Mag-log in“Kenapa kamu malah pukul orang di tempat umum?”“Lapor polisi!”Jovita memelototi Hallie sekilas, lalu membalikkan tubuhnya untuk berjalan pergi. Sekuriti datang untuk memapah Hallie. Hallie membangkitkan tubuhnya sembari menyeka air mata di wajahnya. Matanya kelihatan berkilauan, penuh dengan tekad seperti orang yang sudah siap mempertaruhkan segalanya.…Di dalam aula.Morgan pergi mengangkat panggilan di halaman. Setelah mengakhiri panggilan, dia tidak buru-buru untuk kembali, melainkan merokok di halaman.Saat mendengar ada suara langkah kaki dari belakang, pria itu mematikan rokoknya, kemudian menoleh menatap wanita yang berjalan menghampirinya.Di halaman itu ada pagar kayu dan di seberangnya terdapat sebuah danau buatan. Air danau mengalir melewati bebatuan hias, lalu menuju halaman lain.Air yang mengalir turun dari bebatuan buatan itu menciptakan kabut lembap di udara. Ditambah bayangan pepohonan di sekitarnya, membuat halaman itu tidak terasa terlalu panas meskipun sedang mus
Aska mengangkat gelasnya. “Jemmy, sebenarnya seharusnya aku yang bersulang kepadamu. Morgan paling berjasa untuk kami bisa menemukan Jeje!”Jemmy berkata, “Baguslah kalau kamu tahu. Jangan selalu buang muka sama Morgan!”Aska mulai merasa tidak puas. “Kalau dia berani menindas Jeje, aku bukan hanya akan buang muka saja, bisa jadi aku akan memarahinya!”Theresia segera berkata dengan tersenyum, “Kakek, Tuan Morgan nggak pernah menindasku!”Morgan meliriknya sekilas. Bola mata hitamnya kelihatan dalam. Bibir tipisnya sedikit terangkat.Aska menggenggam tangan Theresia. “Kenapa malah panggil Tuan Morgan? Kedengarannya seperti tidak akrab saja. Dia lebih besar daripada kamu, panggil Kak Morgan saja.”Theresia berpapasan dengan tatapan si pria. Cahaya lampu jatuh ke wajah samping menggoda Theresia. Bayangan samar berwarna merah muda seperti semburat kemerahan menyebar di ujung matanya. Bibir merahnya sedikit terbuka, tetapi bagaimanapun juga dia tetap tidak mampu mengucapkannya.Julia terse
“Tadi, dia sudah marah putri kandung dari Nyonya Julia, ya?”“Wah, lelucon ini lucu sekali!”…Aska memang kerasa kepala, tetapi dia juga tidak bodoh. Dalam sesaat, dia juga mengerti segalanya. Dia sungguh merasa kecewa terhadap Hallie, tetapi dia juga tidak ingin Jovita yang mana merupakan orang yang tidak bersangkutan, menghancurkan acara sebagus ini. Dia pun berpesan dengan suara berat, “Jangan biarkan dia beronar lagi. Usir dia dari sini!”Aska memiliki relasi yang sangat bagus. Sebelum sekuriti datang, bahkan tanpa perlu turun tangan Morgan, Sonia, dan yang lainnya. Beberapa pria yang berpakaian formal menghalangi Jovita sembari berkata dengan dingin, “Kamu kira kamu boleh beronar di acara Keluarga Angsara. Segera keluar!”Jovita sungguh merasa canggung dan malu. Betapa inginnya dia menampar dirinya sendiri. Dia pun meminta maaf kepada Aska dengan panik, “Tuan Aska, aku sudah ditipu dengan cucu gadungan. Sebenarnya aku datang untuk menghadiri acara ini dengan tulus.”Kemudian, Jov
Hallie merasa panik. Dia menatap tatapan sinis Sonia. Bibir pucatnya gemetar. Dia sama sekali tidak berani bersuara.Julia sudah mengerti. Dia berkata dengan tersenyum sinis, “Acara hari ini diadakan untuk memperkenalkan putriku kepada semuanya. Menurutmu, kenapa aku bisa ada di sini?”Jovita menatap Julia dengan kaget dan bingung. “Apa maksudmu?”Julia berkata pada Aska, “Ayah, sepertinya tamu yang diundang hari ini, ada yang tidak kenal dengan Theresia. Sudah seharusnya kamu memperkenalkannya!”Raut wajah Aska kelihatan tidak begitu bagus. Saat melihat Theresia, dia baru menunjukkan sedikit senyuman. “Jeje, ke sisi Kakek.”Theresia berjalan ke sisi Aska.Suasana seluruh aula menjadi hening dalam seketika. Bahkan suara detak jarum jam pun bisa terdengar!Aska menggenggam tangan Theresia, lalu berkata dengan tersenyum ramah, “Terima kasih semuanya sudah datang untuk menghadiri acara Keluarga Angsara kami. Sudah saatnya aku memperkenalkan kepada semuanya dengan resmi. Theresia adalah pu
