مشاركة

Bab 6

مؤلف: ararasa
last update تاريخ النشر: 2026-07-31 09:31:01

Agnes masih memegang tangan kanan Daniel. Jari telunjuk tangan kanannya masih menyentuh lengan bawah tangan kiri Daniel.

Daniel masih tidak percaya akan reaksi badannya sendiri. Jantungnya berdebar seolah ingin melompat keluar dari dalam dadanya. Begitu juga dengan alat vitalnya yang mendadak membengkak. Dengan tangan kirinya, ia menarik pergelangan tangan Agnes yang masih menyentuh lengan kanannya dan mendekatkan wajahnya pada Agnes.

“Selama bertahun-tahun,” Daniel berbisik sambil menatap lekat mata Agnes yang juga terkejut. “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi kamu….”

Daniel bisa melihat gerakan naik turun di tenggorokan Agnes.

Agnes menarik tangannya dan membuang pandangannya dari wajah Daniel.

‘Aku hanya menyentuhnya. Kenapa ini bisa terjadi?’

“Aku hanya seorang psikolog. Dan kamu adalah pasienku.” Agnes mengambil buku dan pulpennya lalu menulis sesuatu dengan cepat.

“Apa jangan-jangan kamu adalah yang selama ini aku cari?” Daniel bicara dengan penuh keyakinan.

Tapi Agnes merasa Daniel sedang dalam keadaan euforia belaka, “Jangan berlebihan. Sekali lagi, hubungan kita hanyalah terapis dan pasien. Lagi pula, kamu sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah, kan?”

Daniel terkekeh dingin, “Bahkan Sabina tidak bisa membuat tubuhku bereaksi seperti tadi.”

Agnes menutup buku catatannya, lalu bicara pada Daniel apa adanya. “Lalu mau kamu apa? Memutuskan pertunangan dan menikahiku?”

“Mungkin?” Daniel mengangkat kedua bahunya, bibirnya menyunggingkan senyuman, dan matanya menatap Agnes dengan penuh godaan.

“Kamu itu artis terkenal, kalau tiba-tiba kamu ganti mempelai, semua orang pasti akan menghujatmu!” Agnes menggelengkan kepala, “Oh tidak! Mungkin dia nggak akan menghujat kamu, karena mereka mengidolakan kamu. Tapi pasti mereka akan mengejarku, menghakimiku. Mungkin juga mereka akan menghujat keluargaku.” Agnes terdiam, menyesal telah bicara terlalu jauh.

“Memangnya keluarga kamu kenapa?” Daniel malah jadi penasaran.

“Intinya, media tidak akan berhenti mencari kekuranganku dan aku akan terlibat dengan masalah baru yang lebih besar. Padahal sekarang masalahku saja masih banyak dan belum selesai.” Agnes menghela napas berat.

Daniel merapikan gulungan lengan bajunya, lalu melipat kedua lengan di dadanya. Ia menatap Agnes dengan serius, semakin penasaran pada wanita yang ada di hadapannya. “Kamu sedang terlibat masalah?”

“Sekarang adalah sesi terapi. Antara kamu, pasien. Dan aku sebagai terapisnya. Kita tidak akan membahas masalah yang lain selain masalah kamu.”

“Baiklah kalau begitu!” Daniel menggelengkan kepala, tidak percaya ada wanita dingin yang tidak mempan dengan bujuk rayunya. Ia lalu mengeluarkan buku cek dari tas map di atas meja. “Aku akan bayar langsung untuk empat sesi,” kata Daniel sambil menuliskan nominal di atas cek.

Terdengar suara getar ponsel Agnes di atas meja. Ternyata mamanya meneelponnya.

Agnes mengangkat ponselnya, lalu dengan panik bangkit dan melangkah ke pojok ruangan untuk menjawab telepon dari mamanya, “Halo, Ma?”

“Nes. Debt collectornya datang lagi!” suara Elvira bergetar dan terdengar panik.

“Mana sini biar aku yang ngomong sama mereka!” Agnes berusaha tetap tenang, meski dadanya berdebar ketakutan.

“Halo, siapa ini?” kata seorang pria dengan nada tinggi dan kasar.

“Saya anaknya almarhum bapak Erwin Maulana. Berapa utang yang saya harus lunasi?” suara Agnes yang meninggi, terdengar jelas oleh Daniel.

“Lima ratus juta!”

Agnes memijat pangkal hidungnya. Ia melirik Daniel dari bahunya. Daniel yang masih duduk di kursi pasien ternyata sedang menatapnya. Ia berpikir keras, berusaha mencari kata-kata untuk negosiasi, karena uang di tabungannya hanya cukup untuk membayar kebutuhan hidup sehari-harri dirinya dan mamanya.

