas ke lantai.“Halo,” terdengar suara Vivi, teman baiknya, yang menjawab dengan nada seperti baru bangun tidur.“Udah tidur?”“Kalau aku udah tidur, nggak bakalan jawab telepon kamu. Ada apa?”“Aku tadi ada pasien,” jawab Agnes sambil membuka blazer kerjanya.“Bagus lah, makin banyak dong tabungannya?”“Masalahnya bukan itu.”“Apa? Pasiennya susah?”“Nggak.”Agnes terdiam. ‘Dia malah super duper baik, ganteng, kaya….’“Nes?”“Kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”“Wuih! Ini baru cerita,” Vivi terdengar bersemangat. “Siapa dia? Orang mana? Ganteng? Kaya? Aku kenal?”Agnes menggelengkan kepala, “Nggak. Nggak jadi deh.”“Astaga! Kebiasan ya, nelepon, mau curhat, terus nggak jadi!”“Sori. Ya udah, tidur lagi sana. Daaah!”“AG…!”Agnes mematikan sambungan telepon lalu merebahkan diri ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya terlipat di dadanya, tangan kirinya terlentang di kasur.‘Apa yang baru saja terjadi? Pas
Agnes masih memegang tangan kanan Daniel. Jari telunjuk tangan kanannya masih menyentuh lengan bawah tangan kiri Daniel.Daniel masih tidak percaya akan reaksi badannya sendiri. Jantungnya berdebar seolah ingin melompat keluar dari dalam dadanya. Begitu juga dengan alat vitalnya yang mendadak membengkak. Dengan tangan kirinya, ia menarik pergelangan tangan Agnes yang masih menyentuh lengan kanannya dan mendekatkan wajahnya pada Agnes.“Selama bertahun-tahun,” Daniel berbisik sambil menatap lekat mata Agnes yang juga terkejut. “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi kamu….”Daniel bisa melihat gerakan naik turun di tenggorokan Agnes.Agnes menarik tangannya dan membuang pandangannya dari wajah Daniel.‘Aku hanya menyentuhnya. Kenapa ini bisa terjadi?’“Aku hanya seorang psikolog. Dan kamu adalah pasienku.” Agnes mengambil buku dan pulpennya lalu menulis sesuatu dengan cepat.
Akhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”Dalam sekali gerak, Daniel mel
Jam di ponselnya Agnes sudah menunjukan hampir pukul 10 malam. Agnes membaca setiap berkas yang diberikan Daniel dengan seksama. Ternyata semuanya mengatakan bahwa seluruh fungsi organ reproduksi pria yang ada di hadapannya berada dalam kondisi yang sehat.‘Dia konsultasi ke tiga dokter andrologi, berarti dia memang memiliki masalah seksual. Tapi seperti apa tepatnya? Apa hanya masalah kenyamanan saat berhubungan? Atau apakah respon terhadap rangsangannya lambat? Atau jangan-jangan sama sekali tidak… Tapi dari hasil pemeriksaan ini semua, tidak menujukkan adanya indikasi impotensi.’Dari balik berkas, Agnes melirik Daniel yang ternyata masih terus memandangnya. Ia mengalihkan pandangan dan langsung kembali pura-pura membaca berkas, lalu lanjut berpikir.‘Tapi dr. Indra tadi bilang, aku bisa menyembuhkannya. Berarti dia memang punya masalah mengenai fungsi seksual. Bukannya dia mau menikah? Jadi ini alasannya dia dikirim padaku, karena dia harus segera ditangani.’Tanpa berekspresi, Ag
Daniel Mathew, aktor tampan papan atas yang disukai semua perempuan - termasuk Agnes - turun dari mobil mewah warna putihnya. Dengan menggunakan long coat hitam, ia menyembunyikan wajahnya di balik hoodie dan melangkah ke arah pintu masuk klinik, sambil membawa tas map yang terbuat dari kulit.Agnes bergegas keluar dari ruangan untuk menyambut Daniel. Ia tiba di lobi bersamaan dengan Daniel masuk ke dalam klinik.Mereka saling berpandangan.Jantungnya berdebar keras. Jari tangannya terasa semakin dingin. Tenggorokannya kering. Agnes menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Ia tidak menyangka bintang film dan bintang iklan dengan bayaran paling mahal, kini ada di hadapannya.Tiga hari yang lalu, ia - dan tentu saja jutaan fans Daniel lainnya - patah hati begitu mendapatkan kabar dari sebuah akun gosip yang mengunggah foto-foto lamaran Daniel dan calon istrinya, seorang artis pendatang baru bernama Sabina. Akun gosip itu juga membocorkan hari pernikahan Daniel bulan dep