Jovita melirik Julia sekilas sembari mendengus dingin. Setelah itu, dia meninggalkan tempat dengan sikap arogan.Julia menatap bayangan punggung mereka berdua, sepertinya dia bisa menebak sesuatu. Dia bertukar pandang dengan Theresia, kemudian bertanya dengan sinis, “Apa dia itu ibunya Roger?”Theresia merasa tidak berdaya. “Roger orangnya cukup baik, sayangnya dia punya ibu kandung seperti ini!”Raut wajah Julia kelihatan tidak senang. “Si Hallie ini berhubungan dengan orang macam apa, sih?” Julia pun menggeleng, kemudian menggandeng tangan Theresia membawanya ke dalam aula.…Tentu saja Jovita tidak puas untuk pergi begitu saja. “Hallie, apa yang kamu takutkan? Hari ini, kamu adalah tokoh utama. Kenapa kamu rela ditekan oleh orang lain?” Dia memutar tangannya untuk menggenggam tangan Hallie. “Nyalimu kecil sekali. Nanti orang lain kira kamu itu pengecut dan gampang ditindas! Tenang saja, aku akan tanggung jawab atas apa yang terjadi hari ini!”Hallie ditarik Jovita berjalan ke dalam
Hallie menggigit bibirnya tanda merasa bimbang sejenak. “Aku ada satu permintaan yang sangat kecil. Aku … aku suka sama Tuan Roger. Nyonya Jovita juga berharap aku bisa jadian sama Tuan Roger. Theresia, apa boleh kamu jangan bertemu dengan Tuan Roger lagi?”Theresia tertegun sejenak. Ujung bibirnya sedikit melengkung ke atas. “Hallie, seandainya kamu baru bisa merasa tenang dengan memohon orang lain untuk jangan mendekati Tuan Roger, apa kamu merasa ada cinta di antara kalian berdua?”Hallie menunjukkan senyuman getir. “Tapi, aku nggak ada cara lain.”Theresia menatap Hallie. “Apa kamu pernah punya keberanian untuk mencari Regan di Hondura?”Hallie terbengong sejenak, lalu mendengus dingin. “Sekarang, aku juga tergolong sangat berani dalam mengejar Tuan Roger.”Theresia berkata dengan tidak berdaya, “Kamu tenang saja. Selain masalah pekerjaan, aku nggak ada hubungan pribadi dengan Tuan Roger.”Hallie mengangguk dengan perlahan. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba dia mendengar su
Suara Yandi memang pada dasarnya serak. Di dalam ruangan yang sunyi, nada bicaranya terasa semakin rendah, setiap kata seolah-olah menghantam hati Tasya.Wajah putih Tasya seketika merona. Mata bulatnya berkilau. Bibir merah mudanya digigit ringan saat dia berkata dengan suara rendah, “Aku menciummu
Di Kediaman Keluarga Bina.Jemmy dan Morgan sedang berdiri di luar pintu untuk menunggu kepulangan Sonia.Ketika melihat mobil berwarna hitam melaju ke dalam yang masih berjarak sangat jauh, Jemmy pun tersenyum. “Dia sudah kembali.”Tampak sedikit rasa nostalgia yang dalam di mata yang sudah tampak
“Nggak.”“Coba kamu nangis malam ini.”…Langit di malam hari semakin gelap. Kesadaran kembali jernih. Langit di ujung sana juga sudah mulai terang.Setelah Sonia tertidur, Reza keluar kamar. Dia menutup rapat pintu kamar, lalu berjalan hingga ke balkon ruang tamu sebelum menelepon Robi.Setelah pan
Keesokan harinya.Sebelum jam sepuluh pagi, Bondan sudah bersuara di dalam grup. Malam hari ini, mereka akan mengadakan pesta lajang untuk Reza dan Sonia. Lokasinya bertempat di Nine Street Mansion.[ Jason: Apa kamu yakin pesta lajang? Coba kamu tanya Reza, apa dia berani bilang dirinya masih lajan