“Ada apa?” tanya Daniel bangkit mendekati Agnes.

“Apa bisa saya cicil?” tanya Agnes ke debt collector dan mengabaikan Daniel.

Sebelum debt collector menjawab, terasa sentuhan hangat di tangan Agnes yang sedang memegang ponsel di telinganya. Ketika Agnes menoleh, ternyata sentuhan itu adalah tangan Daniel yang merebut ponsel darinya.

Daniel lalu menjawab telepon debt collector, “Halo. Berapa tadi utang yang harus dibayar?”

“500juta! Harus langsung lunas atau rumahnya saya sita!”

“Oke, kirimkan nomor rekeningnya sekarang,” kata Daniel dengan tenang.

Agnes menggelengkan kepalanya dan berusaha merebut ponselnya lagi, tapi Daniel menahan kedua tangan Agnes dengan satu tangannya.

“Saya kirim nomor rekening, tapi harus langsung dibayar ya! Kalau tidak, saya keluarin isi rumah ini dalam waktu 10 menit!”

“Oke!” Daniel menutup telepon, lalu menatap layar ponsel Agnes, menunggu kiriman nomor rekening.

“Kamu mau apa?” Agnes berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Daniel.

“Ssst! Kamu tenang saja,” Daniel menatap Agnes lekat-lekat. Terdengar bunyi getar ponsel Agnes karena ada pesan masuk. Ia melepaskan tangan Agnes begitu melihat ada nomor rekening masuk ke ponselnya Agnes dan langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, memotret nomor rekening yang dikirimkan.

Agnes cuma bisa terpaku.

Daniel lalu mengirimkan foto nomor rekening itu pada asistennya Deri. Tak lama kemudian, ia menujukkan pesan dari asistennya, bukti transfer 500juta ke nomor rekening yang diberikan pada Agnes. “Sudah aku bayarkan utangnya.”

Agnes membuang muka, ingin marah karena jadi harus membuat Daniel terlibat dalam masalah pribadinya.

Melihat Agnes murung, Daniel jadi merasa bersalah, tapi ia tidak menyesal. Ia memerlukan Agnes dalam hidupnya. Ia melangkah mendekati Agnes, lalu mengambil tangan Agnes, tapi Agnes menepisnya.

“Kamu tidak perlu mengembalikan uang tadi. Tapi sebagai gantinya, aku minta kamu melanjutkan terapi ini secara privat, di penthouse milikku. Kamu harus menyembuhkanku sampai tuntas, kalau perlu kamu bisa menggunakan tubuhmu sebagai media terapi.”

Agnes menatap Daniel, mencari makna dari tawaran Daniel.

‘Apakah dia benar-benar ingin sembuh atau kah hanya ingin menggunakanku untuk kebutuhan hasratnya saja? Apakah aku harus menerima tawaran ini? Apakah aku bisa menolak dan mengembalikan uangnya?’

Kepalanya pening, dadanya berdenyut kencang. Agnes ingin menolaknya, tapi ia membutuhkan pasien untuk mendapatkan sertifikat keprofesiannya, selain itu tawaran ini terlalu menggiurkan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 8

    “Pulang, mbak?” sapa Lina yang sedang merapikan isi tasnya di meja resepsionis.“Iya,” jawab Agnes tersenyum sambil melangkah keluar dari klinik sambil berdoa data Daniel Mathew yang dimasukkannya ke dalam daftar pasien khusus tidak terbaca oleh Lina.Mobil mewah milik asistennya Daniel, sudah berhenti di depan pintu klinik. Pintu penumpang tengahnya, terbuka. Agnes melongo ke dalam mobil.Asisten Daniel, Deri yang sedang menyetir, menoleh ke belakang dan tersenyum, “Masuk, mbak.”“Iya.” Agnes masuk ke kursi penumpang tengah. Pintu mobil otomatis tertutup perlahan.Tak lama kemudian mobil berjalan.Agnes membuka ponselnya, memeriksa apakah ada gosip terbaru mengenai Daniel di media sosial. Beberapa akun gosip mengunggah berita tentang film terbarunya Daniel. Pemeran utama perempuannya adalah, Renata, aktris cantik yang juga lulusan Harvard. Ia lalu membuka kolom komentar. Ada beberapa komentar yang menarik perhatiannya.@Acilovjimin : Daniel cocokan sama Renata ketimbang sama Sabina.

