ログイン“Pulang, mbak?” sapa Lina yang sedang merapikan isi tasnya di meja resepsionis.
“Iya,” jawab Agnes tersenyum sambil melangkah keluar dari klinik sambil berdoa data Daniel Mathew yang dimasukkannya ke dalam daftar pasien khusus tidak terbaca oleh Lina.
Mobil mewah milik asistennya Daniel, sudah berhenti di depan pintu klinik. Pintu penumpang tengahnya, terbuka. Agnes melongo ke dalam mobil.
Asisten Daniel, Deri yang sedang menyetir, menoleh ke belakang dan tersenyum, “Masuk, mbak.”
“Iya.” Agnes masuk ke kursi penumpang tengah. Pintu mobil otomatis tertutup perlahan.
Tak lama kemudian mobil berjalan.
Agnes membuka ponselnya, memeriksa apakah ada gosip terbaru mengenai Daniel di media sosial. Beberapa akun gosip mengunggah berita tentang film terbarunya Daniel. Pemeran utama perempuannya adalah, Renata, aktris cantik yang juga lulusan Harvard. Ia lalu membuka kolom komentar. Ada beberapa komentar yang menarik perhatiannya.
@Acilovjimin : Daniel cocokan sama Renata ketimbang sama Sabina. Kenapa ya, Daniel milih Sabina? (emoji wajah bingung).
@Cicamarica : Renata itu dulunya pernah dipacarin sama papinya Daniel bukan sih? (emoji tutup mulut.)
@lambememble : Sabina juga kan jadi artis karena dekat dengan Rudi Baskara! #ytta
“Sudah makan malam, mbak?” tanya Deri mengagetkan Agnes.
“Apa?”
“Kalau belum makan malam, Bos Daniel nyuruh kita mampir dulu ke restoran.”
“Ah. Nggak usah. Saya sudah makan malam. Terima kasih.”
Agnes melihat mata Deri meliriknya dari kaca spion tengah.
“Oke,” kata Deri kembali fokus ke jalanan.
“Mas sudah berapa lama kerja sama Daniel?” tanya Agnes mencoba mencari informasi.
“Lumayan. Saya kerja sudah hampir delapan tahun.”
“Lama juga. Betah ya?”
Deri terkekeh, “Susah cari bos kayak dia, mbak. Orangnya nggak banyak bicara. Kasih arahan sat set sat set. Nggak neko-neko, nggak plin plan. Simple, tapi tegas. Ngasih arahan juga jelas. Orang-orang yang baru ketemu sama dia, pasti nganggep dia dingin, kaku, tapi sebenernya sih baik”
“Oh.”
“Makanya kan orang-orang film juga suka kerja sama dia.”
“Oh, gitu ya….” Agnes agak sedikit ragu, tapi ia penasaran, “Aku kira orang-orang film baik sama dia karena dia….”
“Anaknya Rudi Baskara?”
“Iya?”
Deri tertawa lagi, “Jangan ngomongin soal itu, mbak. Dia paling kesel kalau karirnya dikaitkan sama bapaknya yang seorang sutradara film festival yang punya banyak penghargaan.”
Agnes mengangguk, terdiam.
“Kenal mbak Celsi, mbak?”
“Nggak. Siapa dia?”
“Manajernya.”
“Oh.”
“Mbak Celsi yang dulu ngingetin saya, supaya nggak ngungkit nama bapak di depan bos.”
“Oh.”
“Kalau mbak nanti ketemu mbak Celsi, pasti diingetin juga soal itu.”
Diam-diam, Agnes mengetik nama Rudi Baskara di pencarian internet. Muncul data profil Rudi Baskara, seorang sutradara dengan puluhan film festival dengan berbagai macam penghargaan, bahkan salah satu filmnya pernah masuk nominasi oscar dalam katagori film panjang dengan bahasa non Inggris.
Dalam halaman profil itu, Rudi Baskara sudah empat kali menikah. Istri pertamanya adalah ibunya Daniel yang merupakan orang Jerman.
Agnes kemudian melihat beberapa artikel skandal tentang Rudi Baskara. Salah satu artikelnya membahas soal pelecehan seksual. Ketika ia ingin membuka artikel itu, Deri menyapanya, “Mbak.”
“Ya?” Agnes cepat-cepat menutup halaman website di ponselnya. Ia melihat ke sekelilingnya, ternyata mobil sudah berhenti di depan lobi sebuah apartemen mewah.
“Kita sudah sampai. Mbak Agnes langsung saja naik ke 15 pake kartu akses ini,” Deri memberikan sebuah kartu akses.
“Oh,” Agnes mengambil kartu itu perlahan.
Pintu tengah mobil terbuka.
Agnes keluar dari mobil. Pintu mobil langsung tertutup. Ia berpaling kaget, mobil Daniel bergerak pergi. Ia menelan ludah.
‘Kamu bisa, Nes. Kamu psikolog profesional.’
Dengan langkah gemetar, ia masuk ke lobi besar dan mewah. Sekuriti dan resepsionis tersenyum ke arahnya. Ia langsung menuju lift lalu menggunakan kartu aksesnya untuk bisa menekan tombol lantai 15.
Selama lift bergerak naik, Agnes mengulang-ulang rencana sesinya malam ini. ‘Pokoknya harus bisa membuat Daniel menyadari keluhan seksualnya. Pokoknya aku harus bisa mencari tahu apa penyebabnya. Aku harus bisa mencari akar masalah psikosimatis seksual yang dialami Daniel.’
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka.
Agnes langsung tiba di sebuah lorong yang langsung berhadapan dengan sebuah lobi kecil dan pintu unit penthouse. Ditekannya tombol bel di pintu tersebut. Ia menghela napas pelan berkali-kali, berusaha menurunkan kecepatan aliran darah yang ada di tubuhnya.
Belum ada jawaban.
Agnes mengangkat jarinya, untuk menekan tombol bel lagi, tapi tiba-tiba pintu terbuka.
Daniel yang memakai kaos leher v dan celana bahan halus berdiri di hadapannya, “Sori, aku habis dari kamar mandi.” Ia lalu mundur dan mempersilakan Agnes masuk ke dalam unit penthousenya.
Agnes bisa mencium wangi maskulin yang ada di badan Daniel.
Daniel menutup pintu apartemennya, lalu langsung menahan badan Agnes di pintu sambil berkata, “Apa kita akan langsung melakukan sensate focus therapy?”
Agnes menatap bibir Daniel. Jantungnya berdebar kencang. Ia ingin mengangguk, ingin menuruti apa pun yang dinginkan Daniel, dan ingin melupakan tujuan utama kedatangannya. Ia menginginkan Daniel.
Daniel langsung kembali ke unitnya dan mengambil ponselnya. Sambil mengacak-acak rambutnya, ia menelepon Agnes. Ia tahu telah salah langkah. Selama ini, semua perempuan yang mendekatinya tidak ada yang seperti Agnes. Mereka semua lah yang justru menggodainya. Seandainya ia tidak memiliki kelainan seksual, seandainya tubuhnya seperti pria pada umumnya, mungkin ia sekarang sudah seperti ayahnya yang punya banyak simpanan.“Angkat! Angkat!” kata Daniel dengan nada khawatir. Ia melangkah ke balkon, berdiri melihat ke bawah. Tapi ia tidak melihat Agnes ada di mana pun.Sambungan teleponnya terputus.Tidak putus asa. Ia langsung menekan tombol telepon hijau lagi.“Please, Agnes. Angkat!”**Agnes berdiri di depan lobi apartemen, menunggu taksi datang menjemputnya sambil melihat ponselnya. Ia ragu mau menjawab telepon dari Daniel atau tidak. Ingatannya kembali ke masa lalu. Waktu itu pacar pertamanya ketika SMA, memaksanya untuk melayani napsunya – hampir sama dengan apa yang Daniel lakukan