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 7

    “Halo?” Agnes masuk ke kamar kosnya sambil melemparkan tas ke lantai.“Halo,” terdengar suara Vivi, teman baiknya, yang menjawab dengan nada seperti baru bangun tidur.“Udah tidur?”“Kalau aku udah tidur, nggak bakalan jawab telepon kamu. Ada apa?”“Aku tadi ada pasien,” jawab Agnes sambil membuka blazer kerjanya.“Bagus lah, makin banyak dong tabungannya?”“Masalahnya bukan itu.”“Apa? Pasiennya susah?”“Nggak.”Agnes terdiam. ‘Dia malah super duper baik, ganteng, kaya….’“Nes?”“Kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”“Wuih! Ini baru cerita,” Vivi terdengar bersemangat. “Siapa dia? Orang mana? Ganteng? Kaya? Aku kenal?”Agnes menggelengkan kepala, “Nggak. Nggak jadi deh.”“Astaga! Kebiasan ya, nelepon, mau curhat, terus nggak jadi!”“Sori. Ya udah, tidur lagi sana. Daaah!”“AG…!”Agnes mematikan sambungan telepon lalu merebahkan diri ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya terlipat di dadanya, tangan kirinya terlentang di kasur.‘Apa yang baru saja terjadi? Pas

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 6

    Agnes masih memegang tangan kanan Daniel. Jari telunjuk tangan kanannya masih menyentuh lengan bawah tangan kiri Daniel.Daniel masih tidak percaya akan reaksi badannya sendiri. Jantungnya berdebar seolah ingin melompat keluar dari dalam dadanya. Begitu juga dengan alat vitalnya yang mendadak membengkak. Dengan tangan kirinya, ia menarik pergelangan tangan Agnes yang masih menyentuh lengan kanannya dan mendekatkan wajahnya pada Agnes.“Selama bertahun-tahun,” Daniel berbisik sambil menatap lekat mata Agnes yang juga terkejut. “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi kamu….”Daniel bisa melihat gerakan naik turun di tenggorokan Agnes.Agnes menarik tangannya dan membuang pandangannya dari wajah Daniel.‘Aku hanya menyentuhnya. Kenapa ini bisa terjadi?’“Aku hanya seorang psikolog. Dan kamu adalah pasienku.” Agnes mengambil buku dan pulpennya lalu menulis sesuatu dengan cepat.

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 5

    Akhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”Dalam sekali gerak, Daniel mel

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 4

    Jam di ponselnya Agnes sudah menunjukan hampir pukul 10 malam. Agnes membaca setiap berkas yang diberikan Daniel dengan seksama. Ternyata semuanya mengatakan bahwa seluruh fungsi organ reproduksi pria yang ada di hadapannya berada dalam kondisi yang sehat.‘Dia konsultasi ke tiga dokter andrologi, berarti dia memang memiliki masalah seksual. Tapi seperti apa tepatnya? Apa hanya masalah kenyamanan saat berhubungan? Atau apakah respon terhadap rangsangannya lambat? Atau jangan-jangan sama sekali tidak… Tapi dari hasil pemeriksaan ini semua, tidak menujukkan adanya indikasi impotensi.’Dari balik berkas, Agnes melirik Daniel yang ternyata masih terus memandangnya. Ia mengalihkan pandangan dan langsung kembali pura-pura membaca berkas, lalu lanjut berpikir.‘Tapi dr. Indra tadi bilang, aku bisa menyembuhkannya. Berarti dia memang punya masalah mengenai fungsi seksual. Bukannya dia mau menikah? Jadi ini alasannya dia dikirim padaku, karena dia harus segera ditangani.’Tanpa berekspresi, Ag

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 3

    Daniel Mathew, aktor tampan papan atas yang disukai semua perempuan - termasuk Agnes - turun dari mobil mewah warna putihnya. Dengan menggunakan long coat hitam, ia menyembunyikan wajahnya di balik hoodie dan melangkah ke arah pintu masuk klinik, sambil membawa tas map yang terbuat dari kulit.Agnes bergegas keluar dari ruangan untuk menyambut Daniel. Ia tiba di lobi bersamaan dengan Daniel masuk ke dalam klinik.Mereka saling berpandangan.Jantungnya berdebar keras. Jari tangannya terasa semakin dingin. Tenggorokannya kering. Agnes menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Ia tidak menyangka bintang film dan bintang iklan dengan bayaran paling mahal, kini ada di hadapannya.Tiga hari yang lalu, ia - dan tentu saja jutaan fans Daniel lainnya - patah hati begitu mendapatkan kabar dari sebuah akun gosip yang mengunggah foto-foto lamaran Daniel dan calon istrinya, seorang artis pendatang baru bernama Sabina. Akun gosip itu juga membocorkan hari pernikahan Daniel bulan dep

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status