Agnes masih terpaku menatap bibir Daniel yang tebal. Ia lalu membuka mulutnya sendiri. Daniel mengira itu adalah undangan untuknya bergerak mendekat, tapi lalu Agnes berkata, “Aku adalah psikolog dan kamu adalah pasien.”Daniel langsung tersadarkan. Ia mundur satu langkah, lalu berpaling dan jalan ke ruang tengah, “Silakan masuk.”Agnes mengikuti Daniel ke ruang tengah yang menyatu dengan ruang makan dan dapur bersih yang mewah. Seumur hidupnya baru kali ini melihat isi penthouse mewah. Ia melewati ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar mandi tamu dengan lampu gantung yang mewah. Di ruang tengah, ia bisa melihat langsung ke balkon yang luas. Dari balkon terlihat cahaya kota gemerlap. Dekat pintu keluar balkon, ada tangga menuju lantai dua.“Silakan duduk,” Daniel duduk di sofa panjang.Agnes memilih duduk di sofa kecil di samping sofa panjang.Daniel menatap Agnes yang masih memperhatikan ruangan. Begitu mata Agnes menatapnya, Daniel menaikkan salah satu alisnya sambil memiringkan
“Pulang, mbak?” sapa Lina yang sedang merapikan isi tasnya di meja resepsionis.“Iya,” jawab Agnes tersenyum sambil melangkah keluar dari klinik sambil berdoa data Daniel Mathew yang dimasukkannya ke dalam daftar pasien khusus tidak terbaca oleh Lina.Mobil mewah milik asistennya Daniel, sudah berhenti di depan pintu klinik. Pintu penumpang tengahnya, terbuka. Agnes melongo ke dalam mobil.Asisten Daniel, Deri yang sedang menyetir, menoleh ke belakang dan tersenyum, “Masuk, mbak.”“Iya.” Agnes masuk ke kursi penumpang tengah. Pintu mobil otomatis tertutup perlahan.Tak lama kemudian mobil berjalan.Agnes membuka ponselnya, memeriksa apakah ada gosip terbaru mengenai Daniel di media sosial. Beberapa akun gosip mengunggah berita tentang film terbarunya Daniel. Pemeran utama perempuannya adalah, Renata, aktris cantik yang juga lulusan Harvard. Ia lalu membuka kolom komentar. Ada beberapa komentar yang menarik perhatiannya.@Acilovjimin : Daniel cocokan sama Renata ketimbang sama Sabina.
“Halo?” Agnes masuk ke kamar kosnya sambil melemparkan tas ke lantai.“Halo,” terdengar suara Vivi, teman baiknya, yang menjawab dengan nada seperti baru bangun tidur.“Udah tidur?”“Kalau aku udah tidur, nggak bakalan jawab telepon kamu. Ada apa?”“Aku tadi ada pasien,” jawab Agnes sambil membuka blazer kerjanya.“Bagus lah, makin banyak dong tabungannya?”“Masalahnya bukan itu.”“Apa? Pasiennya susah?”“Nggak.”Agnes terdiam. ‘Dia malah super duper baik, ganteng, kaya….’“Nes?”“Kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”“Wuih! Ini baru cerita,” Vivi terdengar bersemangat. “Siapa dia? Orang mana? Ganteng? Kaya? Aku kenal?”Agnes menggelengkan kepala, “Nggak. Nggak jadi deh.”“Astaga! Kebiasan ya, nelepon, mau curhat, terus nggak jadi!”“Sori. Ya udah, tidur lagi sana. Daaah!”“AG…!”Agnes mematikan sambungan telepon lalu merebahkan diri ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya terlipat di dadanya, tangan kirinya terlentang di kasur.‘Apa yang baru saja terjadi? Pas
Agnes masih memegang tangan kanan Daniel. Jari telunjuk tangan kanannya masih menyentuh lengan bawah tangan kiri Daniel.Daniel masih tidak percaya akan reaksi badannya sendiri. Jantungnya berdebar seolah ingin melompat keluar dari dalam dadanya. Begitu juga dengan alat vitalnya yang mendadak membengkak. Dengan tangan kirinya, ia menarik pergelangan tangan Agnes yang masih menyentuh lengan kanannya dan mendekatkan wajahnya pada Agnes.“Selama bertahun-tahun,” Daniel berbisik sambil menatap lekat mata Agnes yang juga terkejut. “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi kamu….”Daniel bisa melihat gerakan naik turun di tenggorokan Agnes.Agnes menarik tangannya dan membuang pandangannya dari wajah Daniel.‘Aku hanya menyentuhnya. Kenapa ini bisa terjadi?’“Aku hanya seorang psikolog. Dan kamu adalah pasienku.” Agnes mengambil buku dan pulpennya lalu menulis sesuatu dengan cepat.
Akhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”Dalam sekali gerak, Daniel mel







